• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA

C. Komplikasi-komplikasi Bedah Sesar dan Terapinya

3. Anemia

Anemia merupakan kelainan sel darah merah yang paling umum dan merupakan masalah yang sering dijumpai pada pelayanan klinis. Anemia didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin <12 gram/dl atau nilai hematokrit <36 % pada wanita dan konsentrasi hemoglobin <14 gram/dl atau nilai hematokrit <42 % pada pria. Gejala dan tanda non-spesifik yang berkaitan mencakup rasa lemah, letih, pucat, dispnea, palpitasi dan terkadang angina pektoris atau gagal jantung kongestif (Skoch, Daley, dan Forsmark, 1996).

b. Penyebab

Kemungkinan terjadinya anemia pada kasus bedah sesar disebabkan oleh adanya pendarahan antepartum maupun postpartum yang tidak segera diatasi. Jumlah perdarahan sebanyak 25-30% dari volume darah dalam waktu singkat dapat menimbulkan keadaan syok dan dapat menyebabkan kematian. Keadaan-keadaan yang mungkin timbul adalah tekanan darah akan menurun, nadi meningkat, pernapasan cepat dan dangkal, tekanan darah sentral menurun, dan produksi urin semakin menurun (Manuaba,1999). Selain disebabkan oleh pendarahan, anemia pada pasien bedah sesar dapat juga disebabkan adanya kekurangan gizi selama ibu mengandung.

c. Terapi

Transfusi darah tidak dapat dipisahkan dari bagian obstetrik dan ginekologi, karena komplikasi pendarahan dapat menjadi penyebab kematian utama. Untuk menolong jiwa penderita dapat diberikan cairan pengganti berupa

tranfusi darah untuk mengembalikan volume darah (Manuaba, 1999). Selain dengan tranfusi darah, anemia karena adanya kekurangan gizi pada ibu hamil dapat diatasi dengan pemberian vitamin dan beberapa mineral yang penting untuk metabolisme. Vitamin merupakan senyawa organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil untuk mempertahankan kesehatan dan seringkali bekerja sebagai kofaktor untuk enzim metabolisme (Ganiswara, Rosmiati, dan Wardhini, 2001). Vitamin adalah zat organik yang dalam jumlah kecil sekali essensial guna memelihara fungsi pertukaran zat yang normal dalam tubuh (Anief, 2003). Mineral merupakan senyawa anorganik yang merupakan bagian penting dari enzim, mengatur berbagai fungsi fisiologis, dan dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan termasuk tulang (Ganiswara, Rosmiati, dan Wardhini, 2001).

Sumber vitamin dan mineral yang paling baik ialah makanan, sehingga orang sehat yang makanannya bermutu baik, sudah mendapat jumlah vitamin dan mineral yang cukup. Akan tetapi individu dengan diet rendah kalori, yaitu kurang dari 1200 kalori/hari seringkali asupan vitaminnya kurang dan memerlukan tambahan. Selain terdapat dalam makanan, vitamin juga dapat diberikan dalam bentuk murni sebagai sediaan tunggal atau kombinasi. Sediaan untuk tujuan profilaksis harus dibedakan dari sediaan untuk tujuan pengobatan defisiensi (Ganiswara, Rosmiati, dan Wardhini, 2001).

d. Penggolongan vitamin

Vitamin larut air disimpan dalam tubuh hanya dalam jumlah terbatas dan sisanya dibuang, sehingga untuk mempertahankan saturasi jaringan maka

vitamin larut air perlu sering dikonsumsi. Meskipun demikian, pemberian vitamin larut air dalam jumlah berlebihan selain merupakan pemborosan, juga mungkin menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Sebaliknya vitamin larut lemak dapat disimpan dalam jumlah banyak, sehingga kemungkinan terjadinya toksisitas jauh lebih besar daripada vitamin larut air (Ganiswara, Rosmiati, dan Wardhini, 2001).

Penggolongan vitamin berdasarkan kelarutannya, yaitu:

1) vitamin yang larut dalam air: tiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), piridoksin (vitamin B6), nikotinamida, asam folat, asam pantotenat, asam para-aminobenzoat, biotin (vitamin H), rutin, sianokobalamin (vitamin BB12), asam askorbat (vitamin C).

2) vitamin yang larut dalam lemak: vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin K (Anief, 2003).

Sediaan vitamin untuk pengobatan hanya diperlukan untuk terapi penyakit defisiensi vitamin dan terapi suportif pada keadaan patologik di mana kebutuhan makanan sangat meningkat misalnya pada alkoholisme dan kaheksia pasca bedah (Ganiswara, Rosmiati, dan Wardhini, 2001)

4. Komplikasi-komplikasi Lain Bedah Sesar dan Terapinya a. Oksitosin

Oksitosik adalah obat yang merangsang kontraksi uterus (Ganiswara, Syarif, dan Muchtar, 2001). Oksitosik adalah obat yang digunakan untuk merangsang otot polos uterus dan kelenjar susu (mamae). Khasiatnya adalah kontraksi uterus dan stimulasi mulainya laktasi. Penggunaan oksitoksik dalam

obstetrika atau ilmu kebidanan antara lain menstimulir mulai his, bila ada kelemahan his; dan setelah bersalin untuk mencegah perdarahan yang banyak (Anief, 2003).

Banyak obat memperlihatkan efek oksitosik, tetapi hanya beberapa saja yang kerjanya cukup selektif dan dapat berguna dalam praktek kebidanan. Obat yang bermanfaat itu adalah oksitosin dan derivatnya, alkaloid ergot dan derivatnya, dan beberapa prostaglandin semisintetik. Obat-obat tersebut memperlihatkan respon bertingkat (graded response) pada kehamilan, mulai dari kontraksi uterus spontan, ritmis sampai kontraksi tetani (Ganiswara, Syarif, dan Mucthar, 2001).

Kepekaan pasien terhadap oksitosin sangat berbeda dan bergantung pada banyak faktor, akan tetapi terutama bergantung pada perbandingan kadar estrogen dan gestagen. Estrogen meningkatkan keterangsangan dan aktivitas spontan uterus. Gestogen menyebabkan uterus lebih tidak peka terhadap oksitosin. Khasiat oksitosin rendah pada awal kehamilan karena nisbah estrogen-gestagen rendah. Menjelang akhir kehamilan estrogen diproduksi dalam jumlah yang lebih besar oleh plasenta, yang mensensibilisasi otot uterus terhadap oksitosin. Di samping itu ketegangan dinding uterus akibat pertumbuhan fetus yang cepat secara refleks menyebabkan meningkatnya pembebasan oksitosin (Mutschler, 1991).

Oksitosin tidak hanya menyebabkan kontaksi otot uterus, melainkan juga otot polos kelenjar buah dada. Dengan demikian air susu ditekan dari ujung saluran menuju ke saluran pengeluaran. Pembebasan oksitosin dari hipofisis

terjadi secara refleks ketika bayi menyusu, karena itu oksitosin juga diindikasikan untuk meningkatkan pengosongan air susu, misalnya pada penyumbatan air susu atau pada mastitis puerperalis (Mutschler, 1991).

Secara menyeluruh indikasi oksitosin, antara lain:

1) membantu memulai proses melahirkan pada pecah ketuban sebelum waktunya, keluar plasenta sebelum waktunya, preeklamsia, eklamsia serta pada transfusi.

2) selama proses melahirkan pada kelemahan kontraksi. 3) untuk kontaksi uterus setelah operasi sesar.

4) dalam periode setelah melahirkan untuk mengeluarkan plasenta, untuk mengurangi hilangnya darah dan untuk profilaksis dan juga mengatasi toni uterus (Mutschler, 1991).

Selain indikasi oksitosin, terdapat pula beberapa indikasi utama dari alkaloid ergot terutama pada periode setelah melahirkan, seperti pada keluarnya plasenta yang diperlambat; pendarahan setelah plasenta keluar; pembendungan pengeluaran darah pada waktu haid; dan kurangnya pembentukan kembali uterus pada nifas (Mutschler, 1991).

b. Cairan Elektrolit

Dalam keadaan normal, tubuh akan selalu kehilangan air berikut elektrolit melalui urin, feses dan perspiratio insensibilis atau paru-paru serta kulit, dan digantikan dengan air yang didapat tubuh melalui makanan, minuman dan hasil oksidasi proses metabolisme (Manuaba, 1999).

Menurut Manuaba (1999), cairan tubuh manusia terbagi dalam:

1) cairan ektraseluler (CES), 20%, dengan perincian cairan plasma 5% BB dan cairan interstitial 15% BB.

2) cairan intraseluler (CIS), 40%. 3) cairan transeluler (CTS), 1-3% BB.

Banyaknya cairan tubuh pada pria dewasa yaitu 60-65% BB, pada wanita dewasa 55-60% BB dan pada anak-anak 65-80% BB.

Pendarahan yang cukup banyak akan menimbulkan perubahan cairan tubuh dan metabolismenya, sehingga dapat mengganggu sistem tubuh secara keseluruhan. Dalam bidang Obstetri dan Ginekologi, kehilangan cairan tubuh disebabkan oleh:

a) dehidrasi, karena intake yang kurang pada saat persalinan yang berlangsung lama atau pada persalinan terlantar dan hiperemesis gravidarum karena kurang minum dan makan. Untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, diperlukan intake cairan sebanyak 2.000 cc per hari, sehingga fungsi organ dapat berlangsung dengan baik. Cairan yang diberikan adalah kombinasi

Ringer laktat, Ringer dextrosa, dextrosa atau chloret.

b) pendarahan karena abortus atau keguguran, mola hidatidosa, kehamilan ektopik terganggu, perdarahan antepartum, trauma persalinan, perdarahan postpartum, dan tindakan bedah. Pendarahan menyebabkan hilangnya sejumlah darah yang berfungsi dalam pembuluh darah, menyebabkan penurunan tekanan darah vena sentral dan perifer, dan meningkatnya nadi

sebagai kompensasi. Dalam keadaan yang lebih serius, produksi urin semakin berkurang. Bila keadaan ini tidak segera diatasi, maka akan menarik cairan interstitial (Manuaba, 1999).

Larutan elektrolit diberikan intravena untuk memenuhi kebutuhan normal akan cairan dan elektrolit atau untuk menggantikan kekurangan yang cukup besar atau kehilangan yang berkelanjutan, untuk penderita yang mual dan muntah dan tidak dapat memenuhi kebutuhannya melalui mulut (Anonim, 2000a).

Dokumen terkait