2.5.1. Defenisi Infeksi Nosokomial
Istilah infeksi nosokomial berasal dari kata Greek nosos (penyakit) dan
komeion (merawat) Nosocomion (atau menurut Latin, nosocomium) merupakan arti rumah sakit. Secara umum defenisi infeksi nosokomial yang telah disepakati yaitu setiap infeksi yang didapat selama perawatan di rumah sakit, tetapi bukan timbul ataupun pada stadium inkubasi pada saat masuk dirawat di rumah sakit, atau merupakan infeksi yang berhubungan dengan perawatan di rumah sakit sebelumnya (Soedarmo, dkk, 2008).
Menurut Centre for Disease Control and Prevention (1998) dalam Soedarmo, dkk (2008), suatu infeksi didapatkan di rumah sakit apabila:
1. Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak didapatkan tanda-tanda klinis dari infeksi tersebut.
2. Tanda-tanda klinis infeksi tersebut baru timbul sekurang-kurangnya setelah 3x24 jam sejak mulai perawatan.
3. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa dari infeksi sebelumnya.
4. Bila saat mulai dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi dan terbukti infeksi didapat penderita ketika dirawat di rumah sakit yang sama pada waktu yang lalu, serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial.
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1993, infeksi dikatakan didapat di rumah sakit apabila:
1. Pada saat masuk rumah sakit tidak ada tanda/ gejala atau tidak dalam masa inkubasi infeksi tersebut.
2. Infeksi terjadi 3x24 jam setelah pasien dirawat di rumah sakit, atau
3. Infeksi pada lokasi yang sama tetapi disebabkan oleh mikroorganisme yang berbeda dari mikroorganisme pada saat masuk rumah sakit atau mikroorganisme penyebab sama tetapi lokasi infeksi berbeda.
2.5.2. Mikroorganisme Penyebab Infeksi
Infeksi nosokomial dapat disebabkan oleh mikroorganisme patogen (bakteri, virus, fungi, dan protozoa). Sering disebabkan oleh bakteri yang berasal dari flora endogen pasien sendiri. Faktor-faktor seperti pengobatan dengan antibiotik, uji diagnostik dan pengobatan yang invasif, penyakit dasar, bersama-sama mengubah flora endogen pasien selama dirawat. Beberapa mikroorganisme seperti basili Gram-negatif, E. coli, spesies enterobakter, klebsiela, pseudomonas aeruginosa,
staphilococcus dan streptococcus merupakan pathogen nosokomial yang paling sering (Soedarmo, dkk, 2008).
Soedarmo, dkk, (2008) disebutkan beberapa jenis infeksi nosokomial yang paling sering terjadi dan mikroorganisme penyebabnya, antara lain yaitu :
1. Infeksi Saluran Kemih
Dari laporan penelitian, tercatat infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi nosokomial yang paling sering terjadi, lebih kurang 40% dari seluruh infeksi nosokomial. Saluran kemih merupakan tempat utama masuknya bakteria Gram-negatif ke dalam darah. Sepsis pada infeksi saluran kemih pada orang dewasa menyebabkan mortalitas yang tinggi.
2. Infeksi Luka Operasi
Infeksi pada luka operasi menduduki peringkat ke dua dari seluruh kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit umum. Infeksi luka operasi seringkali disebabkan oleh streptococcus, staphylococcus, enterobacteria, pseudomonas,
dan basili Gram-negatif lainnya. 3. Infeksi Saluran Nafas
Infeksi saluran nafas menempati urutan ke tiga dari seluruh kejadian infeksi nosokomial. Kebanyakan infeksi saluran nafas disebabkan oleh basil Gram-negatif usus (klebsiela, enterobakter, seratia, E.coli, dan proteus) dan pseudomonas. Basil Gram-negatif lain yang berhubungan dengan air seperti asinetobakter, flavobakterium, dan alkaligenes juga dapat terlibat.
4. Bakteremia dan Infeksi Nosokomial pada kateter Intravena
Bakteri yang paling berperan dalam terjadinya infeksi intravena ialah Stafilokokus (S.aureus dan S.epidermidis), spesies klebsiela (klebsiela, enterobakter, dan seratia), enterokokus dan pseudomonas aeruginosa.
Soedarmo, dkk, (2008) dapat disimpulkan bahwa gejala infeksi nosokomial yang spesifik hanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan khusus seperti pemeriksaan laboratorium. Secara umum gejala non-spesifik yang dapat dilihat dari seseorang yang menderita infeksi nosokomial antara lain, yaitu:
1. Perubahan temperatur atau suhu tubuh (demam) 2. Diare atau mencret
3. Mual dan muntah
4. Pneumonia (flu, batuk, dan sebagainya)
2.5.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Infeksi
1. Adanya kuman pada tempat tersebut dan tergantung pada jenis, virulensi, jumlah dan lamanya kontak
2. Adanya sumber infeksi
3. Adanya perantara/pembawa kuman relatif menular 4. Adanya tempat masuk kuman pada hospes baru
5. Daya tahan tubuh hospes baru dalam keadaan rendah (Depkes RI, 1994).
2.5.4. Transmisi Penyakit Infeksi Nosokomial
Parhusip (2005) dalam Laila A, Ika (2010) menyebutkan bahwa secara umum faktor yang mempengaruhi infeksi nosokomial terdiri atas 2 bagian besar, yaitu :
1. Faktor Endogen
Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri penderita, seperti:
a. Umur : bayi dan orang tua lebih beresiko terhadap infeksi nosokomial. b. Penyakit penyerta dan kondisi-kondisi lokal seperti adanya luka terbuka. c. Seseorang dengan daya tahan tubuh yang rendah beresiko mendapatkan
infeksi nosokomial. 2. Faktor Eksogen
Merupakan faktor yang berasal dari luar diri penderita, seperti: a. Lama penderita dirawat
Sem akin lama penderit a diraw at , resiko at au kecenderungan unt uk t erkena infeksi nosokom ial akan sem akin besar.
b. Kelompok yang merawat
Tenaga kesehat an yang m eraw at selam a di rum ah sakit m erupakan salah sat u fakt or yang dapat m enyebabkan seseorang t erkena infeksi nosokom ial.
c. Alat medis serta lingkungan
Alat -alat yang digunakan dan lingkungan dapat m enjadi m edia t ransmisi m asuknya kum an pat hogen penyebab infeksi nosokom ial ke dalam t ubuh penderit a.
2.5.5. Kelompok yang Beresiko Terserang Infeksi Nosokomial
Zulkarnain (1996) dalam Sjaifoellah, dkk, (1996) adapun kelompok yang beresiko mendapatkan infeksi nosokomial yaitu :
1. Pasien
Seseorang yang mendapatkan perawatan di rumah sakit. 2. Petugas kesehatan
Dokter, perawat, maupun tenaga kesehatan lainnya yang berada di rumah sakit yang kontak dengan pasien dan lingkungan rumah sakit.
3. Pengunjung atau penunggu paien
Seseorang atau sekelompok orang yang datang ke rumah sakit dengan tujuan untuk melihat atau menjaga kerabat yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
2.6. Mikroorganisme
Mikroorganisme yang terdapat di lingkungan rumah sakit terdiri atas kuman patogen dan non patogen, jenis kuman yang dapat menyebabkan infeksi adalah jenis patogen. Dari beribu-ribu jenis mikroorganisme yang terdapat di alam hanya ada beberapa ratusan yang bersifat patogen pada manusia yang sering menyebabkan infeksi nosokomial, diantaranya : Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumonia (Entjang, 2003).
2.6.1. Escherichia coli
Bakteri ini berbentuk batang, Gram negatif, fakultatif aerob, tumbuh baik pada media sederhana. Dapat melakukan fermentasi laktosa dan fermentasi glukosa, serta menghasilkan gas.
Escherichia coli merupakan flora normal, hidup komensal di dalam colon manusia dan diduga membantu pembuatan vitamin K yang penting untuk pembekuan
darah. Escherichia coli digunakan untuk menilai tentang baik tidaknya persediaan air untuk keperluan rumah tangga. Hal ini penting karena air untuk keperluan rumah tangga sering kali menyebabkan terjadinya epidemik penyakit-penyakit saluran pencernaan makanan, seperti : kolera, typhus, disentri dan penyakit cacing. Bibit penyakit ini berasal dari feses manusia yang menderita penyakit-penyakit tersebut. Karena itu, diusahakan agar air rumah tangga dijaga jangan sampai dikotori feses manusia, karena mungkin dalam feses manusia itu terdapat bibit-bibit penyakit tersebut.
Indikat or yang paling baik unt uk m enunjukkan bahw a air rumah t angga sudah dikot ori feses adalah dengan adanya Escherichia coli dalam air t ersebut , karena dalam feses m anusia, baik sakit m aupun sehat t erdapat bakt eri ini. Dalam 1 (sat u) gram feses t erdapat sekit ar 100 (serat us) jut a Escherichia coli.
1. Penyakit yang Ditimbulkannya
Escherichia coli merupakan flora normal di dalam usus manusia dan akan menimbulkan penyakit bila masuk ke dalam organ atau jaringan lain. Escherichia coli
dapat menimbulkan pneumonia, endocarditis, infeksi pada luka-luka dan abses pada berbagai organ.
Escherichia coli merupakan penyebab ut am a m eningit is pada bayi yang baru lahir dan penyebab infeksi t ract us urinarius (Pyelonephrit is, Cyst isis) pada m anusia yang diraw at di rum ah sakit .
Jenis t ert ent u dari Escherichia coli (ent eropat hogenic Escherichia coli) dapat m enyebabkan penyakit diare pada anak-anak. Bakt eri ini sering m enim bulkan w abah diare pada anak-anak yang sedang diraw at di rum ah sakit .
2. Pencegahan
Karena masalah utamanya adalah infeksi nosokomial, maka pencegahannya adalah dengan melakukan perawatan yang sebaik-baiknya di rumah sakit, antara lain : pemakaian antibiotika secara tepat, tindakan antiseptik yang benar, misalnya pada pemakaian catheter urina.
2.6.2. Staphylococcus aureus
Bentuk coccus, Gram positif, formasi staphylae, mengeluarkan endotoxin, tidak bergerak, tidak mampu membentuk spora, fakultatif anaerob, sangat tahan terhadap pengeringan, mati pada suhu 60oC (enam puluh derajat Celcius) setelah 60 (enam puluh) menit, merupakan flora normal pada kulit dan saluran pernapasan bagian atas. Pada pemeriksaan padat koloninya berwarna kuning emas. Di alam terdapat pada tanah, air dan debu di udara.
1. Penyakit yang Ditimbulkannya
Menimbulkan infeksi bernanah dan abses. Infeksinya akan lebih berat bila menyerang anak-anak, usia lanjut dan orang yang daya tahan tubuhnya menurun, seperti penderita diabetes mellitus, luka bakar dan AIDS.
Staphylococcus aureus dapat menyebabkan penyakit seperti ; infeksi pada folikel rambut dan kelenjar keringat, bisul, infeksi pada luka, meningitis, endocarditis, pneumonia, pyelonephritis, osteomyelitis dan pneumonia. Sedangkan di rumah sakit sering menimbulkan infeksi nosokomial pada bayi, pasien luka bakar atau pasien bedah yang sebagian besar disebabkan kontaminasi oleh personil rumah sakit (medis dan paramedis).
2. Pencegahan
Pencegahan penyakit dilakukan dengan meningkatkan daya tahan tubuh, hygiene pribadi dan sanitasi lingkungan.
2.6.3. Pseudomonas aeruginosa
Bakteri berbentuk batang, aerob, Gram negatif dapat bergerak, pada perbenihan padat koloninya tampak berwarna hijau kebiru-biruan karena menghasilkan pigmen pyocyanin. Bakteri ini banyak terdapat dalam air, tanah dan udara. Juga terdapat dalam jumlah sedikit di dalam usus manusia sehat.
1. Penyakit yang Ditimbulkannya
Pseudomonas aeruginosa hanya dapat masuk ke dalam jaringan tubuh dan menimbulkan gejala penyakit, bila pertahanan tubuh yang normal (sehat) terganggu. Karena itu, bakteri ini sering masuk ke dalam jaringan yang terkena luka atau luka bakar, menimbulkan infeksi bernanah berwarna hijau-biru.
Pada pasien yang dirawat di rumah sakit bakteri ini dapat menyebabkan meningitis karena kontaminasi pada waktu punksi lumbal ; infeksi traktus urinarius
karena masuk bersama catheter, infeksi jaringan paru karena penggunaan respirator yang terkontaminasi atau penggunaan alat rumah sakit lainnya yang dikerjakan secara tidak aseptis.
Infeksi pada kornea dapat merusak bola mata secara cepat dan menyebabkan kebutaan. Infeksi pada kornea ini biasanya terjadi setelah mengalami luka pada kornea atau karena prosedur pembedahan. Infeksi oleh bakteri ini sering menimpa penderita Diabetes melitus atau penderita kecanduan narkoba.
2. Pencegahan
Pseudomonas aeruginosa sering kali merupakan flora normal yang melekat pada tubuh kita dan tidak akan menimbulkan penyakit selama pertahanan tubuh normal. Karena itu, upaya pencegahan yang paling baik adalah dengan menjaga daya tahan tubuh agar tetap tinggi.
Upaya pencegahan penularan penyakit pada pasien yang diraw at di rum ah sakit dilakukan dengan cara kerja st eril/ asept is yang dilakukan oleh set iap personil rum ah sakit (m edis dan param edis) dengan penuh rasa t anggung jaw ab.
2.6.4. Klebsiella pneumonia
Berbentuk batang, Gram negatif, fakultatif aerob, tidak mampu berbentuk spora, tidak bisa bergerak dan mempunyai kapsul. Klebsiella pneumonia terdapat di selaput lendir hidung, mulut dan usus orang sehat sebagai flora normal.
1. Penyakit yang Ditimbulkannya
Klebsiella pneumonia sering menimbulkan infeksi pada tractus urinarius karena infeksi nosokomial, meningitis dan pneumonia pada penderita Diabetes mellitus atau pecandu alkohol.
Pneumonia yang disebabkan Klebsiella pneumonia, biasanya dimulai dengan gejala demam akut, malaise (lesu) dan batuk kering. Kemudian batuknya menjadi produktif menghasilkan sputum berdarah dan purulent (nanah). Bila penyakitnya berlanjut, terjadi abses, nekrosis jaringan paru, bronchiectasi dan fibrosis paru-paru. Angka kematiannya antara 40-60%.
2. Pencegahan
Peningkatan derajat kesehatan dan daya tahan tubuh merupakan upaya pencegahan paling penting, karena bakteri ini sebenarnya sudah ada sebagai flora normal pada orang sehat. Pencegahan infeksi nosokomial dilakukan dengan cara kerja yang aseptik pada perawatan pasien di rumah sakit (Entjang, 2003).