• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Kualitas Air

4.1.1 DO (Dissolved Oxygen), BOD3 (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand)

Nilai oksigen terlarut (dissolved oxygen) yang terukur di muara Sungai Cisadane kurang dari 3 mg/l (Gambar 3) sehingga tidak memenuhi baku mutu PP RI No.82 Tahun 2001 (Lampiran 3). Hasil uji t nilai DO menunjukkan tidak berbeda nyata (Lampiran 2,6,7,8) pada bagian permukaan dengan dasar (p ≤ 0.05, n : 7) , saat pasang dengan saat surut (p ≤ 0.05 , n : 7), dan pada stasiun tawar dengan stasiun payau (p ≤ 0.05, n : 7). Nilai DO yang tidak berbeda nyata karena debit air muara Sungai Cisadane kecil dan pasang suurut yang ada tidak menyebabkan air berubah dengan baik.

Gambar 3. Nilai rata-rata oksigen terlarut (DO) dengan batas nilai maksimum dan minimum pengamatan pada stasiun tawar dan payau di muara Sungai Cisadane pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau.

Nilai DO stasiun tawar bagian dasar relatif lebih tinggi daripada nilai DO stasiun payau bagian dasar. Keadaan ini dapat terjadi karena pengaruh dorongan dari bagian lebih hulu stasiun tawar dan juga di stasiun tawar memiliki dasar perairan berbatu dengan kemiringan yang tinggi daripada stasiun payau. Hal ini dapat menyebabkan peluang pengadukan perairan yang tinggi sehingga oksigen terlarut yang terbentuk relatif tinggi.

20

Nilai BOD3 yang terukur di muara Sungai Cisadane sebagian lebih dari 6 (Gambar 4) sehingga tidak memenuhi baku mutu PP RI No.82 Tahun 2001 (Lampiran 3). Hasil uji t nilai BOD3 menunjukkan tidak berbeda nyata (Lampiran 2,6,7,8) pada bagian permukaan dengan dasar (p ≤ 0.05, n : 7), saat pasang dengan saat surut (p ≤ 0.05, n : 7), dan pada stasiun tawar dengan stasiun payau (p ≤ 0.05, n : 7). Nilai BOD3 secara statistik tidak berbeda nyata, meskipun demikian di stasiun tawar dan payau ada yang melebihi baku mutu.

Gambar 4. Nilai rata-rata Biochemical Oxygen Demand (BOD3) dengan batas nilai maksimum dan minimum pengamatan pada stasiun tawar dan payau di muara Sungai Cisadane pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau.

Hal ini dapat disebabkan di stasiun tawar saat pasang terdapat bahan organik yang dalam jumlah besar yang berasal dari bagian sungai lebih hulu dan hidrologi sungai yang sebenarnya (debit air muara Sungai Cisadane kecil dan pasang surut yang ada tidak menyebabkan air sungai berubah dengan baik) menyebabkan massa air yang berada di muara sungai tidak mengalami fluktuasi yang signifikan. Nilai BOD3 stasiun payau saat surut relatif lebih tinggi daripada stasiun tawar. Hal ini dapat disebabkan oleh bahan organik yang relatif tinggi yang berasal dari limbah organik di sekitar stasiun payau (outlet pembuangan limbah kandang sapi) dan ketika masuk ke perairan cenderung bertahan di permukaan sungai sebagai akibat hidrologi sungai.

Nilai COD kurang dari 50 mg/l (Gambar 5) sehingga memenuhi baku mutu PP No.82 Tahun 2001 (Lampiran 3). Hasil uji t menunjukkan tidak berbeda

21

nyata (Lampiran 2,6,7,8) untuk nilai COD pada bagian permukaan dengan dasar (p ≤ 0.05, n : 6), saat pasang dengan saat surut (p ≤ 0.05, n : 6), dan pada stasiun tawar dengan stasiun (p ≤ 0.05, n : 6). Nilai COD lebih besar dari BOD karena dengan pengukuran COD dapat mendegradasi bahan organik secara biologis maupun yang sukar secara biologis, dan bahan yang stabil terhadap reaksi biologi (komposisi limbah organik yang yang berbeda dengan BOD). Pengukuran COD menggunakan oksidator kuat yakni kalium dikromat (K2Cr2O7) sehingga dengan pengukuran COD nilai limbah organik yang terukur mendekati keadaan limbah sebenarnya (Boyd, 1982; Fardiaz, 1992; Polii, 1994; Baird dan Cann, 2005; Ginting, 2007; Mukhtasor, 2007).

Gambar 5. Nilai rata-rata Chemical Oxygen Demand (COD) dengan batas nilai maksimum dan minimum pengamatan pada stasiun tawar dan payau di muara Sungai Cisadane pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau.

Nilai COD lebih besar daripaa nilai BOD3 (Gambar 5), keadaan ini karena pada saat pengukuran BOD masih banyak mengandung bahan organik yang stabil terhadap reaksi biologis (fenol, tanin, selulosa, benzena, dll.) . Adanya fluktuasi debit air yang tidak signifikan menyebabkan nilai COD di setiap titik pengambilan sampel air tidak jauh berbeda. Penggunaan BOD dan COD sebagai indikator pendugaan pencemaran organik, didasarkan pada inti masalah pencemaran bahan organik, yaitu berhubungan dengan banyaknya oksigen yang diperlukan untuk semua reaksi metabolik mikroba yang terjadi sebagai akibat masuknya bahan organik ke suatu perairan (Polii, 1994).

22

4.1.2 Amonia (N-NH3), Nitrit (N-NO2) dan Nitrat (N-NO3),

Nilai amonia yang terukur di muara sungai Sungai Cisadane terendah 0.81 mg/l dan tertinggi 3.39 mg/l (Gambar 6). Nilai amonia yang lebih dari 0.02 mg/l tidak memenuhi baku mutu PP No.82 tahun 2001 (Lampiran 3). Hasil uji t menunjukkan tidak berbeda nyata (Lampiran 2,6,7,8) pada saat pasang dengan saat surut (p ≤ 0.05, n : 7), dan pada stasiun tawar dengan stasiun payau (p ≤ 0.05, n : 7).

Gambar 6. Nilai rata-rata amonia (N- NH3) dengan batas nilai maksimum dan minimum pengamatan pada stasiun tawar dan payau di muara Sungai Cisadane pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau.

Nilai amonia stasiun payau saat pasang bagian permukaan berbeda nyata sebesar 3.39 mg/l dengan stasiun payau saat surut bagian dasar sebesar 0.86 mg/l (p ≤ 0.05, n : 7). Hal ini karena limbah dari kotoran sapi berupa tinja dan urin yang berasal dari outlet pembuangan limbah sapi disekitar stasiun payau yang merupakan sumber amonia belum tercampur dengan bagian dasar perairan. Toksisitas amonia di perairan meningkat jika terjadi penurunan oksigen terlarut, peningkatan pH, dan temperatur (Boyd, 1990). Perairan muara Sungai Cisadane bagian tawar dan payau memiliki kadar oksigen terlarut yang tidak memenuhi baku mutu sehingga menyebabkan kadar amonia tinggi.

Nilai nitrit yang terukur di muara Sungai Cisadane terendah 0.04 mg/l dan tertinggi 0.41 mg/l. Sebagian besar nilai nitrit lebih dari 0.06 mg/l (Gambar 8)

23

sehingga tidak memenuhi baku mutu menurut PP No.82 tahun 2001 (Lampiran 3). Hasil uji t secara statistik menunjukkan tidak berbeda nyata (Lampiran 2,6,7,8) tetapi pada bagian permukaan dengan dasar (p ≤ 0.05, n : 7), saat pasang dengan saat surut (p ≤ 0.05, n : 7), dan pada stasiun tawar dengan stasiun payau (p ≤ 0.05, n : 7).

Gambar 7.Nilai rata-rata nitrit (N-NO2) dengan batas nilai maksimum dan minimum pengamatan pada stasiun tawar dan payau di muara Sungai Cisadane pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau.

Meskipun secara statistik terlihat tidak berbeda nyata,tetapi dari data terlihat kecenderungan terjadi perbedaan sehingga melebihi baku mutu seperti nilai nitrit pada bagian permukaan lebih besar daripada bagian dasar, hal ini karena pada perairan payau dipengaruhi air tawar dan air laut . Air laut memiliki massa jenis air yang lebih besar daripada air tawar (adanya salinitas pada air laut) sehingga air laut cenderung tenggelam atau berada di bawah air tawar. Pada saat pengadukan terjadi air laut mendorong air tawar ke permukaan dari dasar perairan dan air tawar mendorong air laut ke dasar sehingga terbentuk putaran. Air tawar yang mendominasi bagian permukaan menyebabkan peluang untuk melarutkan bahan organik seperti nitrit besar sehingga bagian permukaan memiliki konsentrasi nitrit yang tinggi daripada bagian dasar karena air tawar mudah melarutkan bahan organik seperti nitrit daripada air laut (Boyd, 1982). Nilai nitrit pada stasiun tawar saat surut bagian permukaan lebih besar (0.41 mg/l) daripada

24

stasiun tawar saat surut bagian dasar (0.11 mg/l). Hal ini dapat disebabkan DO pada stasiun tawar saat surut bagian permukaan lebih rendah (1.37 mg/l) daripada DO stasiun tawar pada saat surut bagian dasar (2.39 mg/l) sehingga pembentukan nitrit lebih besar karena kadar DO rendah. Nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut sangat rendah (Effendi, 2003). Nilai nitrit stasiun payau saat pasang bagian permukaan (0.19 mg/l) lebih besar dari stasiun payau saat pasang bagian dasar (0.04 mg/l). Hal ini karena muara Sungai Cisadane termasuk estuari tercampur sebagian sehingga pada waktu tertentu (terutama saat pasang) air laut masuk ke sungai sampai jauh ke bagian lebih hulu dari stasiun tawar.

Nilai nitrat di muara Sungai Cisadane kurang dari 20 mg/l (PP No.82 Tahun 2001) dimana nilai nitrat terbesar pada stasiun tawar saat surut bagian permukaan sebesar 0.74 mg/l dan pada stasiun tawar saat surut bagian dasar sebesar 0.80 mg/l (Gambar 8) sehingga memenuhi baku mutu (Lampiran 3).

Gambar 8. Nilai rata-rata nitrat (N-NO3) dengan nilai maksimum dan minimum pengamatan pada stasiun tawar dan payau di muara Sungai Cisadane pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau.

Hasil uji t nilai nitrat menunjukkan tidak berbeda nyata (Lampiran 2,6,7,8) pada permukaan dengan dasar (p ≤ 0.05, n : 7), saat pasang dengan saat surut (p ≤ 0.05, n : 7), dan pada stasiun tawar dengan stasiun payau (p ≤ 0.05, n : 7). Nilai nitrat yang kecil ini disebabkan karena hidrologi perairan muara Sungai Cisadane

25

dimana sungai memiliki debit air kecil dan pasang surut yang tidak mampu berubah sehingga tidak terjadi pergerakan massa air yang signifikan.

4.1.3 pH

Nilai pH sekitar 6-9 (Gambar 9) pada suatu perairan tergolong perairan yang memenuhi baku mutu PP No.82 Tahun 2001 (Lampiran 3). Hasil uji t nilai pH menunjukkan tidak berbeda nyata (Lampiran 2,6,7,8) pada permukaan dengan dasar (p ≤ 0.05, n : 7), saat pasang dengan saat surut (p ≤ 0.05, n : 7), dan pada stasiun tawar dengan stasiun payau (p ≤ 0.05, n : 7). Nilai pH di muara Sungai Cisadane semakin arah payau semakin besar antara 6.5-6.9 . Nilai pH pada stasiun tawar 6.54-6.58 dan stasiun payau 6.70-6.91 . Berdasarkan Gambar 9 dapat diketahui bahwa pH stasiun payau lebih tinggi daripada pH stasiun tawar. Semakin ke arah laut salinitas semakin tinggi dan pH semakin basa sedangkan nilai pH menurun (lebih asam) dapat terjadi karena bahan pencemar yang masuk ke perairan (Baird dan Cann, 2005).

Gambar 9. Nilai rata-rata pH dengan batas nilai maksimum dan minimum pengamatan pada stasiun tawar dan payau di muara Sungai Cisadane pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau.

Nilai pH juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti aktivitas biologis meliputi fotosintesis dan respirasi organisme, suhu dan keberadaan ion-ion yamg masuk ke perairan (Pescod, 1973).

26 4.1.4 TSS (Total Suspended Solid)

Nilai TSS yang terukur di muara Sungai Cisadane kurang dari 400 mg/l (Gambar 10) sehingga memenuhi baku mutu PP No.82 Tahun 2001 (Lampiran 3). Uji t nilai TSS menunjukkan tidak berbeda nyata (Lampiran 2,6,7,8) pada bagian permukaan dengan dasar (p ≤ 0.05, n : 7), saat pasang dengan saat surut (p ≤ 0.05, n : 7), dan pada stasiun tawar dengan stasiun payau (p ≤ 0.05, n : 7).

Gambar 10. Nilai rata-rata TSS (Total Suspended Solid) dengan batas nilai maksimum dan minimum pengamatan pada stasiun tawar dan payau di muara Sungai Cisadane pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau.

Ott (1978) menyatakan bahwa suatu perairan tergolong tercemar jika memiliki konsentrasi TSS 100 mg/l atau lebih. Nilai TSS pada saat pasang di stasiun payau lebih besar dibandingkan stasiun tawar, hal ini karena terjadi akumulasi partikel tersuspensi dari bagian perairan yang lebih hulu dari stasiun tawar (Kota Tangerang). Nilai TSS yang tinggi berasal dari limbah kandang sapi di sekitar stasiun payau, erosi alamiah dari pinggir sungai, dan pengadukan air laut yang kuat pada saat pasang. Pada saat surut nilai TSS kecil dan hampir sama, hal ini karena pada saat surut TSS ikut terbawa sungai ke laut. TSS dapat terdiri dari lumpur dan pasir halus serta jasad renik yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa air sungai selain itu juga berasal dari limbah yang masuk ke sungai (Darmono, 2001).

27 4.1.5 Suhu

Kisaran suhu stasiun tawar 26.8 0C – 320C dan kisaran suhu stasiun payau 26.8 0C – 320C. Suhu perairan pada saat pengambilan contoh air relatif sama yakni berkisar antara 270C - 310C (Gambar 11). Knox dan Miyabara (1984) menyatakan bahwa suhu perairan Asia Tenggara bagian muara di daerah tropis umumnya berkisar antara 250C - 320C. Cahaya matahari yang masuk ke perairan akan mengalami penyerapan dan perairan menjadi panas.

Gambar 11. Kisaran suhu perairan secara temporal di muara Sungai Cisadane stasiun tawar pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau.

Proses ini berlangsung secara instensif pada lapisan permukaan sehingga memiliki suhu yang lebih tinggi daripada lapisan dasar. Pada tanggal 26-27 September 2007, 6-7 Oktober 2007 dan 19-21 Oktober 2007 di stasiun tawar saat pasang dan surut, suhu lapisan permukaan lebih besar daripada suhu lapisan dasar. Hal ini karena pengadukan pada saat pasang menyebabkan partikel tersuspensi bagian dasar terdorong ke permukaan sehingga dapat menyebabkan perairan keruh pada bagian permukaan dan menyerap panas . Pada tanggal 6-7 Oktober 2007 menunjukkan terjadi fluktuasi suhu yang cukup besar pada stasiun payau saat pasang bagian permukaan sebesar 320C dengan stasiun payau saat pasang bagian dasar sebesar 280C (Gambar 12). Hal ini karena pada saat pengambilan sampel pada saat sore hari yakni cuaca cerah dan cukup panas sekitar pukul 15.20-15.50 WIB.

28

Gambar 12. Kisaran suhu perairan secara temporal di muara Sungai Cisadane stasiun payau pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau.

Perbedaan suhu di perairan dapat disebabkan adanya perbedaan kemampuan menyerap panas dan kecepatan rambat suhu. Cepat rambat suhu ke dasar perairan yang rendah menyebabkan suhu di lapisan permukaan lebih besar daripada lapisan dasar.

4.1.6 Salinitas

Salinitas pada stasiun tawar saat surut berkisar 0 PSU – 0,3 PSU dan salinitas stasiun tawar saat pasang berkisar 0 PSU – 10 PSU (Gambar 13).

Gambar 13. Kisaran salinitas perairan secara temporal di muara Sungai Cisadane stasiun tawar pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau.

29

Knox dan Miyabara (1983) menyatakan bahwa fluktuasi salinitas di perairan pesisir dipengaruhi oleh topografi pasang surut, dan jumlah air tawar. Boyd (1990) mengatakan bahwa salinitas air tawar berkisar 0 PSU – 0.4 PSU. Salinitas pada tanggal 06 Agustus 2008 di stasiun tawar pasang permukaan (9.5 PSU) dan stasiun tawar pasang dasar (10 PSU). Hal ini karena muara Sungai Cisadane termasuk estuari tercampur sebagian sehingga pada waktu tertentu air tawar air laut masuk ke muara sungai dalam jumlah besar. Air laut yang masuk ke sungai dalam jumlah besar menyebabkan air laut masuk ke sungai sampai bagian lebih hulu pada bagian tawar sehingga menyebabkan salinitas di stasiun tawar melebihi 0.5 PSU.

Salinitas stasiun payau pada saat pasang bagian permukaan berkisar antara 0 PSU – 31.8 PSU sedangkan salinitas stasiun payau pada saat pasang bagian dasar berkisar antara 0.1 PSU – 31.8 PSU (Gambar 14). Salinitas mendekati nol terjadi pada tanggal 26-27 September 2007 di stasiun payau baik saat saat pasang maupun surut. Hal ini karena pada waktu tersebut jumlah air tawar banyak masuk ke sungai.

Gambar 14. Kisaran salinitas perairan secara temporal di muara Sungai Cisadane stasiun payau pada saat pasang (kiri) dan surut (kanan), pada musim kemarau

.

Pada tanggal 19-21 Oktober 2007 salinitas di stasiun payau saat pasang bagian permukaan mendekati nol. Hal ini disebabkan di bagian dasar sungai di dominasi oleh air laut yang mempunyai densitas lebih berat dibandingkan air

30

tawar sehingga air tawar bergerak ke atas dan mendominasi di permukaan. Pada tanggal 19 Juli 2008 di stasiun payau saat pasang bagian dasar mendekati nol. Hal ini disebabkan tipe muara Sungai Cisadane bertipe tercampur sebagian sehingga pada waktu tertentu air tawar mendominasi muara sehngga salinitas mendekati nol. Fluktuasi salinitas yang terjadi di muara Sungai Cisadane ini mengindikasikan tipe estuari tercampur sebagian dimana pengaruh dominan dari air tawar atau air laut pada waktu tertentu (Lauff, 1967).

Dokumen terkait