2.8 Data dan Pengukuran
1.8.2 Jenis Penelitian
Penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu,
tetapi hanya menggambarkan ”apa adanya” tentang sesuatu variabel, gejala atau
keadaan. Memang ada kalanya dalam penelitian ingin juga membuktikan dugaan tetapi tidak terlalu lazim. Yang umum adalah bahwa penelitian deskriptif tidak dimasudkan untuk menguji hipotesis (Arikunto, 2000).
Beberapa jenis penelitian yang dapat dikategorikan sebagai penelitian
deskritif adalah penelitian survei (survey studies), studi kasus (case studies),
penelitian perkembangan (developmental studies), penelitian tindak lanjut (
follow-up studies), analisis dokumen (documentary analyses) dan penelitian korelasional (correlation studies) (Arikunto, 2000). Penelitian kasus (studi kasus) biasanya meliputi subyek yang jumlahnya terbatas (kadang-kadang hanya seorang subyek atau sebuah unit), dimaksudkan untuk mengetahui secara mendalam tentang sesuatu gejala. Dalam melakukan studi kasus, peneliti berusaha menggali latar belakang yang dimiliki oleh subyek mengenai ”masa lalunya” (Arikunto, 2000). 1.8.3 Pengumpulan Data
Pada umumnya, pengumpulan data pada penelitian dilakukan dengan cara pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama, baik individu atau perseorangan seperti hasil wawancara atau hasil pengisian kuesioner yang dilakukan oleh peneliti kepada responden. Sedangkan data sekunder merupakan data primer yang diperoleh pihak lain atau data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pengumpul data primer atau oleh pihak lain yang pada umumnya disajikan dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-diagram (Sugiarto, 2003).
Pengambilan atau pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner untuk diisi oleh responden atau dengan cara
interview/wawancara dengan responden oleh peneliti. Untuk data yang hasilnya diperoleh melalui kuesioner, maka aspek yang penting adalah mendesain kuesioner sebelum melakukan penelitian. Sebelum mendesain kuesioner, hal yang perlu dilakukan adalah menentukan berapa jumlah proyek konstruksi yang akan diteliti. Mengingat keterbatasan tenaga dan waktu, penulis menggunakan sampel
dalam pelaksanaan penelitian. Menurut Sugiarto (2003), sampel adalah sebagian anggota dari populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya, dimana populasi adalah keseluruhan unit atau individu dalam ruang lingkup yang ingin diteliti. Penelitian lapangan bertujuan untuk memperoleh jawaban penegasan setuju atau tidak setuju responden terhadap pernyataan dalam kuesioner yang dibagikan (Proboyo, 1999).
Data yang didapatkan dapat berupa data kualitatif maupun data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang bukan berupa angka atau secara praktis bermakna tidak dapat dijadikan dalam operasi matematika seperti penambahan, pengurangan maupun perkalian dan pembagian. Termasuk dalam klasifikasi data kualitatif adalah data yang berskala ukur nominal dan ordinal. Sedangkan data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka. Yang dimaksud dengan data nominal adalah data yang hanya menghasilkan satu dan hanya satu-satunya kategori. Data nominal disebut juga dengan data kategori. Data nominal dalam praktek statistik biasanya akan dijadikan ’angka’, yaitu proses yang disebut kategori. Misal dalam pengisian data, jenis kelamin lelaki dikategorikan sebagai ’1’ dan perempuan sebagai ’2’. Kategori ini hanya sebagai tanda saja, jadi tidak dapat dilakukan operasi matematika, seperti 1+2 atau 1-2 dan lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan data ordinal adalah data yang mempunyai tingkatan data (Santoso, 2001).
Sebelum melakukan pengumpulan data, terlebih dahulu ditentukan skala pengukuran. Maksud dari skala pengukuran adalah untuk mengklasifikasikan variabel yang akan diukur supaya tidak terjadi kesalahan dalam menentukan analisis data dan langkah penelitian selanjutnya. Jenis skala pengukuran tersebut antara lain : skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala ratio. Selain keempat jenis skala pengukuran tersebut, ternyaat skala interval yang sering digunakan untuk mengukur gejala dalam penelitian sosial. Para ahli sosiologi membedakan dua tipe skala pengukuran menurut gejala sosial yang diukur, yaitu:
1. Skala pengukuran untuk mengukur perilaku susila dan kepribadian (skala
sikap, skala moral, test karakter, skala partisiasi sosial).
2. Skala pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya lain dan
lembaga-lembaga swadaya masyarakat / sosial, kemasyarakatan, kondisi rumah tangga, dan lain sebagainya).
Dari tipe-tipe skala pengukuran tersebut, yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala sikap. Bentuk-bentuk skala sikap yang sering digunakan ada lima macam, yaitu ; Skala Likert, Skala Guttman, Skala Simantic Defferensial, Rating Scale, dan Skala Thurstone. Yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Likert.
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Dalam penelitian gejala sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Alternatif jawaban misalnya: Sangat Puas, Puas, Cukup Puas, Kurang Puas, Tidak Puas. Ini ada sebagian ahli identik dengan skala ordinal, tetapi juga ada yang berpendapat interval. Keduanya mempunya alasan yang kuat dan tergantung persepsi masing-masing. Jika yang berpendapat skala interval tanpa menggunakan transformasi (MSI), tetapi alternatif jawaban responden 1-5 ini dikatakan ordinal, maka untuk persyaratan analisis parametik data ordinal transformasi (MSI) ke data interval.
Dengan menggunakan Skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan menjadi sub variabel kemudian sub variabel dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator yang dapat diukur. Akhirnya indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrument yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden. Setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapkan dengan kata-kata (Riduwan, 2008)
Dengan menanggapi pertanyaan dalam skala Likert, responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Biasanya disediakan lima pilihan skala seperti :
1. Sangat Setuju (SS) •
2. Setuju (S) •
3. Netral (N)
5. Sangat Tidak Setuju (STS)
Selain pilihan dengan lima skala tersebut diatas, kadang digunakan juga skala dengan tujuh atau sembilan tingkat. Suatu studi empiris menemukan bahwa beberapa karakteristik statistic kuesioner dengan berbagai jumlah pilihan tersebut ternyata sangat mirip.