Implementasi kegiatan Kampanye ASI For Baby Kalsel
Untuk mencapai salah satu visi dari dibentuknya AIMI yaitu Untuk menaikkan prosentasi bayi yang diberikan ASI Eksklusif di Indonesia, Dalam melaksanakan kegiatan edukASI AIMI kalsel melakukan beberapa pendekatan komunikasi yang dilakukan dengan menyesuaikan karakteristik target, kegiatan kampanye yang secara terus menerus yang dilakukan oleh AIMI adalah sebagai berikut :
1. Kelas EdukASI prenatal dan Postnatal
Kegiatan edukASI ini dilakukan tiga kali atau lebih setiap tahunnya, dalam kelas edukASI ini disampaikan berbagai informasi tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif, manfaat yag diperoleh oleh ibu dan anak dengan ASI Eksklusif dan bagaimana manajemen pemberian ASI sampai dengan peraturan pemerintah yang mendukung pemberian ASI khususnya bagi ibu pekerja. Target utama dalam kegiatan ini adalah para calon ibu yang sedang mengandung ataupun tidak dan para calon ayah serta para ibu yang telah memiliki anak namun gagal dalam pemberian ASI Eksklusif . Pendekatan komunikasi yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah dengan metode komunikasi kelompok dengan jumlah audience paling banyak 20 orang, hal ini dilakukan agar pesan yang disampaikan dapat langsung dimengerti oleh audience dan terjadi komunikasi dua arah yang efektif antara Konselor Laktasi dengan audience. Pada kelas edukASI ini juga konselor memberikan contoh langsung bagaimana metode pemberian ASI yang benar melalui alat peraga.
2. Kelas EdukASI MPASI
Kelas edukASI MPASI ini dilakukan dengan pendekatan komunikasi yang sama dengan kelas edukASI prenatal dan postnatal namun tema utama pada kelas edukASI ini adalah metode pemberian makanan pendamping ASI yang sehat, diolah dari bahan alami dan sesuai dengan rekomendasi WHO. Target utama dari kelas ini adalah para ibu yang telah memiliki anak usia 1- 5 bulan karena pemberian MPASI dilakukan saat anak berusia 6 bulan.
3. AIMI Goes To Office/Community
Kegiatan Kampanye juga dilakukan AIMI melalui Aimi Goes To Office/ Community yaitu dengan cara mendatangi kantor dan komunitas tertentu untuk melakukan edukASI. Kegiatan ini dilakukan 1 tahun sekali, tujuannya dengan melaksanakan kegiatan ini adalah untuk memberikan informasi, meningatkan pengetahuan dan motivasi khususnya bagi ibu pekerja untuk memberikan ASI Ekskulsif pada anak, juga untuk memberikan edukASI pada manajemen perusahaan agar memberikan dan meningkatkan dukungan pada para karyawan yang sedang memberikan ASI Eksklusif pada anak, bentuk dukungan yang dapat diberikan oleh perusahaan adalah menyediakan ruang menyusui, memberikan masa cuti melahirkan sesuai dengan peraturan pemerintah dan memberikan dispensasi waktu bagi ibu untuk memerah ASI pada jam kerja.
4. Home/ hospital visit
Layanan home/hospital visit diberikan kepada para ibu yang mengalami kesulitan atau hambatan dalam memberikan ASI Eksklusif, misalnya kurangnya dukungan dari suami dan keluarga terdekat sehingga ibu menjadi stress dan mengganggu kelancaran ibu dalam memberikan ASI pada anak,atas permintaan klien, Konselor Laktasi dapat melaksanakan kunjungan ke rumah atau rumah sakit tempat ibu dirawat untuk membantu ibu mengatasi kesulitan yang dialami dalam memberikan ASI, komunikasi Interpersonal menjadi bagian penting dalam kegiatan ini, karena dengan komunikasi tatap muka secara langsung, konselor dapat memberikan dukungan dengan mendengarkan keluhan ibu, memberikan solusi secara langsung, sampai dengan memberikan pelukan sebagai bentuk rasa empati kepada ibu. Melalui komunikasi interpersonal anatar konselor dengan ibu, dapat meningkatkan kembali motivas ibu untuk berusaha memberikan ASI secara Eksklusif pada anak. Sepeti yang diungkapkan oleh informan :
“menjadi ibu adalah hal yang tidak mudah, dalam memberikan ASI ibu perlu dukungan yang tidak selalu dengan kata-kata,dengan pelukan,genggaman tangan, didengarkan keluh kesahnya, dapat menumbuhkan kembali kekuatan dan keprercayaan diri ibu” (Dina A, Konselor Laktasi, AIMI Kalimantan Selatan, wawancara tanggal 25 mei 2015)
5. Konseling via media sosial
Dengan karakteristik internet yang tidak terbatas ruang dan waktu, AIMI kalimantan selatan memanfaatkan internet sebagai salah satu media komunikasi yang digunakan untuk penyebaran pesan-pesan tentang kampanye komunikasi kesehatan ASI For Baby Kalsel, melalui fan page media sosial facebook dan Twitter, sampai saat ini Fan page ASI For Baby Kalsel sudah diikuti 1.700 member, para anggota member dapat bertanya permasalahan yang berkaitan dengan pemberian ASI, selain itu para anggota juga dapat menggungah foto dan status untuk berbagi pengalaman dan memberikan dukungan pemberian ASI eksklusif kepada member lain.
Strategi Pendekatan Komunikasi yang Dilakukan oleh AIMI Kalsel Dari hasil penelitian di atas dapat dilihat bahwa pendekatan komunikasi yang dilakukan oleh AIMI dalam kampanye komunikasi kesehatan ini adalah melalui berbagai strategi dan media yaitu melalui pendekatan komunikasi kelompok pada kelas eduKASI, komunikasi interpersonal antara Konselor Laktasi dengan klien pada home/ hospital visit, personal masscommunication seperti sms dan aplikasi messanger pada handphone dan melalui pendekatan komunikasi massa dengan menggunakan media internet melalui media jejaring sosial seperti grup ASI For Baby Kalsel pada Facebook dan AIMI_Kalsel pada Twitter hal ini sesuai dengan yang dikemukakan menurut The Health Communication Unit dalam Jurnalnya “overview of health communication campaign”(2007:2) bahwa kombinasi media, komunikasi interpersonal dan event ditemukan menjadi yang paling efektif dalam menyampaikan informasi kesehatan. Ada tiga tipe utama dari komunikasi yang bekerjasama untuk menguatkan satu sama lainnya melalui :
a. Media adalah pendekatan yang tepat untuk sasaran tertentu dari kampanye komunikasi, namun tidak semua bisa digunakan. Pemilihan media yang tepat disesuaikan dengan segmentasi sasaran
khalayak yang dituju. Contohnya : keterlibatan terbatas atau interaksi hanya mungkin melalui media massa. Untuk alasan ini, kombinasi media massa dan komunikasi interpersonal cenderung lebih efektif. Komunikasi interpersonal sering mengalir dari pesan media sebagai opinion leader dan yang lainnya berbagi apa yang mereka pelajari, pesan pendukung dan sebaliknya meningkatkan dampak aktivitas media.
b. Komunikasi interpersonal meliputi banyak partisipasi yang berinteraksi dan membutuhkan feedback. Ini sering digunakan bantuan audio visual, alat dan bentuk multimedia lainnya.
c. Event adalah kombinasi dari keduanya, media dan komunikasi interpersonal dan sering dipromosikan dan dilaporkan melalui media. Event didesain untuk menjadi berita berharga. Untuk alasan ini media mencakup tujuan kunci dan indikator sukses. Tipe ini adalah kombinasi pendekatan yang menjangkau jumlah orang yang banyak tapi juga meningkatkan peluang partisipasi melalui komunikasi interpersonal.
Selanjutnya menurut Rogers dan Storey, (dalam Overview of Health Communication Campaign, 2007:4) kampanye yang komperhensif meliputi hal berikut ini :
a. Tujuan-orientasi yang berusaha untuk memberi informasi, mempersuasif atau memotivasi perubahan perilaku.
b. Idealnya bertujuan pada individual, jaringan, organisasi dan level masyarakat.
c. Tujuannya relatif luas, secara baik didefinisikan audience (mereka bukan persuasi interpersonal pada satu lawan satu atau satu untuk beberapa level.
d. Menyediakan keuntungan non komersil pada individu atau masyarakat.
e. Terjadi selama periode yang diberikan, dengan jarak beberapa minggu hingga tahunan.
f. Lebih efektif saat mereka meliputi kombinasi media, interpersonal dan event komunitas.
g. Meliputi sekumpulan aktivitas komunikasi yang terorganisir, minimal meliputi produksi pesan.
Semua unsur di atas telah dilaksanakan oleh AIMI kalimantan Selatan dalam melaksanakan kampanye komunikasi kesehatan ASI For Baby Kalsel yaitu dengan menyusun pesan yang sesuai dengan khalayak target, melaksanakan kegiatan kampanye secara berkesinambungan dalam periode waktu tertentu, mengkombinasikan pendekatan komunikasi melalui special event, media internet, personal mass communication dan komunikasi interpersonal.
Aktifitas komunikasi yang dilakukan teorganisir dengan baik hal ini dapat dilihat dari bagaimana para konselor laktasi pada setiap kegiatan kampanye menyampaikan fakta berupa data yang berdasarkan hasil riset dan penelitian ilmiah yang dilakukan mengenai manfaat ASI bagi ibu dan anak, sehingga mendorong khalayak target berpikir bahwa ASI adalah asupan terbaik yang harus diberikan pada anak, hal ini merupakan salah satu strategi komunikasi persuasf dalam melaksanakan kampanye. Strategi lain yang dilakukan oleh AIMI Kalimantan selatan adalah dengan strategi inkonsistensi, yaitu dengan memberikan informasi bahwa ketika seorang ibu memberikan ASI Eksklusif pada anak, tidak hanya anak yang mendapatkan manfaat namun ibu juga mendapatkan banyak manfaat dari segi kesehatan seperti meminimalisir terjadinya kanker, mencegah resiko anemia, meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan anak, sampai dengan dari segi ekonomi, ibu dapat menghemat anggaran rumah tangga dengan tidak membeli susu formula, sehingga dengan pesan-pesan yang disampaikan ini dapat menimbulkan dorongan atau bisa disebut dengan motivasi intrinsik pada diri ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif pada anak.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kampanye komunikasi kesehatan ASI For Baby Kalsel yang dilakukan oleh AIMI cabang kalimantan selatan dilakukan dengan menerapkan strategi penyusunan struktur pesan yang sesuai dengan khlayan target dan dengan menggunakan strategi inkonsistensi, AIMI kalsel juga mengkombinasikan pendekatan komunikasi melalui special event, media internet, personal mass communication dan komunikasi interpersonal yang dilakukan para konselor Laktasi dengan para ibu yang membutuhkan dukungan serta menghadapi masalah dalam memberikan ASI Eksklusif.
Daftar Pustaka
Effendy, Onong Ucjhana (2003). Ilmu komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Aloliliweri (2009). Dasar-Dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Moekijat (2001). Dasar-Dasar Motivasi. Bandung : Pionir Jaya
Mulyana, Dedy (2010). Metode Penelitan Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial lainnya. Bandung:Remaja Rosda Karya.
Piotrow, Phylliss, T. (1997). Health Communication: Lesson for Family Planning and Reproduction Health. London : Praeger.
Roesli, Utami (2007). Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta : Niaga Swadaya. Saleh, Abdul Rahman (2009). Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif
Islam. Jakarta : Prenada Media.
Sugiyono (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta. The Health Communicaion Unit. (2007). Jurnal Overview of Health
Communication Campaign. University of Toronto : USA.
Venus, Antar (2009). Manajemen Kampanye, Bandung : Simbiosa Rekatama Media.
Wahyudin, Uud (2009). Membangun Komunikasi Kesehatan Di Jawa Barat. Jurnal Observasi Vol 7 No 1.
___________________ (2014). Membangun Komunikasi Kesehatan dalam Tradisi Pesantren.
Jurnal Acta Diurna Vol 2, No 10.
Rujukan Elektronik :