• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Orientasi Percobaan

Hasil orientasi percobaan digunakan untuk memaksimalkan metode yang digunakan. Dengan demikian hasil yang diperoleh memiliki kevalidan dan keakuratan yang dapat diterima. Dengan uji orientasi ini pula bahan-bahan yang digunakan dapat berfungsi semaksimal mungkin. Hasil uji orientasi ini digunakan untuk percobaan berikutnya. Dalam penelitian ini dilakukan dua orientasi yaitu orientasi selang waktu pemotongan kaki setelah injeksi karagenin dan orientasi waktu pemberian natrium diklofenak dengan dosis efektif. Dosis efektif natrium diklofenak tidak dilakukan orientasi tetapi menggunakan dosis efektif hasil orientasi dalam penelitian yang dilakukan oleh Maryanto (1997) yaitu sebesar 4,48 mg/kg BB.

1. Hasil Orientasi Selang Waktu Pemotongan Kaki Setelah Injeksi Karagenin

Uji pendahuluan selang waktu pemotongan kaki setelah injeksi karagenin bertujuan untuk mendapatkan waktu yang tepat saat karagenin dapat menyebabkan udema yang maksimum pada telapak kaki mencit setelah penyuntikan karagenin. Dalam penelitian ini perlu diperoleh bobot udema yang

maksimum agar nantinya efek dari obat natrium diklofenak sebagai kontrol positif dapat terlihat dengan jelas yaitu ada selisih yang cukup signifikan di antara keduanya. Data bobot udema kaki mencit yang dihasilkan akibat pemberian karagenin dalam berbagai selang waktu pemotongan kaki (1 ,2, 3, dan 4 jam) dapat dilihat pada lampiran 11. Rata-rata bobot udema kaki mencit pada tiap kelompok dapat dilihat pada tabel I dan grafik rata-rata bobot udema dapat dilihat pada gambar 6.

Tabel I. Rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar dalam berbagai variasi selang waktu pemotongan kaki

Selang Waktu Pemotongan Kaki (jam)

Rata-rata Bobot Udema Kaki (g) + SE (n=5)

1 0,0302 ± 0,0033

2 0,0417 ± 0,0045

3 0,0620 ± 0,0055

4 0,0618 ± 0,0044

Gambar 6. Grafik rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar dalam berbagai variasi selang waktu pemotongan kaki

Dari gambar grafik di atas dapat dilihat bahwa bobot udema akibat pemberian karagenin secara subplantar meningkat hingga jam ke-3. Namun mulai jam ke-3 hingga jam ke-4 bobot udema mengalami sedikit penurunan. Pada kelompok 1 jam bobot udem yang terbentuk belum terlalu besar. Pada kelompok

3 jam memiliki bobot udem yang terbesar. Sehingga dapat dilihat bahwa karagenin memberikan bobot udem yang maksimum pada jam ke-3. Setelah melewati 3 jam dapat dilihat bobot udem mulai mengalami penurunan. Hal ini terlihat pada kelompok 4 jam memberikan rata-rata bobot udem yang lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata bobot udem pad kelompok 3 jam.

Rata-rata bobot udem akibat injeksi karagenin perlu diuji secara statistik untuk melihat apakah di antara kelompok memiliki perbedaan yang berarti. Pertama-tama data tersebut perlu diuji dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov untuk melihat distribusi datanya. Dari hasil analisis yang diperoleh dapat dilihat bahwa data tersebut memiliki probabilitas (p) sebesar 0,979 yang berarti data terdistribusi normal sebab nilai probabilitas (p) > 0,05. Dengan demikian data tersebut memenuhi syarat untuk dilanjutkan pada analisis Anova Satu Arah dengan taraf kepercayaan 95%. karena syarat suatu data dapat dianalisis dengan Anova adalah data tersebut harus terdistribusi normal. Analisis menggunakan Anova ini bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan yang bermakna antar kelompok. Berikut adalah hasil uji homogenitas variansi antar kelompok.

Tabel II. Hasil uji homogenitas variansi pada tiap kelompok selang waktu pemotongan kaki setelah injeksi karagenin

Levene Statistic df 1 df 2 Probabilitas (p)

1,088 3 16 0,382

Data tersebut memiliki nilai probabilitas (p) 0,382 yang berarti Ho diterima. karena Ho ditolak jika nilai probabilitas (p) < 0,05. Ho berarti variansi pada tiap kelompok tidak berbeda. Jika Ho diterima berarti variansi pada tiap kelompok seragam sehingga dapat dilakukan pada uji Post Hoc Scheffe karena

syarat untuk dapat lanjut ke uji scheffe adalah variansi antar kelompok harus seragam. Jika tidak seragam, uji Post Hoc Scheffe dapat tetap dilanjutkan akan tetapi akan menghasilkan analisis yang tidak valid. Oleh karena itu untuk uji data yang memiliki variansi antar kelompok yang tidak seragam dilakukan dengan uji Kruskal Wallis. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah dapat dilihat pada tabel III. Tabel III. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah data bobot udema kaki mencit akibat

injeksi karagenin 1% subplantar dalam berbagai variasi selang waktu pemotongan kaki

Keterangan DF F Probabilitas (p)

Bobot udema

antarkelompok perlakuan 3 12,287 0,000

Nilai probabilitas (p) 0,000 menunjukkan ada perbedaan minimal antara 2 kelompok yang diuji karena nilai p < 0,05 sehingga Ho ditolak. Ho berarti tidak ada perbedaan yang signifikan di antara kelompok. Untuk melihat pada kelompok mana saja yang memiliki perbedaan yang signifikan perlu dilakukan uji Post Hoc Scheffe. Rangkuman hasil uji Scheffe dapat dilihat pada tabel IV.

Tabel IV. Rangkuman hasil uji Scheffe data bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar dalam berbagai variasi selang waktu pemotongan kaki Kelompok x+ SE Perbandingan bobot udema antar kelompok

I II III IV I 0,0302 + 0,0033 - TB B B II 0,0417 + 0,0045 TB - B B III 0,0620 + 0,0055 B B - TB IV 0,0618 + 0,0044 B B TB - Keterangan:

I = pemotongan kaki 1 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar II = pemotongan kaki 2 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar III = pemotongan kaki 3 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar IV = pemotongan kaki 4 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar B = berbeda bermakna (p < 0,05)

TB = berbeda tidak bermakna (p > 0,05)

x = rata-rata bobot udema SE = standard error

Dari tabel IVdapat dilihat bahwa pada kelompok I (1 jam) dan kelompok II (2 jam) berbeda bermakna dengan kelompok III (3 jam) dan kelompok IV (4 jam). Sementara itu antara kelompok I dengan kelompok II berbeda tidak bermakna. Demikian juga dengan kelompok III dan kelompok IV berbeda tidak bermakna. Arti secara statistik jika pemotongan kaki dilakukan 1 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar maka bobot udema tidak akan berbeda dengan bobot udema jika pemotongan kaki dilakukan 2 jam setelah injeksi karagenin. Akan tetapi jika pemotongan kaki dilakukan 3 jam atau 4 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar bobot udema akan berbeda dengan bobot udema jika pemotongan dilakukan 1 atau 2 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar. Pada kelompok 3 jam arti secara statistik tidak berbeda dengan kelompok 4 jam. Bobot udema yang paling besar terdapat pada kelompok 3 jam setelah injeksi karagenin subplantar. Pada kelompok ini, dapat disimpulkan bahwa 3 jam merupakan waktu yang paling optimum bagi karagenin dalam menimbulkan udem. Karagenin mampu menimbulkan udem dengan meliputi 2 fase. Fase pertama ditandai dengan dilepaskannya mediator histamin dan serotonin yang diikuti dengan terbentuknya kinin dalam aliran darah. Mediator-mediator ini menyebabkan gangguan pembuluh darah sehingga jaringan mengalami inflamasi. Pelepasan mediator-mediator ini masih berlanjut hingga fase kedua dan diikuti terjadinya ekstravasasi protein plasma, penetrasi sel-sel inflamasi dalam jaringan terinflamasi dan terjadi pelepasan enzim lisosomal. Enzim ini mengawali terjadinya gangguan jaringan dan diikuti oleh produksi radikal bebas yang dapat merusak jaringan. Radikal bebas ini menyebabkan pembentukan lipid peroksida reaktif yang akan

menstimulasi aktifitas fosfolipase sehingga terbentuk asam arakidonat yang dapat memproduksi prostaglandin (Rainsford, 1984). Maka waktu inilah yang dipilih untuk selang waktu pemotongan kaki setelah injeksi karagenin 1% pada percobaan selanjutnya meskipun tidak berbeda secara statistik dengan kelompok 4 jam.

2. Hasil orientasi waktu pemberian natrium diklofenak dengan dosis efektif Pada penelitian kali ini tidak dilakukan orientasi penetapan dosis efektif natrium diklofenak. Pada penelitian ini menggunakan dosis efektif hasil orientasi pada penelitian yang dilakukan oleh Maryanto (1997). Orientasi waktu pemberian natrium diklofenak dengan dosis efektif ini bertujuan untuk mengetahui waktu yang tepat saat natrium diklofenak memberikan penurunan bobot udema yang berarti pada telapak kaki mencit setelah injeksi karagenin 1% subplantar. Natrium diklofenak diberikan secara peroral sebelum injeksi karagenin 1% subpantar dengan selang waktu 15 menit, 30 menit, 45 menit, 60 menit dan 90 menit. Data bobot udema hasil orientasi ini dapat dilihat pada lampiran 12. Rata-rata bobot udema kaki mencit pada tiap kelompok dapat dilihat pada tabel V dan grafik rata-rata bobot udema dapat dilihat pada gambar 7.

Tabel V. Rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dosis 4,48 mg/kg BB dengan selang waktu tertentu

Selang Waktu Pemberian Natrium Diklofenak (menit)

Rata-rata Bobot Udema Kaki (g) + SE (n=5) 15 0,0289 + 0,0045 30 0,0291 + 0,0028 45 0,0334 + 0,0041 60 0,0241 + 0,0018 90 0,0152 + 0,0029

Gambar 7. Grafik rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dengan selang waktu tertentu

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa pada menit ke-15 hingga menit ke-45 terjadi peningkatan bobot udema. Hal ini berarti hingga menit ke-45 efek natrium diklofenak mulai berkurang. Natrium diklofenak memiliki waktu paruh eliminasi 1-2 jam. Sementara itu absorpsi dari natrium diklofenak melalui saluran cerna berlangsung cepat dan lengkap sehingga pada menit ke-15 terlihat natrium diklofenak sudah memberikan efek. Namun karena waktu paruh natrium diklofenak yang relatif singkat, setelah menit ke-15 justru terjadi penurunan efek dari natrium diklofenak yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata bobot udema.

Hal yang cukup menarik terjadi pada menit ke-60 hingga menit ke-90 yaitu terjadi penurunan bobot udem yang cukup tajam jika dibandingkan dengan menit ke-45. Artinya pada menit ke-60 natrium diklofenak justru meningkatkan efeknya. Meskipun waktu paruh natrium diklofenak singkat, namun ternyata obat ini mengalami akumulasi pada cairan sinovia yang menyebabkan efek terapi pada

sendi jauh lebih panjang dari waktu paruh obat tersebut. Hal inilah yang menjelaskan mengapa pada menit ke-60 justru terjadi peningkatan efek dari natrium diklofenak meskipun telah memasuki waktu paruh dari natrium diklofenak. Penurunan bobot udema semakin nyata terlihat pada menit ke-90. Pada menit ini memberikan bobot udema yang paling kecil jika dibandingkan dengan menit lainnya.

Rata-rata bobot udem akibat injeksi karagenin setelah pemberian natrium diklofenak perlu diuji secara statistik untuk melihat apakah di antara kelompok memiliki perbedaan yang berarti. Pertama-tama data tersebut perlu diuji dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov untuk melihat distribusi datanya. Dari hasil analisis yang diperoleh dapat dilihat bahwa data tersebut memiliki probabilitas (p) sebesar 0,891 yang berarti data terdistribusi normal sebab nilai probabilitas (p) > 0,05. Dengan demikian data tersebut memenuhi syarat untuk dilanjutkan pada analisis Anova Satu Arah dengan taraf kepercayaan 95% karena syarat suatu data dapat dianalisis dengan Anova adalah data tersebut harus terdistribusi normal. Analisis menggunakan Anova ini bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan yang bermakna antar kelompok. Berikut adalah hasil uji homogenitas variansi antar kelompok.

Tabel VI. Hasil uji homogenitas variansi pada tiap kelompok waktu pemberian natrium diklofenak dengan dosis efektif

Levene Statistic df 1 df 2 Probabilitas (p)

Data tersebut memiliki nilai probabilitas (p) 0,279 yang berarti Ho diterima. karena Ho ditolak jika nilai probabilitas (p) < 0,05. Ho berarti variansi pada tiap kelompok tidak berbeda. Jika Ho diterima berarti variansi pada tiap kelompok seragam sehingga dapat dilakukan pada uji Post Hoc Scheffe. Karena syarat untuk dapat lanjut ke uji scheffe adalah variansi antar kelompok harus seragam. Jika tidak seragam, uji Post Hoc Scheffe dapat tetap dilanjutkan akan tetapi akan menghasilkan analisis yang tidak valid. Oleh karena itu untuk uji data yang memiliki variansi antar kelompok yang tidak seragam dilakukan dengan uji Kruskal Wallis. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah dapat dilihat pada tabel VII.

Tabel VII. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah data bobot udema kaki mencit pada kelompok orientasi waktu pemberian natrium diklofenak dengan dosis efektif

Keterangan DF F Probabilitas (p)

Bobot udema

antarkelompok perlakuan 4 4,240 0,012

Nilai probabilitas (p) 0,012 menunjukkan ada perbedaan minimal antara 2 kelompok yang diuji karena nilai p < 0,05 sehingga Ho ditolak dimana Ho berarti tidak ada perbedaan yang signifikan di antara kelompok. Untuk melihat pada kelompok mana saja yang memiliki perbedaan yang signifikan perlu dilakukan uji Post Hoc Scheffe. Rangkuman hasil uji Scheffe dapat dilihat pada tabel VIII.

Tabel VIII. Rangkuman hasil uji Scheffe data bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar dalam berbagai variasi selang waktu pemotongan kaki

Kelompok x+ SE Perbandingan bobot udema antar kelompok I II III IV V I 0,0289 ± 0,0045 - TB TB TB TB II 0,0291 ± 0,0028 TB - TB TB TB III 0,0334 ± 0,0041 TB TB - TB B IV 0,0618 + 0,0044 TB TB TB - TB V 0,0152 ± 0,0029 TB TB B TB - Keterangan:

I = pemberian natrium diklofenak 15 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar II = pemberian natrium diklofenak 30 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar III = pemberian natrium diklofenak 45 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar IV = pemberian natrium diklofenak 60 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar V = pemberian natrium diklofenak 90 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar B = berbeda bermakna (p < 0,05)

TB = berbeda tidak bermakna (p > 0,05)

x = rata-rata bobot udema SE = standard error

Dari tabel VIII dapat dilihat bahwa kelompok data yang berbeda bermakna adalah pada kelompok 45 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar dengan kelompok 90 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar. Sementara itu kelompok 15, 30 dan 60 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar berbeda tidak bermakna baik dengan kelompok 45 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar maupun dengan kelompok 90 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar. Arti secara statistik jika pemberian natrium diklofenak dilakukan 45 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar maka bobot udema akan berbeda dengan bobot udema jika pemberian natrium diklofenak dilakukan 90 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar. Akan tetapi jika pemberian natrium diklofenak dilakukan 15, 30 ataupun 60 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar bobot udema tidak akan berbeda dengan

bobot udema jika pemberian natrium diklofenak dilakukan 45 menit atau 90 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar.

Bobot udema paling besar yang dihasilkan adalah pada kelompok pemberian natrium diklofenak yang dilakukan 45 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar. Sementara itu pada pemberian natrium diklofenak yang dilakukan 90 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar, memiliki bobot udema yang paling kecil. Pada kedua kelompok ini memiliki perbedaan secara statistik sehingga dapat disimpulkan pada pemberian natrium diklofenak 90 menit sebelum injeksi karagenin, merupakan waktu yang cukup bagi natrium diklofenak dalam memberikan efek yang optimum. Artinya dalam waktu 90 menit natrium diklofenak mampu menyebabkan penurunan bobot udem yang berarti dari kelompok kontrol karagenin. Natrium diklofenak mampu menurunkan bobot udem dengan cara menghambat kerja enzim siklooksigenase. Pembentukan radikal bebas pada fase kedua yang disebabkan oleh induksi karagenin menyebabkan pembentukan asam arakidonat. Asam arakidoant dengan bantuan enzim siklooksigenase dapat menyebabkan pembentukan mediator nyeri prostaglandin. Dengan pemberian natrium diklofenak maka aktivitas enzim siklooksigenase dihambat sehingga pembentukan prostaglandin tidak terjadi. Hal ini menyebabkan pembentukan udem menjadi terhambat sehingga waktu 90 menit ini dipilih sebagai waktu pemberian natrium diklofenak sebelum injeksi karagenin 1% subplantar untuk percobaan selanjutnya.

C. Hasil Perlakuan Pemberian Kontrol dan Seduhan Jamu “T”

Dokumen terkait