BAB III. METODE PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
4. Kompetensi Keguruan
Untuk mengetahui penilaian kompetensi keguruan guru praktikan PPL digunakan pedoman Penilaian Acuan Patokan (PAP II), ( Masidjo, 1995 : 157), sebagai berikut.
Tingkat Penguasaan Kompetensi Kriteria Penilaian
81 – 100 % Sangat Tinggi
66 – 80 % Tinggi
56 – 65 % Cukup
46 – 65 % Kurang
Dibawah 46 % Sangat Kurang
Skor tertinggi yang mungkin dicapai 4 x 20 = 80, nilai terendah yang mungkin dicapai 1 x 20 = 20, maka dengan menggunakan penilaian model PAP II nilai batas bawah untuk masing-masing kategori di atas adalah sebagai berikut.
Rumus : Skor = Nilai Terendah + % (skor tertinggi – skor terendah) Batas bawah kategori sangat tinggi =
= 20 + 81% (80 - 20) = 68,6 = 69
Batas bawah kategori tinggi = = 20 + 66% (80 – 20)
= 59,6 = 60
Batas bawah kategori cukup = = 20 + 56% (80 – 20)
= 53,6 = 54
Batas bawah kategori kurang = = 20 + 46% (80 – 20)
= 47,6 = 48
Tabel 8 : Penilaian Kompetensi Keguruan Guru Praktikan Skor Frekuensi Frekuensi Relatif Penilaian
20 – 47 0 0 % Sangat Kurang 48 – 53 1 3,03 % Kurang 54 – 59 6 18,18 % Cukup 60 – 68 21 63,63 % Tinggi 69 – 80 5 15,15 % Sangat Tinggi 33 100 %
Dari data induk penelitian variabel kompetensi keguruan guru praktikan, didapat skor tertinggi 78 dan skor terendah sebesar 51. Dari data tersebut dapat diperoleh frekuensi relatifnya penilaian kompetensi keguruan guru praktikan sebesar 3,03% dengan kategori kurang, 18,18% dengan kategori kurang, 63,63% dengan kategori tinggi dan 15,15% dengan kategori sangat tinggi.
Berdasarkan hasil perhitungan frekuensi relatifnya, maka dapat disimpulkan bahwa kecenderungan untuk variabel kompetensi keguruan pada guru praktikan PPL Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Sanata Dharma termasuk dalam kategori tinggi.
B. Analisis Data
Untuk membuktikan hubungan antara variabel-variabel yang berkolerasi dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan digunakan teknik korelasi tata jenjang. Data yang dikorelasikan adalah data variabel bebas yang terdiri dari sikap guru praktikan, kemampuan interaksi belajar-mengajar guru praktikan dan nilai mata kuliah prasyarat Program Pengalaman Lapangan II.
Menurut Sugiyono (1999), kriteria untuk melihat adanya hubungan atau korelasi adalah nilai r atau koefisien korelasi. Nilai r yang terletak antara 0,000 – 0,199 dianggap mempunyai hubungan yang sangat rendah, nilai r antara 0,200 – 0,399 mempunyai hubungan yang rendah, nilai r antara 0,400 – 0,599 mempunyai hubungan yang sedang, nilai r antara 0,600 – 0,799 mempunyai hubungan yang kuat dan nilai r antara 0,800-1,000 mempunyai hubungan yang sangat kuat. Selanjutnya kriteria penilaian yang lain adalah nilai t untuk melihat signifikansi hubungan. Nilai t <0,05 adalah hubungan yang signifikan sedangkan nilai t >0,05 adalah hubungan yang tidak signifikan.
1. Uji Normalitas
Uji Normalitas dilakukan untuk mengetahui kondisi masing-masing variabel, apakah berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas ini digunakan analisis chi kuadrat (χ2
) dengan taraf signifikan 5 %. Kriteria pengujian normalitas yaitu jika harga χ2
hitung lebih kecil dari χ2
signifikan 5% atau signifikan value > 0.05 berarti distribusi data normal atau tidak menyimpang dari distribusi normal, demikian pula sebaliknya.Analisis Chi Kuadrat dilakukan dengan komputasi melalui program SPSS versi 11.5.
Tabel 9. Ringkasan Uji Normalitas Variabel Χ2
X tabel Signifikansi Keterangan
Sikap 15,788 21,0 0,261 Normal
Interaksi 10,788 26,3 0,822 Normal
Prasyarat 7.242 25,0 0,951 Normal
Kompetensi 40,182 23,7 0,000 Tidak
Normal
Berdasarkan hasil perhitungannya, diperoleh harga chi kuadrat hitung dari variabel sikap guru praktikan sebesar 15,788 dan lebih kecil dari harga chi kuadrat tabel sebesar 21,0 dengan taraf signifikansi sebesar 5% dan derajat kebebasan sebesar 13, maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data variabel sikap guru praktikan adalah normal.
Berdasarkan hasil perhitungannya, diperoleh harga chi kuadrat hitung dari variabel kemampuan interaksi belajar-mengajar guru praktikan sebesar 10,788 dan lebih kecil dari harga chi kuadrat tabel sebesar 26,3 dengan taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan sebesar 16, maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data variabel kemampuan interaksi belajar-mengajar guru praktikan adalah normal.
Berdasarkan hasil perhitungannya, diperoleh harga chi kuadrat hitung dari variabel nilai mata kuliah prasyarat PPL sebesar 7,242 dan lebih kecil dari harga chi kuadrat tabel sebesar 25,0 dengan taraf
signifikansi 5% dan derajat kebebasan 15, maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data variabel nilai mata kuliah prasyarat PPL guru praktikan adalah normal.
Berdasarkan hasil perhitungannya, diperoleh harga chi kuadrat hitung dari variabel kompetensi keguruan pada guru praktikan sebesar 40,182 dan lebih besar dari harga chi kuadrat tabel sebesar 23,7 dengan taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan sebesar 14 maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data variabel kompetensi keguruan guru praktikan adalah tidak normal.
2. Uji Hipotesis
a. Hipotesis pertama
Untuk menguji hipotesis pertama yang mengatakan bahwa ”terdapat hubungan yang positif antara sikap guru praktikan dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan PPL” digunakan teknik korelasi rank dari Spearman seperti yang telah dibahas pada bagian metode penelitian.
Berdasarkan pada perhitungan komputasinya, didapat nilai r hitung menghasilkan angka 0,484 antara sikap guru praktikan dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan, yang signifikan pada taraf signifikansi 10%. Angka tersebut menunjukkan nilai positif atau kuat korelasi antara sikap guru praktikan dengan kompetensi keguruan guru praktikan, tetapi akan menunjukkan
nilai negatif atau lemah korelasi jika menggunakan taraf signifikansi 5% (di bawah 0,05).
Untuk membuktikan penolakan hipotesis, selanjutnya dilakukan pengujian terhadap koefisien korelasi untuk menguji apakah nilai r signifikan atau tidak, dengan membandingkan angka probabilitas dengan taraf signifikansi 5%.
Berdasarkan hasil perhitungannya, diperoleh angka probabilitas sebesar 0,004 yang lebih kecil dari 0,05 atau signifikan value <0,05, maka Ho berhasil ditolak yang artinya ada hubungan yang positif dan signifikan antara sikap guru praktikan dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan. Jadi pernyataan yang menyatakan semakin tinggi sikap guru praktikan, maka semakin tinggi kompetensi keguruan guru praktikan, diterima.
b. Hipotesis kedua
Untuk menguji hipotesis kedua yang mengatakan bahwa ”terdapat hubungan yang positif antara kemampuan interaksi belajar-mengajar dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan PPL” digunakan teknik korelasi rank dari Spearman seperti yang telah dibahas pada bagian metode penelitian.
Berdasarkan pada perhitungan komputasinya, didapat nilai r hitung menghasilkan angka 0,541 antara kemampuan interaksi belajar-mengajar guru praktikan dengan kompetensi keguruan pada
guru praktikan, yang signifikan pada taraf signifikansi 10%. Angka tersebut menunjukkan nilai positif atau kuat korelasi antara kemampuan interaksi belajar-mengajar dengan kompetensi keguruan guru praktikan, tetapi negatif atau lemah korelasi jika menggunakan taraf signifikansi 5%.
Untuk membuktikan penolakan hipotesis, selanjutnya dilakukan pengujian terhadap koefisien korelasi untuk menguji apakah nilai r signifikan atau tidak, dengan membandingkan angka probabilitasnya dengan taraf signifikansi 5%.
Berdasarkan hasil perhitungannya, diperoleh angka probabilitas sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05 atau signifikan value <0,05, maka Ho berhasil ditolak yang artinya ada hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan interaksi belajar-mengajar guru praktikan dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan. Jadi pernyataan yang menyatakan semakin tinggi kemampuan interaksi belajar-mengajar guru praktikan, maka semakin tinggi kompetensi keguruan guru praktikan, diterima.
c. Hipotesis Ketiga
Untuk menguji hipotesis ketiga yang mengatakan bahwa ”terdapat hubungan yang positif antara nilai mata kuliah prasyarat PPL dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan PPL”
digunakan teknik korelasi rank dari Spearman seperti yang telah dibahas pada bagian metode penelitian.
Berdasarkan pada perhitungan komputasinya, didapat nilai r hitung menghasilkan angka -0,058 antara nilai mata kuliah prasyarat PPL guru praktikan dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan. Angka tersebut menunjukkan nilai negatif atau lemah korelasi antara nilai mata kuliah prasyarat PPL dengan kompetensi keguruan guru praktikan pada taraf signifikansi 5%.
Untuk membuktikan penolakan hipotesis, selanjutnya dilakukan pengujian terhadap koefisien korelasi untuk menguji apakah nilai r signifikan atau tidak, dengan membandingkan angka probabilitas dengan taraf signifikansi 5%.
Berdasarkan hasil perhitungannya, diperoleh angka probabilitas 0,747 yang lebih besar dari 0,05 atau signifikan value > 0,05, maka Ho gagal ditolak yang artinya tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara nilai mata kuliah prasyarat PPL dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan. Jadi pernyataan yang menyatakan semakin tinggi jumlah nilai mata kuliah prasyarat PPL, maka semakin tinggi kompetensi keguruan guru praktikan, ditolak.
C. Pembahasan
1. Hubungan Antara Sikap Guru Praktikan dengan Kompetensi Keguruan
Dari hasil analisis, diketahui bahwa hipotesis pertama yang menyatakan ada hubungan yang positif dan signifikan antara sikap guru praktikan dengan kompetensi keguruan berhasil ditolak, artinya ada hubungan yang positif dan signifikan antara sikap guru praktikan dengan kompetensi keguruan. Pernyataan ini berdasarkan hasil analisis koefisien korelasi hitung yang menunjukkan bahwa nilai r korelasi sebesar 0,484 atau angka probabilitas sebesar 0,004 yang lebih kecil dari 0,05 atau signifikan value < 5%. Hal ini berarti kompetensi keguruan dapat dipengaruhi dari tinggi rendahnya sikap guru praktikan dalam kegiatan proses belajar-mengajar.
Sikap adalah segi respons evaluatif, artinya respons hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Kompetensi afektif yang meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi seseorang terhadap dirinya sendiri dan orang lain, merupakan sikap dan persepsi seorang guru terhadap dirinya sendiri yang merupakan deskripsi kepribadian guru yang bersangkutan (self concept) dan pandangan dan penilaian seorang guru mengenai dirinya sendiri berdasarkan prestasinya (self-esteem).
Selain itu, keyakinan guru terhadap keefektifan kemampuannya sendiri dalam membangkitkan gairah dan kegiatan para siswanya (self efficacy) yang berhubungan dengan keterbatasan faktor di luar dirinya ketika ia mengajar, seorang guru pun diharapkan juga mampu memanipulasi (mendayagunakan) keterbatasan ruang, waktu dan peralatan yang berhubungan dengan proses belajar-mengajar (teacher efficacy atau contextual efficacy). Adapun sikap yang dimiliki seorang guru mengenai kecenderungan positif atau negatif terhadap dirinya sendiri berdasarkan penilaian yang lugas atas bakat dan kemampuannya (self acceptance attitude) yang nantinya berhubungan secara psikologis dengan sikap penerimaan terhadap orang lain (others acceptance attitude).
Dengan demikian, dari hasil analisis tersebut dapat juga dikatakan bahwa sikap guru praktikan mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan kompetetensi keguruan.
2. Hubungan antara Kemampuan Interaksi Belajar-mengajar dengan Kompetensi Keguruan
Dari hasil analisis, diketahui bahwa hipotesis kedua yang menyatakan ada hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan interaksi belajar-mengajar dengan kompetensi keguruan berhasil ditolak, artinya ada hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan interaksi belajar-mengajar dengan kompetensi
keguruan. Pernyataan ini berdasarkan hasil analisis koefisien korelasi yang menunjukkan bahwa r korelasi sebesar 0,541 atau angka probabilitas sebesar 0,001 yang lebih kecil dari taraf signifikansi 5% atau signifikan value < 5%. Hal ini berarti kompetensi keguruan dapat dipengaruhi dari tinggi rendahnya kemampuan interaksi belajar-mengajar dalam kegiatan proses belajar-belajar-mengajar.
Interaksi belajar-mengajar mengandung arti adanya kegiatan interaksi dari tenaga pengajar (guru) di satu pihak dengan warga belajar (siswa) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar di pihak lain. Kompetensi ranah karsa guru dalam kemampuan interaksi belajar mengajar guru terdiri atas kecakapan fisik umum yang direfleksikan (dan diwujudkan) dalam bentuk gerakan dan tindakan umum jasmani guru yang tidak langsung berhubungan dengan aktivitas mengajar, sesuai dengan kebutuhan dan tata krama yang berlaku dan kecakapan fisik khusus yang meliputi keterampilan-keterampilan ekspresi verbal (pernyataan lisan) dan non verbal (pernyataan tindakan) tertentu yang direfleksikan guru terutama ketika mengelola proses belajar-mengajar.
Dengan demikian, dari hasil analisis tersebut dapat juga dikatakan bahwa kemampuan interaksi belajar-mengajar mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan kompetensi keguruan.
3. Hubungan antara Nilai Mata Kuliah Prasyarat PPL dengan Kompetensi Keguruan
Dari hasil analisis, diketahui bahwa hipotesis ketiga yang menyatakan ada hubungan yang positif dan signifikan antara nilai mata kuliah prasyarat PPL dengan kompetensi keguruan gagal ditolak, artinya tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara nilai mata kuliah prasyarat dengan kompetensi keguruan. Pernyataan ini berdasarkan hasil analisis koefisien korelasi hitung yang menunjukkan bahwa r korelasi sebesar -0,583 atau angka probabilitas yang diperoleh sebesar 0,747 yang lebih besar dari taraf signifikansi 5% atau signifikan value > 5%. Hal ini berarti kompetensi keguruan tidak dapat dipengaruhi dari tinngi rendahnya jumlah nilai mata kuliah prasyarat yang diperoleh oleh guru praktikan.
Kompetensi keguruan merupakan hal yang dapat dilatih secara langsung dalam tahap pendidikan pra jabatan guru yang harus dilatihkan secara bertahap dan terintegrasi mulai dari pembentukan berbagai unsur kemampuan, penghayatan sikap dan nilai melalui berbagai mata kuliah dan kemudian dilanjutkan dalam Program Pengalaman Lapangan (PPL).
Tinggi rendahnya jumlah nilai mata kuliah prasyarat yang diperoleh oleh guru praktikan, ternyata tidak mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan kompetensi keguruan. Dalam hal ini, dapat juga dikatakan bahwa kompetensi keguruan dapat dilatih
secara tidak langsung berdasarkan ilmu pengetahuan dan wawasan yang dimiliki seorang guru praktikan di luar bangku perkuliahan, seperti membaca buku-buku pendidikan, menonton film yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan lain-lain.
Dengan demikian, dari hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa nilai mata kuliah prasyarat PPL mempunyai hubungan yang negatif dengan kompetensi keguruan.
BAB VI
KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN, SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan data-data hasil penelitian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara sikap guru praktikan dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil analisis koefisien korelasi hitung yang menunjukkan bahwa nilai r korelasi sebesar 0,484 atau angka probabilitas sebesar 0,004 yang lebih kecil dari 0,05 atau signifikan value < 5%. Hal ini berarti kompetensi keguruan dapat dipengaruhi dari tinggi rendahnya sikap guru praktikan dalam kegiatan proses belajar-mengajar.
2. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemapuan interaksi belajar-mengajar dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil analisis koefisien korelasi hitung yang menunjukkan bahwa nilai r korelasi sebesar 0,541 atau angka probabilitas sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05 atau signifikan value < 5%. Hal ini berarti kompetensi keguruan dapat dipengaruhi dari tinggi rendahnya kemampuan interaksi belajar-mengajar guru praktikan dalam kegiatan proses belajar-belajar-mengajar.
3. Tidak terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara nilai mata kuliah prasyarat PPL II dengan kompetensi keguruan pada guru praktikan. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil analisis koefisien korelasi hitung yang menunjukkan bahwa nilai r korelasi sebesar -0,058 atau angka probabilitas sebesar 0,747 yang lebih besar dari 0,05 atau signifikan value > 5%. Hal ini berarti kompetensi keguruan tidak dapat dipengaruhi dari besar kecilnya jumlah nilai mata kuliah prasyarat PPL II yang diperoleh guru praktikan.
B. Keterbatasan Penelitian
Penulis menyadari bahwa dalam melakukan penelitian dan penyajian hasil penelitian memiliki keterbatasan dan kelemahan. Beberapa keterbatasan dan kelemahan yang dihadapi penulis sebagai berikut :
1. Keterbatasan waktu, pengetahuan dan kemampuan penulis serta terbatasnya jumlah responden menyebabkan semua fakta yang ada tidak dapat diserap dengan baik.
2. Penulis tidak dapat melacak kebenaran dan kejujuran responden dalam menjawab kuesioner, namun demikian penulis tetap menggunakan data yang diperoleh dari responden.
C. Saran
1. Bagi mahasiswa
Sebagai guru praktikan, untuk menyampaikan ilmu atau pengetahuan yang akan disampaikan kepada peserta didik sebaiknya lebih menjaga sikapnya dalam proses belajar-mengajar, tidak terpaku pada ilmu yang didapat dari bangku perkuliahan saja yang nantinya sangat membantu dalam berinteraksi dengan siswa dalam proses pembelajaran serta lebih meningkatkan nilai mata kuliahnya yang diperoleh di bangku perkuliahan.
2. Bagi Universitas
Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas terutama yang akan berprofesi menjadi seorang pendidik, perlu memberikan pelatihan dan penyuluhan serta pengontrolan terhadap hasil studi mahasiswa sebagai prasyarat PPL yang lebih diperketat lagi.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
________, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin. 1988. Sikap Manusia. Yogyakarta : Liberty
________, 1999. Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Liberty
Joni, Raka T. 1984. Alat Penilaian Kemampuan Guru, Buku I : Rencana Pengajaran. Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan Lembaga Kependidikan (P2LPKTK)
________, 1984. Alat Penilaian Kemampuan Guru, Buku II : Prosedur Mengajar. Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan Lembaga Kependidikan (P2LPKTK)
________, 1984. Alat Penilaian Kemampuan Guru, Buku III : Hubungan Natar Pribadi. Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan Lembaga Kependidikan (P2LPKTK)
________, 1984. Alat Penilaian Kemampuan Guru. Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan Lembaga Kependidikan (P2LPKTK)
Masidjo. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta : Kanisius
Mouly, George J. 1973. Psychology for Effective Teaching. New York : Rinehart and Winston INC
Mulyani, Sri (2000, Januari). “Kualitas dan Profesionalitas Guru di Indonesia.” Inspirasi (30 Desember 1999)
Ober, Richard L.. 1971. Systematic Observation of Teaching an Interaction Analysis Instructional Strategi Approach. New Jersey: Prentice-Hall Inc. Samana, A. 1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta : Kanisius
Sudjana. 1996. Metode Penelitian. Bandung : Tarsito
________, 2003. Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Bandung: Tarsito.
________, 1989. Dasar-dasar Proses Belajar-Mengajar. Bandung: CV. Sinar Baru
Sugiyono. 2002. Statistik Non Parametris: Untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta
Supeno, Hedi. 1995. Potret Guru. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
Syah, Muhibbin. 2002. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Uzman, Uzer Moh. 1997. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
www.wikipedia.com. Pengenalan tentang Pedagogi.
www.usd.ac.id. Sejarah, Visi dan Misi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
KUESIONER
Nama : Angkatan : Umur : Jenis Kelamin : Tempat Praktik : Petunjuk PengisianJawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sesuai dengan keadaan sadar yang sebenarnya, dengan memberi tanda (√) pada bagian jawaban yang telah tersedia di samping pertanyaan ini dengan alternatif jawaban sebagai berikut :
SS : Sangat Setuju S : Setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju
Kuesioner Sikap Guru Praktikan
No. Butir-butir Kuesioner SS S TS STS
1 Saya ingin menjadi guru karena merasa senang dan bangga mengajar
2 Profesi guru mempunyai nilai profesionalisme yang sama dengan profesi yang lainnya 3 Profesi guru menuntut pendidikan formal
yang panjang dan latihan yang khusus
4 Saya siap dan mampu menerima kritikan dari siswa saya
5 Guru adalah orang tua kedua di sekolah, oleh sebab itu saya harus mencintai para anak didik saya
6 Saya mampu mentransfer dan menularkan nilai-nilai hidup kepada anak didik saya 7 Saya akan bertindak jujur dan disiplin karena
merupakan contoh yang baik untuk mendidik siswa secara langsung
8 Saya bertindak demokratis dan tenggang rasa kepada semua siswa
9 Saya mampu responsif terhadap kelas 10 Siswa adalah partner saya dalam PBM 11 Saya menilai siswa berdasarkan faktor yang
memadai
12 Saya cepat beradaptasi dengan kondisi kelas 13 Saya mampu menilai secara objektif
14 Saya selalu memvariasikan gaya mengajar saya, baik dalam gerak, suara dan intonasi, serta ekspresi muka
15 Saya memberi peluang kepada para siswa berkreasi dan mengajak, mendorong serta membantu siswa agar lebih maju
16 Saya mampu merekayasakan
(mendayagunakan) keterbatasan ruang, waktu dan peralatan agar mendukung proses belajar mengajar
17 Saya mencintai dan menghargai diri saya sendiri
18 Saya mencintai dan menghargai orang lain 19 Saya membuka diri terhadap perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada 20 Saya memiliki sikap yang ramah, bersahabat
Kuesioner Kemampuan Interaksi Belajar-Mengajar Guru Prakrikan PPL
No. Butir-butir Kuesioner SS S TS STS
1 Saya menyajikan materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa
2 Saya luwes dalam melaksanakan rencana dan selalu berusaha mencari pengajaran yang efektif
3 Pendekatan pengajaran saya lebih problematik sehingga siswa terdorong untuk berpikir
4 Saya menggunakan macam-macam metode yang relevan secara kreatif sesuai materi
5 Saya mampu menjelaskan isi pengajaran secara mendalam dengan mempergunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami 6 Saya memiliki pengetahuan yang luas agar
dapat memberikan informasi yang diperlukan oleh siswa
7 Saya menggunakan humor secar proporsional dalam menciptakan situasi PBM yang menarik
8 Saya menjadikan materi pelajaran menjadi lebih berguna bagi kehidupan nyata siswa 9 Saya mampu berkomunikasi dua arah dengan
baik
10 Saya melakukan bimbingan nilai-nilai sosial terhadap siswa saya
11 Saya selalu menanyakan pekerjaan rumah kepada siswa
12 Saya selalu menanyakan persoalan-persoalan siswa di kelas
13 Saya selalu membuat kesepakatan bersama dengan siswa
14 Intensitas pertemuan antara siswa dengan saya akan menciptakan proses belajar mengajar yang lebih baik
15 Saya selalu mengadakan apersepsi sebelum memasuki materi yang baru
16 Saya selalu mengucapkan terima kasih atas apa yang dikerjakan siswa
17 Saya selalu memberikan applause (penguatan) atas prestasi tingkah laku positif siswa
19 Saya melakukan kontak mata secara merata kepada seluruh kelas dengan sopan
20 Saya melakukan variasi dalam penyajian pengajaran, baik dalam gaya mengajar, pola interaksi dan penggunaan media
NILAI MATA KULIAH PRASYARAT PPL II PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI (PAK) JPIPS, FKIP, UNIVERSITAS SANATA DHARMA
No. Mata Kuliah Nilai
1 Pengantar Pendidikan
2 Psikologi Belajar dan Pembelajaran 3 Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling 4 Manajemen Sekolah
5 Perencanaan Pengajaran
6 Strategi Pembelajaran Ekonomi 7 Evaluasi Pengajaran
8 Program Pengalaman Lapangan I / Pengajaran Mikro 9 Akuntansi Keuangan Dasar I
10 Akuntansi Keuangan Dasar II 11 Akuntansi Keuangan Menengah I 12 Akuntansi Keuangan Menengah II 13 Pengantar Bisnis
14 Pengantar Manajemen 15 Manajemen Pemasaran 16 Pengantar Ilmu Ekonomi Makro 17 Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro 18 Statistika
19 Hukum Dagang / Perdata 20 Hukum Pajak
Kuesioner Kompetensi Keguruan pada Guru Praktikan PPL
No. Butir-butir Kuesioner SS S TS STS
1 Saya menunjukkan kejujuran dan kesediaan bertanggung jwab
2 Saya mempersiapkan pengajaran dengan baik, melakukan pengajaran dengan baik dan juga melakukan evaluasi mengenai pelaksanaan pengajaran
3 Saya bersikap bersahabat dan terampil berkomunikasi
4 Saya senantiasa melatih ketrampilan dasar keguruan saya
5 Saya menghargai pribadi orang lain yang berbeda dengan diri saya
6 Saya ikut berperan serta dalam berbagai