• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadaan Umum di PPS Cilacap

Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap mulai dibangun pada tahun 1991 oleh Tim Pelaksana Pembangunan berdasarkan SK. Menko Ekuin dan Wasbang Nomor Kep.09/M.EKUIN/1990 tanggal 24 Maret 1990. Tim Pelaksana Pembangunan tersebut terdiri dari 11 Instansi yang terkait dan Pertamina yang bertindak sebagai penyandang dana. Gagasan pembangunan telah diawali sejak tahun 1980-an oleh Direktorat Jenderal Perikanan untuk mengembangkan TPI Sentolokawat yang terhambat perkembangannya karena berada satu jalur dengan alur pelayaran kapal tanker Pertamina. Dengan demikian, lokasi pembangunan PPS Cilacap dipindahkan ke lokasi yang baru agar tidak mengganggu lalu lintas kapal tanker Pertamina.

Pembangunan PPS Cilacap selesai pada tahun 1994 dan diuji coba operasionalnya pada 20 Mei 1994 sampai 24 Mei 1995. Peresmian penggunaan dilaksanakan pada 18 November 1996 oleh Presiden Republik Indonesia. Lokasi PPS Cilacap yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia yaitu pada WPP 573 dan WPP 571 memiliki sumber daya ikan (SDI) yang cukup melimpah terutama ikan pelagis besar dan kecil serta udang dengan tingkat pemanfaatan yang relatif moderat. Pemanfaatan SDI pada tahun 2012 menunjukkan di Perairan Samudera Indonesia yang menjadi fishing ground nelayan Cilacap, kelompok ikan

9 pelagis besar baru dimanfaatkan sebesar 291.64 ton atau 79.63% dari potensi lestari sebesar 366.26 ton per tahun. Potensi dari ikan pelagis kecil yang baru dimanfaatkan sebesar 313.904 ton atau 59.61% dari potensi lestari sebesar 526.57 ton per tahun (KKP 2013). Jenis ikan yang menjadi komoditas unggulan di PPS Cilacap antara lain tuna, cakalang, hiu, paruh panjang, dan udang (KKP 2012).

Perbekalan Nelayan Longline di PPS Cilacap

Kapal longline yang beroperasi di PPS Cilacap beroperasi antara 2-6 bulan di lautan. Kegiatan penangkapan yang dilakukan oleh nelayan longline tentu membutuhkan perbekalan melaut seperti BBM (Bahan Bakar Minyak) yaitu solar, oli dan juga sembako. Perbekalan melaut lainnya yang berhubungan dengan teknis penangkapan ikan seperti air bersih, es, dan umpan akan dibahas dengan menggunakan analisis yang berbeda. Kapal longline yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah kapal dengan ukuran <30 GT sebanyak 2 buah dan kapal dengan ukuran >30 GT sebanyak 2 buah. Kapal longline dengan ukuran <30 GT yang menjadi obyek penelitian adalah kapal Andalas I dan kapal Ilham Putra 5 dengan ukuran 29 GT. Sedangkan kapal dengan ukuran >30 GT yang menjadi obyek penelitian adalah kapal Berkah Jaya dengan ukuran 59 GT dan kapal Berkat Sahabat II dengan ukuran 70 GT. Menurut Nurani dan Wisudo (2007), perbekalan dalam operasi penangkapan meliputi BBM (solar), oli, umpan, perbekalan makanan, air tawar, gas, minyak tanah dan keperluan perbekalan lainnya.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, komponen-komponen perbekalan tersebut didapatkan dengan cara membeli di sekitar PPS Cilacap. BBM yaitu solar dibeli melalui SPBN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan) yang berada di kompleks PPS Cilacap. Selain itu, oli juga didapatkan dari SPBN. Perbekalan lainnya seperti sembako didapatkan dari pasar yang berada dalam sekitar wilayah PPS Cilacap. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, jumlah perbekalan yang dibawa dalam satu kali trip dapat dikelompokkan berdasarkan GT kapal dan lama trip yang dilakukan. Kapal longline dengan ukuran <30 GT memiliki kemiripan diantara keduanya dengan membawa 6000 ℓ solar dan 200 ℓ oli. Perbedaan terdapat pada sembako, kapal longline Andalas I membawa sembako dengan total harga 15 000 000 rupiah, sedangkan kapal longline Ilham Putra 5 membawa sembako dengan total harga 10 000 000 rupiah. Perbedaan ini dapat disebabkan karena perbedaan lama trip yang dilakukan, yaitu kapal longline Andalas I melakukan satu kali trip selama 5-6 bulan, sedangkan kapal longline Ilham Putra 5 melakukan satu kali trip selama 2 bulan. Kapal longline dengan ukuran >30 GT memiliki kemiripan dengan membawa 10000 ℓ solar, 200 ℓ oli dan sembako dengan total harga masing-masing sebesar 20 000 000 rupiah.

Perbekalan tersebut dibeli oleh pemilik kapal longline tersebut, sehingga nelayan hanya menjalankan operasi penangkapan saja. Pada Tabel 1 dijelaskan nama kapal, perbekalan, unit perbekalan, harga per satuan, total harga, sumber perbekalan, lama trip, dan ukuran GT (Gross Tonnage). Prinsip produksi bersih dapat diterapkan pada pengadaan perbekalan kapal longline yaitu dengan membawa perbekalan sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan sehingga tidak

10

terdapat sisa (reduction). Cara ini dapat dilakukan dengan menyesuaikan perbekalan yang dibawa dengan menghitung perbekalan yang dibawa pada kegiatan penangkapan sebelumnya sehingga dapat diketahui jumlah perbekalan yang akan dibawa pada kegiatan penangkapan selanjutnya.

Tabel 1 Perbekalan kapal longline di PPS Cilacap Nama

Kapal Perbekalan Perbekalan Unit

Harga per Satuan

(Rp)

Total Harga

(Rp) Perbekalan Sumber Lama Trip GT Andalas I BBM (Solar) 6000 L 5 500/L 33 000 000 SPBN 5-6 Bulan 29 Oli 200 L 24 000/L 4 800 000 SPBN Sembako 15 000 000 Pasar Ilham Putra 5 BBM (Solar) 6000 L 5 500/L 33 000. 000 SPBN 2 Bulan 29 Oli 200 L 24 000/L 4 800 000 SPBN Sembako 10 000 000 Pasar Berkah Jaya BBM (Solar) 10000 L 5 500/L 55 000 000 SPBN 5-6 Bulan 59 Oli 200 L 24 000/L 4 800 000 SPBN Sembako 20 000 000 Pasar Berkat Sahabat II BBM (Solar) 10000 L 5 500/L 55 000 000 SPBN 6 Bulan 70 Oli 200 L 24 000/L 4 800 000 SPBN Sembako 20 000 000 Pasar

Sumber: Diolah dari hasil wawancara (2014)

Kondisi Ikan Tuna yang Didaratkan oleh Kapal Longline

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di PPS Cilacap terhadap sampel berjumlah 100 ekor tuna, terdapat beberapa cacat pada hasil tangkapan ikan tuna yang didaratkan di PPS Cilacap. Kondisi cacat yang ditemukan pada hasil tangkapan ikan tuna antara lain kulit tergores, daging yang kurang kenyal, warna daging yang pucat, dan mata pudar, kulit tergores, bau tidak segar dan lendir keruh. Selain itu, terdapat juga kondisi dimana ikan tuna yang tertangkap berada di bawah standar bobot yang berlaku yaitu 17 kg. Perbandingan tipe cacat dan jumlah cacat pada hasil tangkapan ikan tuna yang didaratkan di PPS Cilacap diuraikan pada tabel 2 berikut.

11 Tabel 2 Proporsi tipe cacat dengan jumlah cacat ikan tuna

Tipe Cacat Jumlah Cacat

(ekor) Jumlah Kumulatif (ekor) Persentase Cacat (%) Persentase Kumulatif (%)

Warna Daging Pucat 12 12 33.33 33.33

Mata Pudar 8 20 22.22 55.56

Daging Kurang

Kenyal 6 26 16.67 72.22

Berat <17 Kg 3 29 8.33 80.56

Kulit Tergores 3 32 8.33 88.89

Bau Tidak Segar 2 34 5.56 94.44

Lendir Keruh 2 36 5.56 100.00

Total 36

Sumber: Diolah dari hasil wawancara (2014)

Berdasarkan pada Tabel 2, diketahui bahwa terjadi penurunan mutu hasil tangkapan ikan tuna yang ditunjukkan melalui adanya cacat-cacat tersebut. Penurunan mutu tersebut disebabkan oleh tiga macam kegiatan, yaitu autolysis, kimiawi dan bakterial (Ilyas, 1983). Cacat-cacat yang ada dalam hasil tangkapan ikan tuna dapat terjadi secara secara alami ataupun yang diakibatkan dari penanganan ikan tuna tersebut selama kegiatan penangkapan. Perubahan kualitas tersebut terjadi setelah ikan tersebut mati dan adanya cacat fisik seperti kulit tergores diakibatkan oleh penanganan ikan tuna yang tidak sesuai ketika kegiatan penangkapan berlangsung. Pada Gambar 2 dapat dilihat lebih jelas komposisi cacat dari hasil tangkapan ikan tuna yang disajikan dalam diagram pareto.

Gambar 3 Diagram pareto cacat hasil tangkapan di PPS Cilacap

Berdasarkan Gambar 2, tipe cacat yang mendominasi hasil tangkapan oleh 4 kapal di PPS Cilacap adalah warna daging pucat dengan jumlah 12 kasus, kemudian diikuti oleh mata pudar dengan jumlah 8 kasus, dan daging kurang

12 8 6 3 3 2 2 33.33 55.56 72.22 80.56 88.89 94.44 100.00 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00 0 2 4 6 8 10 12 14 Warna Daging Pucat Mata

Pudar DagingKurang Kenyal

Berat ≤17

Kg TergoresKulit Bau TidakSegar LendirKeruh

Per sent as e K um ula tif Jum la h Ca ca t

12

kenyal dengan 6 kasus. Ketiga jenis cacat ini mendominasi cacat hasil tangkapan ikan tuna dengan proporsi hampir 70% dari keseluruhan cacat yang diamati.

Analisis Peta Kendali np Ikan Tuna

Ikan Tuna yang menjadi hasil tangkapan kapal longline harus memiliki mutu yang bagus agar nilai jualnya tetap tinggi. Untuk menjaga mutu tetap bagus, diperlukan penanganan mutu dalam kegiatan produksi ikan tuna. Akan tetapi, setelah didaratkan, masih terdapat ikan tuna yang mutunya tidak bagus. Hal ini ditandai dengan adanya cacat di ikan tersebut.

Untuk mengetahui apakah kegiatan produksi dalam usaha perikanan tuna dalam hal ini yaitu kegiatan penangkapan ikan tuna tersebut masih berada dalam proses pengendalian atau tidak oleh pelaku kegiatan produksi, maka digunakan analisis peta kendali np. Analisa menggunakan metode ini membutuhkan pengamatan langsung untuk pencatatan ikan tuna yang termasuk dalam kategori cacat. Setelah dilakukan pengamatan langsung, didapatkan data yang disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3 Perhitungan peta kendali np untuk ikan tuna

No. Proses SampelJumlah Cacat (ekor)Jumlah Proporsi

1a 10 3 0.3 1b 10 2 0.2 2a 10 3 0.3 2b 10 3 0.3 3a 10 4 0.4 3b 10 4 0.4 3c 10 5 0.5 4a 10 4 0.4 4b 10 4 0.4 4c 10 4 0.4 Total 100 36 3.6 0.36

Sumber: Hasil analisis data 2014

Dalam Tabel 3, sampel yang diamati dalam analisis ini ialah 10 ekor ikan tuna di setiap proses dalam 10 proses. Jumlah tersebut ditentukan dengan menggunakan asumsi volume palka dianggap sama. Jumlah proses tersebut berdasarkan jumlah palka yang terisi oleh ikan tuna. Proses 1a dan 1b menunjukkan kapal ke-1 (Andalas I) terdapat 2 palka yang terisi ikan tuna. Proses 2a dan 2b menunjukkan kapal ke-2 (Ilham Putra 5) terdapat 2 palka yang terisi ikan tuna. Proses 3a, 3b, dan 3c menunjukkan kapal ke-3 (Berkah Jaya) terdapat 3 palka yang terisi ikan tuna. Proses 4a, 4b, dan 4c menunjukka kapal ke-4 (Berkat Sahabat II) terdapat 3 palka yang terisi ikan tuna. Gambar 3 menunjukkan batas pengendalian cacat dari hasil tangkapan ikan tuna di PPS Cilacap.

13

Gambar 4 Peta kendali np mutu ikan tuna

Gambar 3 menunjukkan garis tengah bernilai 3.60, batas atas pada peta kendali np bernilai 8.16 dan batas bawah pada peta kendali np bernilai 0. Nilai pada setiap proses di peta kendali np tidak boleh melewati batas atas dan batas bawah agar dapat dikategorikan terkendali.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap jumlah cacat di setiap proses dapat dilihat bahwa dalam setiap proses pada peta kendali tidak ada yang melebihi dari batas atas dan batas bawah peta kendali np. Hal ini menandakan kegiatan produksi usaha perikanan tuna di PPS Cilacap masih berada dalam proses pengendalian oleh pelaku produksi usaha perikanan tuna yaitu nelayan tuna longline.

Faktor Penyebab Cacat Ikan Tuna

Hasil tangkapan kapal longline berupa ikan tuna yang didaratkan di PPS Cilacap memiliki mutu atau kualitas yang tergolong baik. Walaupun hasil tangkapan tergolong baik, tetapi masih terdapat beberapa ekor hasil tangkapan yang mempunyai cacat. Cacat tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang berkaitan langsung dengan mutu ikan tuna tersebut. Untuk mengetahui faktor-faktor dilakukan analisis sebab akibat terhadap cacat yang terdapat dalam ikan tuna. Faktor-faktor tersebut antara lain nelayan, metode penanganan, sarana, dan material.

Nelayan

Nelayan pada kapal longline mempunyai peranan penting dalam menentukan mutu dari hasil tangkapan yang didaratkan. Nelayan mempunyai peranan penting karena nelayan tersebut menangani ikan sejak ditangkap sampai didaratkan ke pelabuhan. Nelayan pada kapal longline di PPS Cilacap berjumlah 11-15 orang. Nelayan pada kapal longline di PPS Cilacap rata-rata menempuh pendidikan hingga jenjang SD-SMP.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ju m lah Cac at No. Proses Cacat Ikan CL UCL LCL

14

Penanganan hasil tangkapan berupa ikan tuna ditentukan oleh kemampuan dan keterampilan nelayan longline. Walaupun pendidikan yang ditempuh oleh nelayan hanya sampai jenjang SD-SMP, kemampuan dalam menangani hasil tangkapan didapatkan dari pengalaman mereka selama mengikuti kegiatan penangkapan selama bertahun-tahun. Selain itu, pembagian kerja antara nelayan di kapal longline berpengaruh dalam efektifitas kegiatan produksi yaitu penangkapan ikan tuna dan juga berpengaruh dalam penanganan hasil tangkapan yang menentukan mutu hasil tangkapan ikan tuna.

Metode Penanganan

Cara memangani ikan dapat menjadi penyebab cacat ikan tuna. Diawali dengan cara mematikan ikan, apabila cara mematikan ikan tersebut tidak dapat membuat ikan mati dengan cepat, ikan tuna akan menderita stres yang akan menyebabkan penurunan kualitas ikan tuna dengan cepat. Selain itu, apabila ikan tidak mati dengan cepat, ikan akan meronta-ronta yang menyebabkan fisik ikan rusak, seperti kulit yang tergores ataupun sirip yang patah. Penyiangan dan penghentian darah yang dilakukan oleh nelayan apabila dilakukan secara tidak benar dapat menyebabkan penurunan kualitas ikan. Darah yang masih menggenang dalam tubuh ikan akan menyebabkan pembusukan dalam tubuh ikan sehingga dapat menyebabkan cacat seperti warna daging pucat, bau tidak segar, dan daging kurang kenyal.

Penyusunan ikan tuna di dalam palka mempengaruhi kualitas tuna selama dalam perjalanan operasi penangkapan ikan. Penyusunan ikan tuna yang tidak baik menyebabkan kerusakan fisik dari ikan tuna dan pendinginan yang kurang merata. Kegiatan pembongkaran ikan di pelabuhan harus dilakukan dengan cepat dan tidak terpapar matahari secara langsung. Ikan tuna yang didiamkan lama di tempat terbuka dan terkena sinar matahari akan membuat ikan tersebut semakin cepat mengalami pembusukan dan kerusakan pada fisik ikan tuna.

Sarana

Sarana penanganan ikan tuna dalam kegiatan produksi ini salah satunya adalah palka. Palka memegang peran penting karena selama dalam perjalanan kapal, ikan tuna hasil tangkapan disimpan di dalam palka sampai ikan didaratkan di pelabuhan. Hasil tangkapan ikan tuna harus menyesuaian volume dari palka yang terdapat di kapal agar hasil tangkapan tersimpan dengan baik. Selain itu, kehigienisan palka dapat mempengaruhi mutu hasil tangkapan, karena apabila palka kotor maka proses penurunan mutu dari ikan dapat terjadi seperti perubahan tekstur dan perubahan bau ikan. Palka dilengkapi dengan pendingin agar suhu palka tetap dingin sehingga menghambat pertumbuhan bakteri pada ikan dan mutu ikan tetap terjaga. Suhu dalam palka harus dijaga tetap stabil agar suhu ikan tetap konstan berada pada kondisi dingin dan pertumbuhan bakteri terhambat sehingga mutu ikan tetap terjaga. Setelah ikan tiba di pelabuhan dan akan dipindahkan dari kapal, penggunaan troli perlu diperhatikan kehigienisannya

Material

Penanganan ikan tuna dalam kegiatan produksi salah satunya yaitu air laut. Air laut digunakan untuk mencuci ikan tuna setelah dinaikkan ke atas kapal. Air laut yang digunakan tersebut tidak diketahui apakah higienis atau tidak sehingga

15 pencucian ikan dengan air laut dapat mempengaruhi mutu ikan tuna. Selain itu, material yang digunakan antara lain pisau untuk meyiangi insang dan isi perut dari ikan tuna. Pisau yang digunakan harus dalam keadaan steril dan bersih agar tidak ada bakteri yang masuk ke permukaan dalam ikan tuna. Apabila terdapat bakteri pada permukaan dalam ikan akan mempercepat proses pembusukan dalam tubuh ikan. Material yang juga digunakan dalam penanganan ikan tuna yaitu pembungkus plastik. Pembungkus plastik diperlukan untuk menjaga kualitas permukaan luar ikan tuna. Jumlah dari pembungkus plastik harus mencukupi jumlah dari hasil tangkapan ikan tuna agar mutu dari setiap ikan tuna hasil tangkapan tetap terjaga dan tidak terjadi perubahan mutu yang signifikan.

Penerapan Produksi Bersih untuk Penanganan Produk dan Sisa Komponen Operasi

Penanganan Produk

Hasil tangkapan kapal longline di PPS Cilacap berdasarkan sampel yang diobservasi menunjukkan hasil tangkapan ikan tuna berada dalam kondisi yang baik secara keseluruhan. Ikan tuna yang berada dalam kondisi baik atau tidak terdapat cacat dapat dijual dengan tujuan pasar ekspor dalam bentuk tuna segar ataupun tuna beku segar untuk bahan sashimi. Tetapi, masih ada hasil tangkapan ikan tuna yang berada dalam kondisi cacat. Hasil tangkapan yang berada dalam kondisi cacat tersebut dapat menyebabkan penurunan nilai jual akibat penurunan nilai produk. Selain itu, adanya hasil tangkapan ikan tuna yang cacat dapat menurunkan minat konsumen untuk membeli hasil tangkapan. Proses yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga nilai jual ikan tuna yang cacat yaitu dengan mengolah menjadi produk tuna beku olahan yaitu loin, block loin, chunk, saku, steak, dan cube. Selain itu, ikan tuna yang cacat tersebut dapat diolah menjadi tuna kaleng sehingga nilai jual ikan tersebut tidak terlalu menurun.

Pencegahan awal yang merupakan salah satu usaha dalam prinsip produksi bersih dapat dilakukan untuk menjaga kualitas hasil tangkapan. Pencegaha awal yang dapat dilakukan yaitu berupa perbaikan input. Perbaikan input dapat dilakukan dengan cara menangani bahan ataupun material dan sarana secara baik (Suprihatin dan Romli, 2009). Menjaga suhu dan kehigienisan palka, menjaga kehigienisan pisau yang digunakan untuk menyiangi insang dan isi perut dapat menjaga kualitas tuna. Penggunaan air yang bersih dalam mencuci tuna dan menyimpan tuna dalam pembungkus plastik yang bersih dan higienis juga dapat menjaga kualitas hasil tangkapan.

Penanganan tuna yang baik selama operasi penangkapan sangat berpengaruh dalam menjaga kualitas hasil tangkapan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap nelayan tuna longline di PPS Cilacap, penanganan ikan tuna sejak hauling sampai dengan penyimpanan diilustrasikan seperti dalam gambar 4.

16

Gambar 5 Penanganan ikan tuna pada kapal longline di PPS Cilacap.

Penanganan ikan tuna yang baik dapat menjaga mutu dari hasil tangkapan dan menimimalisir jumlah hasil tangkapan ikan tuna yang cacat. Beberapa penanganan yang perlu dilakukan agar didapatkan ikan tuna dengan kualitas yang baik (Junianto 2003) adalah sebagai berikut:

1. Penangkapan dan pendaratan dengan baik;

2. Pembunuhan dan pengeluaran darah dengan benar; 3. Pencucian dan pembersihan secara hati-hati; dan 4. Pendinginan dan pembekuan dengan cepat.

Penanganan tuna yang baik dimulai dengan melakukan pendaratan ikan yang sesegera mungkin untuk mempertahankan kualitasnya. Menurut Junianto (2003), semakin cepat ikan tuna hasil tangkapan diangkat dari dalam air dan dilepas dari mata pancing, akan menurunkan jumlah tuna yang mati dan meningkatan jumlah tuna yang berkualitas tinggi untuk konsumen akhir. Nelayan longline yang menangani ikan tuna sebaiknya memakai sarung tangan agar kulit dan sisik tuna tidak lecet atau rusak yang disebut juga sebagai cacat.

Setelah ikan diangkat ke atas kapal, ikan tuna hasil tangkapan harus segera dibunuh atau dimatikan apabila masih dalam keadaan hidup. Teknik mematikan yaitu dengan menusukkan benda berujung runcing dan tajam ke bagian terlunak di daerah kepala, yaitu terletak di antara dua mata. Penusukan yang dilakukan harus dapat menghancurkan otak dan sistem saraf. Tujuan dari ikan tuna dimatikan sesegera mungkin untuk mencegah tuna dari penderitaan stres lanjutan dan perlawanan selama proses pengeluaran darah. Selain itu, penghancuran otak dan sistem saraf berguna agar sistem saraf yang mengatur suhu tubuh tidak berfungsi sehingga suhu tubuh akan menurun dengan cepat selama dalam penyimpanan (Junianto 2003).

Setelah proses mematikan tuna, harus diikuti proses pengeluaran darah. Tujuan dari pengeluaran darah akan membuat suhu tubuh ikan tuna menjadi lebih dingin dan mengurangi ketengikan. Pemotongan pembuluh darah dilakukan di dada, insang dan di bagian ekor. Selama proses pengeluaran darah, air laut harus dialirkan pada seluruh tubuh tuna untuk mencegah darah membeku. Selanjutnya dilakukan pemotongan insang agar tidak ada bakteri yang terakumulasi pada ikan

Ikan Tuna

Hauling Tuna ke atas kapal

Mematikan Ikan Tuna

Pemotongan Insang Pencucian Ikan Tuna

17 tuna hasil tangkapan. Menurut Nurani dan Wisudo (2007), terdapat beberapa cara pemotongan insang yaitu:

1. Memasukkan pisau dan memotong semua nadi darah yang terkumpul di bawah insang;

2. Memasukkan pisau dan memotong semua nadi darah di sudut segitiga insang; 3. Memasukkan dan memotong nadi darah di kedua sisi perut sampai di bagian

depan sirip dada; dan

4. Memasukkan dan memotong di bagian depan jantung.

Proses pembuangan insang harus dikerjakan secepat dan sehati-hati mungkin untuk tetap mempertahankan kualitas mutu ikan tuna. Setelah pembuangan insang selesai dilakukan, dilanjutkan oleh pencucian ikan yang dimulai dari bagian-bagian ikan tuna yang terpotong atau teriris menggunakan air laut. Tahap selanjutnya dalam proses penanganan tuna yaitu penyimpanan ikan dalam palka. Penyimpanan dilakukan dalam palka yang berpendingin baik menggunakan es ataupun palka yang dilengkapi dengan refrigerator. Semakin cepat suhu tubuh tuna menurun maka kualitas tuna yang dihasilkan akan semakin baik.

Setelah tiba di pelabuhan, hasil tangkapan harus segera dibongkar untuk tetap mempertahankan kualitas hasil tangkapan. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembongkaran ikan adalah sebagai berikut (Moeljanto diacu dalam Febrina 2012):

1. Ikan dibongkar dengan hati-hati dan sedapat mungkin tidak menggunakan sekop yang dapat melukai tubuh ikan.

2. Saat menimbag es dipisahkan dari ikan setelah menimbang, ikan kembali didinginkan.

3. Wadah sebaiknya terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan. 4. Ikan harus terhindar dari pancaran sinar matahari secara langsung.

Bagian dari tuna yang tidak dapat diproses untuk diolah menjadi makanan dapat mencapai 50% (Kristinsson & Rasco, 2000). Bagian dari ikan yang tidak terpakai tersebut dapat diolah menjadi pakan hewan ternak. Penggunaan sisa dari ikan yang dijadikan bahan pakan ternak adalah berupa kepala, tulang, ekor dan isi perut. Penggunaan sisa dari ikan meningkatkan mineral, protein dan lemak dalam pakan (Arvanitoyamis & Kassaveti, 2008). Sisa dari ikan berupa kulit, tulang dan sirip dapat digunakan dalam industri makanan/kosmetik karena mengandung kolagen dalam kisaran 36% sampai 54%. Kandungan kolagen ini dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pemberian kolagen dalam makanan, komsetik atau kebutuhan medis (Nagai & Suzuki, 2000). Sisa dari tuna yang tidak ddimanfaatkan juga dapat digunakan sebagai kandungan bahan bakar diesel dan sebagai bahan pigmen alami.

Penanganan Sisa Umpan

Umpan adalah salah satu faktor penting dalam kegiatan penangkapan tuna longline. Umpan yang digunakan dalam kegiatan penangkapan tuna longline adalah ikan rucah yang dibekukan. Penggunaan umpan pada kapal longline di PPS

Dokumen terkait