III. METODOLOGI PENELITIAN
4.3 Tengkorak band dan Sosiali sasi Audiens
4.3.3 Konstruksi Identitas Audiens Tengkorak band
Aries Zona Febrian atau biasa dipanggil dengan nama Gomes adalah seorang penggemar Tengkorak band yang lahir pada tahun 1989. Ia merupakan lulusan sebuah sekolah menengah kejuruan di wilayah Karawang, Jawa Barat. Saat ini, Gomes terpaksa kehilangan pekerjaan dari tempatnya bekerja akibat dampak krisis global yang melanda tempatnya bekerja dua tahun lalu. Kegiatannya sehari-hari lebih banyak membantu orang tuanya dengan menjaga adik perempuannya di rumahnya di Ciranggon, Karawang, Jawa Barat.
Sebagai produk sosial, pada dasarnya musik rock underground telah hadir di wilayah penghasil beras tersebut sebelum Gomes memasuki pendidikan sekolah menengah pertama (SMP). Menurut Gomes, anak-anak muda di lingkungannya yang tergabung dalam komunitas Ciranggon Bergerak Gerakan Bawah (CBGB) sering berkumpul setiap Jumat malam di warung tidak jauh dari rumah tetangganya yang
bernama Ewok, seorang anak muda yang menjadi pusat informasi karena banyak memiliki pengetahuan tentang musik rock underground. Mereka menghabiskan waktu sambil memutar musik rock underground melalui perangkat elektronik yang tersedia. Gomes mengatakan bahwa musikrock undergroundmenjadi pelumas sosial dalam interaksi tersebut dimana Tengkorak band adalah salah satu wacana utama dalam interaksi sosial ini karena memiliki audiens yang besar di kalangan penggemar musikrock underground.
Gomes sendiri mengaku bahwa pada awalnya ia hanya ikut kumpul bersama teman- teman sekitar rumahnya dan tidak mengerti sama sekali tentang jenis musik rock undergroundyang dimainkan oleh Tengkorak band. Berikut penuturannya:
”Yah..biasa-biasa aja gitu waktu pertama denger om. Saya tanya sama si Ewok, ini musik apa sih wok? Lu mah gak bakalan ngerti dehceuna
dengerin musik ginian mah. Ya udah dengerin aja. Ya, nggak sempet langsung suka gitu om. Nggak ngerti dan belum paham banget.”
Memasuki bangku kelas 3 SMP tahun 2003, interaksi Gomes dengan EW dan teman-teman lainnya dalam komunitas CBGB semakin intensif. Rasa ketertarikannya akan musik rock underground juga semakin tinggi, sementara waktu menyaksikan televisi bersama keluarga mulai kurang menarik bagi dirinya. Setiap lepas sholat Maghrib, ia sering berkunjung ke rumah Ewok untuk mendengarkan musik rock underground. Di sinilah momen pertama Gomes mendengar lagu ”Konflik” milik Tengkorak band yang ada dalam kaset kompilasi Metalik Klinik 1 produksi Musica Records. Dari sekian banyak lagu rock underground yang diputar kaset kompilasi tersebut, ia tertarik dengan Tengkorak band. Sejak itu, Gomes mulai mengenal Tengkorak band dan menemukan dunia lain selain keluarganya, sub dunia musikrock undergroundmulai masuk dalam kehidupan sehari-harinya.
Adanya fenomenapeer pressuredalam interaksi Gomes dengan komunitasnya semakin mendorong Gomes untuk mengetahui lebih jauh musik rock underground
yang dimainkan Tengkorak band. Berikut pengakuan Gomes mengenai peer pressure:
”Heeh..sering dengerin terus sering kumpul bareng sama temen gitu. Didoktrin sama temen. Wah, pokoknya gitu...apa....pamer-pamer melulu lah, musik kita nih laki banget gitumachobanget.”
Dari hubungan informal peer group ini, Gomes juga mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan musik rock underground dari Ewok dan teman-teman lainnya. Mulai dari ideologi sampai simbol-simbol signifikan yang terdapat dalam
rock underground. Akan tetapi, Gomes menyatakan bahwa dalam hal cara berpakaian ia lebih banyak mempelajarinya dari foto-foto personil band yang ada cover kaset dan majalah khusus musik, bukan melalui interaksi dengan sesama teman dalampeer group. Sedangkan aktivitas slamming, yang biasa dilakukan saat pertunjukan berlangsung, dipelajari secara langsung dalam sebuah pertunjukan musik rock undergroundyang diselenggarakan di Gelanggang Olah Raga Karawang.
Turning point Gomes semakin menyukai Tengkorak band adalah pada saat menyaksikan pertunjukan Tengkorak band tahun 2003 di Senayan, Jakarta. Keingintahuan, kekaguman serta keinginan untuk mereduksi tekanan emosinya yang terpendam melatarbelakangi ia menghadiri pertunjukan Tengkorak band. Berikut pernyataan Gomes:
“Waktu nonton di Senayan. Wah, chaos banget nih Tengkorak
manggungnya. Di situ sukanya oom, jadi ah…gila banget. Liriknya juga pemberontakan-pemberontakan gitu, resis sama pemerintahan. Nggak mau tertindas gitu.”
Gomes menyukai Tengkorak band karena musik, isi lirik, dan orasi vokalis Tengkorak band di atas panggung cocok dengan jiwanya. Ia mengungkapkan bahwa ketiga elemen tersebut dapat merefleksikan realitas sosial yang ia lihat dan rasakan selama ini. Musik yang dihasilkan serta orasi vokalis Tengkorak band sebelum tampil, menjadi pengantar kepada dirinya dalam mengirimkan pesan dalam lirik lagu. Gomes melegitimasi makna pesan dari Tengkorak band, sehingga terjadi konvergensi ideologi antara Tengkorak band dengan dirinya. Ia menangkap bahwa inilah dunia musik dimana sesuai dengan pemikirannya.
Sebagai perwujudan bahwa dirinya merupakan penggemar Tengkorak band, Gomes mengekspresikan kekagumannya dengan mengoleksi hasil karya Tengkorak
band mulai dari album Tengkorak band baik dalam format kaset maupun cd, serta t- shirt, sampai dengan stiker. Artefak-artefak ini menjadi penting bagi Gomes bukan saja karena menjadi tanda bahwa ia merupakan bagian dari audiens Tengkorak band namun juga di dalamnya terdapat simbol-simbol signifikan yang memiliki makna subyektif baginya maupun produsennya.
Ketika ditanya simbol-simbol signifikan apa saja yang bermakna, Gomes menyebutkan simbol-simbol tersebut antara lain lagu dan lirik, ilustrasi pada t-shirt
dan cover kaset serta aktivitas slamming dan orasi sang vokalis. Lagu Konflik yang terdapat dalam salah satu koleksi kasetnya dan juga menjadi lagu favoritnya memiliki makna kritik terhadap para pelajar yang terlibat dalam tawuran. Bagi Gomes, lagu ini seolah merepresentasikan fenomena tawuran antarpelajar yang sering terjadi di Karawang. Sedangkan aktivitas slamming yang dilakukannya pada saat pertunjukan baginya memiliki makna luapan emosi dirinya. Sementara itu, Gomes menyetujui orasi vokalis Tengkorak band sebelum membawakan lagu ”Boycott Israel”, orasi tersebut menunjukkan arogansi politik luar negeri Amerika dan Israel di wilayah Timur Tengah, terutama di wilayah Palestina.
Gomes menyadari bahwa semua simbol-simbol signifikan yang terdapat dalam hasil karya Tengkorak band merupakan bentuk komunikasi simbolik. Simbol- simbol signifikan yang dimaksud di sini adalah lagu dan liriknya, orasi, aktivitas
slamming serta ilustrasi pada t-shirt Tengkorak band. Simbol-simbol tersebut merupakan suatu produksi makna dari proses-proses subyektif para personil Tengkorak band. Sebagai penggemar, Gomes mengidentifikasikan dirinya dengan Tengkorak band. Ia secara aktif menyerap makna-makna yang terkandung dalam lagu dan lirik, orasi, serta ilustrasi yang ada sehingga makna-makna yang dilegitimasinya mengkonstruksi pemikiran atau cara pandangnya terhadap dunia.
Ia memahami identitas dirinya sebagai penggemar Tengkorak band yang mencoba untuk berpikir kritis dan tidak terpengaruh budaya negatif musik rock underground seperti mengkonsumsi narkoba, menghiasi tubuhnya dengan tato, memberontak terhadap orang tua maupun melakukan seks sebelum nikah. Meski demikian, Gomes tidak selalu melegitimasi simbol-simbol signifikan yang
diproduksi Tengkorak band. Berikut pernyataannya mengenai simbol signifikan salam satu jari:
“Yang saya rasain, metal itu satu kesatuan. Semuanya sama rata dan nggak ada yang dibedain.”
Untuk simbol signifikan salam satu jari, Gomes mengaku sama sekali tidak memahami makna simbol signifikan tersebut. Menurutnya, salam dua, tiga, atau pun satu jari di dalam rock underground tidak memiliki perbedaan makna yang signifikan. Akan tetapi, Gomes menegaskan bahwa hal tersebut tidak mengurangi rasa kagumnya terhadap Tengkorak band. Ia menegaskan salah satu alasan ia mengidentifikasi dirinya dengan Tengkorak band adalah karena keinginan untuk memiliki band seperti Tengkorak band dan mereproduksi kembali simbol-simbol signifikan tersebut di Karawang, Jawa Barat. Secara skematis, proses konstruksi identitas Gomes dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 10. Skema Proses Konstruksi Identitas Audiens 1 Keluarga (-) Sekolah (+) Peer group (+) Media massa (+) Audiens 1 Ketidakpuasan (+) Katarsis (+) Tengkorak band Lirik (+) Ilustrasi (+) Orasi (+) Salam satu jari (-)
Audiens identitas “abu-abu” PROSES SOSIALISASI
2. Audiens 2 (Audiens berpikiran kritis)
Maraja Saimima, atau biasa dipanggil dengan Aja, adalah seorang penggemar Tengkorak band yang berstatus sebagai pelajar kelas 2 bekasi SMAN 5 Bekasi. Ia lahir di Jakarta 16 tahun lalu dan saat ini masih tinggal bersama kedua orang tuanya di wilayah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Menurut Aja, keluarganya belum memiliki tempat tinggal yang tetap, sehingga mereka harus mengontrak rumah untuk berdiam diri. Mulai dari wilayah Ciputat, Kalibata, sampai dengan area Ciranggon, Karawang, Jawa Barat pernah menjadi tempat tinggalnya.
Aja mengatakan bahwa perkenalannya dengan musik rock underground
pertama kali dimulai pada tahun 2001 saat ia masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Saat itu ia masih tinggal bersama orang tuanya di salah satu wilayah Ciranggon, Karawang, Jawa Barat. Di sinilah ia mendengar musikrock underground
dari kaset kompilasi musik underground Metalik Klinik 1 produksi Musica Records milik kakak kandungnya yang bernama Abdul. Menurut Aja, Abdul cukup sering memutar kaset kompilasi Metalik Klinik 1 ketika berada di rumah dan pada saat berkumpul dengan teman-temannya di lingkungan rumahnya. Aja mengatakan bahwa sejak ia tinggal di Ciranggon, lingkungan sekitarnya sudah dipenuhi oleh anak-anak muda yang menyukai musik rock underground. Namun, saat pertama kali mendengarkan musik tersebut Aja belum dapat menikmatinya. Pada waktu itu, ia lebih dapat menikmati lagu-lagu dari musik rock mainstream. Berikut pengakuan Aja:
”Ya pertamanya dengar gak jelas gitu....apaan nih? Waktu itu dengerinnya Jamrud band melulu sih...he-he-he.”
Ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), Aja mengatakan mulai lebih sering mendengarkan Metalik Klinik 1 karena lingkungan pergaulan di sekolah juga dipenuhi para pelajar yang menggemari musik rock undergound. Ia mengaku dari kaset kompilasi tersebut mulai mengetahui Tengkorak band dengan lagunya ”Konflik”. Namun, ia belum memperhatikan secara detail lagu Tengkorak band itu, hanya mendengar secara sepintas saja tanpa ada kesan sedikit pun.
Uniknya, Aja menyatakan bahwa turning point ia menyukai Tengkorak band itu terjadi bukan dari Tengkorak band sendiri, melainkan ketika ia menyaksikan
Gomes dan teman-temannya tampil menyanyikan lagu ”Konflik” milik Tengkorak band di suatu pertunjukan musik di Karawang. Aja sangat terkesan dengan musik, lirik, serta gaya vokal dari lagu tersebut. Bagi Aja, musik Tengkorak band, gaya vokal dan lirik yang diproduksi terasa pas di jiwanya yang sedang dalam masa peralihan dari sosialisasi primer ke arah sosialisasi sekunder. Aja mengatakan bahwa alasan dirinya menyukai Tengkorak band disebabkan karena musik, lirik, suara vokal & sikap personilnya. Berikut penuturan Aja:
“Musiknya enak & liriknya sosial politik banget, beda sama yang lain. Vokalnya bagus & personilnya jg baik-baik.”
Situasi ini menunjang terjadinya peningkatan interaksi antara dirinya dengan
peer group serta mobilitas dalam rutinitas sehari-hari. Sedangkan waktu bersama kedua orang tuanya mulai berkurang begitu pula dengan kebiasaannya menggunakan media. Ia pun semakin intens mendengarkan Tengkorak band dan berinteraksi dengan Gomes dan teman-temannya. Dari Gomes, ia banyak belajar dari tentang musik rock underground dan pengalaman dalam bermusik seperti aktivitas slamming dan cara berpakaian. Selain itu, Musik rock underground menjadi bagian penting dalam rutinitas sehari-harinya. Aja mulai menemukan sebuah subdunia di luar dunia orang tuanya dengan melegitimasi makna simbol-simbol signifikan produksi Tengkorak band.
Sebagai penggemar Tengkorak band, Aja mewujudkan rasa kagumnya dengan mengumpulkan berbagai artefak yang berkaitan dengan Tengkorak band, mulai dari cd, kaset, t-shirt, poster, sampai dengan stiker. Untuk kaset, Aja memiliki album Metalik Klinik 1 dan Its a Proud to Vomit Him. Sedangkan dalam format cd ia memiliki album Konsentrasi Massa, Darurat Sipil, dan Agenda Suram. Selain itu, Aja juga memiliki vcd Release from Suffering dari Tengkorak band. Baginya, semua artefak tersebut menjadi simbol-simbol signifikan yang menjadi tanda bahwa dirinya merupakan bagian dari audiens Tengkorak band dan mengantarnya pada tindakan tertentu.
Aja mengaku bahwa ia tidak begitu memahami makna dari lirik lagu Agenda Suram meskipun lagu tersebut merupakan lagu favoritnya. Begitu juga dengan ilustrasi pada t-shirt dan cover kaset Agenda Suram, meskipun ia memiliki kedua artefak itu, kepada penulis Aja mengaku belum dapat memahami maknanya. Namun ia juga menyukai lagu lainnya yang sesuai dengan jiwanya seperti Jihad Soldiers, Konflik, Rusuh, Pemimpin Gila, dan United State of ASU. Menurut Aja, orasi vokalis Tengkorak band sebelum membawakan sebuah lagu yang dapat memudahkan dirinya untuk memahami isi lirik lagu. Aja mengakui orasi yang sangat sesuai dengan pemikirannya adalah orasi vokalis Tengkorak band yang mengkritik kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Sementara itu, ia menyatakan bahwa makna stiker dan poster agar menunjukkan bahwa dirinya adalah salah seorang penggemar Tengkorak band. Berikut penuturannya:
”Stiker ditempelin di gitar. Ya kalo bukti nge-fans aja gitu....masak nge-fans nggak punya atributnya. Poster tengkorak band album ”Konsentrasi Massa” saya pasang di tembok kamar. Harus punyalah....nge-fans masak nggak ada!...he-he.”
Aja menambahkan bahwa pada saat menyaksikan Tengkorak, ia juga sering melakukan aktivitas slamming sebagai bentuk apresiasi kepada Tengkorak band. Kepada penulis ia mengaku bahwa makna aktivitasslamming adalah menghilangkan stress atau membebaskan beban pikiran dari tekanan pelajaran sekolah yang tinggi. Menurutnya, setelah melakukan aktivitas slamming, pikirannya terasa bebas. Singkatnya aktivitas slamming menjadi sebuah katarsis. Satu lagi simbol signifikan produksi Tengkorak band yang memiliki makna bagi Aja adalah salam satu jari. Simbol ini muncul paling akhir dalam kehidupannya, namun memiliki makna paling signifikan karena bagi Aja salam satu jari memiliki makna ketaatan kepada sang Pencipta yaitu Ketuhanan yang maha esa.
Aja menyadari bahwa simbol-simbol signifikan tersebut merupakan suatu produksi makna dari proses-proses subyektif para personil Tengkorak band. Oleh karena itu, sebagai penggemar, Aja mengidentifikasikan dirinya dengan Tengkorak band. Ia secara aktif menyerap makna-makna yang terkandung dalam lagu dan lirik,
serta orasi yang sering disuarakan vokalis Tengkorak. Makna-makna yang dilegitimasi olehnya secara tidak langsung ikut mengkonstruksi pemikiran atau cara pandangnya terhadap dunia sehari-hari. Oleh karena itu, ia sangat menyetujui pemikiran Tengkorak band yang disimbolisasi melalui salam satu jari. Berikut penuturan Aja.
“Saya setuju, Dengan adanya salam satu jari bisa menimbulkan hal- hal positif om buat para penikmat musik underground. InsyaAllah mereka bisa berubah, dari yang sesat kembali ke jalan yang benar om. Tp itu tergantung individunya, karena dengan adanya salam satu jari menimbulkan berbagai opini tuh om. Ada yg setuju ada yang enggak. Bagi yg gak setuju, mungkin yg sejak awal suka band-band metal tiga jari jd membenci band-band metal satu jari setelah muncul salam satu jari. Tapi saya mah setuju om dgn adanya salam satu jari.”
Menurut Aja, pengetahuan yang ia serap dari simbol-simbol signifikan Tengkorak band sedikit banyak mempengaruhi sikapnya dalam mengambil tindakan. Sebagai pelajar, ia memang tidak setuju dengan aktivitas tawuran, lebih dari itu, ia juga berusaha tidak melakukan korupsi nantinya jika ia bekerja. Sedangkan , sebagai penggemar Tengkorak band, simbol satu jari menjadikannya lebih kritis dalam memandang simbol-simbol signifikan yang ada dalam musik rock underground itu sendiri. Aja mengaku tidak merokok, menggunakan obat-obatan terlarang dan minuman keras, terlibat tawuran serta seks bebas karena tidak tertarik. Selain itu, agama masih menjadi filter baginya dalam menjauhkan hal-hal negatif tersebut darinya.
Ia pun mengaku bahwa dirinya ingin sekali dapat memiliki kelompok musik seperti Tengkorak band yang menyuarakan pesan-pesan positif melalui penampilan di atas panggung sehingga ia berharap dapat menyebarluaskan kepada teman- temannya. Untuk lebih mudahnya, secara skematis proses konstruksi identitas Maraja Saimima dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 11. Skema Proses Konstruksi Identitas Audiens 2
3. Audiens 3 (Audiens berpikiran kritis)
Handy Hariyanto atau biasa dipanggil Andy merupakan penggemar Tengkorak band yang lahir di Tangerang 23 tahun yang lalu. Sehari-hari Andy bekerja pada sebuah pabrik produksi gitar yang terkemuka di Jakarta. Sampai saat ini, Andy belum berkeluarga dan saat ini ia masih tinggal bersama orang tuanya di daerah Rawa Lumbu, Bekasi. Ayah Andy adalah seorang Slankers sementara ibunya mengurus rumah tangga. Andy memiliki band rock underground bernama Vagintor dan seringkali membawakan lagu Konflik dari Tengkorak band pada berlatih bersama.
Andy mengutarakan bahwa pada dasarnya musik, terutamarock underground, sudah ia dengar sejak ia masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, hal ini disebabkan oleh banyaknya anak-anak muda sering berkumpul sambil
Keluarga (+) Sekolah (+) Peer group (+) Media massa (+) Audiens 2 Ketidakpuasan (+) Katarsis (+) Tengkorak band Lirik (+) Ilustrasi (-) Orasi (+) Salam satu jari (+)
Audiens berpikiran kritis PROSES SOSIALISASI
mendengarkan musik rock underground yang diputar melalui perangkat pemutar musik portabel di lingkungan sekitar rumahnya. Selain memiliki band, menurut Andy, anak-anak muda tersebut adalah teman-teman kakak kandungnya dan berusia lebih tua dari dirinya. Akan tetapi, Andy mengaku bahwa pada saat itu belum memahami jenis musik yang sering diputar kakak kandung dan teman-temannya, ia hanya sebatas mendengar & mengetahui eksistensi musik tersebut.
Memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), Andy mengatakan bahwa ia mulai banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman sepergaulannya, terutama teman satu meja di sekolahnya. Interaksi mereka tidak hanya berlangsung di sekolah saja, namun juga di luar sekolah. Tidak hanya pelajaran sekolah, mereka juga sering berdiskusi masalah musik sehingga ia mulai menyukai Tengkorak band saat mendengar teman satu mejanya memutar lagu ”Konflik” Tengkorak band dari kaset kompilasi Metalik Klinik 1. Menurut Andy saat mendengar lagu Konflik, ia merasa tersentuh oleh isi liriknya. Berikut penuturan Andy:
”Pertama kali kenal musik underground dan gue jatuh hati sama Tengkorak band pas gue dengerin kaset Metalik Klinik 1 yang judulnyaKonflik, kepunyaan temen sebangku kelas 1 SMP. Waktu pas gue suka itu pas lagu Konflik deh. Kalo menurut gue itu masalah tawuran kan? Jadi, gue dalam-dalamin kayaknya kalo kayak gitu-gitu orang yang gak punya nyali. Kayaknya lagu walaupun keras...cadas kayak gini, jadi ada masukan buat orang gitu lho. Diri gue sendiri, gue ngaca sendiri lho.”
Sebagai pelajar yang sering ikut dalam aksi tawuran antarsekolah, Andy merasa mendapat kritik dan masukan dari Tengkorak band melalui lagu Konflik. Akan tetapi, ia tidak menolak kritik tersebut. Sebaliknya ia merasa menemukan musik
rock underground yang sejalan dengan pemikirannya. Andy melegitimasi makna yang ada dalam lagu tersebut sehingga mulai saat itu ia pun merasa menemukan sebuah dunia audiens Tengkorak band.
Setelah menyukai Tengkorak band, Andy mengaku mulai mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan Tengkorak band. Mulai dari cara berpakaian, sampai aktivitas slamming yang biasa dilakukan audiens pada saat pertunjukan Tengkorak band. Menurutnya penampilannya sebelum menjadi penggemar
Tengkorak band tidak seperti sekarang. Andy mengatakan bahwa cara berpakaian seperti personil Tengkorak band ia pelajari dari foto yang ada di cover kaset, pamflet- pamflet pertunjukan musik rock underground serta meniru teman-teman sesama audien musik tersebut. Sementara itu, untuk informasi pertunjukan dan perkembangan Tengkorak band Andy memperolehnya dari , majalah musik independen, teman-teman dan sebuah distro (distribution outlet) yang ada di wilayahnya.
Andy mengemukakan bahwa pada awalnya sang ibu kurang menyukai dirinya mendengarkan musikrock underground. Menurutnya, ibu kandungnya lebih terbiasa mendengarkan musik campur sari sehingga merasa terlalu bising dengan musik Andy. Selain itu, sang ibu khawatir dengan citra musik rock underground yang identik dengan narkoba dan hal negatif lainnya. Namun, Andy berhasil meyakinkan ibu kandungnya untuk tidak terlalu khawatir bahwa ia masih memiliki agama sebagai filter.
Untuk mewujudkan kekagumannya terhadap Tengkorak band, Andy mulai mengumpulkan hasil karya Tengkorak band seperti album Tengkorak band dalam format kaset dan cd, poster, pamflet, t-shirt, dan stiker. Bagi dirinya, artefak-artefak hasil reproduksi Tengkorak band ini memiliki simbol-simbol signifikan di dalamnya. Sehingga, dengan mengumpulkan berbagai artefak tersebut, secara tidak langsung ia mengekspresikan bahwa dirinya adalah bagian dari audiens Tengkorak band.
Kepada penulis Andy mengaku bahwa lagu favoritnya adalah lagu Tengkorak band yang berjudulKonflik. Ia menyatakan bahwa lagu tersebut merupakan cerminan dirinya. Andy memaknai lirik lagu tersebut sebagai sebuah nasihat bagi para pelajar, begitu juga dirinya, agar tidak melakukan aktivitas tawuran yang dapat merugikan