BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Analisis Data
2. Latar
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya
peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu
faktual, waktu yang ada kaitanya dengan peristiwa sejarah
(Nurgiyantoro, 2007:230). Menurut Sayuti (2000:127) latar waktu
mengacu pada saat terjadinyan peristiwa dalam plot secara historis.
Rangkaian peristiwa tidak mungkin terjadi jika dilepaskan dalam
perjalanan waktu, yang dapat berupa jam, hari, tanggal, bulan, tahun,
3) Latar Sosial
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan
perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan
dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup
berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat
berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan
hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lain. Latar sosial juga
berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya
rendah, menengah, atau atas (Nurgiyantoro, 2007:233). Menurut
Sayuti (2000:127) latar sosial merupakan lukisan status yang
menunjukan hakikat seorang atau beberapa orang tokoh dalam
masyarakat yang ada di sekelilingnya.
Latar sosial merupakan bagian latar secara keseluruhan jadi
ia berada dalam kepaduaanya dengan unsur latar yang lain, yaitu
unsur tempat dan waktu. Ketiga unsur tersebut dalam satu kepaduan
jelas akan menyaran pada makna yang lebih khas dan meyakinkan
daripada secara sendiri-sendiri. Latar memberikan pijakan cerita
secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan
realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-
olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Pembaca dengan demikian
dipermudah untuk mengoperasikan daya imajinasinya, di samping
dimungkinkan untuk berperan serta secara kritis sehubungan dengan
d. Tema
Tema menjadi salah satu unsur cerita rekaan yang memberikan
kekuatan dan sekaligus sebagai unsur pemersatu semua fakta dan sarana
cerita yang mengungkapkan permasalahan kehidupan. Tema dapat
dirasakan pada semua fakta dan sarana cerita pada sepanjang sebuah
novel. Tema tidak dapat dipisahkan dari permasalahan kehidupan yang di
rekam oleh karya sastra. Akan tetapi, tema tidak sama dengan masalah
(Sugihastuti, 2010:45-46). Masalah adalah persoalan kehidupan yang
harus dipecahkan (Moeliono, dkk., 1993:562), sedangkan tema adalah
sikap atau pandangan hidup orang terhadap masalah tersebut. Pembicaraan
tema dan masalah tidak dapat dipisahkan karena masalah dalam karya
sastra merupakan sarana untuk membangun tema.
Menurut Staton via Sugihastuti (2010:45), tema adalah makna
sebuah cerita yang secara khusus menerangkan sebagian besar unsurnya
dengan cara yang sederhana. Menurutnya, tema bersinonim dengan ide
utama (central idea) dan tujuan utama (central purpose). Tema, dengan
demikian, dapat dipandang sebagai dasar cerita atau gagasan dasar umum
sebuah karya novel.
Menurut Sudjiman (1991:50), tema merupakan gagasan, ide yang
mendasari suatu karya sastra. Tema yang banyak dijumpai dalam karya
sastra bersifat didaktis, yaitu pertentangan antara baik dan buruk. Tema
Menurut Hantoko & Rahmanto via Nurgiyantoro (2007:68), tema
merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya satra dan
yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang
menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.
Menurut Nurgiyantoro (2007:71) tema sebuah karya sastra selalu
berkaitan dengan makna (pengalaman) kehidupan. Melalui karyanya itulah
pengarang menawarkan makna tertentu kehidupan, mengajak pembaca
untuk melihat, merasakan, dan menghayati makna (pengalaman)
kehidupan tersebut dengan cara memandang permasalahan sebagaimana ia
memandang.
Tema dalam banyak hal bersifat “mengikat” kehadiran atau
ketidakhadiran peristiwa-konflik-situasi tertentu, termasuk berbagai unsur
instrinsik yang lain, karena hal-hal tersebut haruslah bersifat mendukung
kejelasan tema yang ingin disampaikan. Tema menjadi dasar
pengembangan seluruh cerita, maka ia pun bersifat menjiwai seluruh
bagian cerita itu (Nurgiyantoro,2007:68). Tema dapat ditemukan dengan
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian yang berjudul Feminisme Tokoh Wanita dalam Novel Sali:
Kisah Seorang Wanita Suku Dani Karya Dewi Linggasari termasuk penelitian
kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk
memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya
perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik dan dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang
alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2006:6).
Metode yang digunakan dalam penelitian yang berjudul Feminisme
Tokoh Wanita dalam Novel Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani Karya Dewi
Linggasari adalah metode deskriptif dokumentatif. Metode deskriptif mempelajari
masalah-masalah dalam masyarakat, baik itu menyangkut tata cara, situasi,
hubungan, sikap, perilaku, cara pandang dan pengaruh-pengaruh dalam suatu
kelompok masyarakat (Widi, 2010:84). Metode dokumentasi sendiri berasal dari
kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan
metode domentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku,
majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan
sebagainya (Arikunto, 2002:135).
Ciri-ciri umum metode deskriptif adalah memusatkan perhatian terhadap
masalah-masalah yang ada pada saat paneelitian dilakukan (masa sekarang) atau
masalah-masalah yang bersifat aktual, serta menggambarkan fakta-fakta tentang
masalah yang diselidiki sebagaimana adanya disertai interpretasi rasional (Widi,
2010:85). Menurut Koutour (2003:105-106) penelitian deskriptif mempunyai ciri-
ciri sebagai berikut : (1) berhubungan dengan keadaan yang terjadi saat itu, (2)
menguraikan satu variable saja atau beberapa variabel namun diuraikan satu
persatu, dan (3) variabel yang diteliti tidak dimanipulasi atau tidak ada perlakuan
(tretment)
B. Sumber Data
Menurut Lofland dan Lofland via Moleong 92007:175) sumber data
utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan, selebihnya
adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data dalam
penelitian ini adalah kata, frasa, dan kalimat dalam novel yang berbentuk buku.
Adapun identitas buku yakni:
Judul : Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani
Pengarang : Dewi Linggasari
Penerbit : Kunci Ilmu
Tahun Terbit : 2007
Kota Terbit : Yogyakarta
Jumlah Halaman : 252 halaman
Dewi Linggasari, lahir di Pekalongan Jawa Tengah, di bulan Mei 1967.
sarjana jurusan Antropologi UGM selesai pada tahun 1993. Pengalaman
penelitian dimulai sejak kuliah dan pada tahun 1993-1994 Dewi Linggasri
menjadi asisten peneliti di Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM. Dewi
Linggasari sudah berkeluarga. Bersama suaminya menetap di Agats dan sudah
dikarunia dua purti yang sudah menginjak remaja. Tinggal dan bertugas hingga
kini di bumi Papua, menjadikan Dewi semakin kaya batinnya sehingga dari
tangan dan pikirannya telah muncul karya tulis yang berlatar suku bangsa Papua.
Tahun 2002 buku Realitas di Balik Indanya Ukiran (Kunci Ilmu) telah
terbit, buku ini berkisah tentang indanya ukiran Asmat yang telah dikenal seantero
dunia, namun tidak seindah nasib yang dialami para perajinnya. Buku lain tentang
potret hidup wanita Asmat yang semakin hari semakin tertindas, dilukiskannya
lewat buku Yang Perkasa, Yang Tertindas (Bigraf, 2004). Sebuah novel berjudul
Kapak (Kunci Ilmu, 2005) juga pernah Dewi tulis, bertutur tentang kerasnya
hidup yang dilalui seorang anak Asmat dalam mempertahankan hidup dengan
tidak diimbangi gizi yang mencukupi. Tahun 2007 (Kunci Ilmu) Dewi
mengelurkan novel berjudul Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani. Lewat novel
ini, Dewi ingin memperlihatkan bila masih terjadi ketidakadilan terhadap sesama
kaumnya akibat masih kuatnya dominasi laki-laki dan masih rendanya arus
keutamaan gender.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yang
Karya Dewi Linggasari adalah teknik pustaka, baca dan catat. Teknik pustaka
adalah teknik yang menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data.
Teknik baca, yakni peneliti sebagai instrumen melakukan pembacaan secara
terarah, cermat, dan teliti terhadap sumber data tertulis yaitu karya sastra yang
berupa teks novel Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari.
Teknik catat, yaitu hasil dari keseluruhan membaca tersebut dicatat dan hasil
pencatatan tersebut dijadikan sebagai sumber data yang sesuai dengan topik
penelitian.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen dapat diartikan sebagai alat, yang akan digunakan untuk
memahami feminisme wanita yang terdapat dalam novel Sali: Kisah Seorang
Wanita Suku Dani Karya Dewi Linggasari. Dalam penelitian ini yang menjadi
instrumen penelitian atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Peneliti
sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih
informan sebagai dumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas
data, analisis data, manafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya
(Sugiyono, 2012:222).
E. Teknik Analisis Data
Menurut Sugiyono (2012:244), analisis data adalah proses mencari dan
menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan
kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam
pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat
kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke
dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan
dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong,
1989:112). Menurut Janice McDrury melalui Moleong (2007: 248), tahapan
analisis data kualitatif adalah sebagai berikut. (1) Membaca atau mempelajari
data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data, (2)
Mempelajari kata-kata kunci itu, berupaya menemukan tema-tema yang berasal
dari data, (3) Menuliskan ‘model’ yang temukan, (4) Koding yang telah
dilakukan.
Secara ringkas langkah-langkah analisis adalah sebagai berikut:
1. Menentukan teks yang dipakai sebagai objek, yaitu novel yang
berjudul Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi
Linggasari.
2. Mengarahkan fokus analisis, yang mencangkup struktur novel dan
feminisme yang terdapat di dalam novel Sali: Kisah Seorang
Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari.
3. Mengumpulkan data-data dari sumber kepustakaan yang ada
kaitannya dengan objek analisis. Data tersebut dapat berupa karya
4. Menganalisis novel yang menjadi objek dengan analisis struktural
dan kritik sastra feminis. Caranya adalah sebagai berikut:
a. Mula-mula dianalisis struktur novel yang mengungkapkan
tokoh, penokohan, tema, dan latar.
b. Setelah itu, struktur novel dianalisis dengan kritik sastra
feminis (membaca sebagai perempuan) untuk mengungkapkan
feminisme yang terdapat di dalam novel Sali: Kisah Seorang
Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari.
c. Ditarik kesimpulan yang menunjukan feminisme dalam novel
Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi
Linggasari.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Secara keseluruhan hasil penelitian dalam bab IV ini dapat dikelompokan
dalam dua bagian. Hasil penelitian tersebut meliputi (1) deskripsi dan analisis
tokoh dan penokohan, tema dan latar karya sastra, yaitu novel yang berjudul Sali:
Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari, (2) analisis feminisme
tokoh wanita dalam novel Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi
Linggasari.
Novel yang akan dianalisis dalam penelitian tersebut berjudul Sali: Kisah
Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari. Novel Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani terdiri dari 252 halaman. Sinopsis dari novel Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani adalah sebagai berikut:
Sinopsis Cerita
Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani
Terlahir menjadi seorang wanita berarti penderitaan yang tidak kunjung
henti sebab, dari kecil wanita suku Dani harus membantu ibunya di kebun,
membantu mengasuh bayi, memberi makan babi-babi, membelah kayu bakar, dan
menyiapkan makanan untuk seluruh keluarga. Sedangakan laki-laki tidak
mempunyai tugas apapun selain berburu dan berperang.
Bagi wanita suku Dani perkawinan adalah kematian. Mereka harus siap
menjadi budak bagi suami mereka karena mereka telah dibeli oleh suami mereka
dengan membayarkan dua puluh ekor babi. Bagi laki-laki suku Dani babi
merupakan harta yang paling berharga yang mereka miliki. Keindahan lembah
Baliem yang digambarkan dengan hijaunya hutan yang belum terjamah dan selalu
berselimut kabut putih tipis serta honai dan silimo yang bergerumbul tidak
mampu menutup luka hati akibat penindasan hidup atas nama adat kepada wanita
suku Dani.
Liwa adalah sosok wanita suku Dani yang menjalani segala bentuk
penderitaan sedari kecil. Liwa merupakan wanita kesekian, sebelumnya ibu
kandungnya Aburah dan ibu tirinya Lapina, bernasib sama. Penderitaan sebagai
wanita awalnya Liwa terima ketika ditinggal mati oleh ibunya Aburah. Belum
hilang rasa sakit karena kehilangan Aburah, ia harus mengalami penderitaan lain
yang mengatasnamakan adat yaitu pemotongan ruas jarinya ketika ayahnya
Kugara mati di medan peperangan.
Puncak dari penderitaan itu adalah ketika perkawinan Liwa dengan Ibarak,
yang membawa Liwa pada kejenuhan terhadap adat istiadat sukunya dan
kehidupannya. Liwa sudah tidak tahan dengan segala macam bentuk adat sukunya
yang selalu mengsubordinatkan wanita dibawah laki-laki dan ketidakadilan
perlakuan laki-laki kepada wanita seperti yang Ibarak lakukan kepada Liwa dan
seperti apa yang ayahnya Kugara lakukan kepada Aburah dan Lapina dulu. Liwa
tidak seberuntung Lapina. Kematian Kugara akibat perang suku telah
mengharapkan kematian suaminya Ibarak direnggut oleh perang suku, karena
Liwa hidup di masa ketika peradaban sudah mulai memasuki Wamena, Papua.
Negara, seperti juga gereja sudah mengharamkan perang suku.
Diceritakan juga tentang awal-awal ketika peradaban modern mulai
bersentuhan dengan peradaban tradisional suku-suku Papua dan sangat
mempengaruhi kehidupan mereka. Semua hal termasuk bidang ekonomi juga
tidak lepas dari pengaruh modernitas, yang akhirnya membuat suku Dani terseret
arus. Mereka diperkenalkan dengan yang namanya uang sebagai alat pembayaran
dalam perdagangan. Barang-barang konsumsi baru pun akhirnya menjadi suatu
kebutuhan mutlak bagi mereka.
Semua pergesekan budaya diamati oleh Gayatri, seorang perempuan muda
dari kota Yogyakarta yang memutuskan mengambil PTT di daerah Wamena,
Papua. Keputusan itu dipilih setelah rencana pernikahannya dengan Ardana
kandas oleh pengkhianatan sahabatnya yaitu Nilasari. Gayatri bertemu dengan
Liwa ketika L:iwa dalam keadaan hamil tua yang sedang sakit dan berobat di
rumah sakit tempat Gayatri berkerja. Dari situ, terjalinlah hubungan batin antara
Liwa dan Gayatri. Terlebih ketika Gayatri mengadopsi salah satu anak kembar
yang dilahirkan Liwa.
Di akhir cerita, dimana Liwa tidak kuat lagi menanggung beban hidup
yang sudah tidak bisa lagi ditanggungnya. Sebuah Sali, pakaian tradisional wanita
suku Dani yang seperti rumbai-rumbai dengan cara pakai dililitkan di bagian
pinggul, milik Liwa ditemukan oleh Gayatri tergeletak dibebatuan sungai Fugima.
bunuh diri wanita suku Dani yang sudah turun menurun yang diyakini sebagai
jalan terakhir yang dipilih.
B. Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke
dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan
dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong,
1989:112).
1. Tokoh dan Penokohan
Menurut Sudjiman (1991:61) tokoh adalah individu rekaan yang
mengalami peristiwa dalam cerita. Individu rekaan itu dapat berupa manusia
atau binatang diinsankan.
Tokoh-tokoh cerita dalam novel Sali: Kisah Seorang Wanita Suku
Dani adalah manusia. Mereka diberi nama untuk membedakan tokoh yang
satu dengan tokoh yang lainnya. Nama-nama tokoh itu anatara lain Liwa,
Aburah, Lapina, Kugara, Ibarak, Gayatri, Ardana, Nilasari, Herlambang, Alya,
Kadarisman, Hera, Trimas, Anton, Dr. Yohanis, dan Bupati.
1) Liwa
Liwa adalah anak dari Aburah dan Kugara. Liwa merupakan wanita
kesekian, sebelumnya ibu kandungnya Aburah dan ibu tirinya Lapina,
bernasib sama. Penderitaan sebagai wanita awalnya Liwa terima ketika
a. Penokohan
Penokohan pada Liwa dapat diketahui secara langsung dan tidak
langsung yaitu melalui tingkah laku, pikiran, dan percakapannya
dengan tokoh lain. Uraian yang menjelaskan penokohan Liwa sebagai
berikut:
(1)Fisik Liwa
Liwa digambarkan sebagai seorang gadis remaja yang
mempunyai ciri fisik menarik dengan bentuk tubuh yang indah
dan memakai Sali, sebuah pakaian tradisional suku Dani.
Liwa terus tumbuh sebagai gadis remaja dengan pinggang yang kian ramping, dada membukit dan wajah yang lugu. (hlm. 57).
Semakin hari, sepasang bukit kembar di dada Liwa tampak semakin ranum, pinggangnya semakin ramping dengan pinggul padat membayang di balik Sali yang cantik. (hlm. 63).
(2)Perhatian
Liwa adalah sosok anak kecil yang mempunyai perhatian
besar terhadap ibunya Aburah. Hal ini terbukti ketika ibunya
Aburah sedang terbaring sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hal
ini terlihat pada paercakapan Liwa dengan Aburah.
“Mama…” sebuah suara halus menyadarkan Aburah dari lamunannya. Ia menatap Liwa, anak perempuannya dengan sayu. Anak itu mengulurkan ubi manis yang telah dibakar dengan tangannya yang mungil. (hlm. 5).
“Mama, makanlah”, Liwa menyuapkan ubi manis ke mulut ibunya, tapi Aburah tampak tak berselera. (hlm. 7).
Dalam kutipan tersebut tampak jelas bahwa Liwa
menyayangi ibunya, ia memberikan perhatian lebih kepada ibunya
(3)Pengertian
Liwa yang telah ditinggal ibunya Aburah harus terus
menjalani hidup. Ayahnya Kugara telah menikah lagi dengan
Lapina. Lapina adalah adik dari Aburah ibunya Liwa. Kematian
Aburah membuat Liwa tumbuh menjadi gadis yang pengertian,
terlebih kepada Lapina.
Liwa seolah mengerti kesulitan Lapina, ia diam mengikuti tak banyak menuntut ketika Lapina membawanya ke kebun dengan tubuh yang lemah. Liwa membantu Lapina bekerja, hanya sedikit hasil kebun yang di bawa pulang, Lapina memilih berbaring dengan Liwa di atas rumput, di bawah pohon yang rindang. (hlm. 32).
Seakan Liwa mengerti betapa sulitnya hidup yang dijalani
oleh Lapina ibu tirinya. Ia tidak ingin kehilangan seorang ibu,
setelah kepergian aburah ibu kandungnya. Liwa pun membantu
Lapina dalam mengasuh bayinya yang masih kecil di kala Lapina
sibuk bekerja di kebun.
Pagi hari ketika Lapina pergi ke kebun dengan bayi terbaring di dalam noken di belakang punggungnya, Liwa terus mengekornya. Sementara Lapina bekerja di kebun, maka Liwa menjaga anaknya, sehingga bayi kecil dapat tinggal dengan tenang, terbebas dari gangguan serangga liar. (hlm. 39).
Rasa pengertian Liwa kepada Lapina didasari oleh rasa takut
Liwa akan kehilangan Lapina seperti ia telah kehilangan Aburah
ibunya karena tidak ada yang membantunya dalam menyelesaikan
(4)Keras kepala
Watak Liwa yang keras kepala ini terlihat pada percakapan
Lapina dengan Liwa. Walaupun Liwa sudah mendapatkan teguran
dari Lapina tetapi ia masih saja melakukannya.
Teguran Lapina sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk
bertemu dengan Ibarak kekasihnya. Akhirnya Liwa pun menunggu
waktu yang tepat untuk bertemu dengan Ibarak. Ketika Lapina
sakit Liwapun mempergunakan kesempatan itu untuk bertemu
dengan Ibarak dan memadu kasih di semak-semak.
“Jadi, ini yang kau lakukan selama ini?” sejak kapan ada seorang pemuda dapat menyentuh gadis tanpa terlebih dahulu membayarnya dengan babi dan memintanya secara adat kepada orang tuannya?” Lapina menyampaikan teguran, matanya menatap tajam pada Liwa,
“Kalau sekali lagi engkau berani melakukan hal seperti itu, maka akutak segan-segan akan memukulmu. Kau mengerti Liwa?
“Kau masih juga keras kepala Liwa!” Lapina setengah berteriak. (hlm. 65-67).
Teguran Lapina sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk
bertemu dengan Ibarak kekasihnya. Akhirnya Liwa pun menunggu
waktu yang tepat untuk bertemu dengan Ibarak. Ketika Lapina
sakit Liwapun mempergunakan kesempatan itu untuk bertemu
dengan Ibarak.
Lapina jatuh sakit, ia terus berbaring di dalam honai dalam keadaan demam. Persediaan ubi manis dan hasil kebun yang lain telah habis. Apabila Liwa tidak pergi ke kebun, maka penghuni honai itu tak dapat memperoleh lagi makanan. Liwa tahu kesempatan itu, ia tak mengalami kesulitan untuk pergi ke luar, karena Lapina sibuk dengan penyakitnya.
Seharian Liwa pergi ke kebun, pandangan matanya mencari- mencari Ibarak, tetapi pemuda yang dicarinya tak kunjung datang. Liwa menjadi kesal, tapi ketika Liwa tengah mencuci
ubi manis dan sayur mayor pada sebatang anak sungai, maka kekesalannya segera berubah menjadi kegembiraan. (hlm. 71- 72).
Watak Liwa yang keras kepala ini terus saja terjadi, ia
menentang perintah Lapina yang tidak mengizinkannya untuk
bertemu dengan Ibarak. Semenjak Lapina sakit, ia terus
mempergunakan kesempatannya itu untuk bertemu dengan Ibarak,
hingga suatu saat Liwa pun sadar dan ia takut ketahuan oleh
Lapina. Akhirnya Liwa memberanikan diri untuk meminta Ibarak
agar mau memintanya secara adat kepada Lapina.
Hari berikutnya mereka mengulang pertemuan tanpa pernah merasa bosan. Dan akhirnya kesehatan Lapina mulai membaik, iapun siap pergi ke kebun untuk rutinitas sehari-hari. Kesembuhan itu membuat Liwa tersadar, ia harus berhati-hati supaya tamparan Lapina tidak terulang kembali. “Lapina telah sembuh ia akanbersamaku pergi ke kebun, dan kita tidak bisa bertemu lagi. Kumohon Ibarak, lakukanlah sesuatu”, Liwa membuka pembicaraan, keduanya telah berendam dalam air suangai yang dingin sementara matahari panas menyengat.