C. RANCANGAN PERCOBAAN
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Rimpang lengkuas merah memiliki potensi sebagai bahan antijamur.
Ekstrak etanol lengkuas merah 5% mampu menghambat pertumbuhan
T. mentagrophytes dan M. canis, namun tidak dapat efektif menghambat pertumbuhan T. rubrum dan C. albicans. Rentang konsentrasi ekstrak untuk menghambat pertumbuhan T. mentagrophytes adalah 0,5% - 10% , sedangkan untuk M. canis adalah 0,3% - 5%. M. canis lebih sensitif terhadap ekstrak dibandingkan T. mentagrophytes karena memiliki nilai diameter hambatan yang lebih tinggi pada taraf konsentrasi yang sama. Nilai diameter hambatan hanya dipengaruhi oleh konsentrasi ekstrak.
Jenis salep o/w memiliki pH yang dapat diterima oleh kulit yaitu 4,25 – 5,45, dan nilai stabilitas emulsinya berada pada kisaran 54,46% - 87,61%. pH salep w/o adalah 7,7 – 9,2, sehingga tidak cocok untuk digunakan pada kulit karena dapat menimbulkan iritasi. Stabilitas emulsi salep w/o ada dikisaran 93,17% - 97,40%. Nilai pH sediaan dan stabilitas emulsi dipengaruhi oleh konsentrasi ekstrak dan dasar salep. Salep terbaik adalah dasar salep o/w dengan penambahan ekstrak 0,5% karena mampu memberikan nilai diameter hambatan, pH, dan stabilitas emulsi yang saling berkesesuaian yaitu 6,33 – 7,67 mm, 5,15, dan 85,2%.
B. SARAN
1. Pengujian daya antijamur dari ekstrak lengkuas merah terhadap jamur lain yang dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia seperti E. floccosum
dan Microsporum aoudinii.
2. Pengujian terhadap umur simpan salep, dan pengaruhnya terhadap daya antijamur.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Doory, Y. 1980. Laboratory Medical Mycology. Lea and Febiger, Philadelphia : 219, 223, 229, 232, 234, 260.
Allevato, M.A.J. 1999. Dermatomycosis: A Multifactorial Disease Didalam Hydroxy-Pyridones as Antifungal Agents with Special Emphasis on Onychomycosis, Springer, Germany : 39 – 42.
Anonim. 1955. The National Formulary. Tenth Ed. American Pharmaceutical Association, Washington D.C : 1692.
Anonim. 1999. Lengkuas. Didalam www.iptek.net.id/ind/cakra_obat.
Anonim. 2000. Alpinia galanga (L). Sw. Didalam www.plants.usda.gov/cgi_bin. Anonim. 2000. Alpinia galangal (L.) Willd Didalam
www.warintek.apjii.or.id/artikel/ttg_tanaman_obat/unas.
Anonim. 2003. Antijamur dan Antikembung. Didalam www.republica.co.id/suplemen/cetak_detail.asp, 10 Juni 2003.
Anonim. 1996. Ointments: Preparation and Evaluation of Drug Release. Didalam www.pharmlabs.unc.edu/ointments/text.htm, 2005
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI-Press, Jakarta : 508 - 510.
Apriyantono.A, D. Fardiaz, N.L.Puspitasari, dan S. Budiyanto. 1989. Analisis Pangan. IPB Press, Bogor : 42.
Asmaedy, S. 1991. Uji Mikroorganisme terhadap Lengkuas yang Digunakan sebagai Antijamur. Pusat Penelitian Universitas Andalas, Padang : 14 – 35. Depkes RI. 1978. Materia Medika Indonesia II. Depkes R I, Jakarta : 48 – 54. Depkes RI. 1989. Vademekum Bahan Obat Alam. Depkes RI, Dirjen POM,
Jakarta : 56.
Dirjen Bina Produksi Hortikultura. 2003. Produktivitas Tanaman Lengkuas Di dalam www.deptan.go.id
Djuanda, A. 1987. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Fakultas Kedokteran UI, Jakarta : 78 – 82.
Doerge, R.F. 1982. Kimia Farmasi dan Medisinal Organik. J.B.Lippincott Company, USA : 55 – 56.
Dubos, R. J. 1948. Bacterial and Mycotic Infections of Man. J.B.Lippincott Company Publishers, USA : 1115.
Fardiaz, D, N. Andarwulan, H. Wijaya, dan N.L.Puspitasari. 1992. Teknik Analisis Sifat Kimia dan Fungsional Komponen Pangan. PAU Pangan dan Gizi, IPB, Bogor : 20.
Farrell, K.T. 1990. Spice, Condiments, and Seasoning 2nd ed. Van Nostrand Reinhold, New York : 264.
Gaman, P. M. dan K. B. Sherrington. 1992. Ilmu Pangan : Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikrobiologi. Gajah Mada Universitas Press, Yogyakarta : 128. Ganiswara, S.G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Bagian Farmakologi FKUI,
Jakarta : 560 – 570.
Greenwood, D, Richard, C.B.S, dan John, F.P. 1995. Medical Microbiology 14th Ed. Churchill Livingstone, Edinburgh : 320.
Griffin, D.H. 1981. Fungal Physiology. John Wiley and Sons, Inc, USA : 242 – 243.
Gupta, S.S. 1999. Prospects and Prospectives of Natural Plants Products in Medicine. Indian Journal of Pharmacology Didalam Buletin Penelitian Tanaman Perkebunan, Bogor.
Harry, R.G. 1975. Harry’s Cosmetology : The Principles and Practice of Modern Cosmetic. 6th ed. Leonard Hill Book, London : 19.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia I. Terjemahan. Balitbang Kehutanan. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta: 70 -71.
Himawati, E.R dan Tristiana Erawati. 2003. Pengembangan Formulasi Minyak Cengkeh sebagai Counter Irritant dalam Beberapa Sediaan Topikal. Majalah Farmasi Airlangga, Vol.3. No.3. Desember 2003, Surabaya : 1 – 4.
Horsfall, J.G. 1956. Principles of Fungicidal Action. Chronica Botanica Company, USA : 47.
Jawetz, E. 1980. Review of Medical Mycology. Lange Medical Publications, California : 123 – 124, 366 – 372.
Jenkins, G.L, Don E. F, Edward, A.B, Glen J,S. 1957. The Art of Compounding. Mac Graw-Hill Book Company, Inc, New York : 339 – 350.
Jungerman, P.F dan Robert, M.S. 1972. Veterinary Medical Mycology. Lea and Febiger, Philadelpihia : 3 – 21.
Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. PN Balai Pustaka, Jakarta : 64, 249, 307, 365.
Malaysian Herbal Database. 2003. Herbal Database Didalam www.content.nhiondemand.com/moh/media/monoherb.
Mc Vicar, J. 1994. Jekka’s Complete Herb Book. Kyle Cathie Limited, London : 83.
Mulyaningsih, S. 1996. Uji Daya Antifungi dan Analisis Kromatografi Gas Spektroskopi Massa Minyak Atsiri Laos Merah. Jur. Farmasi FMIPA UNPAD, Bandung Di dalam Rahayu, W. P. 2000. Kajian Aktivitas dan Produksi Komponen Antimikroba dari Rimpang Lengkuas. FATETA IPB, Bogor : 5.
Rahayu, W. P. 2000. Kajian Aktivitas dan Produksi Komponen Antimikroba dari Rimpang Lengkuas. FATETA IPB, Bogor : 26.
Rippon, J.W. 1988. Medical Mycology. W.B Saunders Company, London : 241 – 257.
Rosdiyati, D. 1980. Analisis dan Penyimpanan Rhizoma Laos. Skripsi AKA. Departemen Perindustrian, Bogor Di dalam Kholid, A. 2000. Teknik Ekstraksi Komponen Antimikroba dari Rimpang Lengkuas. FATETA IPB, Bogor : 4.
Siswandono dan Soekarjo. 2000. Kimia Medisinal 2. Airlangga University Press, Surabaya : 71.
Shelef, L. A. 1983. Antimicrobial Effects of Spices. J. Food Safety 6(1):29-40. Soltys, M.A. 1963. Bacteria and Fungi Pathogenic to Man and Animals. Bailliere
Tindall and Cox, London : 461- 463.
Suryani, A, I. Sailah, E. Hambali. 2002. Teknologi Emulsi. Jurusan TIN IPB, Bogor : 35, 154.
Voigt, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gajah Mada University Press, Yogyakarta : 563, 564,
Volk dan Wheeler. 1988. Mikrobiologi Dasar. Penerbit Erlangga, Jakarta : 266. Wills, R.B.H dan Stuart, D.L. 2001. Production of High Quality Australian
Ginseng Di dalam www.rirdc.gov.au/reports : 23 -24.
Windholz, M. Budavari, S. Blumetti, R.F. Ottertein. 1983. The Merck Index. Tenth Ed. Encyclopedia of Chemicals, Drugs, and Biologicals. Merck & Co., Inc. Rahway, N.J., USA : 3854, 4209, 5112, 7936.
Lampiran 1. Tata Cara Analisis Bubuk Lengkuas Merah
• Uji Kadar Air (Voigt, 1994)
Ke dalam labu 500 ml, dimasukkan bahan secukupnya, sehingga menghasilkan 2 – 4 ml air. Ditambahkan dalam labu kira-kira 200 ml toluen dan juga di dalam perangkat penerima, dituangkan toluen lewat mulut atas kondensor. Labu suling di panaskan perlahan-lahan sampai toluen mendidih. Jika jumlah air tidak bertambah lagi, penyulingan dilanjutkan selama 15 menit. Selanjutnya penyulingan dihentikan, dan alat dibiarkan sampai dingin. Jika air dan toluen telah terpisah secara sempurna, volume dan persentase air dalam bahan dihitung.
• Kadar Abu (Depkes RI, 1978)
Lebih kurang 2 g sampai 3 g zat yang telah digerus dan ditimbang dimasukkan ke dalam krus platina atau krus silikat yang telah dipijarkan dan ditara, kemudian diratakan. Zat kemudian dipijarkan perlahan-lahan hingga arang habis, kemudian didinginkan dan ditimbang. Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan, maka ditambahkan air panas dan disaring melalui kertas saring bebas abu. Sisa zat dan kertas saring dipijarkan kembali dalam krus yang sama. Filtrat dimasukkan kedalam krus dan diuapkan, kemudian dipijarkan hingga bobot tetap dan ditimbang. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara.
• Kadar Abu tidak Larut Asam (Depkes RI, 1978)
Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu, didihkan dengan 25 ml asam klorida encer (P) selama 5 menit, bagian yang tidak larut asam dikumpulkan. Bagian yang telah dikumpulkan disaring melalui kertas saring kemudian dicuci dengan air panas dan setelah itu dipijarkan kembali hingga bobot tetap lalu ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
• Kadar Sari yang Larut dalam Air (Depkes RI, 1978)
Serbuk yang akan dianalisa dikeringkan di udara, kemudian 5 g serbuk di maserasi dengan 100 ml air menggunakan labu bersumbat selama 24 jam sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan
selama 18 jam. Setelah itu dilakukan penyaringan, sebanyak 20 ml filtrat yang diperoleh diuapkan hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, sisa dipanaskan pada suhu 105○C hingga bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam air dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
• Kadar Sari yang Larut dalam Etanol (Depkes RI, 1978)
Serbuk yang akan dianalisis dikeringkan di udara, kemudian 5 g serbuk di maserasi dengan 100 ml etanol (95%) menggunakan labu bersumbat selama 24 jam sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Setelah itu dilakukan penyaringan cepat untuk menghindarkan penguapan etanol (95%), sebanyak 20 ml filtrat yang diperoleh diuapkan hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, sisa dipanaskan pada suhu 105○C hingga bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam etanol (95%) dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
• Kadar Minyak Atsiri (Depkes RI, 1978)
Bahan yang akan diperiksa dicampur dengan cairan penyuling kemudian dilakukan pemasangan alat dan buret diisi hingga penuh, setelah itu dilakukan pemanasan dengan tangas udara sehingga penyulingan berlangsung secara lambat tapi teratur. Setelah penyulingan selesai, biarkan selama tidak kurang dari 15 menit kemudian dilakukan pencatatan volume minyak atsiri pada buret. Kadar minyak atsiri dihitung dalam % v/b.
Lampiran 2. Tata Cara Analisis Sifat Fisik Salep
• Stabilitas emulsi (Suryani, 2002)
Sejumlah bahan emulsi yang sudah ditimbang dimasukkan pada wadah. Wadah dan bahan tersebut dimasukkan dalam oven dengan suhu 45oC selama 1 jam kemudian dimasukkan dalam pendingin bersuhu di bawah 0oC selama 1 jam, lalu dipanaskan dalam oven dengan suhu 45oC dan dibiarkan sampai beratnya konstan. Stabilitas emulsi dapat dihitung berdasarkan rumus berikut :
SE (%) = bobot fase yang tersisa x 100% bobot total bahan emulsi
• pH sediaan
Sebanyak satu gram bahan dimasukkan kedalam gelas piala, dilarutkan dalam 10 ml aquades dan didiamkan selama 30 menit, kemudian diukur derajat keasamannya dengan pH meter.
Lampiran 3. Hasil Analisis Mutu Bahan Baku
• Kadar Air Simplisia Lengkuas (metode destilasi)
ml air = 0,8 x 100 % g contoh 10,4
= 7,69 %
• Kadar Minyak Atsiri Lengkuas
Bobot Simplisia = 755,29 g Volume minyak atsiri = 5 ml
Kadar m.atsiri = 5 x 100 % 755,29
= 0,66 %
Kadar Abu Simplisia Lengkuas
Kode B.cawan (gram) B.cwn + contoh (gram) B.contoh (gram) B.cawan akhir (gram) B.contoh akhir (gram) Kadar Abu (%) BK 1 22,4633 24,5624 2,0991 22,5893 0.1260 6,50 2 16,2863 18.4556 2,1693 16,4038 0,1175 5,87 ULANGAN 11 22,5089 24,7060 2.1971 22,6389 0,1300 6,43 22 19,1358 21,4179 2,2821 19,2598 0,1240 5,80
Kadar Abu tak Larut Asam
Kode B.cawan (gram)
B.cawan + abu (gram)
B.cawan+abu tak larut asam (gram)
B. abu tak larut asam (gram) K.Abu tak Larut Asam (%) BK 1 22,4633 22,5893 22,5223 0,0590 3,04 2 16,2863 16,4038 16,3445 0,0582 2,90 ULANGAN 11 22,5089 22,6389 22,5556 0,0467 2,30 22 19,1358 19,2598 19,1988 0,0630 2,99
Lampiran 3 (lanjutan)
Kadar Sari Larut dalam Air Simplisia Lengkuas
Kode B.contoh (gram) B.cawan (gram) B.cawan akhir (gram) B.contoh akhir (gram) Kadar Sari (%) BK 1 5,0167 20,6220 20,9594 0,3374 36,45 2 5,0167 24,0607 24,3865 0,3258 35,15 ULANGAN 11 5,0004 20,9247 21,2422 0,3175 32,95 22 5,0004 24,7627 25,0246 0,2619 28,35
Kadar Sari Larut dalam Etanol Simplisia Lengkuas
Kode B.contoh (gram) B.cawan (gram) B.cawan akhir (gram) B.contoh akhir (gram) Kadar Sari (%) BK 1 5,0452 24,0767 24,3329 0,2562 27,50 2 5,0452 24,7623 25,0201 0,2578 27,70 ULANGAN 11 5,0343 20,6280 20,8452 0,2172 23,35 22 5,0343 20,9487 21,1634 0,2147 23,05
Lampiran 4. Zona Hambat 4 Jamur Uji pada Penelitian Pendahuluan
(A) 5% o/w T.mentagrophytes (B)5% w/o T.mentagrophytes
(C) 5% o/w T.rubrum (D) 5% w/o T.rubrum
(E) 5% o/w C.albicans (F) 5% w/o C.albicans
Lampiran 5. Hasil Pengukuran Diameter Hambatan T. mentagrophytes Kons. ekstrak (%) Basis salep Diameter Hambatan (mm) 0,5 1 3 5 7 10 o/w 6,33 15 24 33,33 40 45,33 6,33 10 20 32,67 37.67 48,67 rata-rata 6,33 12,5 22 33 38.83 5 47 w/o 6 14,67 24 31,33 36 44,67 6,33 9,67 25,67 32 38,33 45 rata-rata 6,16 5 12,17 24,83 5 31,66 5 37,16 5 44,83 5
Keterangan : o/w : basis salep minyak dalam air w/o : basis salep air dalam minyak M. canis Kons. ekstrak (%) Basis salep Diameter Hambatan (mm) 0,3 0,5 1 3 5 o/w 6 21 25,67 32,67 40 9,33 16 21 35,67 42,67 rata-rata 7,665 18,5 23,335 34,17 41,335 w/o 6 19 25 30,67 40 6 14,67 20,67 31,67 38 rata-rata 6 16,835 22,835 31,17 39
Keterangan : o/w : basis salep minyak dalam air w/o : basis salep air dalam minyak
Lampiran 6. Analisis Ragam untuk Daya Antijamur Variabel Terikat: T.Mentagrophytes
Sumber keragaman dk KT F F0,05 Rata-rata 1 16854,000 4088,932 ts 1 0,295 0,072 4,75 konsentrasi 5 954,647 231,606* 3,11 ts * konsentrasi 5 2,578 0,626 3,11 Galat 12 4,122 Jumlah 24 Jumlah terkoreksi 23 * = berbeda nyata
Hasil uji Duncan untuk faktor konsentrasi terhadap diameter hambat
T.mentagrophytes
konsentrasi N Kelompok Duncan (α = 0,05)
0,50 4 A 1,00 4 B 3,00 4 C 5,00 4 D 7,00 4 E 10,00 4 F
Variabel Terikat: M.canis
Sumber keragaman dk KT F F0,05 Rata-rata 1 11617,164 2030,341 0,000 ts 1 17,410 3,043 4,75 konsentrasi 4 669,341 116,981* 3,11 ts * konsentrasi 4 0,853 0,149 3,11 Galat 10 5,722 Jumlah 20 Jumlah terkoreksi 19 * = berbeda nyata
Hasil uji Duncan untuk faktor konsentrasi terhadap diameter hambat M.canis
konsentrasi N Kelompok Duncan (α = 0,05)
0,30 4 A
0,50 4 B
1,00 4 C
5,00 4 E
Lampiran 7 . Zona Hambatan M.canis dan T.mentagrophytes
(A) 0,3% o/w M.canis (B) 0,3% w/o M.canis
(C) 0,5% o/w M.canis (D) 0,5% w/o M.canis
(E) 1% o/w M.canis (F) 1% w/o M.canis
Lampiran 7 (lanjutan)
(I) 5% o/w M.canis (J) 5% w/o M.canis
(K) 0,5% o/w T.mentagrophytes (L) 0,5% w/o T.mentagrophytes
(M) 1% o/w T.mentagrophytes (N) 1% w/o T.mentagrophytes
Lampiran 7 (lanjutan)
(Q) 5% o/w T.mentagrophytes (R) 5% w/o T.mentagrophytes
(S) 7% o/w T.mentagrophytes (T) 7% w/o T.mentagrophytes
Lampiran 8. Hasil Pengukuran pH dan Stabilitas Emulsi Sediaan Perlakuan pH Stabilitas (%) A1B1 5,45 ± 0,005 86,32 ± 0,25 A2B1 5,15 ± 0,005 77,39 ± 0,14 A3B1 5,00 ± 0,000 79,22 ± 0,03 A4B1 4,70 ± 0,000 61,15 ± 1,19 A5B1 4,50 ± 0,005 63,70 ± 0,02 A6B1 4,35 ± 0,005 76,44 ± 0,15 A7B1 4,25 ± 0,005 62,09 ± 3,84 A1B2 9,20 ± 0,000 97,36 ± 1,43 A 2B2 9,15 ± 0,005 97,66 ± 0,59 A3B2 9,05 ± 0,005 96,27 ± 0,27 A4B2 8,75 ± 0,005 98.16 ± 1,41 A5B2 8,4 0 ± 0,000 98.37 ± 1,88 A6B2 8,20 ± 0,000 95.64 ± 1,84 A7B2 7,70 ± 0,005 94.27 ± 2,40 Contoh pH
Ulangan 1 Ulangan 2 Rata-rata A1B1 5,5 5,4 5,45 ± 0,005 A2B1 5,1 5,2 5,15 ± 0,005 A3B1 5,0 5,0 5,0 ± 0,000 A4B1 4,7 4,7 4,7 ± 0,000 A5B1 4,4 4,6 4,5 ± 0,005 A6B1 4,4 4,3 4,35 ± 0,005 A7B1 4,3 4,2 4,25 ± 0,005 A1B2 9,2 9,2 9,2 ± 0,000 A2B2 9,1 9,2 9,15 ± 0,005 A3B2 9,0 9,1 9,05 ± 0,005 A4B2 8,7 8,8 8,75 ± 0,005 A5B2 8,4 8,4 8,4 ± 0,000 A6B2 8,2 8,2 8,2 ± 0,000 A7B2 7,6 7,8 7,7 ± 0,005
Lampiran 9. Analisis Ragam untuk pH Sediaan Variabel terikat : pH Sumber keragaman dk KT F F0,05 Rata-rata 13 8.618 2010.949 ts 1 1254.241 292656.333 konsentrasi 1 105.691 24661.333* 4.75 ts * konsentrasi 6 1.007 235.028* 3.11 Galat 6 .051 11.806* 3.11 Jumlah 14 .004 Jumlah terkoreksi 28 * = berbeda nyata
Hasil uji Duncan untuk faktor konsentrasi terhadap pH
Konsentrasi N Kelompok Duncan (α = 0,05)
0,30 4 A 0,50 4 B 1,00 4 C 3,00 4 D 5,00 4 E 7,00 4 F 10,00 4 G
Lampiran 10. Hasil Pengukuran Stabilitas Emulsi
Contoh
Stabilitas Emulsi (SE)
Ulangan 1 Ulangan 2 Berat cawan (gram) Berat cawan + contoh (gram) Berat akhir (gram) SE (%) Berat cawan (gram) Berat cawan + contoh (gram) Berat akhir (gram) SE (%) A1B1 13,5516 18,9295 18,2298 86,9 50,0581 55,0621 488,4585 87,61 A2B1 47,6298 52,7705 52,036408 85,72 41,1261 46,13 45,38942 85,2 A3B1 13,83 18,9288 17,8687595 79,21 39,8558 45,0069 43,71271 78,96 A4B1 43,8816 48,961 47,6225781 73,65 42,9486 48,0248 46,60905 72,11 A5B1 51,0405 55,381 53,9178175 66,29 41,5985 46,6754 44,97515 66,51 A6B1 12,431 17,6013 15,601428 61,32 50,553 55,613 53,62847 60,78 A7B1 42,5874 47,6922 45,508877 57,23 40,0642 45,1297 42,82287 54,46 A1B2 13,1966 18,4732 18,4147 98,89 49,4311 54,4432 54,3029 97,2 A2B2 12,5682 17,9668 17,8328 97,52 41,7276 46,7868 46,6062 96,43 A3B2 25,2846 30,4396 30,2659 96,63 41,3318 46,3366 46,1314 95,9 A4B2 56,1445 61,4316 61,3787 99 34,461 39,5809 39,4437 97,32 A5B2 13,8615 18,9685 18,9349 99,34 44,7652 49,8849 49,7518 97,4 A6B2 42,9553 48,1032 47,9284 96,6 44,2503 49,3836 49,1105 94,68 A7B2 42,2747 47,745 47,4914 95,36 50,0529 55,0941 54,7499 93,17
Lampiran 11. Analisis Ragam untuk Stabilitas Emulsi
Variabel terikat: Stabilitas Emulsi
Sumber keragaman df dk KT F Rata-rata 13 453.327 414.659 ts 1 200771.199 183645.592 konsentrasi 1 4125.900 3773.965* 4.75 ts * konsentrasi 6 168.452 154.083* 3.11 Galat 6 126.107 115.350* 3.11 Jumlah 14 1.093 Jumlah terkoreksi 28 * = berbeda nyata
Hasil uji Duncan untuk faktor konsentrasi terhadap stabilitas emulsi Konsentrasi N Kelompok Duncan (α = 0,05)
0,30 4 A 0,50 4 A 1,00 4 B 3,00 4 C 5,00 4 D 7,00 4 E 10,00 4 F
Lampiran 12. Penampakan Salep
(A) 0,3% o/w (B) 0,3% w/o
(C) 0,5% o/w (D) 0,5% w/o
(E) 1% o/w (F) 1% w/o
Lampiran 12 (lanjutan)
(I) 5% o/w (J) 5% w/o
(K) 7% o/w (L) 7% w/o
DAYA ANTIJAMUR EKSTRAK LENGKUAS MERAH
(Alpinia purpurata K Schum) DALAM SEDIAAN SALEP
(The Antifungal Activities of Red Galangal Extract in Ointment Bases) Hernani1), Djumali Mangunwidjaja2), Rizka Hezmela3)
Department of Agroindustrial Technology, Bogor Agricultural University
ABSTRACT
It is well-established that red galangal has been empirically and theoretically proven as antifungal. Red galangal contains antifungal active compounds such as quercetin, eugenol, kaempferol, and galangin; all are soluble in ethanol. Ointment is popular as medication base due to its simple application. The right choice of ointment bases when incorporating medicaments will determine the therapeutic result. Therefore, the addition of ethanol extract of red galangal into ointment bases is predicted to be able to inhibit the growth of some fungi causing superficial mycosis.
Result had shown the potential of red galangal extract as fungistatic agent for Tricophyton mentagrophytes and Microsporum canis. Based on the result of susceptibility test, the growth of Microsporum canis can be inhibited better then Tricophyton mentagrophytes. Analysis of variance had shown that the zone of inhibition only determined by red galangal extract concentrations, while type of ointment did not give significant result.
The pH of oil in water emulsion base was still in the range of skin acceptability, but the pH water in oil emulsion base will tend to irritate the skin when applied. Water in oil emulsion base was more stable then oil in water emulsion base. Based on the analysis of variance, red galangal concentrations and type of emulsion gave significant result for pH and emulsion stability.
Keywords : red galangal, antifungal, fungistatic, ointment, oil in water, water in oil PENDAHULUAN
Kemajuan teknologi di bidang obat- obatan telah secara luas menyajikan berbagai bentuk sediaan untuk berbagai penyakit, namun demikian obat tradisional masih tetap digunakan secara luas meski dalam bentuk yang sederhana. Salah satu upaya untuk mengembangkan obat-obat tradisional adalah dengan meningkatkan bentuknya menjadi fitofarmaka agar dapat diterima dalam pengobatan formal.
Tanaman lengkuas secara empiris ataupun teoritis sudah banyak terbukti sebagai obat antijamur, khususnya lengkuas merah. Rimpang lengkuas merah yang mengandung senyawa-senyawa antijamur seperti eugenol, kamferol, kuersetin, dan galangin mampu mengobati penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur terutama yang bersifat lokal. Produktivitas dan luas panen lengkuas juga mengalami kecenderungan untuk meningkat tiap tahunnya. Berdasarkan Dirjen Bina Produksi Hortikultura (2003), pada selang tahun 1999 sampai 2002 data luas panen berturu-turut adalah 7.881.241 m2, 16.185.905 m2, 15.958.475 m2, dan 11.480.646 m2. Data produktivitas pada periode 1999 sampai 2002 adalah 1,51 kg/ m2, 1,7 g/ m2, 1,64 g/ m2, dan 2 g/ m2.
Salep merupakan sediaan emulsi setengah padat yang banyak digunakan untuk menghantarkan bahan obat. Pemilihan dasar salep yang tepat dapat mempengaruhi efektivitas senyawa obat yang dihantarkan. Penambahan ekstrak lengkuas kedalam sediaan salep dapat meningkatkan nilai tambah lengkuas merah sebagai bahan obat. Salep antijamur dengan bahan aktif yang berasal dari lengkuas merah diperkirakan mampu menghambat beberapa jamur penyebab penyakit kulit, terutama yang bersifat lokal.
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui potensi bahan aktif rimpang lengkuas merah dalam menghambat pertumbuhan jamur penyebab penyakit mikosis lokal kulit seperti Tricophyton
rubrum, Tricophyton mentagrophytes,
Microsporum canis, dan Candida albicans. Selain itu, penelitian juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak lengkuas kedalam dua sediaan salep yaitu basis oil in water (o/w) dan water in oil (w/o) terhadap daya antijamur, pH sediaan dan stabilitas emulsi sediaan salep.
1) Peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian 2) Staf Pengajar di Departemen Teknologi Industri Pertanian
METODOLOGI
A. Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan untuk proses ekstraksi adalah pisau, penepung tipe piring yang dilengkapi ayakan 32 mesh, oven, hot plate, labu goyang, penguap-rotasi hampa udara, labu erlenmeyer 500 ml, pH meter, dan alat- alat gelas untuk analisa. Peralatan yang digunakan untuk analisa mikrobiologi antara lain tabung reaksi, cawan petri, mikropipet, erlenmeyer, inkubator, mikroskop, jarum ose, Haemocytometer Neubauer Improved , dan pipet Pasteur.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rimpang lengkuas merah kering, berumur panen 11 bulan yang diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Cibinong Bogor. Bahan-bahan kimia yang digunakan untuk ekstraksi adalah etanol 96%. Media untuk uji mikrobiologi adalah Sabouraud Dextrose Agar. Fungi yang digunakan dalam pengujian uji adalah C. albicans dan M. canis yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Departemen Farmasi Universitas Indonesia, serta T. rubrum
dan T. mentagrophytes yang diperoleh
dari Laboratorium Mikologi Balai Penelitian Veteriner Bogor. Masing- masing jamur merupakan penyebab dermatomikosis.
B. Metode Penelitian
1. Penelitian Pendahuluan
Pengolahan Simplisia Lengkuas
Rimpang lengkuas diiris-iris dengan menggunakan pisau yang menghasilkan irisan setebal 1,5 mm, kemudian dikeringkan dalam alat pengering (oven blower) selama 12 jam. Selanjutnya rimpang lengkuas digiling halus dengan mesin penggiling yang dilengkapi ayakan berukuran 32 mesh. Bubuk yang dihasilkan disimpan dalam ruang beku. Bubuk yang dihasilkan dianalisis dengan mengacu pada ketentuan Depkes RI (1978). Persyaratan mutu bahan baku dapat dilihat pada Tabel 1.
Ekstraksi
Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi berulang selama dua hari menggunakan pelarut etanol 96%. Tahapan ekstraksi dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Diagram alir ekstraksi simplisia lengkuas merah
Tabel 1. Persyaratan Mutu Bahan Baku
Spesifikasi Simplisia
Lengkuas
Kadar minyak atsiri Tidak kurang dari 0,5% v/b Kadar abu Tidak lebih
dari 3,9% Kadar abu tidak larut
dalam asam
Tidak lebih dari 3,7% Kadar sari yang larut
dalam air
Tidak kurang dari 5,2% Kadar sari yang larut
dalam etanol
Tidak kurang dari 1,7% Sumber : Depkes RI (1978)
Penentuan Jamur Uji Terbaik
Penentuan jamur uji terbaik dilakukan manggunakan metode parit dengan melihat diameter zona bening yang terdapat disekeliling parit. Pengujian dilakukan terhadap 4 jamur, yaitu C. albicans, T. mentagrophytes, T. rubrum, dan M. canis. Konsentrasi ekstrak lengkuas yang diujikan adalah 5%.
Biakan masing-masing jamur uji diambil dari agar miring menggunakan jarum ose secara aseptik dan diremajakan dalam media cair. Dalam setiap media terdapat kerapatan spora sebesar 105 cfu/ml. Selanjutnya disiapkan agar Sabouraud di dalam cawan petri dan masing-masing biakan digoreskan di atas agar, lalu dibuat sumur-sumur pada agar yang telah digoreskan biakan jamur uji menggunakan pipet pasteur dengan diameter sumur sebesar 6 mm. Ekstrak yang akan diujikan diisikan ke dalam
lubang hingga kedalaman lubang terisi sempurna, kemudian agar yang sudah berisi ekstrak diinkubasi selama 2 hari untuk C. albicans dan 7 hari untuk T.
mentagrophytes, T. rubrum, dan M.
canis.
Setelah selesai waktu inkubasi, aktivitas antijamur dapat diamati. Aktivitas antijamur diukur dengan mengurangi diameter total zona hambat dengan diameter sumur. Jamur yang terpilih untuk digunakan dalam penelitian utama adalah jamur yang mampu dihambat paling baik yang ditunjukkan oleh tingginya nilai diameter.
Penentuan Konsentrasi Hambatan
Rentang konsentrasi hambatan ditentukan dengan mencoba beberapa konsentrasi ekstrak secara coba-coba terhadap daya hambat jamur uji. Penentuan rentang nilai ini dilakukan untuk menentukan batas bawah dan batas atas faktor perlakuan yang dapat memberikan zona hambatan terbaik terhadap jamur uji terpilih. Depkes RI (1989) menyatakan bahwa suatu bahan baru dapat dikatakan memiliki aktifitas antimikroba bila diameter hambatan yang terbentuk adalah lebih dari sama dengan 6 mm. Oleh karena itu, nilai ini menjadi batas bawah dari rentang konsentrasi hambatan, sedangkan batas atas ditentukan berdasarkan zona hambat terbaik pada konsentrasi tertentu yang meski konsentrasi tersebut dinaikkan tidak akan memberikan hasil yang berbeda nyata.
2. Penelitian Utama
Pembuatan Salep Antijamur
Sediaan salep dibuat berdasarkan komposisi sediaan yang dibuat oleh Himawati dan Erawati (2003) dengan penambahan ekstrak lengkuas sebagai bahan antijamur dalam berbagai variasi konsentrasi yang ditambahkan pada masing-masing sediaan. Salep dibuat dengan metode peleburan. Tahapan pembuatan dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3, sedangkan formulasi salep dapat dilihat pada Tabel 2.
Gambar 2. Proses produksi salep oil in water
Gambar 3. Proses produksi salep water in oil
Pengujian Efektifitas Salep
Pengujian efektifitas salep antijamur dilakukan untuk mengetahui perubahan besarnya daya hambat akibat penambahan ekstrak lengkuas merah pada beberapa taraf konsentrasi dan pada 2 dasar salep yang berbeda. Penentuan efektifitas salep antijamur dilakukan menggunakan metode sumur dengan melihat diameter zona bening yang terdapat disekeliling sumur. Pengujian salep dilakukan terhadap jamur uji terpilih pada beberapa taraf konsentrasi, sesuai dengan hasil penentuan rentang konsentrasi hambatan yang telah ditentukan pada penelitian pendahuluan.
Biakan jamur uji terpilih diambil dari agar miring menggunakan jarum ose secara aseptik dan diremajakan dalam media cair. Dalam setiap media terdapat kerapatan spora sebesar 105 cfu/ml. Selanjutnya disiapkan agar Sabouraud di dalam cawan petri dan masing-masing biakan digoreskan diatas agar. Kemudian, dibuat sumur-
sumur pada agar yang telah digoreskan biakan jamur uji menggunakan pipet pasteur dengan diameter lubang sebesar 6 mm. Salep yang akan diujikan kemudian diisikan kedalam lubang hingga kedalaman lubang terisi sempurna. Kemudian agar yang sudah berisi bahan uji diinkubasi dengan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan jamur uji terpilih.
Setelah selesai waktu inkubasi,