• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN

1. Hasil penelitian

Mulai dari pra penelitian sampai akhir penelitian menunjukan bahwa penerapan PPR dapat meningkatkan competence, consience dan compassion. Hasil tersebut dapat dipaparkan menurut aspek-aspek sebagai berikut:

a. Aspek Competence

Perkembangan pada aspek competence terlihat pada proses penelitian. Perkembangan nilai competence siswa pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X1 SMA Kolese De Britto Yogyakarta dapat dilihat pada pemaparan bawah ini:

1) Unsur Kognitif

Ranah kognitif adalah kemampuan berpikir, kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevalusi (Widanarto, 2007:32). Perkembangan kognitif dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.15

Skor Rata-rata Aspek Competence

Siklus Rata-rata Nilai Kenaikan Persentase Kenaikan Pre test Post test

I 54,6

74,2

24,8 50.2%

II 44,2

Dari tabel 5.15 dapat dilihat bahwa nilai competence rata-rata siswa mengalami kenaikan. Pada awal siklus I peneliti memberikan pre test dengan hasil rata-rata nila siswa 54,6. Selanjutnya pada awal siklus II diperoleh rata-rata nilai pre test sebesar 44,2. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan siswa belum baik sebelum pembelajaran dilakukan. Setelah menerapkan PPR, hasil rata-rata siswa pada akhir silus II menjadi 74,2 atau mengalami kenaikan sebesar 24,8 atau sama dengan 50,2%.

2) Unsur Psikomotorik

Ranah psikomotorik adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misal berdiskusi, aktif dalam permainan, menari, memukul, dan lain sebagainya (Widanarto, 2007:32). Dalam pembelajaran ekonomi unsur psikomotorik sangat sulit untuk ditemukan dalam pembelajaran karena materi dalam ekonomi merupakan teori yang sulit untuk dipraktekkan dalam proses pembelajaran.

Penelitian ini menitikberatkan pada aspek psikomotorik yang diambil dari aktivitas siswa dalam pemecahan diskusi permainan yang terdapat pada pengalaman pembelajaran siswa di kelas. Pengembilan nilai diambil melalui pengamatan unjuk kerja siswa. Perkembangan psikomotorik dapat dilihat pada lembar pengamatan diskusi permainan sebagai berikut:

Tabel 5.16

Data Observasi Unjuk Kerja Diskusi Permainan Peta Konsep

No Aspek yang

Dinilai Baik

Tidak

baik Catatan

1 Komunikasi Komunikasi yang terjadi sangat baik

2 Wawasan/

kemampuan 

Kemampuan dan wawasan sangat baik padahal baru belajar materi hari ini

3 Semangat Semangat yang

dimunculkan sangat baik 4 Antusias

performan 

Antusias dalam permainan tinggi

5 Tanya jawab

Mereka saling bertanya jawab dalam

menyelesaikan permaianan 6 Ketrampilan

Siswa terlihat sangat trampil dalam

menyelesaikan permainan 7 Keaktifan

Sikap siswa dalam memainkan permainan sangat aktif

8 Pemecahan

masalah 

Pemecahan masalah dilakukan dengan saling mengutarakan pendapat 9 Penyampaian

presentasi 

Presentasi dilakukan dengan baik, namun kurang sistematis 10 Keberanian

Keberanian dalam presentasi tidak dimiliki oleh semua siswa, terlihat dari kesempatan yang diberikan dan siswa saling menunjuk satu sama lain Tabel 5.16 menunjukkan bahwa observasi unjuk kerja yang diperoleh memperlihatkan berkembangnya hal-hal positif ditunjukkan dengan adanya komunikasi yang baik, antusiasme yang tinggi, pemecahan masalah yang baik, penyampaian presentasi yang cukup baik, dan lain sebagainya.

Tabel 5.17

Data Observasi Unjuk Kerja Diskusi Permainan Puzzle Segitiga

No Aspek yang Dinilai Baik Tidak baik Catatan 1 Komunikasi  Komunikasi kurang terjalin dengan baik pada awalnya karena permainan yang agak susah

2 Wawasan/

kemampuan 

Wawasan dan kemampuan siswa kurang begitu baik untuk selesai dengan cepat 3 Semangat

Walaupun kesulitan dalam menyelesaikan permainan, siswa tetap bersemangat 4 Antusias performan  Antusias memainkan permainan tinggi 5 Tanya jawab 

Siswa mencoba untuk tanya jawab dalam penyelesaian permainan 6 Ketrampilan Dalam permainan ini

siswa kurang trampil 7 Keaktifan

Siswa aktif untuk bertanya kepada guru dalam

menyelesaikan permainan 8 Pemecahan

masalah

Permainan dapat

dipecahkan dengan baik, walaupun dengan tambahan waktu 9 Penyampaian presentasi  Presentasi dilakukan dengan baik 10 Keberanian 

Siswa kurang percaya diri dalam memaparkan hasil diskusi permainan, siswa masih saling tunjuk menentukan siapa yang mempresentasikan hasil Tabel 5.17 menunjukkan bahwa diskusi permainan dilalui dengan cukup lama karena jenis permainan yang cukup sulit dan menguras tenaga serta pikiran. Namun permainan tetap dapat

diselesaikan karena semangat dan kemampuan yang baik untuk memecahkan masalah.

Tabel 5.18

Data Observasi Unjuk Kerja Diskusi Permainan Example non Example

No Aspek yang

Dinilai Baik

Tidak

baik Catatan

1 Komunikasi

 Komunikasi terjadi dengan baik dan permainan berjalan dengan lancar 2 Wawasan/

kemampuan

Wawasan siswa sangat baik karena pembelajaran yang dilalui selama proses pembelajaran

3 Semangat Siswa sangat bersemangat

memainkan permainan 4 Antusias

performan 

Antusiasme diperlihatkan siswa dengan kegembiraan dalam permainan

5 Tanya jawab

Siswa tidak banyak melakukan tanya jawab karena permainan tergolong mudah 6 Ketrampilan

Ketrampilan siswa sangat baik, ditunjukkan dengan menyelesaikan permainan dengan cepat dan benar 7 Keaktivan

 Semua siswa aktif

memainkan permainan 8 Pemecahan

masalah 

Masalah sangat mudah diselesaikan 9 Penyampaian presentasi  Penyampaian presentasi cukup baik 10 Keberanian 

Banyak dari kelompok menawarkan diri untuk mempresentasikan hasil diskusi permainan mereka. Tabel 5.18 menunjukkan bahwa permainan dapat diselesaikan dengan baik karena jenis permainan yang cukup mudah. Namun permainan example non example mampu membuat

siswa berkomunikasi dengan baik dengan teman satu kelompok, semangat dalam mendiskusikan permainan, dan menjadi percaya diri untuk memaparkan hasil diskusi di depan kelas.

3) Unsur Afektif-akademik

Unsur afektif dalam competence merupakan unsur afektif- akademik, yaitu unsur afektif yang terbatas kaitannya dengan keilmuan (akademik). Sikap dan minat siswa diukur dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner menggunakan pengukuran dengan skala lima. Unsur afektif-akademik dapat dilihat pada tabel penilaian sikap dan minat di bawah ini:

a) Penilaian Skala Sikap

Penilaian sikap ditujukan untuk mengetahui sikap siswa terhadap proses pembelajaran; yang mencakup mata pelajaran, perangkat pembelajaran, guru, kondisi kelas, dan lain-lain. Penilaian sikap diukur dengan 15 pernyataan kuesioner yang telah dibuat pada saat mempersiapkan penelitian (lampiran 26) Hasil penilaian sikap siswa dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.19

Skor Rata-rata Penilaian Sikap

Saat Pengukuran Rata- rata Skor Rerata Skor Sebelum dan sesudah Awal Siklus I (sebelum penerapan PPR) 3,27 3,27 Akhir Siklus I (sesudah penerapan PPR) 3,34

3,42 Akhir Siklus II (sesudah penerapan PPR) 3,51

b) Penilaian Skala Minat

Minat merupakan kecenderungan siswa untuk memilih sesuai dengan rasa nyaman atas sebuah benda atau peristiwa. Penilaian minat pada penelitian ini diukur dengan 15 pernyataan kuesioner (lampiran 27). Hasil penilaian sikap siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 5.20

Skor Rata-rata Penilaian Minat

Saat Pengukuran Rata- rata Skor Rerata Skor Sebelum dan sesudah Awal Siklus I (sebelum penerapan PPR) 2,99 2,99 Akhir Siklus I (sesudah penerapan PPR) 3,07

3,16 Akhir Siklus II (sesudah penerapan PPR) 3,26

Aspek competence pada unsur afektif-akademik dapat dilihat pada pengukuran sikap dan minat. Unsur afektif-akademik diperoleh dari penggabungan pengukuran sikap dan minat siswa yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.21

Skor Rata-rata Penilaian Afektif-akademik

Saat Pengukuran Rata- rata Skor Rerata Skor Sebelum dan Sesudah Awal Siklus I (sebelum penerapan PPR) 3,13 3,13 Akhir Siklus I (sesudah penerapan PPR) 3,20

3,29 Akhir Siklus II (sesudah penerapan PPR) 3,38

Berdasarkan tabel 5.21 dapat dilihat pada awal siklus rata- rata skor pada aspek consceince ini 3,13. Setelah melakukan proses

pembelajaran siklus I hasil rata-rata naik menjadi 3,20. Selanjutnya rata-rata nilai meningkat pada akhir siklus II diperoleh menjadi 3,38. Selain itu hasil peningkatan dari aspek conscience dapat dilihat dari rata-rata sebelum diterapkannya PPR yaitu 3,13 menjadi 3,29 sesudah penerapan PPR. Skor konversi dari data kuantitatif ke dalam data kualitatif diperoleh bahwa nilai rata-rata 3,29 berada pada kriteria ‘cukup baik’. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunakan PPR dalam pembelajaran dapat meningkatkan unsur afektif-akademik siswa, meskipun secara kuantitaif kecil dan secara kualitatif masih berada pada kriteria yang sama.

Naiknya rata-rata nilai evaluasi kognitif siswa pada tabel 5.15 menunjukkan adanya kenaikan nilai akademik. Begitu pula pada tabel 5.16, 5.17 dan 5.18 yang berisi observasi unjuk kerja siswa, menunjukkan adanya pekembangan siswa dalam hal psikomotorik. Selain itu, pada tabel 5.21 dalam pengukuran unsur afektif -akademik menunjukkan peningkatan pada setiap siklusnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan Paradigma Pedagogi Reflektif mampu meningkatkan aspek competence siswa.

b. Aspek Conscience

Tujuan dari penelitian ini ingin mengembangkan nilai kejujuran, kerja keras/pantang menyerah dalam aspek conscience. Aspek Conscience diukur dengan menggunakan kuesioner yang diberikan

pada awal dan akhir setiap siklus. Selain itu, pengukuran juga dilakukan dengan memberikan pertanyaan refleksi dan aksi kepada siswa. Penilaian tersebut dipaparkan sebagai berikut:

1) Kuesioner

Kuesioner diberikan untuk mengukur moral siswa. Menurut KBBI Moral merupakan ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Selain melihat nilai akademik, penelitian ini bertujuan untuk melihat nilai moral yang ada dalam diri siswa. Nilai moral yang diambil dalam penelitian ini adalah Kejujuran dan Kerja Keras/Pantang Menyerah.

a) Moral Kejujuran

Kejujuran adalah sikap moral untuk berkata dan bertindak sesuai dengan apa yang terjadi tanpa dibuat-buat dan tanpa rekayasa. Penilaian kejujuran dalam penelitian ini diukur dengan 10 pernyataan kuesioner (lampiran 28). Hasil penilaian moral kejujuran dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 5.22

Skor Rata-rata Penilaian Kejujuran

Saat Pengukuran Rata -rata Skor Rerata Skor Sebelum dan Sesudah Awal Siklus I (sebelum penerapan PPR) 3,75 3,75 Akhir Siklus I (sesudah penerapan PPR) 3,81

3,83 Akhir Siklus II (sesudah penerapan PPR) 3,86

b) Penilaian Moral Kerja Keras/Pantang Menyerah

Kerja keras/pantang menyerah adalah sikap moral yang menunjukkan kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu dengan giat dan semangat tidak mengenal putus asa. Penilaian kerja keras/pantang menyerah dalam penelitian ini diukur dengan 10 pernyataan kuesioner (lampiran 29). Hasil penilaian moral kerja keras/pantang menyerah dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.23

Skor Rata-rata Penilaian Kerja Keras/ Pantang Menyerah Saat Pengukuran Rata- rata Skor Rerata Skor Sebelum dan sesudah Awal Siklus I (sebelum penerapan PPR) 3,76 3,76 Akhir Siklus I (sesudah penerapan PPR) 3,87

3,96 Akhir Siklus II (sesudah penerapan PPR) 4,05

Aspek conscience dapat dilihat dari hasil pengukuran moral kejujuran dan kerja keras/pantang menyerah. Hasil tersebut diperoleh dari penggabungan rata-rata nilai yang dilihat dalam proses pembelajaran. Rerata nilai conscience dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.24

Skor Rata-Rata Aspek Conscience

Saat Pengukuran Rata- rata Skor Rerata Skor Sebelum dan sesudah

Awal Siklus I (sebelum penerapan PPR) 3,75 3,75 Akhir Siklus I (sesudah penerapan PPR) 3,84

3,89 Akhir Siklus II (sesudah penerapan PPR) 3,95

Berdasarkan tabel 5.24 dapat dilihat pada awal siklus rata- rata skor pada aspek consceince ini 3,75. Setelah melakukan proses pembelajaran siklus I hasil rata-rata naik menjadi 3,84. Selanjutnya rata-rata nilai meningkat pada akhir siklus II diperoleh menjadi 3,95. Selain itu hasil peningkatan dari aspek conscience dapat dilihat dari rata-rata sebelum diterapkannya PPR yaitu 3,75 menjadi 3,89 sesudah penerapan PPR. Skor konversi dari data kuantitatif ke dalam data kualitatif diperoleh bahwa nilai rata-rata 3,89 berada pada kriteria ‘baik’. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunakan PPR dalam pembelajaran dapat meningkatkan aspek conscience siswa, meskipun secara kuantitaif kecil dan secara kualitatif masih berada pada kriteria yang sama. 2) Pertanyaan Refleksi

Aspek conscience juga dapat dilihat pada hasil refleksi siswa dalam menemukan nilai kejujuran dan kerja keras dalam proses pembelajaran. Hasil penemuan siswa tersebut terlihat pada tabel- tabel di bawah ini:

a) Refleksi Siswa akan Penemuan Nilai-nilai Kehidupan

Tabel 5.25

Hasil Refleksi Siswa atas Nilai yang Ditemukan dalam Pembelajaran No Penemuan Siswa Siklus I Penemuan Siswa Siklus II 1 Kejujuran, kegigihan, kerja keras, kerja sama

Kejujuran, keberanian, berbuat hal yang benar, keadilan, semangat pantang menyerah 2 Kerja keras, kerja sama,

pantang menyerah, ulet dan sabar

Kerja keras, ketekunan, kerja sama, peduli, jujur, menjadi diri sendiri, ikhlas 3 Kejujuran, kerja sama Kejujuran, kerja sama 4 Kejujuran dan pantang

menyerah

Kerja keras, semangat dan pantang menyerah

5 Kerja keras, kejujuran Kejujuran, kerja sama, pantang menyerah 6 Kejujuran, penghargaan,

komunikasi, toleransi

Kejujuran, daya juang, komunikasi, kebersamaan 7 Kekompakan, kerja keras Nilai kejujuran dalam

bersikap dan berperilaku 8 Nilai kerja sama dan

kepercayaan terhadap orang lain

Nilai kejujuran, kerja sama, pantang menyerah 9 Kerja keras, kejujuran Kerja keras, daya juang,

kejujuran 10 Kerja sama, pantang

menyerah, kreatifitas, menghargai teman

Kerja keras dan semangat pantang menyerah. Kehidupan yang penuh tantangan ini membentuk kita menjadi lebih kuat 11 Kejujuran, kesopanan,

kerja sama, pantang menyerah

Kejujuran, kerja sama, pantang menyerah, kejujuran

12 Kejujuran, kerja sama, saling menghargai pendapat, pantang menyerah/kerja keras

Kerja keras, pantang menyerah, kerja sama, kejujuran, menghargai orang lain

13 Kejujuran Nilai kerja sama dan nilai kejujuran

14 Kebersamaan, kerja sama, kejujuran, pantang

menyerah, sportivitas

No Penemuan Siswa Siklus I

Penemuan Siswa Siklus II

15 Kerja keras, pantang menyerah, kekompakan, kesabaran

Bahwa hidup itu tak semudah yang kita inginkan

16 Nilai yang paling menonjol adalah kerja sama dan kejujuran

Kejujuran, kerja sama, kerja keras

17 Kerja sama, kebersamaan, kejujuran

Pantang menyerah, kerja keras

18 Kejujuran, kerja keras, kepercayaan terhadap teman, kebersamaan

Nilai kerja sama, nilai kejujuran, nialai kerja keras

19 Kejujuran, kerja keras, semangat tinggi

Kerja keras dan pantang menyerah

20 Kerja sama, saling menghormati,

Kita dapat mempelajari tentang nilai-nilai kejujuran, kerja sama, serta pantang menyerah 21 Kerja sama Mengerti apa kejujuran

dan kerja sama di materi ini

22 Kerja sama, kepercayaan, kejujuran

Kejujuran, kerja keras 23 Kerja sama, jujur,

menghargai pendapat teman

Hidup harus dengan kerja keras 24 Pantang menyerah, semangat, kejujuran, keyakinan, berusaha dengan keras Nilai kejujuran,

keyakinan, dan percaya diri

25 Kerja sama, kejujuran, Kejujuran

26 Kejujuran, kerja sama Kerja keras,kejujuran 27 Kejujuran, mengahargai

orang lain, dan kerja sama

Pantang menyerah, kekompakan, kejujuran, kerja sama

28 Kerja sama, kejujuran Kejujuran, ketulusan 29 Kerja keras, pantang

menyerah, kesabaran

Nilai kejujuran, pantang menyerah, kerja keras, kerja sama

30 Kerja sama, kekompakan, ketelitian, ketekunan

Kejujuran, kerja sama, dan kerja keras

No Penemuan Siswa Siklus I

Penemuan Siswa Siklus II

32 Kerja sama, saling membantu, tolong menolong, toleransi, menghargai pendapat

Kerja sama, kejujuran

33 Kejujuran, kerja sama, ketelitian,

Kerja keras, kerja sama, kejujuran

34 Kerja sama, ketelitian, kesabaran, menghargai orang lain

Kerja keras, jujur,

menghargai pendapat dari teman lain

35 Kerja sama, kekompakan kejujuran

Kejujuran, kerja sama, daya juang tinggi, dan penghargaan terhadap sesama

36 Kerja sama, rasa percaya, jujur

Hidup kita tidak selalu berjalan mulus, pasti ada kendala

37 Kerja keras, kompak, sabar, rendah hati

Hidup perlu banyak perjuangan

38 Kerja sama, menghargai pendapat rang lain

Untuk materi ini saya belum mendapat tambahan pengetahuan, karena guru hanya sedikit menjelaskan tentang materi

Tabel 5.25 menunjukkan penemuan nilai-nilai kehiduipan dengan pertanyaan; nilai apa saja yang dapat kita ambil dari pembelajaran materi ini? Penemuan siswa atas nilai kehidupan dalam proses pembelajaran sangat bervariatif. Berdasarkan nilai-nilai kehidupan yang ditemukan siswa dalam proses pembelajaran pada siklus I, sebanyak 25 atau 65,78% siswa menjawab menemukan nilai kejujuran 16 atau 42,10% siswa menemukan nilai kerja keras/pantang menyerah dalam proses pembelajaran. Pada siklus II terjadi kenaikan akan nilai kejujuran dan kerja keras/pantang menyerah yang ditemukan

siswa. Sebanyak 29 atau 76,31% siswa menemukan nilai kejujuran dan 28 atau 73,68% siswa menemukan nilai kerja keras/pantang menyerah dalam proses pembelajaran.

b) Refleksi Siswa akan Alasan Pentingnya Bersikap Jujur

Tabel 5.26

Hasil Refleksi Siswa atas Manfaat Nilai Kejujuran

No Siklus I Siklus II

1 Hati merasa plong, dapat pahala

Kedamaian hati, tenang, dipercaya orang lain 2 Lega karena tidak ada

yang perlu

disembunyikan mesti tidak enak diawalnya

Banyak teman, dipercaya orang

3 Hati lebih lega Kepuasan dari dalam diri sendiri

4 Perasaan senang, tanpa beban dosa/bersalah

Puas hati dan tidak merugikan

5 Merasa tenang saat berbuat jujur

Merasakan kelegaan dan ketenangan, hati tidak resah, terbentuk karakter yang baik, diterima di masyarakat

6 Dapat dipercaya banyak orang

Ada rasa lega dan tenang, hati tidak resah, tidak takut dicurigai mencontek 7 Ketenangan, dekat

dengan tuhan

Hati lega, tidak cemas, tidak dibayang-bayangi perasaan takut karena berbohong, dapat banyak teman, dipercaya oleh orang lain

8 Hati lega, tidak dosa, dapat pahala

Kepuasan sendiri, karena mendapat hasil dari proses yang jujur tentu saja tingkat kepuasan akan berbeda

9 Perasaan tenang dan lega Pekerjaan yang dilakukan menjadi berhasil dan lebih bangga pada pekerjaan sendiri, lebih dekat dengan Tuhan

No Siklus I Siklus II

10 Lebih lega, merupakan usaha sendiri, tidak terbebani

Tenang, karena tidak ada hal yang kita tutupi, tidak merasa gelisah atau takut 11 Lega dan hati terasa

adem

Akan dipercaya orang 12 Senang, bisa mengatakan

hal yang benar

Disenangi dan memiliki banyak teman, tidak takut dalam bertindak, dipercaya orang lain, melatih

kejujuran, menanam perbuatan baik 13 Tidak cemas, percaya

diri

Memperoleh hasil berupa kepuasan jika jujur 14 Kita menjadi lega dan

tidak ada beban

Hati tenang tidak dihantui rasa bersalah

15 Disenangi orang lain Kepuasan psikologis dan bukan kepuasan materi yang terasa lebih menyenangkan 16 Kita sendiri akan merasa

diuntungkan, walau terkadang jujur itu berat

Kedamaian hati dan jiwa 17 Kepuasan dalam diri

sendiri

Kita akan mendapat balasan/sesuatu yang lebih, hati menjadi tenang, senang bisa membuat orang bahagia

18 Hati menjadi tenang dan terjauh dari masalah

Tidak ada uneg-uneg dalam hati

19 Membuat hati tenang Berpuas diri atas hasil kejujuran kita

20 Tidak ada beban di hati, sekaligus mengurangi dosa

Jujur membuat kita semakin tenang dan melatih hati nurani kita untuk selalu mengarahkan kepada perbuatan yang baik dan benar. Sehingga kita semakin menjadi manusia yang baik 21 Tidak ada yang perlu kita

sembunyikan, merasa lega meski kejujuran itu tidak enak dikatakan pada awalnya

Lega, bayak teman, dan dipercaya orang

No Siklus I Siklus II

22 Hati menjadi lebih lega Kepuasan di dalam batin 23 Dipercaya orang lain,

memiliki banyak teman

Kepuasan batin, dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain

24 Mendapat kepercayaan lebih

Kelegaan dan kebanggaan tersendiri, tidak berbuat dosa, jadi dipercaya orang lain, karena jujur nama kita tidak tercemar dan nama baik terjaga 25 Kita dapat dipercaya oleh

banyak orang

Hati menjadi lega dan tidak merasa bersalah, orang mempercayai kita jika kita berbuat jujur dan mau bekerja sama

26 Tidak memiliki beban hidup, seperti berkurang

Kita dapat dipercaya orang lain, hati terasa tenang, banyak teman

27 Mendapat pahala, hati terasa plong, tidak gusar karena berbuat jujur, menambah keakraban dengan orang lain

Hasil yang kita dapatkan akan lebih memuaskan

28 Hati terasa lega, dapat membuat orang lain senang

Tidak berdosa, jiwa menjadi tenang, hal yang kita lakukan mendapat hasil maksimal

29 Tidak ada beban batin dan bisa bangga karena hasilnya adalah milik sendiri

Kita akan merasa tenang dan lebih bangga dengan apa yang kita lakukan dengan jujur

30 Rerasa lega meskipun itu salah, tapi hati terasa lebih tenang bila kita berkata apa adanya

Kita akan mendapatkan ketenangan

31 Senang, merasa lega karena bisa jujur

Banyak teman, belajar percaya diri

32 Merasa lega dan tidak terbebani

Dapat diterima oleh orang lain

33 Banyak yang percaya pada kita

Hati merasa tenang dan lega

34 Disegani banyak orang, orang lain tidak merasa rugi

Disenangi teman, dan dipercaya oleh orang lain

No Siklus I Siklus II

35 Jika kita berbuat jujur maka segala yang kita dapatkan akan berbuah baik

Dosa kita tidak bertambah, jiwa menjadi tenang 36 Kepuasan hati Tidak ada beban di hati,

hati senang, tidak merugikan pihak lain 37 Hati jadi tenang dan juga

kita dapat merasakan keuntungan yaitu masalah tidak menjadi rumit

Hati kita menjadi lebih "plong"

38 Rendah hati dan membuat hati bahagia

Menurut saya kita akan merasa tidak terbebani karena kita sudah berlaku jujur

Tabel 5.26 menunjukkan bahwa dalam refleksi, siswa dapat mengambil menfaat nilai kejujuran. Semua siswa mampu mengambil nilai positif dari nilai kejujuran. Berdasarkan data rerfleksi di atas dapat disimpulkan bahwa siswa mengerti akan pentingnya nilai kejujuran.

c) Refleksi Siswa akan Alasan Pentingnya Kerja Keras/Pantang Menyerah

Tabel 5.27

Hasil Refleksi Siswa atas Manfaat Nilai Kerja Keras/ Pantang Menyerah

No Siklus I Siklus II

1 Iya, karena jika kita ingin meraih sesuatu, kita harus berusaha

Tentu saja, karena

mendapatkan sesuatu dari jerih payah sendiri rasanya lebih nikmat sekaligus menempa diri agar menjadi lebih baik 2 Perlu, kerja keras dan

pantang

Perlu, karena kerja keras dan pantang menyerah berarti

No Siklus I Siklus II

menyerah=kekuatan maksimal,

usaha+optimal=hasil (berhasil)

memposisikan diri kita pada tapal batas kita dan tapal batas membawa kita pada sebuah perjuangan tiada akhir yang membuat keberhasilan

3 Karena segalanya tidak datang begitu saja

Ya, karena segalanya tidak datang begitu saja

4 Karena hasil yang kita peroleh akan lebih baik dan menumbuhkan rasa bangga

Ya, dengan bekerja keras kita bisa lebih berkembang dengan hasil maksimal 5 Karena akan lebih

berkesan

Iya, karena lebih baik kita tahu mengapa kita gagal dari pada tidak tahu kita berhasil karena kita akan bisa mengembangkan diri kita

6 Agar hasilnya baik, dan mendapat kepuasan dari dalam hati nurani

Ya, agar kita memiliki pengalaman dan kuat dalam menghadapi hadangan

7 Karena merupakan warisan nenek moyang, dan sudah seharusnya kita mewarisinya

Ya, agar yang dicapai

Dokumen terkait