BAB II LAPORAN KASUS
E. Implementasi Keperawatan
Pada tanggal 25 April 2013 penulis melakukan beberapa implementasi yaitu mengkaji tanda-tanda vital pada pukul 15.45 WIB dengan respon subyektif yaitu Ny. W mengatakan bersedia, dan respon obyektif Ny. W tampak lemah, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 84 kali per menit, pernapasan 20 kali per menit dan suhu 38°C; mengkaji karakteristik nyeri (PQRST) pada pukul 15.55 WIB dengan respon subyektif yaitu Ny. W mengeluh nyeri perut post operasi, nyeri dirasa saat bergerak, seperti ditusuk-tusuk, diperut kanan bawah (kuadran 4), skala 4 (0-10), nyeri hilang timbul dan respon obyektif Ny. W tampak lemah dan merintih kesakitan, terdapat luka tertutup kassa di luka post operasi, warna kulit sekitar luka tidak kemerahan, posisi Ny. W supinasi; mengkaji pola aktivitas pukul 16.05 WIB dengan respon subyektif Ny. W mengatakan lemas, dalam melakukan aktivitas tidak bisa mandiri dan respon obyektif tampak ADL pasien dibantu keluarga.
Pada tanggal 26 April 2013 pukul 07.40 WIB, penulis melakukan beberapa implementasi yaitu: mengkaji tanda-tanda vital dengan respon subyektif Ny. W bersedia, dan respon obyektif Ny. W tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 92 kali permenit, pernapasan 20 kali per menit, suhu 38,5°C; memberikan terapi injeksi taxegram, torasic, gastridin pukul 08.00 WIB dengan respon subyektif Ny. W bersedia, dan respon obyektif injeksi yang diberikan taxegram 2x1 gram, torasic 3x10 mg, gastridin 2x150 mg melalui intravena; mengkaji karakteristik nyeri (PQRST) pukul 08.45 WIB dengan respon subyektif yaitu Ny. W mengeluh nyeri perut post operasi, nyeri dirasa saat bergerak, seperti ditusuk-tusuk, diperutk kanan bawah (kuadran 4), skala 4(0-10), nyeri hilang timbul dan respon obyektif Ny. W tampak lemah dan merintih kesakitan, terdapat luka tertutup kassa di luka post operasi, warna kulit sekitar luka tidak kemerahan; memberikan relaksasi (nafas dalam) pukul 09.15 WIB dengan respon subyektif Ny. W bersedia melaksanakan, dan respon obyektif tampak Ny. W kooperati; memberikan posisi miring kanan kiri pukul 09.25 WIB dengan respon subyektif Ny. W mengatakan lemas, bisa miring kanan kiri, skor 2, dan respon obyektif tampak Ny. W kooperatif.
Pada tanggal 27 April 2013 pukul 07.45 WIB, penulis melakukan beberapa implementasi yaitu: mengkaji tanda-tanda vital dengan respon subyektif Ny. W bersedia, dan respon obyektif Ny. W tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 82 kali permenit, pernapasan 20 kali per menit, suhu 37°C; mengkaji karakteristik nyeri (PQRST) pukul 07.55 dengan respon subyektif yaitu Ny. W mengatakan nyeri perut post operasi sudah berkurang, nyeri tidak
15
timbul saat bergerak, seperti ditusuk-tusuk, diperuk kanan bawah (kuadran 4), skala 3(0-10), nyeri hilang timbul dan respon obyektif Ny. W tampak lemah dan merintih kesakitan, terdapat luka tertutup kassa di luka post operasi, warna kulit sekitar luka tidak kemerahan; memberikan terapi injeksi taxegram, torasic, gastridin pukul 08.20 WIB dengan respon subyektif Ny. W bersedia, dan respon obyektif injeksi yang diberikan taxegram 2x1 gram, torasic 3x10 gram, gastridin 2x150 mg melalui intravena; memberikan relaksasi (nafas dalam) pukul 09.15 WIB dengan respon subyektif Ny. W bersedia melaksanakan, dan respon obyektif tampak Ny. W kooperatif; merawat luka operasi pukul 09.30 WIB dengan respon subyektif Ny. W bersedia dibersihkan lukanya, dan respon obyektif tidak ada tanda-tanda infeksi atau kemerahan disekitar luka Ny. W; memberikan mobilisasi duduk pukul 09.45 WIB dengan respon subyektif Ny. W mengatakan sudah bisa duduk sendiri, tanpa bantuan keluarga dalam melakukan aktifitas, skor 0, dan respon obyektif tampak Ny. W kooperatif.
F. Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan selama tiga hari yaitu pada tanggal 25 April 2013, 26 April 2013 dan 27 April 2013 dengan metode SOAP. Pada tanggal 25 April 2013 pukul 16.20 WIB, evaluasi yang diperoleh yaitu Ny. W mengatakan nyeri perut kanan bawah diluka post operasi, nyeri timbul saat bergerak, kualitas seperti ditusuk-tusuk, skala 4, nyeri hilang timbul. Ny. W tampak lemah, merintih, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 84 kali per menit,
pernapasan 20 kali per menit dan suhu 38°C, terdapat luka tertutup kassa pada abdomen kanan bawah, warna kulit sekitar luka tidak kemerahan. Masalah keperawatan nyeri akut belum teratasi, intervensi dilanjutkan meliputi kaji tanda-tanda vital, kaji karakteristik nyeri, berikan posisi yang nyaman (supine
atau semi-fowler), kolaborasi dengan tim medis lain yaitu pemberian
analgesik.
Pada tanggal 26 April 2013 pukul 11.25 WIB, evaluasi yang diperoleh Ny. W mengatakan nyeri perut kanan bawah diluka post operasi, nyeri dirasa saat bergerak, kualitas seperti ditusuk-tusuk, skala 4, nyeri hilang timbul. Ny. W tampak lemah, merintih, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 92 kali per menit, pernapasan 20 kali per menit dan suhu 38,5°C, terdapat luka tertutup kassa pada abdomen kanan bawah, warna kulit sekitar luka tidak kemerahan. Masalah keperawatan nyeri akut belum teratasi, intervensi dilanjutkan meliputi kaji tanda-tanda vital, kaji karakteristik nyeri, berikan posisi yang nyaman (supine atau semi-fowler), kolaborasi dengan tim medis lain yaitu pemberian analgesik.
Pada tanggal 27 April 2013 pukul 11.45 WIB, evaluasi yang diperoleh Ny. W mengatakan nyeri perut kanan bawah diluka post operasi sudah berkurang, nyeri sudah tidak timbul saat bergerak, kualitas nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala 3, nyeri hilang timbul. Ny. W tampak lemah, merintih, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 82 kali per menit, pernapasan 20 kali per menit dan suhu 37°C, terdapat luka tertutup kassa pada abdomen kanan bawah, warna kulit sekitar luka tidak kemerahan. Masalah keperawatan nyeri
17
akut belum teratasi, intervensi dilanjutkan meliputi kaji tanda-tanda vital, kaji karakteristik nyeri, berikan posisi yang nyaman (supine atau semi-fowler), kolaborasi dengan tim medis lain yaitu pemberian analgesik.
18 BAB III
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
A. Pembahasan
Pada bab ini penulis akan membahas tentang kesenjangan teori dan tindakan proses asuhan keperawatan yang dilakukan pada tanggal 25-27 April 2013 di ruang Cempaka RS. Panti Waluyo Surakarta. Pembahasan tentang proses asuhan keperawatan ini meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana tindakan keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi. 1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama di dalam memberikan asuhan keperawatan. Perawat harus mengumpulkan data tentang status kesehatan pasien secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan. Kebenaran data sangat penting dalam merumuskan diagnosa keperawatan, merencanakan asuhan keperawatan, serta melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah klien. Pengumpulan data ini juga harus dapat menggambarkan status kesehatan klien dan kekuatan masalah-masalah yang dialami oleh klien (Hutahaean, 2010).
Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga, atau orang yang terkait, anggota tim kesehatan, rekam medis, dan catatan lainnya (Hutahaean, 2010).
19
Menurut Sjamsuhidajat (2004), manifestasi apendisitis akut didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun todak disertai rangsangan peritoneum lokal. Gejalanya nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri visceral didaerah epigastrium di sekitar umbilicus, keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah, nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik McBurney. Pada kasus Ny. W mengatakan nyeri perut bagian kanan bawah dirasa sejak kurang lebih satu tahun yang lalu sebelum dirawat di rumah sakit, Pada saat melakukan pengkajian, penulis tidak mengkaji apakah Ny. W sebelum pembedahan apendektomi mengeluh demam, mual, muntah, maupun hilangnya nafsu makan. Ini merupakan kekurangan penulis saat melakukan pengkajian. Kunci diagnosis biasanya terletak pada anamnesis yang khas seperti diatas tersebut (Sjamsuhidajat, 2004), tetapi pada kasus Ny. W dengan hasil gambaran ultrasonografi bisa meningkatkan akurasi diagnosis.
Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis klinis apendisitis akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus. Kesalahan diagnosis lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan dengan lelaki mengingat pada perempuan, terutama yang masih muda sering timbul gangguan yang menyerupai apendisitis akut. Keluhan itu berasal dari genetalia interna karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau gangguan ginekologi lainnya. Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis akut, bila diagnosis meragukan,
sebaiknya penderita diobservasi di rumah sakit dengan frekuensi setiap
1-2jam. Ultrasonografi dapat meningkatkan akurasi diagnostik
(Sjamsuhidajat, 2004). Pada Ny. W pemeriksaan USG pada tanggal 24 April 2013 jam 09.23 WIB dilakukan di RS Panti Waluyo Surakarta dengan hasil hepar, vesica felea, pancreas, kedua ren, lien, vesica urinaria,
maupun prostat dalam batas normal; secara sonografi adanya ganbaran adneksitis kanan, small simple cyst ovarii kiri. Pada region Mc Burney
tampak stuktur tubuler blind end non kompresi, menyongkong gambaran apendisitis.
Menurut Sjamsuhidajat (2004), diagnosis apendisitis akut baru dapat ditegakkan jika semua syarat terpenuhi yaitu riwayat nyeri perut kanan bawah yang lebih dari dua minggu, terbukti terjadi radang akut apendiks baik secara makroskopik maupun mikroskopik, dan keluhan menghilang pasca apendiktomi. Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan satu-satunya pilihan yang baik adalah apendektomi.
Berdasarkan tanda dan gejala serta hasil pemeriksaan penunjang yang menyebukan instruksi dr G Sp.PD dengan gambaran apendisitis untuk segera dioperasi, Ny. W dilakukan operasi atau pembedahan pada tanggal 25 April 2013 pukul 11.25 WIB selesai pukul 13.20 WIB.
Apendiktomi merupakan pembedahan atau operasi klasik pengangkatan apendiks. Apendiktomi direncanakan pada infiltrat periapendikuler tanpa pus yang telah ditenangkan. Sebelumnya pasien
21
diberi antibiotik kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian dilakukan apendiktomi (Sjamsuhidajat, 2004). Tindakan apendiktomi merupakan peristiwa kompleks sebagai ancaman potensial atau aktual kepada integritas seseorang baik biopsikososial spritual yang dapat menimbulkan respon berupa nyeri. Rasa nyeri tersebut biasanya timbul setelah operasi. Nyeri merupakan sensasi subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial (Siswati, 2010). Pada pengkajian Ny. W didapatkan nyeri secara teori termasuk dalam kategori nyeri akut. Hal ini disebabkan oleh karena nyeri akut terjadi setelah terjadinya cedera akut, penyakit, atau intervensi bedah dan memiliki awitan yang cepat dengan intensitas yang bervariatif (ringan sampai berat) dan berlangsung untuk waktu singkat (Prasetyo, 2010).
Pada pola kognitif dan perceptual dijelaskan bahwa pasien dengan pembedahan abdomen terutama apendiktomi, pada umumnya tidak mengalami gangguan pendengaran, penglihatan, maupun pembau. Biasanya pada pola kognitif dan perceptual muncul adanya nyeri dengan menggunakan metode Provocate, Quality, Region, Severe, Time (PQRST) (Potter, 2005). Provocate (P) merupakan penyabab terjadinya nyeri dari penderita. Kasus pada Ny. W nyeri yang dirasakan setelah pembedahan apendiktomi adalah nyeri dirasa saat bergerak. Pada tindakan pembedahan abdomen atau apendiktomi merupakan penyebab terjadinya nyeri karena
adanya trauma atau insisi pembedahan, karena saat bergerak bisa memicu atau faktor terjadinya nyeri.
Quality (Q) merupakan kualitas nyeri yang diungkapkan secara
subyektif oleh pasien (Potter, 2005). Ny. W mengatakan kualitas nyeri seperti ditusuk-tusuk. Kualitas nyeri pada pasien pembedahan biasanya terasa panas dan tertusuk-tusuk karena adanya insisi. Region (R) merupakan area dimana nyeri dirasakan. Ny. W merasakan nyeri di perut kanan bawah kuadran 4. Pada pembedahan abdomen, nyeri dirasakan pada letak anatomi yang mengalami tindakan pembedahan. Severe (S) merupakan parameter dari tingkatan nyeri dimana pada insisi abdomen. Ny. W mengatakan skala nyeri 4, nyeri akan terasa sedang setelah pembedahan dan akan berkurang dalam beberapa waktu yang didukung dengan pemberian analgesik. Pengukuran skala nyeri terdiri dari Verbal
Description Scale (VSD), Numerical Rating Scale (NRS), dan Visual Analog Scale (VAS). Pada kasus Ny. W, penulis mengkategorikan skala
nyeri kedalam data subyektif karena penulis menggunakan skala nyeri numerik dimana hasil dari skala numerik merupakan apa yang diungkapkan oleh pasien. Time (T) merupakan waktu saat nyeri muncul. Ny. W mengatakan nyeri hilang timbul. Pada post-apendiktomi nyeri akan terasa terus-menerus setelah efek anestesi menghilang kemudian akan berkurang secara periodik (Potter, 2005).
Pada pengkajian fisik abdomen, perawat memerlukan pengkajian fisik dan neurologis berdasarkan riwayat nyeri klien. Daerah yang sangat
23
nyeri harus diperiksa untuk melihat apakah palpasi atau manipulasi pada daerah tersebut meningkatkan sensasi nyeri. Selama melakukan pemeriksaan umum, perawat memperhatikan adanya petunjuk-petunjuk yang mengindikasikan nyeri (Potter, 2005). Pada pemeriksaan fisik abdomen, dilakukan dengan cara Inspeksi, Auskultasi, Perkusi, Palpasi (IAPP). Inspeksi meliputi ada luka post operasi diperut kanan bawah, tertutup kassa, warna kulit sekitar luka tidak kemerahan, umbilikus bersih. Hal ini terjadi karena pada tanggal 25 April 2013 pukul 11.25 WIB pasien dilakukan pembedahan apendiksitis sehingga menimbulkan luka insisi pembedahan. Auskultasi peristaltik usus 5 kali per menit. Suara perut saat diperkusi tidak terkaji. Pada saat palpasi, terdapat nyeri tekan pada bagian perut kanan bawah (kuadran 4) atau daerah post operasi apendiktomi, karena luka insisi post operasi apendisitis itulah yang menyebabkan nyeri dimana secara anatomis luka apendisitis pada kuadran kanan bawah (Sjamsuhidajat, 2004).
Hasil dari pemeriksaan penunjang laboratorium tanggal 24 April 2013 pukul 09.23 WIB meliputi Limfosit 14.3% (nilai normal : 22-44); Monosit 10.4% (nilai normal : 0-7); MCV 75fL(nilai normal : 80-96); MCH 2fL (nilai normal : 28-33); kreatinin 0.59 mg/dl (nilai normal : 0.6-1.1). Hasil pemeriksaan USG dengan hasil hepar, vesica felea, pancreas,
kedua ren, lien, vesica urinaria, maupun prostat dalam batas normal; secara sonografi adanya ganbaran adneksitis kanan, small simple cyst
ovarii kiri. Pada region Mc Burney tampak stuktur tubuler blind end non
kompresi, menyongkong gambaran apendisitis.
Terapi yang diberikan pada Ny. W pada tanggal 26 April 2013 pukul 08.00 WIB adalah terapi injeksi taxegram 1gram/12 jam untuk saluran urogenital gonore tidak terkomplikasi disebabkan neuseria. Pada kasus Ny. W diberikan antibiotik karena luka operasi dapat kemungkinan terjadi infeksi luka post operasi. Injeksi torasic 10 mg/8 jam untuk terapi somatik jangka pendek nyeri akut serajad sedang-berat. Injeksi gastridin 150mg/12 jam untuk tungkak lambung dan usus dua belas jari, pada kasus Ny. W gastridin untuk mencegah mual efek anestesi post operasi (ISO, 2010).
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Hutahaean (2010) dalam bukunya Nanda (1990) diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial. Diagnosa keperawatan merupakan dasar dalam penyusunan rencana tindakan asuhan keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (pembedahan apendiktomi). Pada kasus Ny. W ditemukan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (pembedahan apendiktomi). Hal ini sesuai teori bahwa sesuai dengan refrensi yang menyatakan bahwa nyeri akut post operasi apendiktomi
25
adalah suatu reaksi yang kompeks pada jaringan yang terluka pada proses pembedahan yang dapat menstimulasi hypersensitivitas pada system syaraf pusat, nyeri ini hanya dapat dirasakan setelah adanya prosedur operasi. lokasi pembedahan mempunyai efek yang sangat penting yang hanya dapat dirasakan oleh pasien yang mengalami nyeri post operasi apendiktomi (Anonim, 2012).
Nyeri akut pada kasus Ny. W diprioritaskan penulis hal ini disebabkan oleh karena jika nyeri akut tidak dikontrol dapat menyebabkan proses rehabilitasi pasien tertunda dan hospitalisasi menjadi lama. Hal ini karena pasien memfokuskan semua perhatiannya pada nyeri yang dirasakan. Ketika pasien merasakan nyeri, pasien tidak dapat menikmati kehidupannya dengan nyaman (Nurhafizah dan Erniyati, 2012). Hal ini didukung dengan hasil pengkajian pada tanggal 25 April 2013 pukul 15.40 WIB didapatkan hasil data subyektif “Ny. W mengeluh nyeri perut post operasi, nyeri dirasa timbul saat bergerak, kualitas nyeri perih dan terasa panas seperti ditusuk-tusuk, skala nyeri 4 (0-10), Ny. W tampak lemah dan nyeri hilang timbul”, dan data obyektif “Ny. W tampak lemah dan merintih kesakitan, ada luka post operasi diperut kanan bawah, tertutup kassa, warna kulit sekitar luka tidak kemerahan, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 84 kali per menit, pernapasan 20 kali per menit dan suhu 38°C.
Etiologi dari diagnosa keperawatan adalah agen cedera fisik dari pembedahan (NANDA, 2009) hal ini didasarkan dari hasil pengkajian data subyektif “Ny. W mengeluh nyeri perut post operasi, nyeri dirasa timbul
saat bergerak, kualitas nyeri perih dan terasa panas seperti ditusuk-tusuk, skala nyeri 4 (0-10), Ny. W tampak lemah dan nyeri hilang timbul”, dan data obyektif “Ny. W tampak lemah dan merintih kesakitan, ada luka post operasi diperut kanan bawah, tertutup kassa, warna kulit sekitar luka tidak kemerahan, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 84 kali per menit, pernapasan 20 kali per menit dan suhu 38°C, karena ketika bagian tubuh terluka oleh tekanan, potongan, sayatan, dingin atau kekurangan oksigen pada sel, maka bagian tubuh yang terluka akan mengeluarkan berbagai macam substansi intraseluler dilepaskan keluar ekstraseluler maka akan mengiritasi nosiseptor.
3. Rencana dan Tindakan Keperawatan
Perencanaan adalah bagian dari tahap proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, penetapan kriteria hasil, penetapan rencana tindakan yang akan diberikan kepada klien untuk memecahkan masalah yang dialami klien serta rasional dari masing-masing rencana tindakan yang akan diberikan kepada klien (Hutahaean, 2010).
Intervensi keperawatan disesuaikan dengan kondisi klien dan fasilitas yang ada, sehingga rencana tindakan dapat diselesaikan dengan SMART yaitu S (specific) dimana tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkan arti ganda, M (measurable) dimana tujuan keperawatan harus dapat diukur, khususnya tentang perilaku pasien : dapat dilihat, didengar, diraba, dirasakan, dan dibau. A (achievable) dimana harus dapat dicapai, R
27
(reasonable) dimana tujuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah, T (time) mempunyai batasan waktu yang jelas (Nursalam, 2008:81). Rencana tindakan keperawatan yang dilakukan pada Ny. W dengan tujuan dan kriteria hasil yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam karena penulis melaksanakan praktek selama 3 hari dan sudah termasuk pengkajian dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Namun, menurut teori yang ada masalah nyeri tidak dapat diatasi dalam waktu singkat dan perlu penanganan terlebih dahulu karena nyeri post operasi dapat menjadi faktor penting yang mempengaruhi persepsi pasien tentang perkembangan dan kesembuhannya, selama 3x24 jam diharapkan nyeri teratasi dengan kriteria hasil yaitu pasien mengatakan nyeri berkurang atau hilang dengan skala nyeri 0-3 (0-10) karena menurut keparahan nyeri skala tersebut adalah landasan nyeri yang paling ringan jadi harapannya penulis dapat memberikan asuhan keperawatan dengan hasil tersebut, pasien tampak rileks, dan tanda-tanda vital dalam batas normal (tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 60-100 kali per menit, pernapasan 16-24 kali per menit, suhu 36-37,5°C).
Rencana keperawatan yang dilakukan oleh penulis berdasarkan
NIC (Nursing Intervension Clasification) dan NOC (Nursing Outcome Clasification) pada Ny. W antara lain yaitu, kaji tanda-tanda vital untuk
mendeteksi adanya perubahan system tubuh (Hidayat, 2004), dan kaji ulang intensitas nyeri yang bertujuan indikator tunggal yang paling dapat dipercaya tentang keberadaan dan intensitas nyeri dan apapun yang
berhubungan dengan ketidaknyamanan, pengkajian ini membantu untuk mengatasi nyeri (Potter, 2005). Berikan posisi yang nyaman, memberikan rencana tindakan keperawatan yaitu berikan posisi yang nyaman (supine atau semi-fowler) dengan rasional agar pasien rileks dan membantu mengurangi rasa nyeri. Posisi ini dipilih karena penulis belum mengetahui keadaan pasien. Selain itu, setelah pembedahan pasien mungkin dibaringkan dalam berbagai posisi untuk meningkatkan rasa nyaman dan menghilangkan nyeri (Brunner & Suddarth, 2002).
Ajarkan tehnik relaksasi (nafas dalam) atau distraksi
(mendengarkan musik, menonton tv, imajinasi pemandangan), dengan memberikan relaksasi (nafas dalam). Relaksasi adalah suatu tindakan untuk membebaskan mental dan fisik dari ketegangan dan stress, sehingga dapat meningkatkan toleransi terhadap nyeri. Saat pasien melakukan relaksasi pernafasan dalam dengan diafragma dengan teratur, perawat melokalisasi daerah yang mengalami ketegangan otot, merasakannya, menegangkan otot
tersebut, kemudian mengendorkan dengan sepenuhnya dengan
merelaksasikan otot (Prasetyo, 2010). Kolaborasi advice dokter pemberian obat analgetik dengan rasional untuk mencapai kesembuhan sesuai advice dokter.
Pada kasus Ny. W, penulis melakukan rencana tindakan keperawatan selama 3x24 jam karena penulis melaksanakan praktek selama 3 hari dan sudah termasuk pengkajian dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Namun, menurut teori yang ada masalah nyeri
29
tidak dapat diatasi dalam waktu singkat dan perlu penanganan terlebih dahulu karena nyeri post operasi dapat menjadi faktor penting yang mempengaruhi persepsi pasien tentang perkembangan dan kesembuhannya. Lebih tinggi nyeri yang dirasakan pasien, maka makin rendah harapan sembuh menurut pasien berdasarkan sifat subyektif nyeri, sulit mendapatkan hubungan langsung antara intensitas nyeri dengan tingkat komplikasi post operasi secara fisik dan psikologis (Anonim, 2012).
4. Implementasi
Menurut Nursalam (2008) dalam Iyer et al (1996 ) implementasi adalah pelaksanaan dari rencana intervensi untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap implementasi dimulai setelah rencana intervensi disusun dan ditunjukkan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai yang diharapkan. Oleh karena itu rencana intervensi yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah klien.
Implementasi pada Ny. W, dapat dilakukan penulis sesuai rencana tindakan keperawatan yang ada. Saat melakukan tindakan keperawatan, penulis tidak mengalami kesulitan karena pasien kooperatif. Ada beberapa tindakan keperawatan yang dilakukan penulis diluar rencana tindakan keperawatan antara lain memberikan mobilisasi dini posisi miring kanan kiri dan duduk, memberikan mobilisasi dini yang bertujuan untuk mempercepat pemulihan dan mencegah terjadinya komplikasi pasca bedah, karena tirah baring lama seperti terjadinya dekubitus, kekakuan atau
penegangan otot-otot di seluruh tubuh, gangguan sirkulasi darah, gangguan pernafasan, dan gangguan peristaltik maupun berkemih (Sulistyawati, Hasneli, dan Novayalenda, 2012).
Merawat luka operasi, melihat kebutuhan perawatan luka dilakukan penulis karena luka operasi dapat menyebabkan infeksi dimana infeksi dapat berkembang menjadi selulitis, abses, dan sepsis karena adanya
pathogen yang berkembangbiak sehingga menyebabkan nyeri
(Sjamsuhidajat, 2005). Mengkaji pola aktivitas, karena pasien merasa sangat kesakitan saat bergerak pasca efek anestesi operasi tersebut hilang, sehingga pasien merasa takut untuk beraktivitas (Sulistyawati, Hasneli, dan Novayalenda, 2012).
5. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan dan merupakan tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasi dicapai (Hutahaean, 2010).
Evaluasi pada Ny. W dilakukan dengan metode SOAP. Pada evaluasi tanggal 25 April pukul 16.20 WIB -26 April 2013 pukul 11.25 WIB, evaluasi yang diperoleh Ny. W mengatakan nyeri perut kanan bawah