• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Berikut adalah data keseluruhan hasil penelitian dari ketiga variasi dan

pembanding yaitu :

1. Mesin Pengdingin tanpa Pemanfaatan Panas Buang (pembanding).

2. Mesin Pendingin dengan Pemanfaatan Panas Buang untuk Pengering Pakaian

tanpa Koil Pemanas dan Penyimpan Panas.

3. Mesin Pendingin dengan Pemanfaatan Panas Buang untuk Pengering Pakaian

dengan Koil Pemanas tanpa Penyimpan Panas.

4. Mesin Pendingin dengan Pemanfaatan Panas Buang untuk Pengering Pakaian

dengan Koil Pemanas dan Penyimpan Panas Sensibel (air).

Secara lengkap data dari tiga variasi dan pembanding tersebut dapat dilihat

secara berurutan pada tabel dengan keterangan sebagai berikut :

h1 = Entalpi refrigeran saat masuk kompresor/ keluar evaporator

(kJ/kg)

h2 = Entalpi refrigeran saat keluar kompresor (kJ/kg)

h3 = Entalpi refrigeran saat keluar kondensor (kJ/kg)

h4 = Entalpi refrigeran saat masuk evaporator (kJ/kg)

Win = Besarnya kerja kompresor (kJ/kg)

Qin = Besarnya panas yang diserap evaporator (kJ/kg)

Qout = Besarnya panas yang dilepas kondensor (kJ/kg)

27 COPP = Performa (unjuk kerja) pada mesin pendingin yang termanfaatkan

panas buangnya

Peningkatan COP = Kenaikan nilai COP (%)

QT = Energi buang kondensor yang termanfaatkan (kJ)

Variasi-variasinya :

a. Uji 1, ST 1 = Pengujian pertama pada setting temperatur

evaporator pada skala 2

b. Uji 2, ST 1 = Pengujian kedua pada setting temperatur evaporator

pada skala 2

c. Uji 3, ST 1 = Pengujian ketiga pada setting temperatur evaporator

pada skala 2

d. Uji 1, ST 2 = Pengujian pertama pada setting temperatur

evaporator pada skala 4

e. Uji 1, ST 3 = Pengujian pertama pada setting temperatur

evaporator pada skala 6

4.2 Pembahasan

Langkah berikutnya setelah pengumpulan data penelitian yang telah

dilakukan yaitu mencari persamaan dan menghitung dengan rumus yang sudah

ditentukan. Sebagai contoh perhitungan penulis mengambil data yang tercancum

pada Tabel 1 yang merupakan data dari mesin pendingin yang tidak

termanfaatkan panas buangnya sebagai pembanding :

Berikut data pada uji coba pertama dengan variasi setting temperatur

28 h1 = 410,84 kJ/kg

h2 = 500,91 kJ/kg

h3 = 219,59 kJ/kg

h4 = 219,59 kJ/kg

Kerja kompresor dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (1) :

Win = h2– h1

= 500,91 kJ/kg – 410,84 kJ/kg = 90,07 kJ/kg

Besarnya panas yang dilepas kondensor dapat dihitung dengan

menggunakan persamaan (2) :

Qout = h2– h3

= 500,95 kJ/kg – 219,59 kJ/kg = 281,32 kJ/kg

Besarnya panas yang diserap oleh evaporator dapat dihitung dengan

menggunakan persamaan (3) :

Qin = h1– h4

= 410,84 kJ/kg – 219,59 kJ/kg = 191,25 kJ/kg

29 Untuk menentukan Performa (unjuk kerja) suatu mesin pendingin dapat

dihitung dengan menggunakan persamaan (4) :

COP = kompresor kerja n pendingina kerja = 1 2 4 1 h h h h   = 2,12

Dengan cara yang sama hasil penelitian pada mesin pendingin tanpa

pemanfaatan panas buang disajikan selengkapnya pada Tabel 1

Tabel 1 Data hasil perhitungan nilai kerja pada mesin pendingin tanpa pemanfaatan panas untuk pengering pakaian

Variasi h1 h2 h3 = h4 Win Qin Qout COP

Uji 1, ST 1 410,84 500,91 219,59 90,1 191,3 281,3 2,12

Uji 2, ST 1 411,1 501,87 220,9 90,8 190,2 281 2,10

Uji 3, ST 1 411,06 506,67 220,66 95,6 190,4 286 1,99

Uji 1, ST 2 410,92 498,42 220,16 87,5 190,8 278,3 2,18

Uji 1, ST 3 410,64 502,22 218,6 91,6 192 283,6 2,10

Dan sebagai contoh perhitungan data dari mesin pendingin yang

termanfaatkan panas buangnya penulis mengambil data yang tercancum pada

Tabel 2 :

Berikut data pada uji coba pertama dengan variasi setting temperatur

evaporator skala 2 (ST1) :

h1 = 404,14 kJ/kg

h2 = 477,68 kJ/kg

h3 = 197,41 kJ/kg

30 m = 0,08 kg (selama 10 menit)

Kerja kompresor dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (1) :

Win = h2– h1

= 477,68 kJ/kg – 404,14 kJ/kg = 73,54 kJ/kg

Besarnya panas yang dilepas kondensor dapat dihitung dengan

menggunakan persamaan (2) :

Qout = h2– h3

= 477,68 kJ/kg – 197,41 kJ/kg = 280,27 kJ/kg

Besarnya panas yang diserap oleh evaporator dapat dihitung dengan

menggunakan persamaan (3) :

Qin = h1– h4

= 404,14 kJ/kg – 197,41 kJ/kg = 206,73 kJ/kg

Untuk menentukan Performa (unjuk kerja) suatu mesin pendingin dapat

dihitung dengan menggunakan persamaan (4) :

COP = kompresor kerja n pendingina kerja = 1 2 4 1 h h h h   = 54 , 73 73 , 206 = 2,81

31 Untuk menghitung Energi buang kondensor yang termanfaatkan dapat

digunakan persamaan (7) :

QT = m.hfg

= 0,08 kg x 2300 kJ/kg

= 182 kJ

Performa (unjuk kerja) pada mesin pendingin yang termanfaatkan panas

buangnya dapat dihitung dengan persamaan (5) :

COPP = kompresor kerja tkan termanfaa yang buang panas n pendingina kerja  = 73,54 182 206,73 = 5,29

Kenaikan nilai COP (%) dapat dihitung dengan persamaan (6) :

Peningkatan COP = 100% COP COP - COPp x = 100% 5,29 2,81 - 5,29 x = 46,82 %

Dengan cara yang sama hasil penelitian pada mesin pendingin tanpa

pemanfaatan panas buang disajikan selengkapnya pada Tabel 2 sampai dengan

32 Tabel 2 Data hasil perhitungan nilai kerja pada mesin pendingin dengan pemanfaatan panas untuk pengering pakaian tanpa koil pemanas dan penyimpan panas

Variasi h1 h2 h3 = h4 Win Qin Qout COP COPp Peningkatan COP QT

Uji 1, ST 1 404,14 477,68 197,41 73,5 206,7 280,3 2,81 5,29 46,8% 182

Uji 2, ST 1 405,26 475,09 200,41 69,8 204,9 274,7 2,93 5,55 47,2% 183

Uji 3, ST 1 404,57 477,23 198,59 72,7 206 278,6 2,83 5,09 44,3% 164

Uji 1, ST 2 404,86 472,57 199,38 67,7 205,5 273,2 3,03 6,02 49,6% 202

Uji 1, ST 3 404,33 476,15 198,03 71,8 206,3 278,1 2,87 5,69 49,5% 202

Tabel 3 Data hasil perhitungan nilai kerja pada mesin pendingin dengan pemanfaatan panas untuk pengering pakaian dengan koil pemanas tanpa penyimpan panas

Variasi h1 h2 h3 = h4 Win Qin Qout COP COPp Peningkatan COP QT

Uji 1, ST 1 408,27 473,22 209,3 65 199 263,9 3,06 6,27 51,1% 208

Uji 2, ST 1 409,66 473,37 216,37 63,7 193,3 257 3,03 6,13 50,5% 197

Uji 3, ST 1 409,13 479,13 212,15 70 197 267 2,81 5,26 46,5% 171

Uji 1, ST 2 409,04 472,23 215,23 63,2 193,8 257 3,07 6,50 52,8% 217

Uji 1, ST 3 408,72 473,37 210,65 64,7 198,1 262,7 3,06 4,73 35,3% 108

Tabel 4 Data hasil perhitungan nilai kerja pada mesin pendingin dengan pema nfaatan panas untuk pengering pakaian dengan koil pemanas dan penyimpan panas sensibel (air)

Variasi h1 h2 h3 = h4 Win Qin Qout COP COPp Peningkatan COP QT

Uji 1, ST 1 407,28 474,5 205,84 67,2 201,4 268,7 3,00 6,28 52,3% 221

Uji 2, ST 1 403,84 479,74 196,73 75,9 207,1 283 2,73 5,30 48,5% 195

Uji 3, ST 1 404,27 470,98 197,91 66,7 206,4 273,1 3,09 5,78 46,5% 179

Uji 1, ST 2 406,88 476,09 204,62 69,2 202,3 271,5 2,92 5,74 49,1% 195

Uji 1, ST 3 408,32 477,06 211,82 68,7 196,5 265,2 2,86 5,97 52,1% 214

Setelah melihat Tabel 1 sampai 4 diatas, dapat dianalisa dari hasil

perhitungan Tabel 1 sampai 4 bahwa perhitungan COP pada mesin pendingin

tanpa pemanfaatan panas buang untuk pengering pakaian lebih rendah dari COP

yang dihasilkan oleh semua variasi mesin pendingin dengan pemanfaatan panas

buang untuk pengering pakaian yang dibuat. Lebih jelasnya perbedaan COP dapat

dilihat pada Gambar 7. Grafik perbandingan COP variasi setting temperatur

33 dengan COP pada mesin pendingin dengan pemanfaatan panas buang untuk

pengering pakaian. Peningkatan COP yang terjadi menandakan bahwa kinerja

mesin pendingin ini berpengaruh baik dengan dimanfaatkannya panas buangnya,

dengan mampu menjadi pengering pakaian tanpa menggunakan energi lain yang

membutuhkan biaya dan semakin susah untuk dicari (krisis energi).

Gambar 7 Grafik perbandingan COP variasi setting temperatur evaporator skala 2 (ST1) pada mesin pendingin tanpa pemanfaatan panas buang dengan

COP pada mesin pendingin dengan pemanfaatan panas buang untuk pengering pakaian

Dari grafik COP antar variasi alat pada setting temperatur evaporator yang

sama yaitu pada skala 2, dapat dilihat perbedaan yang sangat signifikan. Dengan

hasil rata-rata COP dengan ST1 pada mesin pendingin tanpa pemanfaatan panas

buang dengan nilai 2,07, sedangkan rata-rata COP pada semua variasi mesin

pendingin dengan pemanfaatan panas buang untuk pengering pakaian dengan nilai

34 Gambar 8 Grafik perbandingan COP variasi ST1, ST2, ST3 pada mesin pendingin tanpa pemanfaatan panas buang dengan COP pada mesin pendingin dengan pemanfaatan panas buang untuk pengering pakaian

Hal ini juga terlihat pada Gambar 8 Grafik perbandingan COP variasi ST1,

ST2, ST3 pada mesin pendingin tanpa pemanfaatan panas buang dengan COP pada

mesin pendingin dengan pemanfaatan panas buang untuk pengering pakaian.

Perbedaan juga sangat signifikan pada variasi ST1, ST2, ST3 yang terjadi pada

semua variasi mesin pendingin yang termanfaatkan panas buangnya dibandingkan

dengan mesin pedingin yang tidak termanfaatkan panas buangnya. Dengan

perhitungan yang sama dapat dilihat hasil rata-rata COP pada variasi ST1, ST2,

ST3 dengan pada mesin pendingin tanpa pemanfaatan panas buang dengan nilai

2,13, sedangkan rata-rata COP pada semua variasi mesin pendingin dengan

pemanfaatan panas buang untuk pengering pakaian dengan nilai 5,83. Dengan

perbedaan yang kenaikan COP sangat kecil yaitu 0,28%, dapat dikatakan bahwa

35 termanfaatkan panas buangnya sangat signifikan pada semua variasi setting

temperatur evaporator skala 2, 4, dan 6 (ST1, ST2, ST3).

Selain dari nilai COP yang meningkat, penurunan (pengurangan) berat

atau massa pakaian juga meningkat dibandingkan hanya di angin-angin (dijemur

ditempat kurang sinar matahari). Dapat dilihat pada Tabel 5 berisi data penurunan

massa pakaian dengan hanya diangin-anginkan (pembanding) dan Tabel 6 Sampai

dengan Tabel 9 berisi data penurunan massa pakaian dengan menggunakan model

pengering pakaian. Data dapat dibaca dengan jelas dengan ketentuan berikut ini :

Variasi-variasi pada :

1. Penjemuran tanpa memanfaatan panas buang mesin pendingin/ hanya

diangin-anginkan :

a. Uji 1= Penjemuran pakaian uji pertama dengan massa pakaian awal

6,520 kg

b. Uji 2 = Penjemuran pakaian uji kedua dengan massa pakaian awal

6,520 kg

c. Uji 3 = Penjemuran pakaian uji ketiga dengan massa pakaian awal

6,520 kg

2. Penjemuran dengan memanfaatan panas buang dari mesin pendingin :

a. MP 1, ST 1 = Penjemuran pakaian dengan massa pakaian awal 6,520 kg

dan setting temperatur evaporator pada skala 2

b. MP 1, ST 2= Penjemuran pakaian dengan massa pakaian awal 6,520 kg,

36 c. MP 1, ST 3 = Penjemuran pakaian dengan massa pakaian awal 6,520

kg, dan setting temperatur evaporator pada skala

Tabel 5 Penurunan massa pakaian dengan hanya di angin-angin (dijemur diruangan tanpa sinar matahari)

Waktu (menit) Uji 1 (kg) Uji 2 (kg) Uji 3 (kg)

0 6,520 6,520 6,520 10 6,475 6,495 6,500 20 6,450 6,470 6,485 30 6,430 6,455 6,460 40 6,420 6,435 6,430 50 6,415 6,425 6,425 60 6,405 6,405 6,405 70 6,395 6,395 6,390 80 6,380 6,385 6,375 90 6,370 6,370 6,360 100 6,345 6,365 6,345 110 6,330 6,360 6,330 120 6,315 6,355 6,320 130 6,300 6,330 6,315 140 6,295 6,315 6,305 150 6,290 6,305 6,295

37 Tabel 6 Penurunan massa pakaian dengan mesin pendingin dengan pemanfaatan

panas buang tanpa koil pemanas dan penyimpan panas

Waktu (menit) ST 1, MP 1 (kg) ST 2, MP 1 (kg) ST 3, MP 1 (kg) 0 6,520 6,520 6,520 10 6,385 6,465 6,460 20 6,310 6,375 6,390 30 6,255 6,295 6,355 40 6,195 6,245 6,250 50 6,110 6,210 6,200 60 5,960 6,155 6,130 70 5,835 6,030 6,070 80 5,785 6,010 6,000 90 5,695 5,950 5,935 100 5,680 5,820 5,910 110 5,650 5,785 5,835 120 5,625 5,750 5,725 130 5,570 5,710 5,665 140 5,510 5,675 5,585 150 5,420 5,620 5,550

Tabel 7 Penurunan massa pakaian dengan mesin pendingin dengan pemanfaatan panas buang dengan koil pemanas tanpa penyimpan panas

Waktu (menit) ST 1, MP 1 (kg) ST 2, MP 1 (kg) ST 3, MP 1 (kg) 0 6,520 6,520 6,520 10 6,465 6,480 6,440 20 6,390 6,415 6,325 30 6,310 6,360 6,295 40 6,270 6,300 6,230 50 6,205 6,270 6,170 60 6,145 6,215 6,095 70 6,080 6,135 6,059 80 6,010 6,100 6,000 90 5,960 6,040 5,965 100 5,930 6,000 5,940 110 5,880 5,970 5,920 120 5,825 5,925 5,885 130 5,795 5,850 5,830 140 5,740 5,815 5,795 150 5,690 5,795 5,760

38 Tabel 8 Penurunan massa pakaian dengan mesin pendingin dengan pemanfaatan

panas buang dan koil pemanas dan penyimpan panas sensibel (air)

Waktu (menit) ST 1, MP 1 (kg) ST 2, MP 1 (kg) ST 3, MP 1 (kg) 0 6,520 6,520 6,520 10 6,490 6,390 6,460 20 6,390 6,375 6,400 30 6,365 6,310 6,365 40 6,350 6,210 6,350 50 6,315 6,145 6,310 60 6,255 6,060 6,280 70 6,205 5,980 6,200 80 6,150 5,905 6,100 90 6,070 5,870 6,025 100 6,020 5,820 6,000 110 5,985 5,780 5,995 120 5,955 5,710 5,845 130 5,920 5,655 5,710 140 5,835 5,600 5,680 150 5,755 5,540 5,640

Dari Tabel 5 sampai dengan Tabel 8 menunjukan bahwa terjadi penurunan

massa pakaian selama 150 menit pada massa pakaian awal 6,520 kg. Pada tabel 5

terlihat bahwa penurunan massa pakaian yang terjadi sangat rendah. Namun

terlihat berbeda dengan data yang ditunjukan pada Tabel 6 sampai dengan Tabel

8. Ditunjukan bahwa penurunan massa pakaian yang dijemur dengan

memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin lebih tinggi penurunannya

dibandingkan hanya diangin-anginkan/ dijemur diruang tanpa sinar matahari.

Hasil perhitungan rata-rata penurunan massa pakaian 0,233 kg/150 menit pada

penjemuran yang hanya di angin-angin (dijemur ditempat kurang sinar matahari),

sedangkan hasil perhitungan rata-rata penurunan massa pakaian pada semua

39 hasil 0,879 kg/150 menit. Ini membuktikan bahwa alat penelitian kami ini bisa

dipergunakan sebagai alat alternatif pada waktu musim hujan atau dingin untuk

menjemur pakaian tanpa harus membeli ataupun mencari sumber energi lain yang

biayanya mahal dan susah dicari. Lebih jelasnya akan ditunjukan pada Gambar 9

Grafik perbandingan penurunan massa pakaian memanfaatkan panas buang dari

mesin pendingin tanpa koil pemanas dan penyimpan panas versus penurunan

massa pakaian diangin-anginkan.

Gambar 9 Grafik perbandingan penurunan massa pakaian memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin tanpa koil pemanas dan penyimpan panas dengan penurunan massa pakaian yang dijemur tanpa alat pengering pakaian

Dalam grafik yang ditunjukan pada Gambar 9 terlihat sangat tampak

bahwa penurunan dengan memanfaatkan panas buang mesin pendingin tanpa koil

pemanas dan penyimpan panas lebih baik daripada hanya diangin-anginkan

diruangan tanpa sinar matahari. Hal ini juga nampak pada Gambar 10 Grafik

40 pendingin dengan koil pemanas tanpa penyimpan panas versus penurunan massa

pakaian diangin-anginkan. Jika diperhatikan (Gambar 10 hasil penurunan dengan

memanfaatkan panas buang dengan koil pemanas tanpa penyimpan panas) tidak

jauh berbeda dari Gambar 9.

Gambar 10 Grafik perbandingan penurunan massa pakaian memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin dengan koil pemanas tanpa penyimpan panas dengan penurunan massa pakaian yang dijemur tanpa alat pengering pakaian

Begitu pula pada Gambar 11 Grafik perbandingan penurunan massa

pakaian memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin dengan koil pemanas

dan penyimpan panas sensibel (air) versus penurunan massa pakaian diangin-

anginkan. Hasilnya tidak berbeda dengan data yang ditunjukan pada grafik

41 Gambar 11 Grafik perbandingan penurunan massa pakaian memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin dengan koil pemanas dan penyimpan panas sensibel (air) dengan penurunan massa pakaian yang dijemur tanpa alat pengering pakaian

Hasil penurunan massa pakaian dalam variasi ST1, ST2, ST3 pada MP1

sangat signifikan dibandingkan dengan penurunan pakaian yang hanya diangin-

anginkan saja atau tanpa alat pengering pakaian. Dengan menegetahui hasil

penelitian dengan variasi ST1, ST2, ST3 pada M1,maka dilakukan penelitian yang

sama dengan membandingkan penurunan massa pakaian dengan massa awal

pakaian 6,520 kg (MP1) dengan massa awal pakaian 6,150 kg (MP2) dan 5,805 kg

42 Data dapat dibaca dengan jelas dengan ketentuan berikut ini :

Variasi-variasi pada :

1. Penjemuran dengan memanfaatan panas buang dari mesin pendingin :

a. ST1, MP1 = Penjemuran pakaian dengan massa pakaian awal 6,520 kg

dan setting temperatur evaporator pada skala 2

b. ST1, MP2 = Penjemuran pakaian dengan massa pakaian awal 6,150 kg,

dan setting temperatur evaporator pada skala 2

c. ST1, MP3 = Penjemuran pakaian dengan massa pakaian awal 5,805 kg,

dan setting temperatur evaporator pada skala 2

Tabel 9 Penurunan massa pakaian dengan mesin pendingin dengan pemanfaatan panas buang tanpa koil pemanas dan penyimpan panas

Waktu ST 1, MP 1 (kg) ST 1, MP 2 (kg) ST 1, MP 3 (kg) 0 6,520 6,150 5,805 10 6,385 6,140 5,780 20 6,310 6,025 5,690 30 6,255 5,970 5,615 40 6,195 5,900 5,545 50 6,110 5,835 5,475 60 5,960 5,755 5,420 70 5,835 5,705 5,345 80 5,785 5,650 5,285 90 5,695 5,565 5,205 100 5,680 5,500 5,145 110 5,650 5,445 5,115 120 5,625 5,400 5,090 130 5,570 5,360 5,030 140 5,510 5,300 4,985 150 5,420 5,255 4,915

43 Tabel 10 Penurunan massa pakaian pada mesin pendingin dengan pemanfaatan

panas buang dengan koil pemanas tanpa penyimpan panas

Waktu ST 1, MP 1 (kg) ST 1, MP 2 (kg) ST 1, MP 3 (kg) 0 6,520 6,150 5,805 10 6,465 6,110 5,760 20 6,390 6,025 5,660 30 6,310 5,975 5,565 40 6,270 5,940 5,530 50 6,205 5,900 5,485 60 6,145 5,820 5,410 70 6,080 5,775 5,360 80 6,010 5,740 5,315 90 5,960 5,705 5,280 100 5,930 5,665 5,250 110 5,880 5,585 5,210 120 5,825 5,555 5,200 130 5,795 5,545 5,165 140 5,740 5,495 5,110 150 5,690 5,430 5,060

Tabel 11 Penurunan massa pakaian pada mesin pendingin dengan pemanfaatan panas buang dengan koil pemanas dan penyimpan panas sensible (air) Waktu ST 1, MP 1 (kg) ST 1, MP 2 (kg) ST 1, MP 3 (kg) 0 6,520 6,150 5,805 10 6,490 6,110 5,770 20 6,390 6,065 5,710 30 6,365 6,025 5,665 40 6,350 5,975 5,605 50 6,315 5,920 5,555 60 6,255 5,850 5,505 70 6,205 5,800 5,470 80 6,150 5,745 5,370 90 6,070 5,660 5,310 100 6,020 5,610 5,270 110 5,985 5,550 5,265 120 5,955 5,495 5,245 130 5,920 5,465 5,195 140 5,835 5,395 5,150 150 5,755 5,340 5,110

44 Dapat dilihat pada Tabel 9 sampai Tabel 11 bahwa rata-rata penurunan

massa pakaian pada setiap variasi massa pakaian awal (MP1, MP2, MP3) yang

tidak jauh berbeda. Dapat disimpulkan bahwa pada setiap variasi massa awal

pakaian (MP1, MP2, MP3) sama-sama mengalami penurunan massa pakaian yang

rata-rata penurunan setiap 10 menitnya kurang lebih sama yaitu . Lebih jelasnya

lihat pada Gambar 12 sampai Gambar 14 dibawah ini.

Gambar 12 Grafik perbandingan penurunan massa pakaian memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin tanpa koil pemanas dan penyimpan panas

Pada Gambar 12 penurunan massa pakaian pada model pengering pakaian dengan

memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin tanpa koil pemanas dan

penyimpan panas laten, terlihat penurunan massa pakaian yang kurang lebih sama

dalam renggang waktu 10 menit pada masing-masing variasi massa pakaian awal

45 memanfaatkan panas buang mesin pendingin dengan menggunakan koil pemanas

tanpa penyimpan panas yang ditunjukan pada Gambar 13.

Gambar 13 Grafik perbandingan penurunan massa pakaian memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin dengan koil pemanas tanpa penyimpan panas

Pada Gambar 13 penurunan massa pakaian pada model pengering pakaian dengan

memnafaatkan panas buang dari mesin pendingin menggunakan koil pemanas

tanpa penyimpan panas, juga terlihat penurunan massa pakaian pada masing-

masing variasi massa pakaian awal (MP1, MP2, MP3) mengalami penurunan

massa yang kurang lebih sama pada renggang waktu 10 menit. Hal serupa juga

didapatkan pada penurunan massa pakaian pada model pengering pakaian dengan

memanfaatkan panas buang mesin pendingin menggunakan koil pemanas dan

46 Gambar 14 Grafik perbandingan penurunan massa pakaian memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin dengan koil pemanas dan penyimpan panas sensibel (air)

Dapat dilihat pada Gambar 14 penurunan massa pakaian pada model

pengering pakaian dengan memanfaatkan panas buang mesin pendingin

menggunakan koil pemanas dan penyimpan panas sensibel (air), bahwa

penurunan massa pakaian pada masing-masing variasi massa pakaian awal (MP1,

MP2, MP3) mengalami penurunan yang kurang lebih sama. Jadi apabila dilakukan

penelitian yang sama, dengan variasi massa pakaian awal yang berbeda lagi pada

alat pengering pakaian dengan memanfaatkan panas buang mesin pendingin ini

maka akan mengalami penurunan massa pakaian yang kurang lebih sama.

Lebih jelasnya dapat dilihat dari hasil penurunan massa pakaian pada

masing-masing variasi massa pakaian awal. Pada gambar 15 perbandingan

47 massa pakaian awal 6,520 kg, kurang lebih penurunan massa pakaiannya sama per

10 menit. Hal ini dapat dilihat hasil perhitungan setiap variasi alat pengering

pakaian. Penurunan massa pakaian menggunakan alat pengering pakaian tanpa

menggunankan koil pemanas dan penyimpan panas pada variasi massa pakaian

awal 6,520 kg terjadi penurunan massa pakaian yang rata-rata per 10 menitnya

sama yaitu 0,069 kg. Penurunan massa pakaian menggunakan alat pengering

pakaian dengan menggunakan koil pemanas tanpa penyimpan panas pada variasi

massa pakaian awal 6,520 kg terjadi penurunan massa pakaian yang rata-rata per

10 menitnya sama yaitu 0,052 kg. Dan penurunan massa pakaian menggunakan

alat pengering pakaian dengan menggunankan koil pemanas dan penyimpan panas

sensibel (air) pada variasi massa pakaian awal 6,520 kg terjadi penurunan massa

pakaian yang rata-rata per 10 menitnya sama yaitu 0,048 kg.

Gambar 15 Perbandingan penurunan massa pakaian pada semua variasi pengering pakaian pada setting massa pakaian awal 6,520 kg

48 Hal yang sama terjadi pada penurunan massa pakaian pada variasi massa

pakaian awal 6,150 kg. Pada gambar 16 perbandingan penurunan massa pakaian

pada semua variasi pengering pakaian pada setting massa pakaian awal 6,150 kg,

kurang lebih penurunan massa pakaiannya sama per 10 menit. Hal ini dapat

dilihat hasil perhitungan setiap variasi alat pengering pakaian. Penurunan massa

pakaian menggunakan alat pengering pakaian tanpa menggunankan koil pemanas

dan penyimpan panas pada variasi massa pakaian awal 6,150 kg terjadi penurunan

massa pakaian yang rata-rata per 10 menitnya sama yaitu 0,056 kg. Penurunan

massa pakaian menggunakan alat pengering pakaian dengan menggunakan koil

pemanas tanpa penyimpan panas pada variasi massa pakaian awal 6,150 kg terjadi

penurunan massa pakaian yang rata-rata per 10 menitnya sama yaitu 0,045 kg.

Dan penurunan massa pakaian menggunakan alat pengering pakaian dengan

menggunankan koil pemanas dan penyimpan panas sensibel (air) pada variasi

massa pakaian awal 6,520 kg terjadi penurunan massa pakaian yang rata-rata per

49 Gambar 16 Perbandingan penurunan massa pakaian pada semua variasi

pengering pakaian pada setting massa pakaian awal 6,150 kg

Pada gambar 17 perbandingan penurunan massa pakaian pada semua

variasi pengering pakaian pada setting massa pakaian awal 6,520 kg, kurang lebih

penurunan massa pakaiannya juga sama selama 150 menit. Hal ini dapat dilihat

hasil perhitungan setiap variasi alat pengering pakaian. Penurunan massa pakaian

menggunakan alat pengering pakaian tanpa menggunankan koil pemanas dan

penyimpan panas pada variasi massa pakaian awal 6,520 kg terjadi penurunan

massa pakaian yang rata-rata per 10 menitnya sama yaitu 0,056 kg. Penurunan

massa pakaian menggunakan alat pengering pakaian dengan menggunakan koil

pemanas tanpa penyimpan panas pada variasi massa pakaian awal 6,520 kg terjadi

penurunan massa pakaian yang rata-rata per 10 menitnya sama yaitu 0,047 kg.

Dan penurunan massa pakaian menggunakan alat pengering pakaian dengan

50 massa pakaian awal 6,520 kg terjadi penurunan massa pakaian yang rata-rata per

10 menitnya sama yaitu 0,043 kg.

Gambar 17 Perbandingan penurunan massa pakaian pada semua variasi pengering pakaian pada setting massa pakaian awal 5,805 kg

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian ini telah berhasil

dibuat dan mampu sebagai pengering pakaian alternatif tanpa menggunakan

energi lain dan biaya tambahan, namun hanya dengan memanfaatkan panas buang

51

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari pengujian mesin pendingin dengan pamanfaatan panas buangnya,

maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa semua model alat pengering pakaian

dengan memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin yang telah dibuat

dapat dikatakan berhasil dan mampu untuk digunakan sebagai pengering

pakaian pada musim hujan.

2. Selama 150 menit penurunan massa pakaian dengan menggunakan model

pengering dengan memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin dengan

berbagai variasi yang telah dibuat ini lebih cepat kering dibandingkan dengan

hanya dijemur tanpa memanfaatkan panas buang dari mesin pendingin.

Dengan hasil penurunan massa pakaian dengan hanya diangin-anginkan

sebesar 0,233 kg/150 menit, sedangkan penurunan massa pakaian dengan

semua variasi model pengering pakaian yang dibuat sebesar 0,879 kg/150

menit.

3. Unjuk kerja dari mesin pendingin berpengaruh baik dengan dimanfaatkan

panas buang dari mesin pendingin tersebut untuk pengering pakaian.

Ditunjukan dengan meningkatnya COP pada semua model alat pengering

pakaian yang dibuat dibandingkan dengan COP standar mesin pendingin

52 mesin pendingin tanpa pemanfaatan panas buang sebesar 2,07, sedangkan

rata-rata COP pada semua variasi mesin pendingin dengan pemanfaatan panas

buang untuk pengering pakaian dengan nilai 5,66.

5.2 Saran

Setelah dilakukan pengambilan data dari mesin pendingin dengan

pemanfaatan panas buang ditemukan kelebihan dan kekurangan yang perlu

diperhatikan, untuk itu perlu adanya saran untuk pengembangan mesin ini, antara

lain :

1. Pada penelitian selanjutnya diupayakan untuk mengembangan model

pengering pakaian dengan menggunakan variasi penyimpan panas lain.

2. Pengecekan semua sensor yang dipakai sudah berfungsi normal atau tidak.

3. Pengecekan kebocoran pada titik-titik yang rawan bocor (sambungan pipa

53

DAFTAR PUSTAKA

Elsayed, A.O., Hariri, A.S., (2011), Effect of Condenser Air Flow on the Performance of Split Air Conditioner, World Renewable Energy Congress 2011-Sweden 8-13 May 2011 Linkoping, Sweden.

Kaushik, S.C., Singh, M., (1995), Feasibility and Design studies for heat recovery from a refrigeration system with a canopus heat exchanger, Heat Recovery Systems & CHP, Vol.15,pp:665-673.

Mahlia, T.M.I, Hor, C.G., Masjuki, H.H., Husnawan, M., Varman, M., Mekhilef, S., (2010), Clothes Drying From Room Air Conditioning Waste Heat: Thermodynamics Investigation, The Arabian Journal for Science and Engineering, Vol 35, No 1B, pp;339-351

Suntivarakorn, P., Satmarong, S., Benjapiyaporn, C., Theerakulpisut, S., (2010), An Experimental Study on Clothes Drying Using Waste Heat from Split Type Air Conditioner, International Journal of Aerospace and Mechanical

Dokumen terkait