• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Dalam dokumen STRATEGI PENGEMBANGAN SAPI BALI (Halaman 26-55)

III II Defensif Diversifikasi

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Desa Tawali

Desa Tawali merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Tawali merupakan Ibukota Kecamatan Wera. Desa Tawali terletak 35 m dari permukaan laut (DPL). Desa Tawali memiliki luas wilayah sebesar 2900 ha. Batas-batas wilayah desa Tawali ini diantaranya sebagai berikut:

Sebelah Selatan : Desa Nunggi Sebelah Timur : Desa Oitui Sebelah Utara : Desa Hidirasa Sebelah Barat : Desa Wora

Keadaan Demografi dan Topografi (Potensi Wilayah)

Jumlah penduduk Desa Tawali berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2010) terdiri atas 2277 jiwa laki-laki dan 2505 jiwa perempuan. Jumlah Kepala Keluarga (KK) di Desa Tawali sebanyak 1273 jiwa. Berdasarkan keadaan topografi Desa Tawali memiliki luas wilayah sebesar 2900 ha. Lahan yang terdapat di desa ini diusahakan untuk ditanami tanaman padi, kacang tanah dan bawang merah. Pola tanam yang dilakukan masyarakat desa selama satu tahun adalah padi-padi-palawija dan pola tanam lainnya yakni padi-padi-bawang merah. Desa ini merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Wera yang menyuplai kacang tanah dan bawang merah yang menempatkan Kecamatan Wera sebagai urutan pertama penghasil kacang tanah dan urutan ke tiga kecamatan penghasil bawang merah. Iklim merupakan salah satu hal penting untuk diketahui pada suatu daerah. Iklim merupakan gabungan dari beberapa elemen diantarannya adalah suhu, kelembaban, curah hujan, pergerakan angin, radiasi, tekanan udara dan ionisasi (Williamson dan Payne, 1993). Suhu rata-rata desa ini adalah 27,61 oC dengan suhu terendah 21,3 oC dan suhu tertinggi 36,1 oC dengan kelembaban udara rata-rata 75,58%. Kecepatan angin rata-rata per tahun sebesar 3,5 m/s. Luas tegalan 1020 ha dan luas perkebunan 101 ha (Badan Pusat Statistik, 2010).

16 Karakteristik Usaha Ternak Sapi Bali

Motivasi peternak merupakan salah satu aspek penting pada suatu usaha peternakan. Motivasi peternak yang paling banyak dalam menjalankan usaha ternak sapi bali di Desa Tawali adalah sebagai tabungan masa depan dan menambah penghasilan. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Sudrajat dan Pambudy (2003) bahwa peternak tradisional lebih memilih ternak sebagai alternatif usaha menyimpan dana. Hadiyanto (2007) menjelaskan bahwa salah satu ciri peternakan skala kecil adalah ternak dimanfaatkan sebagai tabungan.

Bahan pakan adalah sesuatu yang dapat dikonsumsi oleh ternak, dicerna dan diserap dengan baik sebagian atau seluruhnya tanpa menimbulkan keracunan pada ternak yang bersangkutan (Sukria dan Krisnan, 2009). Berlimpahnya limbah pertanian dan luasnya ladang penggembalaan ternak di desa ini membuat biaya yang dikeluarkan oleh peternak dalam mengusahakan sapi bali menjadi kecil. Penggunaan pakan berupa limbah pertanian dan biaya produksi yang rendah menunjukkan bahwa usaha sapi bali di Desa Tawali merupakan peternakan skala kecil dan tradisional. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Hadiyanto (2007) yang menyatakan bahwa peternakan dengan skala yang kecil memiliki ciri-ciri diantaranya adalah berkesinambungan karena didukung oleh sumber daya lokal yang dapat diperbahrui, terjadi pendaurulangan limbah pertanian campuran yang terintegrasi, biaya pakan rendah, kandang dan peralatan menggunakan bahan lokal, biaya produksi rendah dan dimanfaatkan sebagai tabungan.

Peternak sapi bali di Desa Tawali rata-rata memiliki sapi bali sebanyak 1-5 ekor dengan persentase 50% untuk peternak yang memelihara ternaknya dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan sebesar 93,75% untuk peternak yang memelihara ternaknya dengan sistem pemeliharaan semi intensif. hal ini menunjukkan bahwa Desa Tawali merupakan peternakan dengan skala kecil. Bamualim dan Tiesnamurti (2009) menyatakan bahwa peternakan sapi potong didominasi oleh peternak dengan skala kecil dengan rata-rata kepemilikan ternak sebanyak 2-3 ekor sapi/KK. Jumlah kepemilikan sapi bali peternak di Desa Tawali dapat dilihat pada Tabel 4.

17 Tabel 4. Sebaran Peternak Berdasarkan Jumlah Kepemilikan Ternak Sapi Bali

Jumlah Ternak Sapi Bali (Ekor)

Jumlah Responden Persentase

Ekstensif Semi Intensif Ekstensif Semi Intensif

1 ekor-5 ekor 21 15 50 93,75

6 ekor- 10 ekor 14 1 33,33 6,25

>10 ekor 7 0 16,67 0

Jumlah 42 16 100 100

Sumber : Data yang diolah (2011)

Analisis Lingkungan Internal Pemeliharaan Sapi Bali

Lingkungan internal merupakan aktivitas terkontrol suatu organisasi (David, 2009). Analisis faktor-faktor internal dibutuhkan untuk menganalisis sistem pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif untuk memberikan penilaian kondisi internal dari usaha pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif. Berdasarkan analisis lingkungan internal pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif dapat dibagi menjadi empat bagian diantaranya adalah manajemen pemeliharaan sapi bali pada masing-masing sistem pemeliharaan, pemasaran sapi bali, keuangan dari peternak sapi bali untuk masing-masing sistem pemeliharaan dan sumber daya manusia untuk usaha pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif.

Manajemen Pemeliharaan

Sistem pemeliharaan sapi bali di Desa Tawali dilakukan dengan dua sistem pemeliharaan yakni sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif. Manajemen pemeliharaan untuk masing-masing sistem pemeliharaan dijelaskan sebagai berikut: Ekstensif. Pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif dilakukan dengan melepas sapi ke padang penggembalaan tanpa dikandangkan. Ternak melakukan aktivitas seperti makan, kawin dan beranak di padang penggembalaan. Sistem pemeliharaan ini dapat digolongkan kedalam sistem pemeliharaan ekstensif sebagaimana yang dikemukakan oleh Parakkasi (1999) yang menyatakan bahwa sistem pemeliharaan ekstensif merupakan sistem peliharaan dimana ternak melakukan aktivitas perkawinan, pembesaran, pertumbuhan dan penggemukan di

18 padang penggembalaan. Peternak melakukan pengontrolan ternak sebanyak 1-2 kali dalam satu bulan. Peternak memberikan tambahan mineral berupa garam dapur pada ternak yang dipelihara pada saat melakukan pengontrolan ternak.

Bibit sapi bali diperoleh peternak dari peternak lainnya yang berada di Desa Tawali atau desa lain yang berada disekitar desa. Pencatatan ternak tidak dilakukan oleh peternak. Sebagian peternak sapi bali memberikan tanda berupa sobekan telinga untuk membedakan dengan sapi bali milik peternak lain dan sebagian lainnya memberikan tanda berupa kalung yang dipasangkan di leher ternak.

Pakan sapi bali dengan sistem pemeliharaan ini bergantung pada ketersediaan alam. Rumput lapang merupakan sumber pakan dari ternak selain beberapa legum pohon dan daun-daunan tanaman yang berada di sekitar ladang penggembalaan. Berdasarkan pakan yang dikonsumsi oleh sapi bali ini dapat dikategorikan pada sistem pemeliharaan ekstensif. Parakkasi (1999) menyatakan bahwa pada siste m pemeliharaan ekstensif ternak menggantungkan sepenuhnya sumber pakan pada padang penggembalaan.

Sapi bali yang dipelihara sulit mendapatkan penanganan kesehatan jika ternak terserang penyakit. Hal ini disebabkan oleh lokasi padang penggembalaan yang jauh dari pemukiman milik peternak. Kondisi ini akan merugikan peternak sebagaimana yang dijelaskan oleh Williamson dan Payne (1993) bahwa penyakit pada ternak merupakan faktor pembatas keuntungan bagi peternak. Produksi ternak akan berkurang sebanyak 15-20 persen jika terserang penyakit.

Semi intensif. Sistem pemeliharaan lainnya yang diterapkan peternak yakni sistem pemeliharaan semi intensif. Sistem pemeliharaan secara semi intensif ini merupakan sistem pemeliharaan yang baru diterapkan di Desa Tawali. Sistem ini dilakukan oleh sekelompok peternak yang tergabung dalam kelompok peternak yang dibentuk oleh seorang SMD (Sarjana Membangun Desa). Ternak dipelihara dalam sebuah kandang sederhana yang terletak di sekitar rumah peternak masing-masing dengan bentuk kandang kelompok yang terdiri dari beberapa ekor ternak. Ternak dilepas pada pagi hari sekitar jam 07.00 dan dikandangkan kembali pada jam 17.00.

Kandang merupakan salah satu aspek penting dalam suatu usaha peternakan, hal ini disebabkan fungsi dari kandang itu sendiri yang dapat melindungi ternak dari perubahan cuaca yang ekstrim. Fungsi kandang diantaranya adalah melindungi

19 ternak dari perubahan cuaca atau iklim, melindungi ternak dari penyakit, menjaga ternak dari pencurian, memudahkan pengelolaan ternak dalam proses produksi seperti pemberian pakan, minum dan perkawinan serta meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat, 2010). Kandang akan memberikan pengaruh pada kesehatan ternak (Masudana, 1990). Atap kandang terbuat dari rumbia dan terpal. Dinding terbuat dari kayu hutan dan bambu, sedangkan lantai kandang masih berupa tanah. Keadaan kandang terbuka tanpa adanya penghalang bagi angin dan cahaya matahari yang masuk. Tempat pakan bagi ternak terbuat dari ban bekas yang dibalik di letakkan dalam naungan kandang. Air minum disediakan dalam beberapa ember yang ditempatkan dalam naungan kandang. Jenis kandang yang digunakan pada pemeliharaan semi intensif merupakan jenis kandang kelompok yang terdiri dari beberapa ekor ternak selain itu beberapa responden menggabungkan ternak lain berupa kuda ke dalam kandang sapi.

Gambar 4. Kandang Sapi Bali

Kebersihan kandang merupakan salah satu aspek yang diperhatikan oleh peternak di Desa Tawali. Rata-rata peternak membersihkan kandang mereka minimal satu kali setiap harinya yakni pada pagi setelah ternak dilepas dari kandang. Peralatan kandang merupakan salah satu alat pendukung dalam suatu usaha peternakan. Peralatan yang digunakan peternak dalam menjalankan usaha peternakan diantaranya adalah sapu, sekop dan sabit.

Pakan yang diberikan berupa rumput lapang, jerami padi dan jerami kacang tanah selain itu peternak memberikan tambahan pakan yang berupa dedak padi. Pemberian pakan ini dilakukan untuk menunjang pemenuhan nutrisi pada ternak

20 yang dilepas pada rentang waktu tertentu. Pemberian dedak padi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dari sapi bali yang dipelihara. Paat dan Winugroho (1990) melaporkan bahwa produktivitas sapi bali yang dipelihara di pedesaan dapat ditingkatkan dengan pemberian dedak padi sebagai pakan tambahan.

Alasan peternak memberikan pakan berupa jerami padi dan jerami kacang tanah adalah karena ketersediaannya yang berlimpah. Jerami padi memiliki kekurangan sebagai sumber pakan diantaranya adalah kandungan lignin yang tinggi menyebabkan ikatan lignin-selulosa dan lignin-hemiselulosa sangat kuat, sehingga hidrolisis enzimatis mikroba didalam rumen sapi sangat rendah derajatnya. Kandungan lignin yang tinggi ini menyebabkan penurunan daya cerna jerami padi sebagai pakan sapi (Hargono, 2004). Pakan berupa limbah pertanian diperoleh dari sawah peternak. Pengangkutan pakan dari tempat pengambilan pakan ke kandang dilakukan dengan menggunakan kendaraan roda dua. Frekuensi pemberian pakan dilakukan secara terus menerus sehingga ketersedian pakan di dalam kandang selalu tersedia. Tempat pemberian pakan terbuat dari ban luar bekas kendaraan roda dua. Beberapa tempat pakan diletakkan dalam kandang. Hal ini dilakukan untuk menghindari ternak berebut pakan. Air minum untuk ternak selalu tersedia di dalam kandang.

Peternak memberikan pengenal berupa sobekan pada telinga dan kalung pada sapi bali untuk membedakan dengan ternak milik peternak lainnya. Williamson dan Payne (1993) menjelaskan bahwa peternak sebaiknya memberikan tanda agar memudahkan dalam mengidentifikasi ternak yang dimilikinya. Bibit sapi bali berasal dari bantuan pemerintah melalui program SMD. Setiap peternak yang tergabung dalam kelompok mendapatkan bibit sapi bali berupa satu ekor pejantan dan dua ekor betina.

Penanganan penyakit merupakan aspek lain pada manajemen pemeliharaan. Peternak sapi bali yang memelihara dengan sistem pemeliharaan semi intensif tidak mengalami kesulitan dalam penanganan ternak, hal ini terkait lokasi pemeliharaan sapi bali yang berada di sekitar rumah peternak. Kemudahan dalam penanganan kesehatan sapi bali yang dipelihara dengan sistem pemeliharaan semi intensif menjadikan kekuatan bagi sistem pemeliharaan dengan sistem ini.

21 Pencatatan ternak merupakan aspek lainnya dari manajemen pemeliharaan sapi. Pencatatan berfungsi untuk memudahkan dalam pengenalan pada ternak yang dipelihara, memudahkan dalam penanganan, perawatan dan pengobatan pada ternak dan menunjang pelaksanaan program tatalaksana yang lebih baik. Pada peternak yang memelihara sapi bali dengan sistem pemeliharaan semi intensif pencatatan ternak dilakukan namun belum dilakukan secara optimal.

Pemasaran Sapi Bali

Sapi bali yang dipelihara dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif dijual sendiri oleh peternak pada para pengumpul ternak yang datang ke Desa Tawali. Pengumpul ternak terlebih dahulu akan memberitahukan kedatangannya pada para peternak beberapa hari sebelum kedatangannya pada peternak. Informasi kedatangan pengumpul kemudian disebarkan dari mulut ke mulut antara peternak yang berada di Desa Tawali. Selain dijual kepada pengumpul ternak sapi bali juga dijual kepada warga desa lainnya yang datang langsung ke rumah peternak. Hasil penelitian dari Sukardono et al. (2009) menunjukkan sebagian besar (73,1%) penjagal membeli sapi hidup langsung dari peternak. sebanyak 25,2% membeli dari pasar hewan dan 1,7% dar kelompok-kelompok peternak. Penjagal memotong sapi di Rumah Pemotongan Hewan kecamatan/kabupaten/kota dan menjual daging langsung ke pelanggan perorangan 58,7%, ke pasar 38,5% dan ke restoran-restoran 2,9%. Saluran tata niaga sapi di NTB menunjukkan bahwa subsistem hilir pada agribisnis sapi potong belum berkembang dan masih tradisional. Tidak ada perbedaan harga antara sapi bali yang dipelihara dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif. Harga sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif tidak berdasarkan bobot badan namun dinilai berdasarkan penampilan fisik. Harga jual sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif berkisar antara Rp 3.000.000 – 6.500.000/ ekor bergantung pada umur dan kondisi fisik sapi bali yang dipelihara.

Keuangan

Modal adalah faktor penting bagi seseorang yang akan memulai beternak sapi (Masudana, 2009). Aspek modal juga tidak dapat dipisahkan pada usaha

22 pemeliharaan sapi bali di Desa Tawali dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif.

Ekstensif. Modal usaha peternak sapi bali yang menerapkan sistem pemeliharaan secara ekstensif berasal dari dana pribadi peternak. Peternak tidak mengeluarkan biaya pakan, biaya pembuatan pakan dan biaya peralatan. Hal ini menjadikan salah satu kekuatan bagi sistem pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif. Biaya pakan merupakan biaya produksi terbesar dalam suatu usaha peternakan. Mariyono dan Romjali (2007) menjelaskan bahwa biaya pakan dapat mencapai 60%-80% dari keseluruhan biaya produksi.

Semi intensif. Pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan semi intensif tidak mengeluarkan biaya pembelian bibit. Hal ini disebabkan peternak mendapatan bantuan bibit dari pemerintah melalui program SMD. Biaya yang dikeluarkan oleh peternak berupa biaya pengangkutan pakan yang berasal dari limbah pertanian. Pakan diangkut dari sawah milik peternak. Biaya lainnya adalah biaya perawatan ternak jika terdapat ternak yang sakit.

Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia dapat dilihat dari karakteristik umur, tingkat pendidikan dan mata pencaharian. Karakteristik tersebut dijabarkan sebagai berikut: Umur. Berdasarkan umur peternak yang menerapkan sistem pemeliharaan secara ekstensif sebagian besar berumur 25 tahun-40 tahun dengan persentase sebesar 59,52% dan diikuti dengan peternak yang berumur lebih dari 40 tahun sebanyak 17 responden dengan persentase 40,48%. Umur peternak yang menerapkan sistem pemeliharaan semi intensif sebanyak 2 orang responden memiliki umur kurang dari 25 tahun dengan persentase sebesar 12,5%. Sebanyak 7 orang responden yang berumur berkisar antara 25 tahun-40 tahun dengan persentase 43,75% sedangkan responden yang berumur diatas 40 tahun yang mererapkan sistem pemeliharaan semi intensif sebanyak 7 orang responden dengan persentase sebesar 43,75%.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa peternak yang memelihara sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intesif berada pada usia produktif. Badan Pusat Statistik (2010) mengelompokkan usia penduduk

23 menjadi 3 kelompok diantaranya adalah usia belum produktif (0 tahun-14 tahun), usia produktif (15 tahun-65 tahun) dan usia tidak produktif (66 tahun keatas). Tingginya jumlah peternak yang berada pada usia produktif akan memberikan pengaruh pada produktivitas kerja. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Pasaribu (2007) bahwa usia akan mempengaruhi produktivitas kerja seseorang. Hal ini didasarkan bahwa produktivitas kerja akan mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya usia seseorang. Sebaran umur peternak sapi bali di Desa Tawali dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Sebaran Umur Peternak Sapi Bali di Desa Tawali

Umur Peternak (Tahun)

Jumlah Responden Persentase

Ekstensif Semi Intensif Ekstensif Semi Intensif

<25 0 2 0 12,5

25-40 25 7 59,52 43,75

>40 17 7 40,48 43,75

Jumlah 42 16 100 100

Sumber : Data yang diolah (2011)

Tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan merupakan aspek lainnya yang diamati pada penelitian ini. Tingkat pendidikan menggambarkan tingkat pengetahuan, wawasan dan pandangan seseorang. Tingkat pendidikan yang memadai transfer teknologi akan mudah terlaksana sehingga dapat memacu pengembangan teknologi pada tingkat petani (Kanro et al., 2002). Sebagian besar tingkat pendidikan peternak sapi bali di Desa Tawali yang memelihara ternaknya dengan sistem pemeliharaan ekstensif adalah lulusan SD dengan persentase 50% dan diikuti oleh peternak yang tidak tamat SD dengan persentase 47,62%.

Peternak yang memelihara sapi bali dengan sistem pemeliharaan secara semi intensif tidak tamat SD sebanyak 75%, sebanyak 62,5% untuk peternak yang lulus SD dan SLTP dan diikuti dengan responden yang menyelesaikan pendidikan formal pada tingkat SLTA sebesar 12,5%. Tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada Tabel 6.

24 Tabel 6. Sebaran Tingkat Pendidikan Peternak Sapi Bali

Tingkat Pendidikan

Jumlah Responden Persentase

Ekstensif Semi Intensif Ekstensif Semi Intensif

Tidak Tamat SD 20 12 47,62 75

SD 21 1 50 6,25

SLTP 0 1 0 6,25

SLTA 1 2 2,38 12,5

Jumlah 42 16 100 100

Sumber : Data yang diolah (2011)

Mata pencaharian. Mata pencaharian utama masyarakat desa Tawali ini didominasi oleh petani, kemudian Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pedagang dengan skala kecil. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani mengusahakan lahannya untuk tanaman padi, kacang tanah, dan bawang merah. Petani yang berada di Desa Tawali sebagian besar memiliki usaha sambilan yakni beternak. Beternak sebagai usaha sampingan merupakan karakteristik dari peternak di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Bamualim dan Wirdahayati (2003) bahwa peternakan merupakan salah satu sumber penghasilan bagi peternak namun merupakan usaha sambilan selain bertani. Ternak yang dipelihara oleh penduduk Desa Tawali diantaranya adalah sapi bali, kerbau, ayam, kambing, kuda dan itik. Jumlah ternak di daerah ini dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Populasi Ternak Desa Tawali

No Ternak Populasi (ekor) Populasi NTB

(ribu ekor) 1. Sapi 1.607 685.810 2. Kerbau 566 105.391 3. Kuda 30 77.282 4. Kambing 412 457.735 5. Domba 135 29.924 6. Ayam Buras 6.627 4.578.526

25 Lama beternak. Lama beternak merupakan faktor lain yang diamati pada penelitian ini. Peternak yang memelihara sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif memiliki pengalaman beternak yang tinggi yakni rata-rata ≥8 tahun. Peternak yang memelihara sapi bali dengan sistem pemeliharaan semi intensif memiliki pengalaman beternak yang kurang yakni rata-rata kurang dari ≤4 tahun. Lama beternak ini menunjukkan keterampilan dari peternak. Febrina dan Liana (2008) menyatakan bahwa pengalaman beternak yang cukup lama pada peternak dapat menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilan peternak terhadap manajemen pemeliharaan ternak memiliki kemampuan yang lebih baik.

Berdasarkan analisis lingkungan internal diperoleh faktor-faktor internal yang terdiri dari kekuatan serta kelemahan dari pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif di Desa Tawali. Faktor-faktor kekuatan dan kelemahan pada pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif diantaranya adalah:

1. Peternak tidak mengeluarkan biaya pakan, kandang dan peralatan 2. Tingkat kelahiran anak tinggi (96,37%)

3. Pengalaman beternak tinggi (≥8 tahun)

Kelemahan dari sistem pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif diantaranya adalah :

1. Peternak kesulitan mengontrol ternak 2. Tidak ada pencatatan reproduksi

3. Lahan yang luas dibutuhkan untuk padang penggembalaan

Sedangkan lingkungan internal berupa kekuatan dan kelemahan dari pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan semi intensif diantaranya adalah :

1. Kemudahan dalam penanganan kesehatan ternak 2. Adanya pencatatan reproduksi

3. Tidak membutuhkan lahan yang luas untuk penggembalaan ternak 4. Adanya kelompok peternak

Adapun kelemahan dari sistem pemeliharaan semi intensif di Desa Tawali diantaranya adalah :

1. Memerlukan biaya transportasi pakan 2. Pengalaman beternak kurang (≤4 tahun)

26 3. Keterbatasan tenaga kerja

Analisis Lingkungan Eksternal Pemeliharaan Sapi Bali

Lingkungan eksternal merupakan faktor-faktor yang berada diluar kemampuan suatu organisasi untuk mengendalikannya (Siagian, 2008). Evaluasi lingkungan eksternal dibutuhkan untuk merumuskan berbagai strategi untuk mengambil keuntungan dari peluang eksternal dan meminimalkan atau menghindari dampak ancaman eksternal (David, 2009). Lingkungan eksternal pada pemeliharaan sapi bali dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif dapat dilihat dari beberapa faktor diantaranya adalah:

Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bima meningkat pada tahun 2008 yakni sebesar 5,96% lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan pada tahun 2007 yakni sebesar 4,56% (Badan Pusat Statistik, 2010). Adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bima menyebabkan terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat dan meningkatnya daya beli masyarakat hal ini juga akan berdampak pada peningkatan konsumsi pangan asal hewani pada masyarakat. Konsumsi hasil ternak berupa daging pada masyarakat Indonesia pada tahun 2009 adalah sebesar 6,297 kg/kapita/tahun meningkat pada tahun 2010 menjadi 6,953 kg/kapita/tahun (Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2011). Tingkat konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia berdasarkan Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (2011) adalah sebesar 2 kg/kapita/tahun.

Teknologi

Menurut data yang dirilis oleh Direktorat Jendral Peternakan (2009) Nusa Tenggara merupakan daerah kelompok II berdasarkan jumlah populasi ternak sapi potong beserta faktor pendukung lainnya berupa daya dukung lahan untuk pakan, budidaya, kondisi geografis dan kualitas sumber daya peternak. Pada daerah yang berada pada kelompok II merupakan daerah prioritas pengembangan Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (INKA). Teknologi IB di desa Tawali belum tersedia. Hal ini disebabkan tidak ekonomisnya penyediaan semen beku ke Desa Tawali. Salah satu kesulitan pengembangan teknologi IB untuk daerah

27 Indonesia bagian Timur yang dilaporkan Toelihere (2003) adalah sistem pemeliharaan masih dilakukan dengan sistem pemeliharaan ekstensif, sehingga menyulitkan ketika pendeteksian birahi pada ternak. Perkawinan pada sapi bali yang dipelihara dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif sepenuhnya bergantung pada perkawinan alam.

Kebijakan Pemerintah

Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah merupakan pembuat kebijakan

Dalam dokumen STRATEGI PENGEMBANGAN SAPI BALI (Halaman 26-55)

Dokumen terkait