5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Modal Sosial Dalam Pengelolaan Dukuh
5.1.1 Modal Sosial Kognitif
5.1.1.1 Kepercayaan (trust)
Untuk mengetahui tingkat kepercayaan warga komunitas pengelola dukuh, ada tiga aspek yang ditinjau. Pertama, tingkat kepercayaan warga terhadap pengetahuan warga yang lain tentang adanya manfaat dukuh. Kedua, tingkat kepercayaan warga terhadap pengetahuan warga yang lain tentang fungsi aturan-aturan yang ada dalam mendukung pengelolaan dukuh secara lestari. Ketiga, tingkat kepercayaan warga terhadap kemampuan kerjasama dan hubungan sosial seluruh warga untuk mengelola dan melestarikan dukuh.
Secara ringkas distribusi responden menurut tingkat kepercayaan terhadap pengetahuan warga tentang manfaat dukuh, fungsi aturan, kepatuhan dan kemampuan orang lain, kemampuan kerjasama, fungsi hubungan sosial, serta kesediaan untuk menguatkan hubungan sosial disajikan pada Tabel 16.
Tabel 16 Distribusi responden menurut tingkat kepercayaan
No. Kepercayaan Responden Terhadap Tingkat Kepercayaan Komunitas Dukuh Mandiangin Barat Komunitas Dukuh Bi‟ih Tidak Percaya (%) Ragu-Ragu (%) Percaya (%) Tidak Percaya (%) Ragu-Ragu (%) Percaya (%) 1. Pengetahuan warga
akan manfaat dukuh
0 0 100 0 0 100 2. Pengetahuan warga
akan fungsi aturan formal
6,7 73,3 20,0 3,3 70 26,7
3. Pengetahuan warga akan fungsi aturan adat 0 13,3 86,7 0 3,3 96,7 4. Kemampuan warga melestarikan dukuh 0 13,3 86,7 0 6,7 93,3 5. Kemampuan kerjasama warga 0 13,3 86,7 0 3,3 96,7 6. Pengetahuan warga
akan fungsi hubungan sosial 0 0 100 0 0 100 7. Kesediaan warga untuk menguatkan hubungan sosial 0 13,3 86,7 0 3,3 96,7
Warga komunitas dukuh, baik pada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat maupun pada Komunitas Dukuh Bi‟ih memiliki pengetahuan tentang manfaat
dukuh dan seluruh warga percaya bahwa warga yang lain juga mengetahui dukuh
memberikan manfaat yang besar kepada warga masyarakat. Pada Tabel 16 dapat dilihat bahwa seluruh warga percaya tentang pengetahuan warga yang lain akan manfaat dukuh bagi kehidupan mereka, apabila dukuh tidak ada maka keberlangsungan hidup mereka terganggu. Kepercayaan dan keyakinan tersebut didasarkan serta dikuatkan oleh pengalaman hidup mereka yang selama ini sudah merasakan manfaat dari keberadaan dukuh. Manfaat yang dirasakan oleh warga terhadap keberadaan dukuh tersebut mencakup aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Secara ekologi, keberadaan dukuh sangat berperan terhadap kelestarian hutan sebagai penyangga kehidupan, seperti pencegahan banjir, erosi, longsor,
dan kekeringan, serta mencegah dari berbagai bencana alam lainnya. Secara ekonomi, masyarakat telah merasakan manfaat yang cukup besar dari hasil panen
dukuh yang mampu memberikan kontribusi 20-30% terhadap pendapatan total
rumah tangga mereka. Adapun secara sosial budaya, keberadaan dukuh dirasakan oleh masyarakat dapat mempererat kerjasama, solidaritas, kekeluargaan dan hubungan persaudaraan sesama komunitas dukuh maupun dengan warga masyarakat yang bukan komunitas dukuh.
Warga juga percaya bahwa aturan-aturan yang ada, terutama yang tidak tertulis dapat berfungsi untuk menjaga kelestarian dukuh, namun tingkat kepercayaannya berbeda-beda. Terhadap aturan tertulis dan formal (peraturan perundang-undangan) baik UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, Peraturan Menteri Kehutanan tentang Hutan Rakyat atau tentang Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), maupun Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Hutan Rakyat, hanya sebagian kecil warga yang percaya bahwa warga tahu dan memahami aturan-aturan tertulis yang ada efektif dapat menjaga kelestarian dukuh, sebagian besar warga ragu-ragu. Sedangkan terhadap aturan-aturan dan nilai-nilai yang tidak tertulis (norma-norma) sebagian besar warga pada kedua komunitas Dukuh percaya bahwa warga tahu dan memahami aturan tersebut dan dapat efektif berfungsi untuk mengelola dukuh secara lestari.
Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pengetahuan warga tentang fungsi aturan tidak tertulis (norma-norma) untuk mengelola dukuh secara lestari lebih tinggi daripada kepercayaan terhadap pengetahuan warga tentang aturan tertulis dan formal (peraturan perundang-undangan). Hal ini karena aturan tidak tertulis sudah berlaku secara turun temurun dan terinternalisasi dalam masyarakat. Sedangkan aturan tertulis dan formal disusun oleh pemerintah dan belum terinternalisasi sebagai norma-norma yang diakui, dipatuhi, dan dijadikan pedoman bertindak warganya, bahkan belum terbukti dapat berfungsi untuk mengelola dan melestarikan dukuh dengan baik. Aturan tidak tertulis (norma-norma) yang berlaku pada Komunitas Dukuh tersebut adalah berupa cara (usage), kebiasaan (folkways), dan tata kelakuan (mores) yang merupakan kearifan lokal yang sudah berlaku secara turun temurun dan terinternalisasi dalam masyarakat.
Norma-norma (norms) berupa aturan-aturan adat yang merupakan kearifan lokal dan berlaku dalam pengelolaan dukuh diantaranya adalah sebagai berikut: - Tanaman Linjuang (Cordyline fruticosa (L) A. Cheval) adalah tanda batas hak
kepemilikan lahan (dukuh);
- Pewarisan lahan (dukuh) dilakukan dengan cara islah atau faraid; - Tidak boleh menjual dukuh warisan;
- Di dalam dukuh dibuat lampau (pondok kecil untuk tempat beristirahat saat pemeliharaan atau kegiatan pengawasan tanaman);
- Tidak boleh menggunakan pupuk anorganik untuk pemeliharaan tanaman di dalam dukuh;
- Membungkus buah cempedak yang masih muda dengan plastik;
- Menabur garam di sekeliling pohon durian setelah musim panen selesai; - Melibatkan tetangga/warga yang tidak memiliki dukuh sebagai tenaga kerja
dalam kegiatan budidaya/pemeliharaan tanaman (penyiangan, pendangiran & pemupukan);
- Memetik buah langsat dengan galah (alat pemetik buah terbuat dari kayu/bambu);
- Memetik buah langsat dan cempedak dengan sigai (tangga dari bambu); - Memanen buah durian tidak boleh memetiknya langsung dari pohon tetapi
harus menunggu buahnya jatuh;
- Pengangkutan buah dari dukuh ke rumah dengan menggunakan ladung; - Melibatkan tetangga/warga yang tidak memiliki dukuh sebagai tenaga kerja
dalam kegiatan pemanenan (pemetikan dan pengangkutan buah);
- Melibatkan tetangga/warga yang tidak memiliki dukuh sebagai pembeli perantara (tengkulak) dalam pemasaran hasil dukuh.
Norma-norma (norms) yang berlaku tersebut merupakan aturan-aturan adat berupa cara (usage), kebiasaan (folkways), dan tata kelakuan (mores) dalam pengelolaan dukuh, sejak pengelolaan lahan, budidaya/pemeliharaan, pemanenan, hingga pemasaran hasil dukuh. Aturan-aturan adat (norma-norma) tersebut meskipun tidak tertulis tetapi telah berlaku secara turun temurun dan terinternalisasi dalam masyarakat sebagai norma-norma yang diakui, dipatuhi, dan dijadikan pedoman bertindak warganya hingga sekarang.
Kepatuhan seseorang terhadap aturan dapat diperlemah atau dikuatkan oleh kepatuhan orang lain terhadap aturan tersebut, sehingga penting pula untuk meninjau tingkat kepercayaan warga terhadap kepatuhan warga lain dalam melaksanakan aturan. Pada warga komunitas dukuh, sebagian besar warga percaya bahwa anggota komunitas yang lain dapat mematuhi aturan dan mampu menjaga kelestarian dukuh dan hanya sebagian kecil yang ragu-ragu. Tingkat kepercayaan warga bahwa anggota komunitas yang lain dapat mematuhi aturan dan mampu menjaga kelestarian dukuh diperkuat oleh tingkat kepercayaannya bahwa warga komunitas dapat bekerjasama dalam menjaga kelestarian dukuh. Hampir seluruh warga pada komunitas dukuh percaya bahwa warga komunitas dapat bekerjasama dalam pengelolaan dukuh. Warga juga percaya bahwa hubungan sosial yang terjalin dapat memudahkan pekerjaan. Sebagian besar warga percaya bahwa warga komunitas bersedia untuk menguatkan hubungan sosial yang terbangun dalam komunitas, hanya sebagian kecil yang masih ragu-ragu. Meskipun tingkat kepercayaan responden pada Komunitas Dukuh Mandiangin Barat bahwa anggota masyarakat yang lain dapat mematuhi aturan dan mampu menjaga kelestarian dukuh lebih rendah dari pada Komunitas Dukuh Bi‟ih, tetapi pada kedua komunitas tersebut relatif sama dalam hal tingkat kepercayaan responden terhadap kerjasama, fungsi hubungan sosial, dan kesediaan menguatkan hubungan sosial. Adapun warga yang masih ragu-ragu terhadap kemauan dan kemampuan warga lain dalam menjaga kelestarian dukuh, adalah karena belum terlalu mengenal dengan baik pada warga lain tersebut.
Tingkat kepercayaan (trust) antar sesama warga komunitas dukuh tergolong tinggi, hal ini karena dilandasi oleh norma-norma (norms), nilai-nilai (values), sikap (attitudes) dan keyakinan (beliefs) yang bersumber dari nilai-nilai ajaran islam yang mereka anut yang melekat kuat dan sudah berlaku secara turun temurun serta terinternalisasi dalam masyarakat sebagai norma-norma yang diakui, dipatuhi, dan dijadikan pedoman bertindak warganya. Selain itu, adanya hubungan famili berupa ikatan darah (seketurunan) pada sebagian besar warganya dan mereka saling mengenal serta berhubungan dengan baik satu sama lain, semakin memperkuat ikatan kekeluargaan di antara mereka sehingga menjadi faktor pendukung tingkat kepercayaan (trust) yang tinggi di antara warga.
Nilai-nilai (values) yang melekat pada warga Komunitas Dukuh yang mendukung terciptanya tingkat kepercayaan yang tinggi antar sesama warga pada dasarnya bersumber dari ajaran islam yang dianut oleh para warganya. Nilai-nilai (values) yang melekat kuat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.
a) Berprasangka baik dan tidak berprasangka buruk kepada orang lain;
Nilai-nilai ajaran islam sebagai agama yang dianut oleh seluruh warga masyarakat sangat mempengaruhi seluruh sendi kehidupan warga masyarakat pada komunitas dukuh selama ini. Nilai-nilai luhur berupa prasangka baik terhadap orang lain telah menjiwai para warganya dan masih tertanam di dalam jiwa dan pikiran mereka hingga sekarang. Warga masyarakat memegang teguh sifat prasangka baik tersebut kepada warga masyarakat lainnya karena sesuai dengan perintah dalam ajaran agama islam yang mereka yakini bahwa berprasangka buruk terhadap orang lain adalah perbuatan yang tidak baik, membuat hati gelisah dan bahkan mendapat dosa. Dalam kegiatan pengelolaan
dukuh selama ini warga saling berprasangka baik tanpa adanya prasangka buruk
atau kekhawatiran terhadap adanya orang atau warga lain yang akan mencuri, merusak atau mengganggu dukuh hak miliknya.
b) Berbuat jujur dan saling percaya kepada sesama manusia;
Warga komunitas dukuh hingga sekarang masih memegang teguh nilai-nilai kejujuran dan saling percaya antar sesama warga. Nilai-nilai-nilai yang bersumber dari ajaran islam tersebut diajarkan oleh nenek moyang mereka hingga generasi yang paling muda sekarang. Setiap warga dalam berbicara, bersikap & bertindak dilandasi oleh sikap yang jujur karena mereka yakin berbohong adalah perbuatan dosa yang dilarang dalam agama. Setiap warga juga saling percaya atas apa yang disampaikan oleh warga yang lain, karena rasa curiga atau tidak percaya terhadap orang lain menurut warga merupakan perbuatan yang kurang baik yang juga dilarang dalam ajaran agama. Dalam kegiatan pengelolaan dukuh warga juga selalu mempraktikan nilai-nilai kejujuran dan saling percaya di antara sesama mereka, seperti saling mengamankan dan memberitahukan adanya buah durian warga lain yang jatuh ke lantai dukuh mereka, bahkan dengan rela dan senang hati menyerahkan buah tersebut kepada sang pemiliknya.
c) Saling menghormati, menghargai dan menyayangi antar sesama;
Pada warga komunitas dukuh telah tertanam nilai-nilai kehidupan berupa saling menghormati antar sesama warga. Dalam kehidupan sehari-hari nampak terlihat setiap orang muda sangat menghormati orang yang lebih tua, yang tua menyayangi orang yang lebih muda, sedangkan yang sebaya saling menghargai di antara mereka. Nilai-nilai saling menghormati tersebut jika tidak dilaksanakan oleh warga maka akan mendapat cela, bahkan orang muda yang tidak menghormati orang yang lebih tua diyakini oleh warga akan mendapat kualat (kutukan) didalam hidupnya. Dalam pengelolaan dukuh nampak warga sangat memegang teguh nilai-nilai ini di antaranya terlihat keberadaan tetuha (tokoh adat) dan penghulu (tokoh agama) yang sangat dihormati dan disegani oleh warga dalam setiap sikap dan tindakannya. Apapun pendapat atau nasehat yang disampaikan oleh tetuha dan penghulu dalam setiap permasalahan pengelolaan
dukuh maka warga komunitas sangat menghormatinya dan antar sesama warga
juga saling menghargai dan menerimanya, seperti permasalahan tentang letak batas hak kepemilikan lahan (dukuh), permasalahan hak warisan, dan lain-lain. d) Menjaga hubungan baik & mempererat silaturrahmi antar warga;
Nilai-nilai lain yang masih berlaku pada warga komunitas dukuh adalah berupa kewajiban untuk menjaga hubungan baik dan mempererat tali silaturrahmi di antara mereka. Warga ditanamkan nilai-nilai untuk selalu berbuat baik diantara sesama agar hubungan kekeluargaan di antara mereka terjalin semakin kuat. Hubungan baik dan kekeluargaan yang terjalin erat diyakini oleh warga akan membawa keberkahan di dalam hidup mereka. Hingga sekarang warga komunitas
dukuh selalu menjalin hubungan baik, saling silaturrahmi, saling membantu,
tolong-menolong, bahkan saling mengunjungi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan pengelolaan dukuh, warga komunitas juga selalu menjaga hubungan baik seperti saling mendukung dalam kegiatan pemeliharaan dan pengamanan tanaman, pemanenan dan pengangkutan buah, bahkan saling koordinasi dalam pemasaran hasil buah kepada siapa dan berapa harganya. Semua itu mereka lakukan tidak terlepas dari i‟tikad dari warga komunitas untuk menjaga hubungan baik dan mempererat silaturrahmi di antara mereka.
e) Menjaga dan memelihara lingkungan beserta alam sekitarnya;
Warga komunitas dukuh juga memiliki nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh nenek moyang mereka sejak dahulu kala yaitu bahwa memelihara lingkungan dan alam sekitarnya seperti hutan, dukuh, kebun, ladang, dan sawah merupakan pekerjaan mulia dan kewajiban seluruh warga. Warga percaya bahwa alam dan lingkungannya tersebut diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mereka jaga, pelihara, dan kelola dengan baik. Warga juga meyakini bahwa jika alam dan lingkungan mereka tersebut dikelola dengan baik maka mereka akan banyak mendapat rejeki dan hidup sejahtera, tetapi sebaliknya jika tidak dijaga dan dipelihara dengan baik maka akan menimbulkan bencana dan membawa sengsara bagi mereka. Nilai-nilai yang tertanam dan melekat kuat tersebut merupakan salah satu faktor pendorong sehingga warga komunitas dukuh tetap menjaga, memelihara, dan mengelola dengan baik keberadaan dukuh yang telah dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa agar tetap lestari dan tetap dapat dinikmati oleh anak cucu mereka kelak.
Nilai-nilai kehidupan yang berlaku dalam praktik-praktik keseharian warga komunitas dukuh selama ini dan terus dipertahankan hingga sekarang pada dasarnya bersumber dari nilai-nilai ajaran agama islam yang dianut oleh seluruh warganya. Nilai-nilai kehidupan tersebut juga sangat terkait dengan keyakinan (beliefs) yang melekat pada warganya. Keyakinan (beliefs) yang juga bersumber dari ajaran agama islam telah mengakar kuat pada warga sehingga semakin mendukung dan memperkuat nilai-nilai yang melekat pada warga komunitas
dukuh selama ini. Keyakinan (beliefs) yang telah mengakar kuat pada warga
komunitas dukuh tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.
a) Setiap perbuatan manusia selalu diketahui oleh Tuhan Yang Maha Kuasa; Bersumber dari ajaran agama islam yang dianut oleh seluruh warga, mereka meyakini bahwa setiap perbuatan apapun yang mereka lakukan selalu diketahui oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Masyarakat meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT adalah Maha Mengetahui dan Maha Melihat, di mana tidak ada satu perbuatan makhluk pun yang tersembunyi atau tidak
diketahui olehNya. Atas dasar keyakinan tersebut warga komunitas dukuh tidak berani melakukan hal-hal yang dilarang dalam ajaran agama, seperti mencuri, berbohong, dan perbuatan terlarang lainnya, baik dalam aktivitas kehidupan sehari-hari maupun khusus dalam kegiatan pengelolaan dukuh.
b) Setiap kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula bagi pelakunya dan begitu pula sebaliknya;
Warga komunitas dukuh juga meyakini bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas pasti akan mendatangkan kebaikan pula dan begitu pula sebaliknya setiap keburukan yang dilakukan akan mendatangkan keburukan pula bagi pelakunya pada masa yang akan datang. Resiprositas (pembalasan) kebaikan dan keburukan tersebut diyakini warga berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa, bisa melalui orang yang telah kita beri kebaikan/keburukan pada waktu yang lalu maupun melalui orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Dalam hal keberadaan dukuh, warga yakin jika mereka turut menjaga dan tidak merusak atau mengganggu dukuh milik orang lain, maka dukuh mereka juga tidak akan diganggu atau dirusak oleh orang lain. Atas dasar keyakinan tersebut warga berusaha untuk selalu berbuat kebaikan dan menghindari perbuatan buruk dalam kehidupan mereka sehari-hari dan dalam menjaga dukuh mereka tentunya.
c) Setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas akan diganjar pahala oleh Tuhan Yang Maha Kuasa;
Keyakinan mendasar yang juga melekat kuat pada warga komunitas dukuh adalah bahwa setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas akan diganjar pahala dan setiap perbuatan buruk akan diganjar dosa oleh Allah SWT. Warga yakin bahwa pahala dan dosa akan ditimbang di akherat kelak, di mana yang lebih berat timbangan pahalanya akan masuk sorga, sedangkan yang lebih berat timbangan dosanya akan masuk neraka. Ajaran agama islam yang mereka yakini tersebut telah mereka pegang kuat sebagai pedoman hidup sejak dahulu hingga sekarang. Terkait dengan keberadaan dukuh orang lain maka warga yakin akan mendapat pahala jika tidak mengganggu dan merusaknya, serta turut menjaga dan mengamankannya.
d) Setiap kejadian adalah taqdir (ketentuan) dari Tuhan Yang Maha Kuasa; Warga komunitas dukuh memegang teguh keyakinan bahwa setiap kejadian apapun merupakan taqdir (ketentuan) dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Warga meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa sehingga kehidupan di dunia ini hanya menjalani taqdirnya saja, meskipun demikian manusia tetap wajib menjalankan usaha dan ikhtiar sesuai dengan ajaran agama. Atas dasar keyakinan tersebut warga komunitas dukuh tidak terlalu berambisi dalam menjalani kehidupan di dunia ini, warga merasa cukup dengan apa yang ada dan sudah berbahagia dengan kehidupan yang sederhana.
Nilai-nilai (values) dan keyakinan (beliefs) yang melekat kuat pada warga telah menumbuhkan sikap (attitudes) dalam kehidupan sehari-hari warga komunitas dukuh. Sikap (attitudes) yang nampak pada warga komunitas dukuh selama ini diantaranya adalah adanya sikap saling percaya antar warga, hormat-menghormati, sikap kekeluargaan yang tinggi, perbuatan yang dilaksanakan dengan tulus, jujur, ikhlas, empati, suka menolong, gaya hidup sederhana, serta kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan alam sekitarnya.
Kepercayaan (trust) pada warga Komunitas Dukuh Mandiangin Barat dan Komunitas Dukuh Bi‟ih yang dilandasi oleh norma-norma (norms), nilai-nilai (values), sikap (attitudes), dan keyakinan (beliefs) telah membuat hubungan sosial dalam kegiatan pengelolaan dukuh semakin kuat, sehingga mendukung keberadaan dukuh yang akan terus terpelihara. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Suharjito dan Saputro (2008) di Kampung Ciburial Desa Mekarsari dan Kampung Cibedug Desa Citorek Kabupaten Lebak Banten, yang menemukan bahwa tingkat kepercayaan (trust) warga masyarakat yang kuat di landasi oleh norma, nilai, sikap dan keyakinan yang membuat hubungan sosial dan kerjasama mereka efektif sehingga mampu mendukung terpeliharanya upaya-upaya untuk terus menjaga kelestarian hutan yang ada.