• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Preparasi Sampel

Beras hitam yang akan digunakan sebelumnya dilakukan sortasi basah

partikel-partikel halus yang melekat pada sampel. Setelah itu beras hitam

dikeringkan pada di ruangan terbuka dan diangin-anginkan dengan tujuan

mencegah terhadap paparan cahaya matahari langsung yang dapat menyebabkan

penurunan aktivitas senyawa antioksidan pada sampel karena radiasi dari sinar

matahari. Setelah itu sampel beras hitam diblender untuk mendapatkan ukuran

partikel beras hitam yang lebih kecil, sehingga dengan begitu akan meningkatkan

luas permukaan sampel. Karena ukuran partikel sampel yang kecil dan luas

permukaan sampel yang besar, sehingga ketika diekstraksi dengan cairan penyari

maka kontak antara cairan penyari dengan sampel lebih besar dan efektivitas

penyarian akan lebih baik (Depkes RI, 1986). Efisiensi ekstraksi ini dapat

disebabkan karena makin banyak kontak antara sampel dengan cairan penyari,

sehingga memudahkan cairan penyari untuk menembus membran sel beras hitam

dan memungkinkan cairan penyari akan menarik senyawa kimia yang terdapat pada

beras hitam tersebut.

Ekstraksi menggunakan pelarut didasarkan pada kelarutan komponen yang

akan diekstraksi pada suatu sampel (Kristiana dkk., 2012). Pada penelitian ini

pelarut yang digunakan sebagai penyari adalah etanol. Pemilihan etanol sebagai

pelarut dikarenakan etanol lebih aman jika digunakan, selain itu harga etanol juga

lebih murah jika dibandingkan dengan pelarut metanol. Etanol juga merupakan

penyari yang efektif dan dapat mengekstraksi hampir semua senyawa bahan alam

yang terdapat pada tumbuhan (Kuntorini dan Astuti, 2010). Selain itu etanol bersifat

netral, tidak beracun, absorbsinya baik, kapang dan kuman sulit tumbuh pada

untuk melakukan ekstraksi adalah dengan cara maserasi. Metode tersebut dipilih

karena dapat dilakukan dengan cukup sederhana, tidak memerlukan peralatan

khusus dan tidak melibatkan pemanasan (Kuntorini dan Astuti, 2010). Bila

dibandingkan dengan metode ekstraksi seperti infundasi dan sokletasi yang

melibatkan pemanasan maka metode maserasi lebih disarankan. Secara umum

senyawa aktif dalam beras hitam tidak tahan terhadap pengaruh pemanasan oleh

karena itu, dengan metode maserasi yang tidak melibatkan pemanasan dapat

mencegah kemungkinan rusaknya metabolit aktif beras hitam. Metode maserasi

juga menggunakan jumlah pelarut yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan

menggunaan metode perkolasi yang memerlukan banyak pelarut. Selain itu, dengan

menggunakan metode maserasi kontak antara cairan penyari juga lebih lama bila

dibandingkan dengan metode perkolasi, sehingga penyarian metabolit sekunder

dalam beras hitam juga akan lebih maksimal.

Maserasi dilakukan dengan merendam sejumlah serbuk ke dalam cairan

penyari selama lima hari kemudian dilakukan remaserasi ulang selama lima hari

lagi terhadap ampas hasil penyarian pertama. Remaserasi ini dimaksudkan untuk

memaksimalkan proses penyarian terhadap senyawa-senyawa dalam beras hitam

yang kemungkinan tidak ikut tersari karena sudah terjadi peristiwa kejenuhan dari

cairan penyari yang digunakan dalam proses ekstraksi. Waktu maserasi dilakukan

selama lima hari dikarenakan waktu tersebut merupakan waktu optimal dalam

melakukan maserasi. Selama proses maserasi berlangsung sampel tersebut dikocok

berulang-ulang kira-kira 2-3 kali sehari agar membantu dalam proses maserasi lebih

kedua tahapan tersebut disaring menggunakan kertas saring dengan bantuan corong

Buchner. Penyaringan bertujuan untuk memisahkan partikel-partikel tidak larut

dari cairan penyari yang mungkin dapat mengganggu hasil analisis. Untuk

mempercepat proses penyaringan sampel, maka dilakukan penyedot menggunakan

pompa vacum yang terpasang pada corongBuchner. Filtrat hasil penyarian tersebut

kemudian diuapkan pelarutnya dengan menggunakan vacuum rotary evaporator,

sehingga akan didapatkan ekstrak etanolik beras hitam. Ekstrak etanolik beras

hitam yang didapatkan pada penelitian sebanyak 2,26 g. Kemudian dari ekstrak

tersebut dilakukan fraksinasi lebih lanjut

2. Hasil fraksinasi ekstrak

Ekstrak yang didapat kemudian dilakukan fraksinasi lebih lanjut dengan

menggunakan wasbensin. Fraksinasi dilakukan karena hasil ekstrak yang didapat

masih merupakan campuran-campuran senyawa kompleks yang bukan merupakan

target dalam penelitian. Fraksinasi dilakukan sebelumnya dengan melarutkan

ekstrak tersebut dengan 300 ml air hangat. Air hangat digunakan untuk

mempercepat proses pelarutan ekstrak karena dalam air dingin proses pelarutan

akan lebih lama. Kemudian fraksinasi dilakukan dengan wasbensin dengan

perbandingan air dan wasbensin 1:1 v/v. Ekstraksi cair-cair menggunakan

wasbensin didasarkan pada kepolaran suatu senyawa (like dissolve like). Menurut

Snyder and Kirland (1997) wasbensin bersifat non polar dengan indeks polaritas

3,8. Fraksinasi dengan menggunakan wasbensin untuk memisahkan

senyawa-senyawa non polar seperti klorofil, vitamin, minyak, lemak, dan aglikon flavonoid

tersebut dimasukkan ke dalam corong pisah sambil digojok dengan tujuan untuk

memaksimalkan proses pemisahan senyawa. Karena bobot jenis air yang lebih

besar daripada wasbensin (0,996 dan 0,730), maka air akan berada di bawah corong

pisah sedangkan wasbensin akan berada di atas corong pisah (Depkes RI a, 1995).

Kedua pelarut tersebut dapat dipisahkan dengan corong pisah karena antara

wasbensin dan air tidak saling campur satu sama lain. Fraksi wasbensin kemudian

dibuang karena tidak digunakan dalam penelitian sedangkan fraksi air diambil.

Setelah didapatkan fraksi air, kemudian difraksinasi kembali dengan

menggunakan etil asetat dengan bantuan corong pisah. Pada saat dilakukan

fraksinasi menggunakan corong pisah, dilakukan penggojokan terhadap fraksi

tersebut dengan tujuan agar pemisahan berjalan lebih cepat dan maksimal. Air

merupakan pelarut polar, sehingga senyawa-senyawa polar seperti flavonoid

golongan antosianin akan terlarut pada fraksi air, sedangkan senyawa aglikon

polihidroksi seperti flavon, flavanon, isoflavon contonya genistein dan flavonol

akan terlarut dalam fraksi etil asetat (Sirait, 2007). Fraksinasi dilakukan untuk

mendapatkan senyawa-senyawa yang lebih spesifik dalam penelitian.

Setelah didapatkan fraksi air kemudian fraksi tersebut dikeringkan dengan

menggunakan vacuum rotary evaporator sampai terlihat kental kemudian

dilanjutkan dengan pengeringan dengan menggunakan oven, sehingga didapatkan

fraksi yang benar-benar kental. Hasil yang didapat kemudian dilakukan

penimbangan dan fraksi air yang diperoleh adalah sebanyak 0,84 g. Selanjutnya,

fraksi air dimasukkan dalam cawan petri dan dibungkus dengan aluminium foil

sinar UV. Untuk mencegah agar fraksi air tidak terpapar oleh adanya uap air yang

ada di udara, maka fraksi air tersebut kemudian disimpan ke dalam desikator yang

sebelumnya sudah diberi silika gel. Uap air harus dihindari dari fraksi air yang

didapatkan karena dengan adanya uap air memungkinkan mikroba untuk tumbuh

pada fraksi air yang didapatkan.

Hasil dari fraksi yang didapat ini kemudian dianalisis lebih lanjut untuk

mengetahui kandungan fenolik total dan aktivitas antioksidan dari fraksi air ekstrak

etanolik beras hitam. Pemilihan fraksi air pada penelitian ini dikarenakan beras

hitam mengandung senyawa antioksidan yang larut dalam air dan penggunaan beras

hitam oleh masyarakat sendiri biasanya dibuat menjadi nasi dengan menanaknya

menggunaan air. Selain itu, senyawa polifenol flavonoid seperti antosianin

merupakan senyawa yang larut dalam air.

D. Hasil Uji Pendahuluan

Dokumen terkait