Masyarakat miskin seringkali menghadapi berbagai tindak kekerasan yang menyebabkan tidak terjaminnya rasa aman. Tindak kekerasan tersebut disebabkan oleh konflik sosial, ancaman terorisme, dan ancaman non kekerasan antara lain perdagangan perempuan dan anak (trafficking), krisis ekonomi, penyebaran penyakit menular, dan peredaran obat-obat terlarang.
Berbagai tindak kekerasan dan non kekerasan tersebut mengancam rasa aman dan menyebabkan hilangnya akses masyarakat terhadap hak-hak sosial, ekonomi, politik, dan budaya.
Dalam lima tahun terakhir, konflik yang terjadi di berbagai daerah seperti di Aceh, Poso, dan Ambon berdampak langsung pada merosotnya taraf hidup masyarakat miskin dan munculnya masyarakat miskin baru. Data yang dihimpun UNSFIR menggambarkan bahwa dalam waktu 3 tahun (1997–2000) telah terjadi 3.600 konflik dengan korban 10.700 orang, dan lebih dari 1 juta jiwa menjadi pengungsi. Meskipun jumlah pengungsi cenderung menurun, tetapi pada tahun 2001 diperkirakan masih ada lebih dari 850.000 pengungsi di berbagai daerah konflik.
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
38
Dalam kurun waktu 1990-2001 telah terjadi berbagai kekerasan atau konflik sosial. Selama kurun waktu tersebut telah terjadi 465 kali kekerasan komunal, 502 kali kekerasan yang bernuansa separatis, 88 kali kekerasan masyarakat dengan negara, dan 38 kali kekerasan yang berhubungan dengan persoalan perburuhan. Dari 6.208 korban yang meninggal akibat berbagai jenis kekerasan tersebut, 76,9% diantaranya akibat kekerasan komunal, 22,1%
akibat kekerasan separatis, 1% akibat kekerasan negara, dan hanya 0,1%
kekerasan yang berhubungan dengan persoalan perburuhan. Kekerasan oleh publik mengalami eskalasi yang luar biasa antara 1997-1999. Kekerasan tadi telah merusak tatanan sosial yang ada, menciptakan rasa tidak aman dari masyarakat, dan mengurangi minat orang asing untuk mengunjungi Indonesia dengan seluruh dampak sosial eknomi yang sangat luas.
Situasi keamanan yang memburuk akibat konflik menimbulkan dampak pada kondisi kemiskinan. Rata-rata penghasilan rumah tangga di Aceh dan Poso mengalami penurunan drastis masing-masing 50% dan 34%. Setelah konflik jumlah penduduk miskin cenderung meningkat, keluarga kehilangan anggota rumah tangga dan harta benda. Selain itu, perpindahan pengungsi dari daerah konflik ke daerah yang lebih aman menimbulkan masalah sosial-ekonomi di daerah penampungan.
Dalam sebaran yang lebih luas, berdasarkan data dari Podes 2003, desa-desa yang pernah terjadi konflik selama setahun terakhir disajikan pada Gambar 2.18. Berdasarkan sebaran itu terdapat 109 kabupaten/kota selama setahun terakhir mengalami konflik dengan kategori sedang dan tinggi.
Konflik telah menyebabkan hilang atau rusaknya tempat tinggal, terhentinya kerja dan usaha sehingga penghasilan keluarga hilang, menurunnya status kesehatan individu dan lingkungan yang berakibat pada penurunan produktivitas, rusaknya infrastuktur ekonomi yang menyebabkan langkanya ketersediaan bahan pangan, menurunnya akses terhadap pendidikan, menurunnya akses terhadap air bersih, rusaknya infrastruktur sosial dan
hilangnya rasa aman, serta merebaknya rasa amarah, putus asa dan trauma kolektif. Hal ini dirasakan oleh masyarakat Desa Sarre di Kabupaten Pidie-Aceh, masyarakat Desa Galuga di Kabupaten Tojo Barat –Sulawesi Tengah, masyarakat desa Somanhode di Kota Tidore-Maluku Utara. Oleh karena itu, kemiskinan di daerah konflik tidak dapat disamakan dengan kemiskinan di daerah bukan konflik karena adanya ancaman dari terjadinya kekerasan secara berkelanjutan dan tidak adanya jaminan keamanan.
Konflik tidak saja menyebabkan hilangnya harta benda, tetapi seringkali juga hilangnya hak sebagai pemilih dan hak sebagai warga komunitas. Dampak konflik yang dialami oleh laki-laki dewasa, perempuan dewasa dan anak-anak akan sangat berbeda. Beban terberat dialami oleh anak-anak dan perempuan.
Bagi laki-laki dewasa, konflik membatasi atau menghilangkan kesempatan untuk bekerja dan berusaha, dan meningkatkan persaingan kerja dengan pengungsi. Bagi anak-anak, hancurnya berbagai sarana pendidikan dan kesehatan telah menghilangkan hak mereka untuk mendapat layanan pendidikan dan kesehatan, yang pada akhirnya memperburuk masa depan mereka. Di samping itu, mereka mengalami trauma yang mengarah pada tumbuhnya budaya kekerasan.
Bagi perempuan, konflik menyebabkan hilangnya akses pada matapencaharian, tempat tinggal yang hancur, dan masa depan yang tidak pasti. Konflik seringkali memaksa perempuan untuk menjadi pencari nafkah utama dan menanggung beban keluarga yang lebih besar. Mereka harus menanggung anak yatim karena ayahnya atau ibunya meninggal. Beban ini semakin berat dengan terbatasnya peluang kerja dan berusaha. Peluang yang tersedia biasanya hanya sebatas berdagang yang tidak jelas keberlanjutannya.
Hal ini disebabkan oleh ketidakamanan, ketidakmampuan, dan terbatasnya pasar dan bahan baku. Di samping itu, selama ini mobilitas sosial, ekonomi dan politik untuk perempuan hampir tertutup.
Lemahnya jaminan rasa aman sebagai pemicu terjadinya konflik kekerasan dan non kekerasan menunjukkan lemahnya sistem politik dan pemerintahan pada saat krisis 1998. Hal ini erat kaitannya dengan perubahan penyelenggaraan pemerintahan dari sentralis dan otoriter menjadi pemerintahan desentralis dan demokratis. Selain itu, kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan sosial menjadi salah satu penyebab kerentanan masyarakat miskin. Hal ini juga diperkuat dengan tidak berjalannya penegakan hukum secara adil terhadap pelanggaran korupsi, pelanggaran HAM, dan pelaku pelanggaran kekerasan lainnya. Kurangnya jaminan rasa aman juga disebabkan oleh terbatasnya kapasitas aparat keamanan terutama polisi. Rasio polisi terhadap penduduk adalah 1/1.500 lebih rendah dibanding Malaysia (1/400), Singapore (1/250) dan Cina (1/750).
Anak dan perempuan dari keluarga miskin seringkali mendapat diskriminasi dan perlakuan yang lebih buruk. Anak jalanan dan perempuan yang diperdagangkan merupakan kelompok yang mengalami kondisi kemiskinan terburuk sebagai akibat tidak terjaminnya hak-hak dasar mereka. Anak jalanan mulai muncul sejak 1970’an di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Yogjakarta. Jumlah anak jalanan berfluktuasi dan cenderung
Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
40
meningkat. Krisis ekonomi mengakibatkan bertambahnya jumlah anak jalanan dari sekitar 50.000 menjadi sekitar 150.000-200.000. Pada tahun 2002, jumlah anak terlantar, anak nakal dan anak jalanan diperkirakan sekitar 3,7 juta jiwa.
Anak jalanan timbul akibat tidak terpenuhinya hak-hak dasar anak baik oleh keluarga, masyarakat, maupun negara. Kompleksitas kemiskinan memaksa mereka berlaku sebagai orang dewasa kecil yang harus mencari uang untuk mempertahankan hidup dan mengatasi berbagai ancaman. Mereka juga harus berhadapan dengan para pesaing dan pemerasan oleh para preman, dan seringkali dijerumuskan ke dalam penyalahgunaan narkoba, seks bebas, menjadi korban perdagangan untuk prostitusi, diperkosa dan obyek pornografi. Penanganan kriminalitas anak jalanan seringkali lebih keras dari penanganan kriminalitas orang dewasa. Selain itu, ketiadaan identitas menyebabkan mereka dianggap masyarakat liar dan tidak berhak memperoleh layanan publik. Data UNICEF tahun 1998 memperkirakan jumlah anak yang tereksploitasi seksual atau dilacurkan mencapai 40.000-70.000 anak dan tersebar di lebih dari 75.000 tempat di seluruh Indonesia. Suatu studi memperkirakan sekitar 30% dari seluruh jumlah pekerja seks yang ada adalah anak perempuan berusia kurang dari 18 tahun.