BAB IV JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA DALAM PERTARUNGAN
C. Jihad dengan Pena : Artikulasi Subjek yang “Berdaya”
Persoalan JAI di atas telah dibaca melalui pisau analisis hegemoni dan pembentukan identitas. Perdebatan sekaligus pertarungan identitas dan hegemoni terlihat pada dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, adanya beberapa kelompok dalam entitas Islam menginginkan agar Ahmadiyah keluar dari Islam dengan alasan- alasan yang sudah dijelaskan. Kelompok masyarakat muslim yang awam kemudian mendengar kata-kata ulama dan mengikuti kelompok muslim yang hegemonik tersebut. Di sisi lain, Ahmadiyah dengan segala argumennya mati- matian mempertahankan dirinya bagian dari Islam. Pertentangan yang belum ada
102
Dalam kutipan surat Ketua DPW JAI NTB yang dialamatkan ke Gubernur NTB dengan menyertakan tulisan seputar penjelasan JAI tentang Eksistensi Hukum dan teologi JAI Wilayah NTB, pada tanggal 20 Oktober 2011.
titik temunya ini terus-menerus menjadi wacana, yaitu sesuatu yang diartikulasikan.
Selain perdebatan tersebut, satu hal yang tak bisa dilupakan adalah JAI khususnya di Lombok merupakan masyarakat sebagai praktik artikulatoris. Kelompok ini menjadi subjek yang berada dalam struktur dan masyarakat yang selalu belum selesai, sehingga secara terus menerus menyuarakan kepentingannya. Hal ini untuk menunjukkan identitas ke-Ahmadiyah-annya, yang bagi sisi Liyan merupakan suatu identitas yang bermasalah. Identitas bisa terbentuk sebagai akibat dari proses identifikasi dengan ideologi. Jemaat ini pun terbentuk karena ideologi yang ditanamkan oleh organisasi atau alirannya.
Berbicara tentang hegemoni tidak bisa dilepaskan dari subjek politik. Meskipun menjadi kelas subordinasi dan korban kekerasan, JAI juga merupakan subjek yang memiliki artikulasi. Jemaat Ahmadiyah Indonesia juga menyadari sebagai bagian dari struktur harus mengikuti hukum yang berlaku di dalamnya. Dengan mengikuti hal tersebut, JAI telah menjadi subjek politik. Dalam praktik diskursif, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, khususnya di Lombok mati-matian membentuk identitasnya sebagai bagian dari Islam. Perjuangan ini terasa begitu sulit bagi JAI, karena mereka berhadapan dengan bangunan besar, yaitu entitas Islam di Indonesia. Oleh karena itu, mereka memerlukan strategi, yang dalam bahasa-nya Gramsci adalah untuk melakukan counter hegemony.
Kekerasan biasanya memunculkan kebungkaman, yakni diam atas segala peristiwa yang dialami. Tidak demikian halnya dengan para pengungsi JAI. Mereka bersama dengan para pemimpinnya dan mubalig aktif menyuarakan hasrat atau kebutuhan mereka. Kelompok warga JAI ini berjuang untuk mendapatkan
setidaknya dua hal, yaitu legalitas identitas dan ketenangan dalam menjalankan ajarannya. Untuk hal yang pertama, pengakuan itu akan berhasil jika adanya titik kompromi yang mempersempit jurang perbedaan dari setiap entitas. Inilah yang menurut JAI perlu sebuah dialog khidmat tanpa adanya kebencian.
Bagi Jemaat Ahmadiyah, pengertian jihad saat ini adalah dengan tulisan atau pena. Jihad menggunakan kekerasan atau pedang hanya ada di zaman Nabi Muhammad SAW (Rasulullah SAW). Menurut Jemaat Ahmadiyah, jihad menggunakan tulisan berdasarkan argumen tertentu akan menjadikan prosesnya lebih menarik. Untuk mencapai kebenaranpun berdialog melalui tulisan tidak sampai menjatuhkan korban. Hal inilah yang cukup disayangkan oleh JAI atas fenomena kekerasan yang terjadi. Mengapa tidak mengulang sejarah yang dulu, berdialog, dan debat terbuka? Yang terjadi saat ini justru sebaliknya, yaitu ada semacam keengganan dari pihak Liyan untuk mengakrabi Ahmadiyah lebih jauh.
Dalam sejarahnya, penyebaran ajaran Ahmadiyah memang melalui tulisan. Dapat dilihat, terdapat 84 buah buku dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat oleh pendiri Ahmadiyah, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Buku dan tulisan itulah yang menjadikan jemaatnya memiliki banyak pengetahuan tentang Islam dan ajarannya, baik yang terkait hal-hal duniawi maupun surgawi. Bacaan-bacaan itu pula yang menjadikan mereka gemar berdialog atau berargumen dengan nalar. Menurut mereka, perbedaan pendapat itu merupakan hal yang biasa. Itulah guna bertemu dan berdialog, yakni untuk menemukan titik kompromi.
Perjuangan dengan jihad pena dilakukan oleh Ahmadiyah termasuk pengurus JAI di Lombok melalui majalah, koran, dokumen, dan buku-buku berisi klarifikasi tentang sangkaan dari kelompok yang kontra dengannya. Selain itu,
seperti dikatakan di depan, Ahmadiyah juga memiliki TV Internasional, Muslim
Television Ahmadiyya (MTA), di London, yang mengudara selama 24 jam tanpa
iklan. Semuanya memberitakan tentang agama Islam. Televisi inilah yang ditonton oleh semua Jemaat Ahmadiyah termasuk oleh para pengungsi. JAI di Lombok juga memiliki koleksi VCD yang berisi tentang perjalanan Ahmadiyah di berbagai negara Barat. Inilah yang sering dibagi-bagikan jika ada orang non- Ahmadi yang ingin melihat perkembangan Ahmadiyah di berbagai negara. Pada tataran ini Jemaat Ahmadiyah sedang melawan arus hegemonisasi hubungan sosial yang terjadi, karena moda baru dalam penyebaran budaya lewat media massa.
Dalam lingkup nasional, JAI juga memiliki sekolah mubalig nasional di Parung, Bogor yang berbahasa Urdu, Jerman, dan Perancis untuk mempelajari agama Islam. Akan tetapi, sudah beberapa tahun ini sekolah itu tidak diberikan izin beroperasi oleh pemerintah seiring dengan keluarnya SKB Tiga Menteri, karena dianggap sebagai upaya penyebaran ajaran Ahmadiyah.
Sejak awal kedatangannya di Indonesia, Jemaat Ahmadiyah mendapat kecaman keras lewat tulisan di Tapaktuan. Hal ini ditanggapi dengan tulisan pula oleh JAI. Hanya saja, di era Reformasi yang katanya mengagung-agungkan kebebasan, ternyata tak membuat pikiran masyarakat Indonesia menjadi lebih bebas. Yang lebih menonjol adalah justru seruan untuk membenci dengan bertindak di luar batas, serta menjadikan JAI sebagai “musuh bersama” umat Islam. Oleh karena itu, jadilah JAI di Lombok sebagai salah satu sasaran kekerasan yang berlangsung selama satu dasawarsa.
JAI dapat digambarkan dalam sebuah adagium, berdaya dalam
ketidakberdayaan. Seperti itulah situasi yang dialami oleh JAI khususnya
pengungsi di Asrama Transito. Kekuatan mereka adalah pada strategi untuk menulis dan berdialog. Tentunya ini dilakukan JAI bersama para pemimpin dan mubalignya di barisan depan. Inilah yang disebut Gramsci dengan strategi dengan menonjolkan kepemimpinan intelektual dan moral. Mereka seolah-olah tak melawan dan menerima takdir yang diberikan.
Dalam bahasanya Lacan, JAI seolah-olah berkompromi dengan Liyan (neurosis), yaitu melindungi dirinya dari hasrat yang tak sadar sekaligus diam- diam mengekspresikannya. Kaitan dengan melindungi diri, takiyah yang
dituduhkan kepada mereka bisa dibaca seperti itu. Sebagai korban, mereka bukanlah sekelompok orang yang lemah dan tak berdaya, melainkan subjek yang melakukan strategi tertentu untuk lepas dari belenggu kekerasan.
Hal yang tidak bisa diabaikan pula dalam konteks Ahmadiyah adalah dibutuhkannya peran pemerintah untuk melindungi JAI yang merupakan bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. JAI merupakan warga negara Indonesia yang memiliki hak asasi dan membutuhkan perlindungan. Sangat disayangkan apabila negara justru menjadi pemicu keresahan masyarakat dan menjadi salah satu agen penyebar wacana yang mendorong kekerasan. Hal ini sejalan dengan konsep Laclau-Mouffe yang mengingatkan bahwa politik bukanlah masalah “mendaftar kepentingan-kepentingan yang sudah ada, melainkan memainkan peran penting dalam pembentukan subjek-subjek politik”. Yang paling penting untuk diamati adalah bentuk-bentuk hubungan eksploitatif yang ada. Harapan JAI bertumpu besar pada pemerintah untuk tidak menjadikan hubungan eksploitatif
berlangsung terus-menerus dan berperan penting untuk pembentukan subjek politik dalam sebuah entitas besar bernama Indonesia.
Jemaat Ahmadiyah Indonesia menyadari bahwa masyarakat tidak mungkin menerima keberadaan mereka sepenuhnya. Akan tetapi, mereka masih memiliki
need (kebutuhan), sehingga segala usaha tetap dilakukan. Jemaat Ahmadiyah
sebagai wacana, yang identitasnya masih terus diperjuangkan dan tak pernah selesai, berjuang demi kehidupan yang lebih baik, sekaligus bebas dari kekerasan.
Kebutuhan untuk mendapatkan hal tersebut juga disertai dengan hasrat untuk melampauinya melalui fantasi mendapatkan keutuhan dari Ilahi. Mungkinkah need dan “tuntutan” pada dunia simbolik ini akan terwujud ataukah
hanya akan menjadi sebuah utopia? Terwujud atau tidak, toh bagi JAI, mereka
sudah memiliki fantasi bahwa perjuangan akan tetap berlanjut. Dengan menjadi
Ahmadi, itulah sebenar-benarnya hasrat yang ingin dicapai JAI. Setidaknya
mereka juga memahami satu hal bahwa penderitaan adalah kenikmatan yang terselubung.
BAB V