BAB II JEMAAT AHMADIYAH DALAM TILIKAN SEJARAH
B. Jemaat Ahmadiyah Indonesia dalam Pusaran Waktu
Masuknya ajaran Ahmadiyah yang lahir di India semasa kolonial ke Indonesia telah melalui proses panjang. Ajaran Ahmadiyah bisa dirunut dalam sejarah dan pelbagai peristiwa di Sumatra (Ahmadiyah Qadian). Adalah perguruan Sumatra Thawalib yang pada waktu itu dipimpin oleh H. Abdul Karim Amrullah dan tak hentinya mengirimkan para pelajarnya untuk mencari pengetahuan baru tentang agama Islam. Perguruan ini merupakan sebuah lembaga pendidikan yang dikenal gencar mencari pengetahuan untuk memperkaya modernisme Islam pada tahun 1920-an. Hal ini terkait dengan kultur masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat yang selalu ingin mencari ilmu pengetahuan baru.
Pencarian pengetahuan baru tentang dunia Islam sudah berlangsung sejak abad sebelumnya. Ambil contoh Imam Bonjol yang berlayar ke jazirah Arab pada abad ke-19. Kegairahan untuk belajar Islam kembali terjadi pada 1922, dua anak muda Perguruan Tinggi Sumatra Thawalib, Abu Bakar Ayyub, dan Ahmad Nuruddin. Namun, mereka bukannya pergi ke Mekkah, melainkan ke India, atas anjuran Zainuddin Labai El Yunusyiyah dan Syekh Ibrahim Musa Parabek, dua ulama besar dari Minangkabau.
Dua anak muda itu menuju Kota Lucknow, India. Di sana mereka bertemu dengan ulama bernama Abdul Bari Al-Anshari. Di kota Lucknow, mereka kedatangan teman yang menyusul dari Padang Panjang, yaitu Zaini Dahlan. Setelah tinggal di Lucknow selama dua setengah bulan, mereka bertiga hengkang menuju Lahore karena guru mereka ternyata seorang penyembah kuburan.
Di Kota Lahore, 3 orang pemuda tersebut berkenalan dengan ajaran Ahmadiyah aliran Lahore melalui didikan Maulana Abdus Sattar. Akan tetapi, mereka tidak puas. Pada suatu hari, ada 3 ulama Ahmadiyah aliran Qadian yang datang ke Kota Lahore untuk berdebat dengan pemimpin Ahmadiyah Lahore, Maulana Muhammad Ali. Dari mereka, ketiga pemuda Sumatra itu mengetahui kalau pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad disebut-sebut sebagai Imam Mahdi dan Al Masih yang kedatangannya dijanjikan Rasulullah SAW. Setelah enam bulan menetap di Lahore, 3 pemuda Sumatra itu melanjutkan perjalanan ke kota Qadian. Disana, mereka bertemu Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifah II yang juga putra Mirza Ghulam Ahmad. Ketiganya lalu masuk ke Madrasah Ahmadiyah, selanjutnya Jami’ah Ahmadiyah, dan akhirnya menjadi Jemaat Ahmadiyah.
Mereka pun mengirim kabar ke Sumatra tentang ajaran Ahmadiyah dan biaya hidup di Kota Qadian yang sangat murah. Bahkan ada biaya dari wakaf sekolah bagi para pelajar yang tidak mampu. Informasi ini menarik para pelajar di Sumatra sehingga mereka berdatangan ke Kota Qadian. Selain banyak memberikan kontribusi dalam penyebaran ajaran Islam di Eropa atau Barat, Ahmadiyah juga turut membiayai orang-orang Indonesia yang saat itu berasal dari organisasi Muhammadiyah untuk belajar ke Barat.
Pada 1924, terjadi sebuah pertemuan antara Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad dengan mahasiswa Indonesia di Qadian. Dalam pertemuan tersebut, tercatat 19 orang mahasiswa Ahmadi asal Indonesia. Para mahasiswa Indonesia
meminta sang khalifah berkunjung ke Indonesia. Menyikapi permintaan tersebut, khalifah Ahmadiyah menunjuk Maulana Rahmat Ali, sang guru “Ta’limul Islam High School” di Kota Qadian sebagai Mubalig Ahmadiyah pertama yang akan menyebarkan ajaran Ahmadiyah di Indonesia, khususnya untuk daerah Sumatra dan Jawa.
Maulana Rahmat Ali dikenal sebagai salah seorang murid generasi pertama Madrasah Ahmadiyah di Kota Qadian. Pria yang lahir pada 1893 ini lulus pada 1917 dan ditugaskan sebagai guru bahasa Arab dan agama di “Ta’limul Islam High School Qadian”. Pada 1924, ia dipindahkan ke Departemen Tablig. Tahun berikutnya, pada Juli 1925, ia ditugaskan sebagai Mubalig di Indonesia. Akhirnya, berlayarlah Maulana Rahmat menuju Indonesia pada bulan Juli 1925. Ia berlayar melalui Penang, Medan, dan Sabang. Di Sabang, ia mendapat kesulitan dan sempat ditahan selama 15 hari oleh polisi kolonial.
Namun, ia bisa lepas dan masuk ke Aceh. Kapalnya mendarat di Tapaktuan, sebuah kota kecil di pesisir Barat Aceh yang menghadap Samudera India secara langsung. Pendaratan itu terjadi pada 2 Oktober 1925. Di kota inilah untuk pertama kalinya Maulana Rahmat Ali, penebar benih Ahmadiyah di Indonesia, menyebarkan ajaran-ajaran Islam versi Mirza Ghulam Ahmad.
Pada awalnya, kedatangan mubalig Maulana Rahmat Ali diterima dengan baik oleh masyarakat muslim Tapaktuan. Namun, ketika Maulana Rahmat Ali berbicara dan muridnya menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, keterangan mubalig tersebut dinilai bertentangan dengan keyakinan Islam secara umum. Sebagai contoh keterangan dari mubalig tersebut jika Nabi Isa telah meninggal, dan akan turun kembali dunia. Ternyata yang turun bukan Nabi Isa, melainkan Mirza Ghulam Ahmad yang mengklaim diri sebagai seorang Al-Masih, Al-Mahdi, penjelmaan Krisna, dan seorang mujaddid (pembaharu).
Di tengah kemelut yang ada, wilayah Tapaktuan dikenal sebagai ladang pertama tumbuhnya ajaran Ahmadiyah Qadian di Indonesia. Di antara mereka ada tiga belas orang yang menyatakan diri masuk Ahmadiyah pada bulan Desember 1925. Adapun tokoh yang menentang dengan keras antara lain alumnus Sumatra Tawalib yang menjadi guru di Tapaktuan, yaitu Muhammad Isa dan Ahmad Sjukur .
Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah pengikut Ahmadiyah di Tapaktuan tidak menunjukkan kemajuan berarti, apalagi setelah kepergian Maulana Rahmat Ali untuk melanjutkan misi penyebaran ajaran Ahmadiyah ke
wilayah lainnya. Bahkan, pada pertengahan 1926, pemerintah Tapaktuan menjalankan strategi menghambat pertumbuhan Ahmadiyah.
Usaha yang dilakukan antara lain melarang kaum Ahmadiyah melakukan salat Jumat di tempat mereka sendiri. Mereka diharuskan untuk melakukan salat Jumat di masjid umum sebagaimana sebagian besar kaum muslim di kota itu. Penentangan keras ini dilakukan oleh tokoh-tokoh agama setempat dengan alasan ajaran Ahmadiyah berbeda dengan ajaran agama Islam yang diyakini masyarakat setempat.
Setelah menyebarkan ajaran Ahmadiyah di Tapaktuan selama 3 bulan, Maulana Rahmat Ali melanjutkan perjalanan ke Padang. Penyebaran ajaran Ahmadiyah di Sumatra Barat mendapat tantangan yang jauh lebih hebat dibandingkan ketika pertama kali masuk melalui Tapaktuan. Meski penentangan terhadap Ahmadiyah lebih keras di Sumatra Barat, Maulana Rahmat Ali terbantu dengan kedatangan mubalig-mubalig asal Sumatra yang telah pulang dari sekolah di Kota Qadian.
Saat Republik Indonesia mulai berdiri dan tatanan pemerintahan serta Undang-Undang mulai terbangun, Jemaat Ahmadiyah pun segera menyesuaikan diri dengan peraturan pemerintah dan perundang-undangan yang ada di negara Republik Indonesia. Pada akhir 1952, Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengajukan surat permohonan pengesahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) nya Jemaat Ahmadiyah untuk diakui sebagai badan hukum. Pada tanggal 13 Maret 1953, Menteri Kehakiman Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No.JA.5/23/13 menetapkan bahwa
Perkumpulan atau Organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia diakui sebagai badan hukum. Surat Keputusan Menteri Kehakiman tersebut dimuat dalam Tambahan Berita Negara RI tanggal 31 Maret 1953 Nomor 26.
Penetapan Ahmadiyah sebagai badan hukum ini tak lepas dari amanat Konstitusi, khususnya bagian mengenai Agama dan Keyakinan, yaitu Bab X Pasal 28-E ayat (1), (2), dan (3), bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali; setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyertakan pikiran, dan sikap sesuai hati nuraninya; dan setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
Selain itu, kaitannya dengan JAI sebagai organisasi kemasyarakatan, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan menjamin keberadaannya. Dalam Undang-Undang ini di antaranya telah diatur tentang Organisasi Kemasyarakatan sebagaimana tertuang dalam Pasal 6 sebagai berikut, bahwa Organisasi Kemasyarakatan berhak melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi; dan mempertahankan hak hidupnya sesuai dengan tujuan organisasi.” Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah organisasi masyarakat yang anggotanya adalah warga Negara Indonesia dan tataran organisasinya telah memenuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1985, baik mengenai AD- ART maupun ketentuan-ketentuan lainnya yang diatur dalam undang-undang.32
32
Munasir Sidik. 2008 (Cet.II). Dasar-dasar Hukum dan Legalitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Jakarta : Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Hal 13.
Sedangkan dalam Pasal 2 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) menyatakan: “Setiap orang berhak atas segala macam hak dan kebebasan yang tertuang dalam Deklarasi ini, tanpa membeda-bedakan apapun juga, baik ras, warna, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat lainnya, kebangsaan atau asal-usul kewarganegaraan, kekayaan, kelahiran, atau status. Dalam DUHAM juga disebutkan Anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah elemen warga negara yang berhak memperoleh dan mendapatkan hak-haknya dalam memiliki kepercayaan dan keyakinan.
Ada beberapa tingkatan Jemaat Ahmadiyah yang dibagi berdasarkan klasifikasi usia dan jenis kelamin. Golongan itu adalah Ladjnah Imaillah, terdiri
dari wanita Ahmadi; Nasiratul Ahmadiyah untuk puteri-puteri Ahmadi; Athfatul
Ahmadiyah untuk anak-anak Ahmadi; Khudamul Ahmadiyah untuk pemuda
Ahmadi; dan Ansarullah untuk orang-orang tua Ahmadi.
Dalam Ahmadiyah sendiri, terdapat dua aliran yang kemudian berkembang masing-masing, yaitu Jemaat Ahmadiyah (Ahmadiyah Qadian) dan Gerakan Ahmadiyah (Ahmadiyah Lahore). 33 Awal pemisahan Ahmadiyah Lahore dari Jemaat Ahmadiyah saat pemilihan khalifah ketiga setelah kematian Mirza Ghulam Ahmad. Ahmadiyah Lahore tidak mau mengakui silsilah kepemimpinan dari
33
Qadian dan Lahore merujuk pada nama daerah tempat ajaran ini lahir. Sebelumnya aliran ini adalah satu, dari Mirza Ghulam Ahmad. Menurut salah satu Jemaat Ahmadiyah (Qadian), dalam sejarahnya, saat itu Ahmadiyah Lahore berambisi ingin menjadi pemimpin. Pada waktu pemilihan khalifah kedua, yang memilih khalifah harus istikharah dulu, siapa sebenarnya bayangan yang terlihat. Tiba-tiba ada suara pada malam hari, banyak orang mendengar, namanya Maulana Nasiruddin, anaknya Mirza Ghulam Ahmad. Waktu itu dia berumur 25 tahun. Yang Lahore tidak setuju karena seolah-olah yang memimpin masih terlalu muda. Akhirnya mereka memisahkan diri. Lahore tidak bisa berkembang sampai sekarang. Dalam sejarah yang berkembang Ahmadiyah Qadiyan.
khalifah tersebut, yaitu Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (Putra dari Mirza Ghulam Ahmad) karena dianggap masih terlalu muda dengan usia 25 tahun.
Karena adanya perbedaan pendapat mengenai kepemimpinan inilah, Ahmadiyah terpecah jadi dua. Namun, menurut versi Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI)34, alasan memisahkan diri adalah karena sesaat setelah Mahmud Ahmad memangku jabatan, ia mengajukan klaim atas 3 hal, pertama, Mirza
Ghulam Ahmad adalah benar-benar Nabi; kedua, kata Ahmad yang tercantum
dalam Quran Surat Ash-Shaf ayat 6 adalah Mirza Ghulam Ahmad; ketiga, orang
Islam yang tidak berbaiat kepada Ghulam Ahmad adalah kafir dan keluar dari Islam.
Dalam konteks Indonesia, Gerakan Ahmadiyah Indonesia secara resmi lahir pada 10 Desember 1928. GAI tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, juga tidak mengakui adanya sistem kekhalifahan seperti dalam Ahmadiyah Qadian. Apabila Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) atau Ahmadiyah Qadian dipimpin oleh seorang Amir yang dipilih oleh para jemaat dan bertanggung jawab
terhadap khalifah, tidak demikian halnya dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI).
Ahmadiyah Lahore di Indonesia (GAI) secara struktural tidak berhubungan dengan Gerakan Ahmadiyah yang berpusat di Lahore Pakistan, yaitu
Ahmadiyah anjuman Isha’ati Islam (Ahmadiyah Gerakan Penyiar Islam). Dengan
posisi seperti ini, maka GAI tidak menganggap Ahmadiyah Lahore di Pakistan sebagai pusatnya, sehingga Ahmadiyah Lahore tidak memiliki otoritas untuk mengatur atau bahkan sekedar memberi saran kepada GAI.
34
Op.cit… menurut Mulyono, Sekretaris GAI, Dalam Aris Mustafa, dkk. 2005. Ahmadiyah : Keyakinan yang Digugat. Jakarta : Pusat Data dan Analisa TEMPO. Hal 52.
Berbicara tentang dua aliran ini, di Yogyakarta, ada seniman Ahmadiyah yang mengenal Ahmadiyah Lahore terlebih dahulu, baru kemudian juga meyakini Ahmadiyah Qadian. Dialah H. Suhadi, seorang seniman yang banyak mengarang lagu tentang Islam. H.Suhadi merupakan salah satu komposer yang turut memberi warna pada perkembangan musik Tanah Air.35 Menurutnya, kehidupan umat beragama secara kuantitas cukup luas jika melihat wacana dan kesempatannya. Akan tetapi, Suhadi berharap agar kualitas dan kesempatan yang luas tersebut tumbuh dengan sadar, terisi dengan kualitas imani yang Islami. Islam disini merujuk pada kata damai, ada pengertian tunduk kepada Tuhan dengan segala hukumnya.
Saat diwawancarai tahun 2005 silam oleh majalah SULUH36, Suhadi
banyak bercerita tentang perjalanannya aktif di Ahmadiyah. “Saya mulai aktif tahun 1986. Karena mencari terus, maka saya bertemu dengan Ahmadiyah Internasional. Namanya Jemaat Ahmadiyah Internasional karena tersebar di lebih dari 180 negara. Akan tetapi sebelumnya saya sudah di Ahmadiyah Lahore (Gerakan Ahmadiyah Indonesia) sejak 1963”, ujarnya.
Suhadi mulai tertarik sejak mengikuti “Sunday Morning Class” bersama Dawam Raharjo. Ia tertarik untuk mempelajari karena di dalamnya tidak ada dogma. Segala hal bersifat rasional. Tidak ada hal yang tabu. Dialog untuk bernalar sangat terbuka, dan tidak terikat pada tradisi. Menurutnya, pada Zaman Belanda, kaum intelek seperti Bung Karno, Bung Hatta, Prof. Supomo, dan Kartini mempelajari “Al-Quran”-nya Ahmadiyah. Dalam Al-Quran terdapat
35
Suhadi juga merupakan seorang peraih rekor MURI atas prestasinya sebagai pencipta lagu terpanjang (lagu Ar-Rahman) terdiri dari 9 Kelompok Syair, masing-masing kelompok 2 bait, dinyanyikan selama 27 menit 30 detik.
36
Mona. 2005. H. Suhadi : Berkarya dengan Musik. Yogyakarta : Majalah SULUH edisi September-Oktober 2005
rasionalitas Islam yang bukan dogma sehingga memungkinkan orang untuk berwawasan luas dan tidak fanatik.
Hal-hal yang terkait dengan ke-Ahmadiyah-an ini tidak akan banyak digali di sini. Perbincangan akan berfokus pada Jemaat Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Qadian), khususnya di Lombok. Selain karena perkembangannya dalam peradaban terus menerus mengundang kontroversi, hal ini dilakukan karena Jemaat Ahmadiyah Indonesia lah yang menjadi sasaran kekerasan lebih dari satu dekade.