2) Religiusitas dan forgiveness
2.5. Landasan teori
2.5.1. Empati dan religiusitas sebagai prediktor pada pemaafan.
Di dalam memahami pemeliharaan hubungan interpersonal yang sehat meskipun kadang-kadang menyakitkan, dapat dilakukan dengan pemaafan. Beberapa kesamaan mengenai konstituen psikologis akan proses
pemaafan muncul dari intervensi model yang dirancang untuk mempromosikan pemaafan. Untuk melakukan pemaafan dibutuhkan suatu proses yang dapat mengoptimalkan ke arah yang positif. Keterhubungan yang berkaitan dengan pemaafan bisa memberikan dampak positif dalam hubungan sosial.
Sampai saat ini empati menjadi salah satu faktor penting yang memfasilitasi dalam melaksanakan pemaafan. Empati dalam hubungannya dengan kecerdasan emosional merupakan suatu komponen yang sangat penting untuk menyikapi kehidupan sosial (Goleman, 1995 dalam Ginting, 2009). Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa proses untuk memunculkan empati dapat dilaksanakan dengan permintaan maaf, perasaan malu, rasa bersalah, kerendahan hati (Tangney & Fischer, 1995 dalam Rangganadhan & Todorov, 2010; Exline & Zell, 2009; McCullough, Worthington & Rachal, 1997). Jika peserta dapat memikirkan transgresi yang telah dilakukan itu mirip dengan apa yang mereka alami, maka pemaafan dapat ditingkatkan. Namun, jika peserta tidak dapat memikirkan transgresi yang serupa, maka latihan membangun empati menjadi gagal (Witvliet, dkk., 2001). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Welton, Hill, dan Seybold (2008) menunjukkan bahwa empati menjadi alat prediksi yang terkuat akan pemaafkan dan menyatakan bahwa empati merupakan peran yang lebih penting dan merupakan ukuran yang lebih akurat daripada variabel kemarahan (anger).
McCullough (2001) menyatakan bahwa empati membantu perkembangan pemaafan dapat dilaksanakan oleh transgresor kepada transgresi dan empati memfasilitasi pelaksanaan pemaafan. Di samping itu, dalam pengujian model hipotesis empati dengan forgiveness oleh McCullough, Worthington, dan Rachal (1997) menyatakan bahwa empati sebagai mediator untuk melakukan pemaafan. Maka, semakin tinggi tingkat empati individu semakin dapat melakukan pemaafan.
Exline, dkk., (2008) menemukan bahwa empati merupakan prediktor yang lebih universal dalam melakukan forgiveness. Welton, Hill, dan Seybold (2008) menunjukkan hasil penelitian in vivo pada pasangan domestik 126 orang dewasa bahwa empati adalah prediktor signifikan forgiveness.
Hasil penelitian lain yang menunjukkan bahwa empati pada wanita memiliki tingkat yang lebih tinggi, tetapi mereka tidak lebih pemaaf (forgiveness) dibandingkan dengan laki-laki (Toussaint & Webb, 2005). Disamping itu ditunjukkan penemuan penelitian bahwa empati lebih kuat terkait dengan memaafkan pada pria dibandingkan pada wanita (Toussaint & Webb, 2005 serta Fincham, dkk., 2002). Selain empati, religiusitas juga dapat mewujudkan dilaksanakannya pemaafan baik pada diri sendiri juga kepada transgresor. Pargament dan Rye (dalam Macaskill, 2005) menyatakan bahwa agama telah menyediakan model yang mampu melakukan pemaafan dalam ketidakadilan yang hebat dan agama telah memengaruhi proses psikologi untuk melakukan forgiveness. Tindakan pemaafan diakui sebagai salah satu cara yang paling signifikan untuk memperbaiki dan membentuk kembali hubungan yang efektif dengan anggota keluarga juga teman sekerja (Harvey, Brenner & Shiver, 1997 dalam Jose & Alfons, 2007). Sebagian besar agama di dunia memberikan ide bahwa kesetiaan harus dinyatakan kepada orang lain dengan cara yang positif dan pro sosial (Armstrong, 1993 dalam Bradley, 2008). Hasil yang positif pada religiusitas telah ditemukan termasuk forgiveness (Gorsuch & Hao, 1993 serta McCullough & Worthington, 1999); penurunan dalam perilaku kejahatan dan kriminal (Kerley, Matthews & Blanchard, 2005), dan berkontribusi pada hal-hal yang bersifat sosial (Will & Cochran, 1995). Religiusitas juga ditemukan berhubungan dengan beragam hasil negatif, seperti meningkatnya praduga (Altemeyer, 2003 dalam Bradley, 2008), dan tindakan diskriminasi (Jackson & Esses, 1997).
Terdapat bukti yang dapat dipertimbangkan bahwa keterlibatan religius berhubungan positif dengan banyak indeks kesehatan fisik dan mental (Koenig, McCullough &
Larson, 2001 dalam McCullough, Bono, & Root, 2006), ada kecenderungan dimana individu yang religius melakukan forgiveness yang menjadi salah satu mekanisme dimana religiousness mendapatkan hubungannya dengan hasil kesehatan yang positif (Levin, 1996). Temuan lain, sifat kepribadian yang tidak memaafkan atau pikiran yang tidak memaafkan secara akut berhubungan dengan masalah kardiovaskuler (Lawler, dkk., 2003), kenaikan sekresi kortisol (Berry & Worthington, 2001). Selain itu, intervensi yang dirancang untuk membantu individu dapat melakukan forgiveness telah menunjukkan perbaikan kesejahteraan psikologis, menghasilkan penurunan kegelisahan dan gejala depresi, meningkatkan harga diri dan harapan (Enright & Coyle, 1998 dalam McCullough, Bono & Root, 2006).
Worthington, Sharp, Lerner, dan Sharp, (2006), menyatakan bahwa forgiveness dihubungkan dengan penanganan emosi dimana tindakan forgiveness secara emosional terjadi ketika transgresi menggantikan emosi-emosi negatif dengan emosi-emosi positif. Dengan demikian, pengalaman rohani pada tingkat religiusitas yang membangkitkan emosi positif seperti kasih, empati, memungkinkan dapat mendorong terwujudnya forgiveness (Tsang, 2005, dalam McCullough, Bono & Root, 2005).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bedell (2002), menemukan bahwa variabel religiusitas adalah prediktor signifikan dalam melakukan pemaafan.
Lebih lanjut, dalam kajian empiris Pargamen (1997) menguraikan beberapa hubungan antara religiusitas dengan koping. Pertama, agama adalah mekanisme penguasaan yang sangat menonjol dalam situasi stress tinggi dan ketidakmampuan individu dalam mengontrol. Kedua, koping religius sering memprediksi kesehatan psikologis. Ketiga, meskipun beberapa mekanisme koping religius ditemukan dengan hasil yang memberi pengaruh positif pada kesehatan mental, namun beberapa hasil penelitian memberikan hal yang non signifikan dan bahkan hubungan negatif antara religiusitas dengan indikator kesehatan mental.
Hingga saat ini, terdapat penelitian yang sangat minim pada hubungan religiusitas-empati, bahkan dengan variabel lain umpamanya seperti pemaafan. Penulis hanya menemukan review religius-empati. Hambatan lain yang signifikan untuk memahami hubungan antara religius dan empati adalah kurangnya kesepakatan dalam literatur tentang operasional konsep agama (Bradley, 2008). Banyak agama mengajukan ide bahwa penganut agama harus memiliki kasih sayang, cinta, dan empati kepada orang lain (Hardy dan Carlo, 2005 dalam Bradley, 2008). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orientasi religius berhubungan positif dengan empati, tekanan personal (Khan, dkk., 2005 dalam Bradley, 2008). Sedangkan orientasi religius ekstrinsik akan menuju pada jumlah keseluruhan empati, masalah empati, dan kemampuan membayangkan yang lebih rendah (Khan, dkk., 2005 dalam Bradley, 2008). Dalam komitmen religius dihipotesakan akan mengekspresikan keadaan empati dan menghasilkan forgiveness yang lebih tinggi, dimana balas dendam yang menjadi rendah (Witvliet, Hinze & Worthington, 2008). Penelitian empiris telah menemukan bahwa religiusitas remaja berhubungan dengan empati (Francais & Pearson, 1987 dalam van Dyke & Elias, 2007), pandangan negatif dari penggunaan narkoba dan alkohol (Francais & Mullen, 1993 serta Hadaway, Elifson & Peterson, 1984 dalam van Dyke & Elias, 2007).
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa data penelitian terdahulu yang telah disebutkan di atas secara terpisah telah menemukan empati dan religiusitas sebagai prediktor pada pemaafan. Sedangkan penelitian-penelitian terdahulu memiliki perbedaan lingkungan dan situasi dengan sampel yang akan dilakukan pada saat ini. Di samping itu, penelitian ini juga akan melihat empati dan religiusitas secara simultan menjadi prediktor forgiveness pada mahasiswa. Maka, pemaafan dapat dilaksanakan bila terdapat empati yang tinggi serta religiusitas yang tinggi.
Sejauh penelusuran peneliti sampai saat penulisan ini belum menemukan adanya penelitian empati dan
religiusitas secara simultan sebagai prediktor terhadap pemaafan pada mahasiswa. Hasil penelitian yang telah ada belum menunjukkan data yang komprehensif.
2.5.2.Model Bangun Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka model bangun penelitian adalah sebagai berikut:
Religiusitas
Bagan Model Antar Variabel 2.6. Hipotesis
Berdasarkan pembahasan definisi, aspek, faktor dan peranan serta landasan teori, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Empati dan religiusitas sebagai prediktor terhadap pemaafan secara simultan pada mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Salatiga.
Empati