• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kapitalisme versus Marxisme

Dalam dokumen Kritik Atas Ekonomi Pasar (Halaman 33-43)

Kapitalisme yang terjadi pada Abad XIX merupakan akibat dari perkem-bangan ekonomi dalam pasar yang dipersepsi mengatur dirinya sendiri. Kapital-isme didasarkan pada kebebasan individu untuk mengejar keuntungan ekono-mi sebesar-besarnya tanpa harus meekono-mikirkan tanggung jawab sosial tentang kesejahteraan umum. Kapitalisme tidak memusuhi kesejahteraan umum akan tetapi tidak mengambilnya sebagai logika internal dalam praksis ekono minya. Kesejahteraan umum dibiarkan terjadi sendiri apabila kesejahteraan tiap-tiap orang dapat terpenuhi melalui persaingan pasar bebas. Untuk itu, kapitalisme memahami hubungan masyarakat dan ekonomi dalam dunia kehidupan secara terpisah, masing-masing berjalan menurut hukumnya sendiri. Ekonomi ada di ranah privat sehingga ditabukan dari campur tangan masyarakat atau negara. Pasar menentukan hukum pertukaran komoditas tanpa harus diintervensi oleh kekuatan dari luar karena akan mematikan pasar dan mengekang kebebasan berusaha pelaku ekonomi.

Marxisme sebaliknya memahami ekonomi dan masyarakat dalam du-nia kehidupan sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Masyarakat adalah pelaku ekonomi yang memproduksi komoditas dalam pasar dan berhak atas hasil-hasil ekonomi. Masyarakat dalam pemikiran Marx adalah kaum pekerja dan ekonomi adalah proses produksi maka yang berhak mengklaim hasil dari kegiatan ekonomi adalah masyarakat.

-356- Respons 15 (2010) 02 Kontradiksi di Abad XIX adalah pemisahan yang tajam antara ekono-mi yang dikuasai oleh para peekono-milik modal, yakni kaum kapitalis mengusai alat-alat produksi dan menentukan upah bagi kaum pekerja menurut hubungan-hubungan dalam proses produksi. Kontradiksi ini menimbulkan keprihatinan yang mendalam mengenai ekonomi yang secara klasik dimaksudkan untuk menciptakan kesejahteraan umum telah berubah menjadi pengisapan darah ekonomi oleh kaum kapitalis terhadap para pekerja. Hubungan ekonomi dan masyarakat merosot menjadi dua subsistem sosial yang tidak hanya berbeda melainkan juga bertentangan.

4. Penutup

Polanyi dan Habermas mengakui bahwa Abad XVIII merupakan era ruang publik masyarakat borjuis Eropa. Polanyi melihatnya sebagai anteseden per ubahan sosial luar biasa dalam Abad XIX yang menimbulkan ketercera-butan ekonomi dari masyarakat. Habermas melihatnya sebagai model pemba-ngunan politik liberal bagi Abad XIX dan sesudahnya. Sebagai penganut pe-mikiran Hegelian kiri, Polanyi dipengaruhi pepe-mikiran Marxis dalam membaca kejadian Abad XIX sebagai dekonstruksi sosial yang mengakibatkan ekonomi melesat meninggalkan moralitas sosial masyarakat. Habermas menggunakan Marxisme dalam melihat situasi ekonomi Abad XIX dan sesudahnya sebagai produk historis yang tercakup di dalamnya rasionalitas yang mengundang re-konstruksi kreatif. Rasionalitas historis menyatakan aspek keingintahuan ma-nusia sebagai makluk rasional, yang tidak menyerahkan nasibnya pada rerun-tuhan, sebaliknya dapat membangun kemegahan masa depan dari puing-puing sejarah yang bisa dibaca dalam kekinian waktu dan tempat yang terjaring dalam sebuah komunikasi dunia global.

Konfigurasi ulang konsep ruang publik melalui teori rasionalitas ko-munikatif merupakan kontribusi Habermas pada peradaban demokrasi dunia modern.38 Tak ketinggalan Cina membuka pintunya bagi rasionalitas Barat da-lam pemikiran filosofis Habermas dengan melakukan penerjemahan terhadap buku-buku utama Habermas termasuk mencobanya dalam merilis kurikulum pendidikan akademis di negara tirai bambu tersebut.39 Keberanian untuk men-coba nilai demokrasi yang ditumbuhkan dalam iklim politik borjuis membuk-tikan bahwa kesalahan dalam kesadaran borjuis, kalau toh ada, tidak lebih bu-ruk dari harapan-harapan rasional meskipun utopis yang ditawarkannya. 40

Pelajaran ekonomi yang dapat ditarik dari pemikiran Polanyi dan Ha-bermas, khususnya bagi pembangunan demokrasi di negara-negara berkembang adalah anjuran mereka untuk memperkuat peran masyarakat melalui demokrasi deliberatif. Dalam kondisi negara berkembang yang amat besar populasinya dan kaya dalam perspektif budaya multikulturalis, kiranya model demokrasi lang-sung ala polis Yunani menjadi tidak realistik. Pemikiran mereka memperkuat

kesadaran akan tanggung jawab sosial pelaku ekonomi terhadap masyarakat dan di alam modernisme partisipasi politik memungkinkan masyarakat mengorga-nisir dirinya menjadi kekuatan bargaining dalam hal pengambilan keputusan publik, khususnya mengenai pilihan ekonomi dan cara-cara menjalankannya secara transparan. Negara tidak dipahami sebagai pelaku tunggal rasionalitas publik dalam penentuan hukum melainkan partisipasi riil melalui organisasi-organisasi masyarakat merupakan keharusan untuk menempatkan ekonomi di pangkuan sosial seluruh masyarakat sebagai stakeholder.41 Dengan kata lain, masalah ekonomi harus ditaruh di hadapan mata semua pihak sebagai pemang-ku kepentingan dan sama-sama bertanggung jawab untuk mengubahnya ke arah

-358- Respons 15 (2010) 02 yang lebih baik.42 Relevansinya untuk pengamanan lingkungan hidup, gagasan mengenai tangjawab sosial perusahaan dapat dibaca sebagai tanggung jawab sosial masyarakat dalam melakukan pengawasan melekat melalui regulasi yang memihak kepentingan generasi yang akan datang.43 Polanyi dan Habermas, sa-ma-sama berbicara mengenai manusia sebagai homo socius di atas sistem

ekono-mi tanpa kontrol. Keduanya menolak pemahaman ma nusia semata-mata seba-gai homo economicus, yang merupakan esensi cara pan dang ekonomi neoklasik

dalam membela tatanan ekonomi pasar semata-mata.

Polanyi dan Habermas menyarankan pembelaan institusi dan proses ekonomi yang mempromosikan nilai-nilai sosialisme seperti koperasi dan solidaritas sebagai hal penting yang menentukan kematangan dalam transisi menuju sistem ekonomi yang lebih partisipatoris dan terkoordinasi.44 Dengan demikian, Polanyi dan Habermas tidak hanya berpikir untuk mengoreksi kapi-talisme melainkan juga mengatasi Marxsime dalam apa yang mereka namakan politik ketercakupan ekonomi dan masyarakat dalam sebuah pasar yang diatur dengan sistem hukum deliberatif.

Catatan Akhir

1 Copleston, Frederick SJ, A History of Philosophy: Greece and Rome, vol. 1.

(New York: Image Books, 1993), hal. 277.

2 Aristotle “Nicomachean Ethics” dalam The Basic Works of Aristotle, diedit

oleh Richard McKeon dengan introduksi oleh C. E. C. Reeve. (New York: The Modern Library, 2001), par., 1094a.

3Ibid., par.1099b.

4 Smith, Adam. The Theory of Moral Sentiments. (Oxford: Clarendon Press,

5 Polanyi, Karl. The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time, Kata Pembukaan oleh Joseph E. Stiglitz dan Kata Pengantar

oleh Fred Block. (Boston Beacon Press, Paperback Edition: 2001), hal. 210ff.

6 Habermas, Jürgen, The Theory of Communicative Action: Life-world and System, a Critique of Functionalist Reason, Vol. II. Diterjemahkan dari teks

berbahasa Jerman Theorie des kommunikativen Handelns, Band 2, Zur Kritik der funktionalistischen Vernunft oleh Thomas MacCarthy. (Boston: Beacon Press,

1987), hal. 202.

7 Aristotle. Op.Cit., par. 1094a. 8 Smith, Adam. Op.Cit.

9 Polanyi. Op.Cit., hal. 264. 10 Aristotle. Op.Cit., 11 Polanyi. Op.Cit., hal., 71. 12Ibid., hal., 79.

13Ibid., hal., 80-81.

14 Daniel Brook, “The Great Transformation. Its Relevance Continues” dalam American Journal of Economics and Sociology, Vol. 53, No. 4 (Oct., 1994),

hal. 401-2. Diterbitkan oleh American Journal of Economics and Sociology, Inc. Stable URL: http://www.jstor.org/stable/3487183

15 Elmar Alvater, et. al., “The World Market Unbound” dalam Review of International Political Economy, Vol. 4, No.3 (Autumn., 1997), hal. 448. Diterbitkan

dalam The Direction of Contemporary Capitalism oleh Taylor & Francis, Ltd. Stable

URL: http://www.jstor.org/stable/4177234. 16Ibid., hal. 449. 17Ibid., hal. 451. 18Ibid., hal 453. 19Ibid., hal. 454. 20Ibid., hal. 455-56. 21Ibid., hal. 457.

-360- Respons 15 (2010) 02

22Ibid, hal. 458.

23 Daniel Brook, “The Great Transformation. Its Relevance Continues” dalam American Journal of Economics and Sociology, Vol. 53, No. 4 (Oct., 1994),

hal. 401-2. Diterbitkan oleh American Journal of Economics and Sociology, Inc. Stable URL: http://www.jstor.org/stable/3487183

24Ibid., hal. 402. 25Ibid. hal. 432ff

26 William James Booth, “On the Idea of the Moral Economy” dalam The American Political Science Review, Vol. 88, No. 3 (Sep., 1994), hal. 652. Diterbitkan

oleh American Political Science Association. Stable URL: http://www.jstor.org/ stable/2944801

27 Habermas, Jürgen. The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society. Translated from german Text Strukturwandel der Öffentlicheit by Thomas Burger with the assistance of Frederick

Lawrence. (Cambridge, Mass: MIT Press, 1989), hal. 43-51.

28 _________. Communication and the Evolution of Society. Translated

from German Text Sprachpragmatik und Philosophie and Zur Rekonstruktion des Historischen Materialismus by Thomas McCarthy. (Boston: Beacon Press, 1979),

hal. 2.

29 Habermas, Jürgen. Between Facts and Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy. Translated from German Text Faktizität und Geltung: Beträge zur Diskurstheorie des rechts und des demokratischen Rechtsstaats

by William Rehg. (Cambridge: Polity Press, 1996), hal. 127-28, 142.

30 _________. Moral Consciousness and Communicative Action. Translated

from Moralbewusstsein und kommunikatives Handeln by Christian Lenhardt and

Shierry Weber Nicholsen. (Cambridge, Mass: MIT Press, 1991), hal., 65.

31 Kant, I. “Analysis of the Argument Ch. III Outline of A Critique of Practical Reason, sub judul the antinomy of freedom and necessity” dalam

Groundwork of the Metaphysic of Morals. Translated by H.J. Paton. (New York:

32 Habermas, Jürgen. The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society. Translated from german Text Strukturwandel der Öffentlicheit by Thomas Burger with the assistance of Frederick

Lawrence. (Cambridge, Mass: MIT Press, 1989), hal. Xv.

33 ___________. Between Facts and Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy. Translated from German Text Faktizität und Geltung: Beträge zur Diskurstheorie des rechts und des demokratischen Rechtsstaats

by William Rehg. (Cambridge: Polity Press, 1996), hal.xxxv.

34 Hegel, G. W. F. The Philosophy of Right. (Chicago: The University of

Chicago, 1952), par. 257-273.

35Between Facts and Norms. Op. Cit., hal. 287-328. 36Ibid., hal. 360.

37Ibid., hal. 359.

38 Sue Thomas, “Reconfiguring the Public Sphere: Implications for Analyses of Educational Policy” dalam British Journal of Educational Studies, Vol. 52, No.

3 (Sep., 2004), hal. 228. Diterbitkan Blackwell Publishing on behalf of the Society for Educational Studies. Stable URL: http://www.jstor.org/stable/1556054

39 Weidong Cao, “The Historical Effect of Habermas in the Chinese Context: A Case Study of the StructuralTransformation of the Public Sphere” dalam Frontiers of Philosophy in China, Vol. 1, No. 1 (Jan., 2006), hal. 45. Stable

URL: http://www.jstor.org/stable/30209949

40 Katharyne Mitchell, “Conflicting Geographies of Democracy and the Public Sphere in Vancouver”, dalam Transactions of the Institute of British Geographers, New Series, Vol. 22, No. 2 (1997),hal. 162. Diterbitkan oleh Blackwell

Publishing on behalf of The Royal Geographical Society (with the Institute ofBritish Geographers)Stable URL: http://www.jstor.org/stable/622307

41 Evan Charney, “Political Liberalism, Deliberative Democracy, and the Public Sphere” dalam The American Political Science Review, Vol. 92, No. 1 (Mar.,

1998), hal. 97. Diterbitkan oleh American Political Science AssociationStable URL: http://www.jstor.org/stable/2585931

-362- Respons 15 (2010) 02

42 John A. Guidry, “The Struggle to Be Seen: Social Movements and the Public Sphere in Brazil” dalam International Journal of Politics, Culture, and Society,

Vol. 16, No. 4 (Summer, 2003), hal 493-95. Diterbitkan oleh SpringerStable URL: http://www.jstor.org/stable/20020183

43 Razeen Sally, “Multinational Enterprises, Political Economy and Institutional Theory: DomesticEmbeddedness in the Context of Inter na-tionalization” dalam Review of International Political Economy, Vol. 1, No. 1

(Spring, 1994), hal., 161-192. Diterbitkan oleh Taylor & Francis, Ltd.Stable URL: http://www.jstor.org/stable/4177094

44 Euclid Tsakalotos, “Homo Economicus”, Political Economy and Socialism” dalam Science & Society, Vol. 68, No. 2 (Summer, 2004), hal., 137-160. Diterbitkan

oleh Guilford PressStable URL: http://www.jstor.org/stable/40404145

Daftar Pustaka Buku

Aristotle. (2001). “Nicomachean Ethics” dalam The Basic Works of Aristotle, diedit

oleh Richard McKeon dengan introduksi oleh C. E. C. Reeve. New York: The Modern Library.

Copleston, Frederick SJ, (1993). A History of Philosophy: Greece and Rome, vol. 1.

New York: Image Books.

Habermas, Jürgen. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society. Translated from german Text Strukturwandel der Öffentlicheit by Thomas Burger with the assistance of

Frederick Lawrence. Cambridge, Mass: MIT Press.

______________. (1970). Towards a Rational Society: Student Protest, Science, and Politics. Translated from German Text Protestbewegung und

Hochs-chulreform and Technik und Wissenschaft als Idelogie by Jeremy J. Shapiro. Boston: Beacon Press.

______________. (1987). The Theory of Communicative Action: Life-world and System, a Critique of Functionalist Reason, Vol. II. Translated from German

Text Theorie des kommunikativen Handelns, Band 2, Zur Kritik der funk-tionalistischen Vernunft by Thomas MacCarthy. Boston: Beacon Press.

______________. (1991). Moral Consciousness and Communicative Action.

Translated from Moralbewusstsein und kommunikatives Handeln by

Christian Lenhardt and Shierry Weber Nicholsen. Cambridge, Mass: MIT Press.

______________. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society. Translated from german Text Strukturwandel der Öffentlicheit by Thomas Burger with the assistance of

Frederick Lawrence. Cambridge, Mass: MIT Press.

______________. (1996). Between Facts and Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy. Translated from German Text Faktizität und Geltung: Beträge zur Diskurstheorie des rechts und des demokratischen Rechtsstaats by William Rehg. Cambridge: Polity Press.

Hegel, G. W. F. (1952). The Philosophy of Right. Chicago: The University of

Chicago.

Kant, I. (1964). Groundwork of the Metaphysic of Morals. Translated by H.J. Paton.

New

York: Harper and Row Publishers.

Polanyi, Karl. (2001). The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time, Kata Pembukaan oleh Joseph E. Stiglitz dan Kata

Pengantar oleh Fred Block. Boston Beacon Press.

Smith, Adam. (1979). The Theory of Moral Sentiments. Oxford: Clarendon Press.

Artikel

Alvater, Elmar et. al., “The World Market Unbound” dalam Review of International Political Economy, Vol. 4, No.3 (Autumn., 1997), hal. 448. Diterbitkan

-364- Respons 15 (2010) 02 dalam The Direction of Contemporary Capitalism oleh Taylor & Francis,

Ltd. Stable URL: http://www.jstor.org/stable/4177234.

Brook, Daniel. “The Great Transformation. Its Relevance Continues” dalam

American Journal of Economics and Sociology, Vol. 53, No. 4 (Oct.,

1994), hal. 401-2. Diterbitkan oleh American Journal of Economics and Sociology, Inc. Stable URL: http://www.jstor.org/stable/3487183 Charney, Evan. “Political Liberalism, Deliberative Democracy, and the

Pu-blic Sphere” dalam The American Political Science Review, Vol. 92, No.

1 (Mar., 1998), hal. 97. Diterbitkan oleh American Political Science AssociationStable URL: http://www.jstor.org/stable/2585931

Guidry, John A. “The Struggle to Be Seen: Social Movements and the Public Sphere in Brazil” dalam International Journal of Politics, Culture, and Society, Vol.

16, No. 4 (Summer, 2003), hal 493-95. Diterbitkan oleh SpringerStable URL: http://www.jstor.org/stable/20020183

Mitchell, Katharyne.“Conflicting Geographies of Democracy and the Public Sphere in Vancouver”, dalam Transactions of the Institute of British Geographers, New Series, Vol. 22, No. 2 (1997),hal. 162. Diterbitkan oleh

Blackwell Publishing on behalf of The Royal Geographical Society (with the Institute ofBritish Geographers)Stable URL: http://www.jstor.org/ stable/622307

Sally, Razeen.“Multinational Enterprises, Political Economy and Institutional Theory: DomesticEmbeddedness in the Context of Internationalization” dalam Review of International Political Economy, Vol. 1, No. 1 (Spring,

1994), hal., 161-192. Diterbitkan oleh Taylor & Francis, Ltd.Stable URL: http://www.jstor.org/stable/4177094

Sue Thomas, “Reconfiguring the Public Sphere: Implications for Analyses of Educational Policy” dalam British Journal of Educational Studies, Vol. 52,

No. 3 (Sep., 2004), hal. 228. Diterbitkan Blackwell Publishing on behalf of the Society for Educational Studies. Stable URL: http://www.jstor. org/stable/1556054

Science & Society, Vol. 68, No. 2 (Summer, 2004), hal., 137-160. Diterbitkan

oleh Guilford PressStable URL: http://www.jstor.org/stable/40404145 Weidong Cao, “The Historical Effect of Habermas in the Chinese Context: A

Case Study of the StructuralTransformation of the Public Sphere” dalam

Frontiers of Philosophy in China, Vol. 1, No. 1 (Jan., 2006), hal. 45. Stable

URL: http://www.jstor.org/stable/30209949

William James Booth, “On the Idea of the Moral Economy” dalam The American Political Science Review, Vol. 88, No. 3 (Sep., 1994), hal. 652. Diterbitkan

oleh American Political Science Association. Stable URL: http://www. jstor.org/stable/2944801

Dalam dokumen Kritik Atas Ekonomi Pasar (Halaman 33-43)

Dokumen terkait