Bab II Pembahasan
II.7 Kelainan Darah
Kelainan darah adalah kondisi yang memengaruhi salah satu atau beberapa bagian dari darah dan mencegah darah untuk bisa bekerja secara normal. Kelainan darah bisa bersifat akut maupun kronis, dan kebanyakan dari kondisi ini merupakan penyakit turunan. Darah sendiri terbagi menjadi dua bagian, cairan dan padat. Bagian yang terbuat dari cairan disebut dengan istilah plasma. Lebih dari setengah bagian darah merupakan plasma. Plasma terdiri dari air, protein, dan garam. Sedangkan bagian yang padat dari darah mengandung sel darah merah, sel darah putih, dan platelet (trombosit).
Kelainan darah ini sendiri akan berdampak kepada bagian-bagian dari darah tersebut, seperti sel darah merah (mengangkut oksigen ke jaringan tubuh), sel darah putih (bertugas melawan infeksi), platelet (bertugas membantu membentuk bekuan darah), dan plasma. Pengobatan serta prediksi perjalanan penyakit sangat bergantung kepada tingkat keparahan dan kondisi sel-sel darah itu sendiri.
II.7.1 Kelainan Eritrosit a. Malaria
Ini adalah kondisi yang disebabkan oleh parasit. Malaria menyebar melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi parasit. Parasit yang masuk ke darah manusia akan menginfeksi sel darah merah. Akhirnya, sel darah merah rusak dan menyebabkan demam, menggigil, serta kerusakan pada organ tubuh.
b. Anemia
Anemia adalah keadaan berkurangnya jumlah eritrosit atau hemoglobin (protein pembawa O2) dari nilai normal dalam darah sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa O2 dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer sehingga pengiriman O2 ke jaringan menurun.
Anemia dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain : Gangguan pembentukan eritrosit
Gangguan pembentukan eritrosit terjadi apabila terdapat defisiensi substansi tertentu seperti mineral (besi, tembaga), vitamin (B12, asam folat), asam amino, serta gangguan pada sumsum tulang.
Perdarahan
Perdarahan baik akut maupun kronis mengakibatkan penurunan total sel darah merah dalam sirkulasi.
Hemolisis
Hemolisis adalah proses penghancuran eritrosi
Berdasarkan gambaran morfologik, anemia diklasifikasikan menjadi tiga jenis anemia:
1. Anemia normositik normokrom.
Anemia normositik normokrom disebabkan oleh karena perdarahan akut, hemolisis, dan penyakit-penyakit infiltratif metastatik pada sumsum tulang. Terjadi penurunan jumlah eritrosit tidak disertai dengan perubahan konsentrasi hemoglobin, bentuk dan ukuran eritrosit.
2. Anemia makrositik hiperkrom
Anemia dengan ukuran eritrosit yang lebih besar dari normal dan hiperkrom karena konsentrasi hemoglobinnya lebih dari normal. Ditemukan pada anemia megaloblastik (defisiensi vitamin B12, asam folat), serta anemia makrositik non-megaloblastik (penyakit hati, dan myelodisplasia)
3. Anemia mikrositik hipokrom
Anemia dengan ukuran eritrosit yang lebih kecil dari normal dan mengandung konsentrasi hemoglobin yang kurang dari normal. Penyebab anemia mikrositik hipokrom:
Berkurangnya zat besi: Anemia Defisiensi Besi.
Berkurangnya sintesis globin: Thalasemia dan Hemoglobinopati.
Berkurangnya sintesis heme: Anemia Sideroblastik.
Klasifikasi Derajat Anemia Menurut WHO yang dikutip dalam buku Handayani W, dan Haribowo A S, (2008) :
1. Ringan sekali, Hb 10,00 gr% -13,00 gr% 2. Ringan, Hb 8,00 gr% -9,90 gr%
3. Sedang, Hb 6,00 gr% -7,90 gr% 4. Berat, Hb < 6,00 gr%
Anemia Aplastik. Ini adalah kondisi ketika sumsum tulang tidak menghasilkan cukup banyak sel darah, salah satunya sel darah merah. Untuk menangani kondisi ini beberapa cara seperti transfusi darah, transplantasi sumsum tulang, dan obat-obatan mungkin akan digunakan. Anemia aplastik bisa disebabkan oleh infeksi virus, penyakit autoimun, atau efek samping penggunaan obat.
Anemia Autoimun Hemolitik. Sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif dan keliru akan menghancurkan sel darah merah pada tubuh itu sendiri sehingga menyebabkan anemia. Kondisi ini akan membutuhkan obat-obatan yang berfungsi menekan kinerja sistem kekebalan tubuh agar tidak menghancurkan sel dan jaringan tubuh sendiri.
Anemia sel sabit. Ini adalah kondisi ketika sel darah merah lengket dan kaku, hingga akhirnya akan menghambat aliran darah. Akibat kondisi ini, penderita bisa mengalami kerusakan organ tubuh dan muncul rasa sakit yang tidak tertahankan. Ini adalah penyakit bersifat turunan dalam keluarga.
Anemia Defisiensi Zat Besi. Anemia dalam kehamilan yang paling sering ialah anemia akibat kekurangan zat besi. Kekurangan ini disebabkan karena kurang masuknya unsur zat
besi dalam makanan, gangguan reabsorbsi, dan penggunaan terlalu banyaknya zat besi.
Anemia Megaloblastik. Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folat.
Anemia Hipoplastik. Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah merah. Dimana etiologinya belum diketahui dengan pasti kecuali sepsis, sinar rontgen, racun dan obat-obatan.
II.7.2 Kelainan Leukosit a. Leukemia
Leukemia adalah salah satu bentuk dari kanker darah yang mana sel darah putih menjadi ganas dan diproduksi secara berlebihan di dalam sumsum tulang. Leukemia terbagi menjadi dua jenis, yaitu akut dan kronis.
Tipe Leukemia Kronis
Pada awal penyakit, sel-sel leukemia ini masih bisa melakukan beberapa fungsi sel darah putih secara normal. Pada tahap ini biasanya penderita tidak memiliki gejala apapun, dan Dokter biasanya mendeteksi dini penyaki leukemia kronis pada penelitian rutin. Dan perlahan leukemia kronis ini akan memburuk, karena seiring berjalannya waktu jumlah sel-sel leukemia akan terus meningkat yang pada akhirnya akan mengalami pembengkakan kelenjar getah bening atau infeksi. Pada awal gejala pasi ringan namun seiring berjalannya waktu akan terus memburuk.
Tipe Leukemia Akut
Sel-sel leukemia tidak dapat menjalakan pekerjaan sel darah putih normal. Jumlah sel leukemiapun akan terus meningkat secara pesat. Leukemia akut bisa ditandai dengan suatu
perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan dan memburuk, dan apabila tidak segera diobati maka penderita dapat meninggal hanya dalam hitungan minggu atau bahkan hari.
Klasifikasi leukemia. Terdapat empat jenis utama dari jenis leukemia.
Leukemia limfositik (atau “lymphoblastic”) − Leukemia lymphoblastic akut (ALL) − Leukemia limfositik kronis ( CLL )
Leukemia myelogenous (juga “myeloid” atau “nonlymphocytic”)
− Leukemia myelogenous akut (AML) (atau myeloblastic) − Leukemia myelogenous kronis (CML)
b. Limfoma
Limfoma merupakan kanker darah yang berkembang di dalam sistem limfa. Sel darah putih pada orang yang mengalami kondisi ini akan menjadi ganas, menyebar secara abnormal, dan berlipat ganda tanpa terkendali. Penanganan kondisi ini biasanya dilakukan dengan kemoterapi dan/atau dengan radiasi.
II.7.3 Kelainan Trombosit
a. Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP)
ITP adalah penyakit kelainan autoimun spesifik yang memengaruhi jumlah trombosit atau platelet. Orang yang mengalaminya akan mudah memar atau berdarah secara berlebihan. Pendarahan berlebihan terjadi karena tingkat platelet dalam tubuh rendah, sedangkan platelet berfungsi membantu pembekuan darah ketika terjadi pendarahan. Pengobatan ITP dilakukan agar kadar platelet dalam tubuh tetap terjaga dan bisa mencegah terjadinya pendarahan secara berlebih.
Ini adalah kondisi ketika jumlah platelet atau trombosit di dalam tubuh rendah. Kondisi ini bisa diakibatkan oleh banyak hal, misalnya karena leukemia atau karena gangguan sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini juga bisa terjadi akibat efek samping dari obat-obatan tertentu dan bisa terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak. Penanganan yang dilakukan bisa melalui pemberian obat-obatan, transfusi darah/trombosit, operasi, atau menangani penyebab utamanya.