Dalam penanganan kerusakan pantai harus diteliti terlebih dahulu penyebab kerusakan pantai tersebut, karena penanganan terhadap pantai yang rusak sangat beragam dan masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menentukan solusi yang akan diambil.
Secara garis besar penanganan kerusakan pantai dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu hard solution dan soft solution. Hard solution yaitu penanganan dengan pembangunan fisik suatu struktur bangunan di daerah pantai,
sedangkan soft solution yaitu penanganan dengan rehabilitasi dan revitalisasi tanpa pembangunan struktur baru di daerah pantai.
Penanganan soft solution misalnya dengan penanaman pohon bakau (mangrove) di daerah sekitar pantai. Tanaman bakau dapat untuk meredam energi dari gelombang sehingga energi gelombang tidak mengenai pantai. Akar tanaman bakau juga dapat menangkap sedimen sehingga dapat megurangi erosi. Soft solution juga dapat dilakukan dengan metode beach nourishment, yaitu dengan menguruk (menambah sedimen) bagian pantai. Tanah urugan diambil dari dasar laut yang lebih dalam yang tidak terpengaruh terhadap pantai, kemudian urugan tersebut akan menyesuaikan secara dinamis terhadap profil pantai dan juga terhadap gelombang yang menerpanya, sehingga terbentuk profil pantai baru yang lebih baik.
Penanganan dengan metode hard solution yaitu berupa pembangunan fisik di daerah pantai seperti seawall, dinding revetments, groins, jetty atau breakwaters. Dalam pemilihan bangunan pengaman pantai harus dipertimbangkan kebutuhan pantai dan tujuan pengamanan pantai, juga harus dipertimbangkan biaya dan efektifitas bangunan tersebut dalam menanggulangi kerusakan pantai yang terjadi.
Bangunan pantai digunakan untuk melindungi pantai terhadap kerusakan karena serangan gelombang dan arus. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi pantai yaitu (dalam Triatmodjo, 1999): 1. Memperkuat/melindungi pantai agar mampu menahan serangan
gelombang.
2. Mengubah laju transport sedimen sepanjang pantai. 3. Mengurangi energi gelombang yang sampai ke pantai.
Sesuai dengan fungsinya, bangunan pantai dikelompokkan dalam tiga kelompok yaitu (dalam Triatmodjo, 1999):
1. Konstruksi yang dibangun di pantai dan sejajar dengan garis pantai. Yang termasuk kelompok ini adalah revetment dan tembok laut (seawall)
2. Konstruksi yang dibangun kira-kira tegak lurus pantai dan sambung ke pantai. Yang termasuk kelompok ini adalah groin dan jetty.
3. Konstruksi yang dibangun di lepas pantai dan kira-kira sejajar dengan garis pantai. Yang termasuk kelompok ini yaitu pemecah gelombang
(breakwater).
2.7.1 Revetment
Dinding pantai (revetment) adalah bangunan yang memisahkan daratan dan perairan pantai, yang terutama berfungsi sebagai pelindung pantai terhadap erosi dan limpasan gelombang (overtopping) ke darat. Daerah yang dilindungi adalah daratan tepat di belakang bangunan. Dinding pantai biasanya berbentuk dinding vertikal, sedang revetment mempunyai sisi miring. Bangunan ini ditempatkan sejajar atau hampir sejajar dengan garis pantai, dan bisa terbuat dari pasangan batu, beton, tumpukan pipa beton, turap, kayu
atau tumpukan batu (Triatmodjo, 1999) . Dalam perencanan dinding pantai (revetment) perlu ditinjau
fungsi dan bentuk bangunan, lokasi, panjang, tinggi, stabilitas bangunan dan tanah pondasi, elevasi muka air baik di depan maupun di belakang bangunan, ketersediaan bahan bangunan dan sebagainya (Triatmodjo, 1999).
(dalam Triatmodjo, 1999)
Pada perencanaan bangunan pantai perlu diperhatikan stabilitas dinding pantai. Dinding pantai harus dicek terhadap stabilitas guling dan geser. Bila stabilitas geser belum memenuhi, diberikan sepatu di tengah atau di ujung tumitnya (toe protection).
2.7.2 Tembok laut ( Seawall)
Tembok laut biasanya dipergunakan untuk melindungi pantai atau tebing dari gempuran gelombang laut sehingga tidak terjadi erosi atau abrasi. Agar fasilitas yang ada dibalik tembok laut dapat aman biasanya tembok laut direncanakan tidak boleh overtopping. Tembok laut ada dua macam yaitu tembok laut massif dan tidak masif. Tembok laut massif biasanya dibuat dari konstruksi beton atau pasangan batu sedangkan tembok laut tidak massif berupa tumpukan batu (rubble mound).
Konstruksi tembok laut dapat dilihat pada Gambar 2.7 berikut :
Kriteria perencanaan tembok laut : 1. Elevasi mercu (dalam Yuwono, 2004)
Elmercu = DWL + Ru + Fb
Dengan:
Elmercu : Elevasi mercu tembok laut (m). Ru : Run up gelombang (m).
Fb : Tinggi jagaan (1,0 s/d 1,5 m). DWL : Design Water Level (m).
2.Lebar mercu
Lebar mercu tembok laut paling tidak tiga kali diameter equivalen batu lapis lindung. Bila mercu dipergunakan untuk jalan maka lebar mercu dapat diambil antara 3,0 s/d 6,0m.
3.Berat lapis lindung (dalam Yuwono, 2004)
W = ) ( 3 3 θ γ Cot K H D r ∆
∆
= (γw-γr ) / γr Dengan:W : Berat minimum batu (ton) H : Tinggi gelombang rencana (m) KD : Koefisien stabilitas batu lindung
θ : Sudut lereng tembok laut
r
γ : Berat satuan batu lapis lindung (ton/m3)
w
4.Tebal lapis lindung (dalam Yuwono, 2004) t = 2 de = 2 3 / 1 ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ r W γ Dengan:
t : Tebal lapis lindung (m) de : Diameter equivalen (m) W : Berat lapis lindung (ton)
r
γ : Berat satuan batu lapis lindung (ton/m3)
5.Toe protection (Pelindung kaki)
Tebal toe protection = 1t – 2t, sedangkan berat batu lapis lindung dipergunakan kira-kira ½ dari yang dipergunakan di dinding tembok laut (Yuwono, 2004). Menurut Triatmodjo, berat butir batu untuk pondasi dan pelindung kaki bangunan diberikan oleh persamaan berikut (dalam Triatmodjo,1999):
W = ) 1 ( 3 3 − r s r S N H γ Dengan :
W : Berat rerata butir batu (ton).
r
γ : Berat jenis batu (ton/m3).
Sr : Perbandingan antara berat jenis batu dan berat jenis air laut.
: γr/γw
w
γ : Berat jenis air laut (1,025-1,03 ton/m3).
Ns : Angka stabilitas rencana untuk pondasi dan pelindung kaki bangunan seperti diberikan dalam Grafik 2.6.
Grafik 2.6 Angka Stabilitas Ns Untuk Pondasi Dan Pelindung Kaki
2.7.3 Groin
Groin adalah bangunan pelindung pantai yang biasanya dibuat tegak lurus garis pantai dan berfungsi untuk menahan transpor sedimen sepanjang pantai sehingga bisa mengurangi atau menghentikan erosi yang terjadi. Groin hanya efektif untuk menahan transpor sediman sepanjang pantai sedangkan untuk menahan transpor sedimen tegak lurus garis pantai groin kurang efektif (Triatmodjo, 1999). Sket penempatan groin dan garis pantai yang terjadi akibat adanya groin dapat dilihat pada Gambar 2.8.
Gambar 2.8 Sket Penentuan Jarak Groin
Berikut ini adalah kriteria perencanaan groin (Triatmodjo, 1999) : 1. Panjang groin
Groin dibuat sepanjang 40% sampai dengan 60% dari lebar surf zone.
2. Tinggi groin
Tinggi groin menurut Thorn dan Robert berkisar antara 50-60 cm di atas elevasi rencana, sedangkan berdasarkan Muir Wood dan Fleming antara 0,5 s/d 1,0 m di atas elevasi rencana.
3. Jarak groin
Jarak groin pada pantai kerikil biasanya diambil 1 s/d 3 L, sedangkan pantai pasir diambil 2 s/d 4 L.
4. Elevasi groin
Elevasi puncak groin diambil di bawah HWL
2.7.4 Jetty
Jetty adalah bangunan tegak lurus pantai yang diletakkan pada kedua sisi muara sungai yang berfungsi untuk mengurangi pendangkalan alur oleh sedimen pantai. Menurut fungsinya, jetty dibagi menjadi tiga jenis:
a. Jetty panjang
Jetty ini ujungnya berada di luar gelombang pecah. Tipe ini efektif untuk menghalangi masuknya sedimen ke arah muara tetapi biaya konstruksinya sangat mahal. Jetty ini dibangun apabila daerah yang dlindungi sangat penting.
b. Jetty sedang
Jetty sedang ujungya berada di antara muka air surut dan lokasi gelombang pecah dan dapat menahan transpor sedimen sepanjang pantai.
c. Jetty pendek
Jetty pendek ujungnya berada pada muka air surut. Fungsinya untuk menahan berbeloknya muara sungai dan mengkonsentrasikan aliran pada alur yang telah ditetapkan untuk bisa mengerosi endapan.
Gambar 2.9 Sket Penempatan Jetty
2.7.5 Pemecah Gelombang (Breakwater)
Pemecah gelombang adalah bangunan yang digunakan untuk melindungi daerah perairan dari gangguan gelombang. Pemecah gelombang dibedakan menjadi dua macam yaitu pemecah gelombang sambung pantai dan lepas pantai. Tipe pertama digunakan untuk
jetty
Arah gelombang
sedimen
Muara sungai
perlindungan perairan pelabuhan sedang tipe kedua untuk perlindungan pantai terhadap erosi. (Triatmodjo, 1999)
Pemecah gelombang lepas pantai bisa dibuat dari satu pemecah gelombang atau suatu seri bangunan yang terdiri dari beberapa ruas pemecah gelombang yang dipisahkan oleh celah.
Gambar 2.10 Sket Penempatan Pemecah Gelombang
Berat butir batu lapis lindung untuk pemecah gelombang sisi miring dapat dihitung dengan menggunakan Rumus Hudson:
W = θ γ cot ) 1 ( 3 3 − r D r s K H Sr = w r γ γ Dengan:
W : Berat butir batu pelindung (ton).
r
γ : Berat jenis batu ( ton/m3 ).
w
γ : Berat jenis air laut (1.03 ton/m3) H : Tinggi gelombang rencana (m).
θ : Sudut kemiringan sisi pemecah gelombang.
KD : Koefisien stabilitas yang tergantung pada bentuk batu pelindung, kekasaran permukaan batu, ketajaman
sisi-sedimentasi erosi
Pemecah g elombang
Garis pantai
Pemecah Gelombang Lepas Pantai
Pemecah gelombang
Garis pantai
Pemecah Gelombang Sambung Pantai
sisinya, ikatan antar butir, dan keadaan pecahnya gelombang.
Lebar puncak pemecah gelombang dapat dihitung dengan rumus :
B = n k∆ 3 1 ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ r W γ Dengan : B : Lebar puncak (m)
n : Jumlah butir batu (nminimum = 3) k∆ : Koefisien lapis
W : Berat butir batu pelindung (ton)
r
γ : Berat jenis batu pelindung (ton/m3 )
Sedangkan tebal lapis pelindung dan jumlah butir tiap satu luasan diberikan oleh rumus berikut ini:
t = n k∆ 3 1 ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ r W γ N = A n k∆ ⎥⎦ ⎤ ⎢⎣ ⎡ − 100 1 P 3 2 ⎥⎦ ⎤ ⎢⎣ ⎡ W r γ Dengan :
t : Tebal lapis pelindung (m).
n : Jumlah lapis batu dalam lapis pelindung. k∆ : Koefisien lapis.
A : Luas permukaan (m2).
P : Porositas rerata dari lapis pelindung (%).
N : Jumlah butir batu untuk satu satuan luas permukaan.
r