• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II

ASPEK HUKUM PERJANJIAN BORONGAN DAN PROYEK SWAKELOLA

A. Perjanjian Borongan dalam Hukum Positif di Indonesia 1 Pengertian dan Unsur-unsur Perjanjian Borongan

a. Pengertian Perjanjian Borongan

Hukum kontrak merupakan bagian hukum privat. Hukum ini memusatkan perhatian pada kewajiban untuk melaksanakan sendiri (self

imposed obligation). Dipandang sebagai hukum privat karena

pelanggaran terhadap kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam kontrak, murni menjadi urusan pihak-pihak yang berkontrak.66

Kontrak dalam bentuk yang paling klasik dipandang sebagai ekspresi kebebasan manusia untuk memilih dan mengadakan perjanjian. Paradigma baru hukum kontrak timbul dari dua dalil dibawah ini :

1) Setiap perjanjian kontraktual yang diadakan adalah sah (geoorloofd);dan

2) Setiap perjanjian kontraktual yang diadakan secara bebas adalah adil dan memerlukan sanksi undang-undang.67

66

Adrian Sutedi, Aspek Hukum Pengadaan Barang dan Jasa dan Berbagai Permasalahannya, (Jakarta : Sinar Grafika, 2008), hlm 21.

67

Ridwan Khairandy, Itikad Baik dalam Kebebasan Berkontrak, (Jakarta : Pascasarjana FH-UI, 2003), hlm 81.

Kontrak dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai “perjanjian”. Meskipun demikian, apa yang dalam bahasa Indonesia disebut perjanjian, dalam bahasa Inggris tidak selalu sepadan dengan contract68. Istilah

contract digunakan dalam kerangka hukum Internasional publik, yang

kita sebut “perjanjian”, dalam bahasa Inggris sering kali disebut treaty atau kadang-kadang juga covenant. Sejauh yang dapat kita ketahui, tidak pernah ada dua pihak swasta atau lebih memuat treaty atau covenant, sebaliknya tidak pernah terekam dua negara yang diwakili oleh pemerintah masing-masing membuat suatu contract.69

Kontrak adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak yang ada didalamnya dituntut untuk melakukan satu atau lebih prestasi.70 Menurut Subekti, suatu perjanjian merupakan “suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lain, atau dimana dua orang saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal”.71

68

Anggiat Simamora, “Legal Drafting : Draft Kontrak”, makalah disampaikan dalam bimbingan profesi sarjana hukum pertamina, (Jakarta : 2001), hlm 2, sebagaimana dikutip dalam Adrian Sutedi, Op.Cit. hlm 23.

R. Setiawan, menyebutkan bahwa perjanjian ialah “perbuatan hukum

69

Ibid

70

Hikmahanto Juwana, Teknik Pembuatan dan Penelaahan Kontrak Bisnis, (Jakarta : Pascasarjana FH-UI, 2003), hlm 1.

71

R. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, (Jakarta : PT Intermasa, 2001), hlm 36.(untuk selanjutnya disebut R. Subekti 3)

dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”.72

Menurut Tan Kamello, Perjanjian adalah “suatu hubungan hukum antara dua orang atau lebih yang didasarkan pada kata sepakat dengan tujuan untuk menimbulkan akibat hukum”. Pengertian perjanjian atau kontrak diatur dalam Pasal 1313 KUHPerdata yang menyebutkan : “Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”.

Definisi perjanjian dalam Pasal 1313 KUHPerdata adalah a) Tidak jelas, karena setiap perbuatan dapat disebut perjanjian. b) Tidak tampak asas konsensualisme, dan

c) Bersifat dualisme.

Tidak jelasnya definisi ini disebabkan dalam rumusan tersebut hanya disebutkan perbuatan saja. Maka yang bukan perbuatan hukum pun disebut dengan perjanjian. Untuk memperjelas pengertian itu maka harus dicari dalam doktrin. Jadi menurut doktrin (teori lama) yang disebut perjanjian adalah “Perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum”73

72

R. Setiawan, Hukum Perikatan-perikatan pada umumnya, (Bandung : Bina Cipta, 1987), hlm 49.

73

Salim H.S, Hukum Kontrak ; Teori & Teknik Penyusunan Kontrak, (Jakarta : Sinar Grafika, 2006), hlm 25.

Definisi ini, telah tampak adanya asas konsesualisme dan timbulnya akibat hukum (tumbuh/lenyapnya hak dan kewajiban). Unsur-unsur perjanjian, menurut teori lama adalah sebagai berikut :

(1)Adanya perbuatan hukum.

(2)Persesuaian pernyataan kehendak dari beberapa orang. (3)Persesuaian kehendak harus dipublikasikan/dinyatakan.

(4)Perbuatan hukum terjadi karena kerja sama antara dua orang atau lebih.

(5)Pernyataan kehendak (wilsverklaring) yang sesuai harus saling bergantung satu sama lain.

(6)Kehendak ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum.

(7)Akibat hukum itu untuk kepentingan yang satu atas beban yang lain atau timbal balik, dan

(8)Persesuaian kehendak harus dengan mengingat peraturan perundang-undangan.74

Menurut teori baru yang dikemukan oleh Van Dunne, yang diartikan dengan perjanjian adalah “suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum”. Teori baru tersebut tidak hanya melihat perjanjian semata-mata, tetapi juga harus dilihat perbuatan sebelumnya atau yang mendahuluinya. Ada tiga tahap dalam membuat perjanjian, menurut teori baru yaitu :

(a)Tahap Pracontractual, yaitu adanya penawaran dan penerimaan. (b)Tahap Contractual, yaitu adanya persesuaian pernyataan kehendak

antara para pihak.

(c)Tahap Post Contractual, yaitu pelaksanaan perjanjian.

74

Charles L. Knapp dan Nathan M. Crystal mengatakan Contract is “ An

agreement between two or more persons not merely a shared belief, but common understanding as to something that is to be done in the future by one or both of them”.75

Pendapat ini tidak hanya mengkaji definisi kontrak, tetapi ia juga menentukan unsur-unsur yang harus dipenuhi supaya suatu transaksi dapat disebut kontrak. Ada tiga unsur kontrak, yaitu :

Artinya, kontrak adalah suatu persetujuan antara dua orang atau lebih tidak hanya memberikan kepercayaan, tetapi secara bersama saling pengertian untuk melakukan sesuatu pada masa mendatang oleh seseorang atau keduanya dari mereka.

1}The agreement fact between the parties (adanya kesepakatan

tentang fakta antara kedua belah pihak).

2}The agreement as writen (persetujuan dibuat secara tertulis)

3}The set of rights and duties created by (1) and (2) (adanya orang

yang berhak dan berkewajiban untuk membuat : (1) kesepakatan dan (2) persetujuan tertulis).

Satu hal yang kurang dalam berbagai definisi kontrak yang dipaparkan diatas, yaitu bahwa para pihak dalam kontrak hanya semata-mata orang perorangan. Tetapi dalam praktiknya, bukan hanya orang perorang yang membuat kontrak, termasuk juga badan hukum yang merupakan subjek hukum. Dengan demikian, definisi itu perlu dilengkapi dan disempurnakan.

75

Charles L. Knapp and Nathan M. Crystal, Problems in Contract Law : Case and Materials, (Boston/Toronto/London : Little Brown and Company,1993), p 2. Sebagaimana dikutip dalam Salim H.S, Ibid., hlm 26

Menurut Salim H.S. bahwa kontrak atau perjanjian merupakan :

“Hubungan hukum antara subjek hukum yang satu dengan subjek hukum yang lain dalam bidang harta kekayaan, dimana subjek hukum yang satu berhak atas prestasi dan begitu juga subjek hukum yang lain berkewajiban untuk melaksanakan prestasinya sesuai dengan yang telah disepakatinya”.76

Unsur-unsur yang tercantum definisi yang terakhir ini adalah sebagai berikut :77

a}Adanya hubungan hukum

Hubungan hukum merupakan hubungan yang menimbulkan akibat hukum. Akibat hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban.

b}Adanya subjek hukum

Subjek hukum, yaitu pendukung hak dan kewajiban c}Adanya prestasi

Prestasi terdiri atas melakukan sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu.

d}Dibidang harta kekayaan. b Bentuk-bentuk Perjanjian

Menurut Subekti, Undang-undang membagi perjanjian untuk melakukan pekerjaan dalam tiga macam yaitu :78

1) Perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu. 2) Perjanjian kerja/perburuhan

3) Perjanjian pemborongan pekerjaan.

Perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu adalah “suatu pihak menghendaki dari pihak lawannya dilakukan suatu pekerjaan untuk mencapai sesuatu tujuan, untuk mana ia bersedia membayar upah,

76 Ibid., hlm 27 77 Ibid. 78 R. Subekti (1), Op.Cit, hlm 57.

sedangkan apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut sama sekali terserah kepada pihak lawan itu”79

Perjanjian kerja/perburuhan adalah “suatu perjanjian antara seorang “buruh” dengan seorang “majikan” dimana perjanjian ditandai oleh ciri-ciri : adanya suatu upah atau gaji tertentu yang diperjanjikan dan adanya suatu “hubungan diperatas” (bahasa Belanda “dienstverhouding”) yaitu hubungan berdasarkan mana pihak yang satu (majikan) berhak memberikan perintah-perintah yang harus ditaati oleh orang lain.

.

80

Perjanjian pemborongan pekerjaan adalah “suatu perjanjian antara seorang (pihak yang memborongkan pekerjaan) dengan seorang lain (pihak yang memborong pekerjaan), dimana pihak pertama menghendaki sesuatu hasil pekerjaan yang disanggupi oleh pihak lawan atas pembayaran suatu jumlah uang sebagai harga pemborongan.81

Ketiga perjanjian tersebut memiliki persamaan yaitu “bahwa pihak yang satu melakukan pekerjaan bagi pihak yang lain dengan menerima upah”, sedangkan perbedaan antara perjanjian kerja dengan perjanjian pemborongan dan perjanjian menuaikan jasa yaitu “bahwa dalam

79 Ibid. 80 Ibid., hlm 58. 81 Ibid.

perjanjian kerja terdapat unsur subordinasi”. Sedang pada perjanjian pemborongan dan perjanjian menunaikan jasa ada koordinasi.82

Mengenai perbedaan antara perjanjian pemborongan dengan perjanjian menunaikan jasa yaitu “bahwa dalam perjanjian pemborongan berupa mewujudkan suatu karya tertentu sedangkan dalam perjanjian menunaikan jasa berupa melaksanakan tugas tertentu yang ditentukan sebelumnya”.83

Dilihat dari obyeknya, perjanjian pemborongan bangunan mirip dengan perjanjian lain yaitu “perjanjian kerja dan perjanjian melakukan jasa dengan sama-sama menyebutkan bahwa pihak yang satu menyetujui untuk melaksanakan pekerjaan bagi pihak yang lain dengan pembayaran tertentu”.84

Perbedaannya satu dengan yang lain ialah “bahwa pada perjanjian kerja terdapat hubungan kedinasan/kekuasaan antara buruh dan majikan”. Pada pemborongan pekerjaan dan perjanjian melakukan jasa tidak ada hubungan semacam itu, melainkan melaksanakan pekerjaan yang tugasnya secara mandiri, sedangkan perbedaannya dengan perjanjian melakukan jasa ialah “bahwa pada perjanjian untuk melakukan jasa pembayaran dilakukan dengan imbalan pembayaran upah yang tidak

82

F.X. Djumialdi, Hukum Bangunan : Dasar-dasar hukum dalam proyek dan sumber daya

manusia, Cet-I, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1996), hlm 5. (untuk selanjutnya disebut F.X. Djumialdi

2)

83

Ibid.,hlm 6

84

Sri Soedewi Masjchun Sofwan, Hukum Bangunan Perjanjian Pemborongan Bangunan, (Yogyakarta : Liberty, 1982), hlm 52.

dipersetujukan lebih dahulu antara para pihak, melainkan ditentukan berdasarkan tarif yang layak, sedang pada perjanjian kerja dan perjanjian pemborongan pembayaran dipersetujukan sebelumnya antara para pihak.85

Sebagai bentuk perjanjian tertentu maka perjanjian pemborongan tidak terlepas dari ketentuan-ketentuan umum perjanjian yang diatur dalam title I sampai dengan title IV buku III KUHPerdata. Didalam buku ke III KUHPerdata diatur mengenai ketentuan-ketentuan umum dari perjanjian yang berlaku terhadap semua perjanjian, yaitu perjanjian-perjanjian yang diatur dalam KUHPerdata maupun jenis perjanjian baru yang belum ada aturannya dalam Undang-Undang. Sebagai dasar perjanjian pemborongan bangunan diatur dalam Pasal 1601 b KUHPerdata dengan definisi yaitu Pemborongan pekerjaan adalah “perjanjian, dengan mana pihak yang satu, si pemborong, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu pekerjaan bagi pihak yang lain, pihak memborongkan, dengan menerima suatu harga yang ditentukan”.

Menurut R. Subekti, pemborongan pekerjaan (aanneming van werk) ialah “suatu perjanjian, dimana satu pihak menyanggupi untuk keperluan pihak lainnya melakukan suatu pekerjaan tertentu dengan pembayaran upah yang ditentukan pula”.86

85

Ibid., hlm 53.

Pemborongan pekerjaan merupakan

86

persetujuan antara kedua belah pihak yang menghendaki hasil dari suatu pekerjaan yang disanggupi oleh pihak lainnya, atas pembayaran sejumlah uang sebagai harga hasil pekerjaan.

Definisi perjanjian pemborongan disini kurang tepat menganggap bahwa perjanjian pemborongan adalah “perjanjian sepihak sebab si pemborong hanya mempunyai kewajiban saja sedangkan yang memborongkan hak saja”. Sebenarnya perjanjian pemborongan adalah perjanjian timbal balik hak dan kewajiban.87

Dengan demikian definisi perjanjian pemborongan yang benar sebagai berikut : pemborongan pekerjaan adalah “suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu, sipemborong, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu pekerjaan, sedang pihak yang lain yang memborong, mengikatkan diri untuk membayar suatu harga ditentukan.88

Dari definisi diatas dapat dikatakan :89

a) Bahwa yang membuat perjanjian pemborongan atau dengan kata lain yang terkait dalam perjanjian pemborongan adalah dua pihak saja yaitu : Pihak kesatu disebut yang memborongkan/prinsip/

bouwheer/aanbesteder/pemberi tugas dan sebagainya. Pihak kedua

disebut pemborong/kontraktor/rekanan/annemer/pelaksana dan sebagainya

b) Bahwa objek dari perjanjian pemborongan adalah perbuatan suatu karya (het maken van werk)

87 F.X. Djumialdi (2), Op.Cit, hlm 4 88 Ibid. 89 Ibid., hlm 5

Didalam KUHPerdata, ketentuan-ketentuan perjanjian pemborongan berlaku baik bagi perjanjian pemborongan pada proyek-proyek swasta maupun pada proyek-proyek pemerintah. Perjanjian pemborongan dalam KUHPerdata bersifat pelengkap. Artinya ketentuan-ketentuan perjanjian pemborongan dalam KUHPerdata dapat digunakan oleh para pihak dalam perjanjian pemborongan atau para pihak dalam perjanjian pemborongan dapat membuat sendiri ketentuan-ketentuan perjanjian pemborongan asal tidak dilarang oleh Undang-undang, tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan. Apabila para pihak perjanjian pemborongan membuat sendiri ketentuan-ketentuan dalam perjanjian pemborongan maka ketentuan-ketentuan dalam KUHPerdata dapat melengkapi apabila ada kekurangannya.90

Dalam dunia proyek, istilah kontrak konstruksi sering juga disebut dengan perjanjian pemborongan. Dimana istilah pemborongan dan konstruksi mempunyai keterikatan satu sama lain. Istilah pemborong memiliki cakupan yang lebih luas dari istilah konstruksi. Hal ini disebabkan karena istilah pemborongan dapat saja berarti bahwa yang dibangun tersebut bukan hanya konstruksinya, melainkan dapat juga berupa pengadaan barang saja, tetapi dalam teori dan praktek hukum kedua istilah tersebut dianggap sama terutama jika terkait dengan istilah hukum/kontrak konstruksi atau hukum/kontrak pemborongan.

90

Menurut Pasal Pasal 1 angka 6 Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, Kontrak kerja konstruksi adalah “keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi”. Sehingga dalam penyelenggaraan pengadaan di bidang konstruksi di Indonesia telah diatur secara khusus dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. Dari segi substansinya, kecuali mengenai segi-segi hukum kontrak, undang-undang ini cukup lengkap mengatur pengadaan jasa konstruksi.91

Dalam kontrak konstruksi, sebagaimana kontrak pada umumnya akan menimbulkan hubungan hukum maupun akibat hukum antara para pihak yang membuat perjanjian. Hubungan hukum merupakan hubungan antara pengguna jasa dan penyedia jasa yang menimbulkan akibat hukum dalam bidang konstruksi. Akibat hukum yaitu timbulnya hak dan kewajiban diantara para pihak. Momentum timbulnya akibat itu adalah sejak ditandatanganinya kontrak konstruksi oleh pengguna jasa dan penyedia jasa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang harus ada dalam kontrak konstruksi adalah :92

(1)Adanya subjek, yaitu pengguna jasa dan penyedia jasa. (2)Adanya objek, yaitu konstruksi.

91

Yohanes Sogar Simamora, Op. Cit, hlm 213

92

Salim H.S, Perkembangan Hukum Kontrak Innominat di Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika, 2010), hlm 91.

(3)Adanya dokumen yang mengatur hubungan antara pengguna jasa dan penyedia jasa.

Dalam kaitannya dengan pengadaan jasa konstruksi, Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 telah menggunakan istilah “pekerjaan konstruksi”, penggunaan istilah ini berbeda dengan yang digunakan dalam Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003. Dari sisi terminologi, istilah jasa pemborongan tidak tepat, sebab sejak berlakunya Undang-undang Nomor 18 tahun 1999 istilah ini tidak digunakan lagi.93 Jenis kontrak dengan objek pekerjaan jasa konstruksi adalah kontrak kerja konstruksi dan bukan kontrak pemborongan bangunan sebagaimana lazim digunakan sebelum lahirnya undang-undang ini.94

Kontrak kerja konstruksi meliputi tiga bidang pekerjaan, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan.95 Pada prinsipnya, pelaksanaan masing-masing jenis pekerjaan ini harus dilakukan oleh penyedia jasa secara terpisah dalam suatu pekerjaan konstruksi. Tujuannya adalah untuk menghindari konflik kepentingan. Dengan demikian tidak dibenarkan ada perangkapan fungsi, misalnya pelaksana konstruksi merangkap konsultan pengawas atau konsultan perencana merangkap pengawas.96

93

Yohanes Sogar Simamora, Op. Cit, hlm 214

Perkecualian terhadap prinsip ini dimungkinkan

94

Pasal 22 Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi

95

Pasal 16 Ayat (1) Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi

96

untuk pekerjaan yang bersifat kompleks, memerlukan teknologi canggih serta mengandung resiko besar, seperti pembangunan kilang minyak, pembangkit tenaga listrik dan reaktor nuklir.97

Cakupan atau layanan pekerjaan konstruksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 15 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 adalah seluruh pekerjaan yang berhubungan dengan pelaksanaan konstruksi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pekerjaan konstruksi menurut Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 meliputi 3 (tiga) bidang pekerjaan yakni : perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan konstruksi. Penggunaan istilah ini lebih sesuai dan menunjukkan konsistensi dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi sebagai produk hukum yang lebih tinggi menyangkut bidang konstruksi.

c Unsur-unsur Perjanjian Pemborongan

Dalam perjanjian pemborongan selain dikenal pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian pemborongan atau pihak-pihak dalam perjanjian pemborongan yaitu pihak yang memborongkan dengan pihak pemborong, dikenal juga pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian pemborongan. Adapun pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian pemborongan dibedakan antara pihak-pihak yang langsung terkait dalam perjanjian pemborongan dan pihak-pihak yang tidak langsung terkait dalam

97

Pasal 16 Ayat (3) Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi beserta penjelasannya.

perjanjian pemborongan seperti buruh/tenaga kerja, leveransir dan sebagainya.98

Mengenai pihak-pihak yang langsung terkait dalam perjanjian pemborongan disebut peserta dalam perjanjian pemborongan yang terdiri dari unsur-unsur :99

1) Yang memborongkan/prinsipil/bouwheer/aanbesteder/pemberi tugas dan sebagainya.

2) Pemborong/kontraktor/rekanan/aannemer/pelaksana dan sebagainya. 3) Perencana/Arsitek

4) Direksi/Pengawas

Berikut penjelasan dari unsur-unsur perjanjian pemborongan : a) Yang Memborongkan

Yang memborongkan dapat berupa perorangan maupun badan hukum baik pemerintah maupun swasta. Bagi proyek-proyek pemerintah sebagai pihak yang memborongkan adalah Departemen atau lembaga pemegang mata anggaran. Yang memborongkan yang mempunyai rencana/prakarsa memborongkan proyek sesuai dengan Surat Perjanjian Pembrongan/Kontrak dan apa yang tercantum dalam bestek dan syarat-syarat. Yang memborongkan dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan akan menunjuk seorang wakil yang memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin proyek/pemimpin bagian proyek/Kepala kantor/Kepala satuan kerja.100

b) Pemborong

Pemborong/Kontraktor Bangunan adalah perusahaan-perusahaan yang bersifat perorangan yang berbadan hukum atau badan hukum yang bergerak dalam bidang pelaksanaan pemborongan (Dewan Teknis Pembangunan Indonesia). Pemborong bisa perorangan maupun badan

98 F.X. Djumialdi (2), Op.Cit, hlm 23 99 Ibid. 100 Ibid., hlm 24

hukum, baik pemerintah maupun swasta. Bagi proyek-proyek pemerintah, pemborong harus berbadan hukum.101

Hubungan hukum antara yang memborongkan dengan pemborong diatur sebagai berikut :102

(1)Apabila yang memborongkan maupun pemborong keduanya pemerintah, maka hubungan hukumnya disebut hubungan kedinasan.

(2)Apabila yang memborongkan pihak pemerintah sedangkan pemborongnya pihak swasta, maka hubungan hukumnya disebut perjanjian pemborongan yang dapat berupa akta dibawah tangan, surat perintah kerja, surat perjanjian kerja/kontrak.

(3)Apabila yang memborongkan maupun pemborong keduanya pihak swasta, maka hubungan hukumnya disebut perjanjian pemborongan yang dapat berupa akta dibawah tangan, surat perintah kerja, surat perjanjian pemborongan/kontrak.

c) Perencana/Arsitek

Perencana dapat dari pihak pemerintah ataupun swasta (konsultan perencana). Perencana merupakan peserta namun bukan merupakan pihak dalam perjanjian. Perencana hanya mempunyai hubungan hukum dengan si pemberi kerja yang ditentukan atas dasar perjanjian tersendiri diluar perjanjian pemborongan. Hubungan kerja antara perencana dengan pemberi kerja pada pokoknya adalah bahwa perencana bertindak sebagai penasehat dan sebagai wakil boowheer dan melakukan pengawasan mengenai pelaksanaan pekerjaan.103 d) Direksi/Pengawas

Direksi bertugas untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan pemborong. Disini pengawas memberi petunjuk-petunjuk memborongkan pekerjaan, memeriksa bahan-bahan, waktu pembangunan berlangsung dan akhirnya membuat penilaian opname dari pekerjaan. Selain itu, pada waktu pelelangan pekerjaan, direksi bertugas sebagai panitia pelelangan yaitu : mengadakan pengumuman pelelangan yang akan dilaksanakan, memberikan penjelasan mengenai RKS (Rencana

101

Ibid., hlm 26

102

Ibid., hlm 29

103

Kerja dan Syarat-syarat) untuk pemborongan-pemborongan/pembelian dan membuat berita acara penjelasan, melaksanakan pembukuan surat penawaran dan membuat surat berita acara pembukuan surat penawaran, mengadakan penilaian dan menetapkan calon pemenang serta membuat berita acara hasil pelelangan dan sebagainya. Hubungan direksi dengan pemberi tugas dituangkan dengan perjanjian pemberian kuasa (Pasal 1792-1819 KUHPerdata).104

Hubungan hukum antara direksi/pengawas dengan yang memborongkan diatur sebagai berikut :105

(1)Apabila direksi dan yang memborongkan keduanya adalah pihak pemerintah, maka hubungan hukumnya disebut hubungan kedinasan.

(2)Apabila direksi pihak swasta sedangkan yang memborongkan pihak pemerintah, maka hubungan hukumnya disebut perjanjian pemberian kuasa, dimana yang memberi kuasa pihak yang memborongkan (pemerintah) sedangkan yang diberi kuasa adalah pihak direksi (swasta)

(3)Apabila direksi dan yang memborongkan keduanya adalah pihak swasta maka hubungan hukumnya disebut perjanjian pemberian kuasa.

Keempat unsur tersebut diatas sesuai dengan perkembangan dan kemajuan teknologi sebaiknya terpisah satu sama lain sehingga hasil pekerjaan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Jika keempat unsur tersebut ada didalam satu tangan disebut swakelola/eigenbeheer. Proyek-proyek pemerintah yang dilakukan secara swakelola seperti :106

(a)Proyek yang tidak bisa ditunda-tunda karena adanya bencana alam.

104

F.X. Djumialdji (1), Op.Cit, hlm 12

105

F.X. Djumialdji (2), Op. Cit, hlm 34

106

(b)Proyek-proyek yang sifatnya menyangkut segi keamanan seperti gudang penyimpanan senjata, percetakan uang negara dan sebagainya.

(c)Tidak adanya pemborong yang mau mengerjakan proyek tersebut

2. Syarat sah Perjanjian Borongan

Salah satu persoalan penting di dalam hukum perjanjian atau kontrak adalah penentuan keabsahan suatu perjanjian. Tolok ukur keabsahan perjanjian tersebut di dalam sistem hukum perjanjian Indonesia ditemukan dalam Pasal 1320 KUHPerdata.107

Pasal 1320 KUHPerdata menentukan adanya 4 (empat) syarat sahnya suatu perjanjian yaitu :

108

a. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya (de toesteming van

degenen die zich verbinden).

b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian (de bekwaamheid om

eene verbintenis aan te gaan).

c. Suatu hal tertentu (een bepaald onderwerp) ; dan d. Suatu sebab yang halal (eene geoorloofde oorzaak).

Keempat syarat tersebut selanjutnya, dalam doktrin ilmu hukum yang berkembang, digolongkan ke dalam :109

107

Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesia ; Dalam Perspektif Perbandingan (Bagian

Pertama), Cet II, (Yogyakarta : FH UII Press, 2014), hlm 167

108

Ibid., hlm 168

109

Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan yang lahir dari perjanjian, Cet I, (Jakarta

Dokumen terkait