• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Lampiran 3: Lembar Verbatim FGD

Lembar Verbatim FGD

Peserta : 2 orang responden, 1 orang moderator, peneliti Tempat : Komunitas responden AS

Waktu : Minggu, 22 Januari 2017, 11.00-11.40 WIB

No Pertanyaan Jawaban

1 Suasana belajar yang bagaimana suster harapkan dapat memberi arti bagi suster dalam belajar?

Ks: Bagi saya, suasana belajar yang memberi arti seandainya kelas..mahasiswa lebih serius. Artinya ketika dosen menerangkan dan dosen bertanya mahasiswa mengerti atau diberi kesempatan bertanya. Ketika dosen itu bertanya kepada mahasiswa dan mahasiswa menjawab tidak disalahkan. Karena kan kita berusaha, tidak main- main. Sehingga belajar itu ada artinya. Jika dilihat pengalaman ketika mandampingi anak panti, di mana saat itu saya pendidikan dan pengalaman masih rendah, kemampuan saya masih kurang, kadang kurang… kurang sabar. Jadi mendampingi anak-anak seadanya. Artinya mengolah emosipun masih kurang, mengenal diri sehingga dari situ saya mau belajar atau kuliah di sini. Jadi banyak untungnya belajar. Wawasan saya jadi terbuka bagaimana mendampingi anak yang berbeda, saya mengenal diri, mengenal emosi saya, apa yang ada dalam diri, apa kekurangan dan kelebihannya. Kelebihan dikembangkan, kekurangan diperbaiki. Belajar itu berarti ya suster, seumur hidup. Saya selalu optimis dan berpikir bahwa belajar itu kesempatan saya mengembangkan diri. Walaupun dulu awalnya sempat kaget, takut untuk studi ya.

AS: Belajar yang baik bagi saya terutama di dalam kelas, saya menginginkan suasana itu hening. Artinya menciptakan

situasi yang nyaman ketika dosen menjelaskan, kita bisa mendengarkan dosen dengan baik. Kita bisa bertanya. Lalu juga, ketika ada interaksi antara dosen dengan mahasiswa, ketika dosen bertanya dan mahasiswa bisa menjelaskan lagi apa yang diterangkan. Selain itu, tidak ada yang masuk terlambat apalagi dosen menjelaskan. Saya merasa terganggu apalagi yang terlambat sampai lima belas menit, setengah jam itu. Mungkin karena kita tahu sopan santun ya, ketika dihadapkan dengan seperti itu, di situ ada konflik tersendiri. Karena saya belajar tidak asal-asalan. Juga karena pengalaman saya yang sudah saya alami…dengan belajar saya boleh menambah pengalaman. Dulu saya ditugaskan di asrama tetapi saya belum tahu ilmu-ilmu yang cocok untuk mendampingi anak-anak. Ketika anak- anak mengalami masalah ini, saya dengan cara apa untuk menghadapi dia dan mencari solusinya seperti apa. Perjumpaan dengan orang tua yang sharing tentang pergulatan hidup, pengalaman hidup dalam berkeluarga saya menjadi sadar dengan belajar ternyata berguna, ada untungnya belajar di BK. Untungnya karena dengan belajar saya dapat mengolah diri saya sendiri, menambah wawasan saya. Begitulah..bagiku belajar Teori Kepribadian sangat membantu saya kenal diri. Lalu saya terbantu untuk melihat, saya berasal dari keluarga seperti apa, sehingga pribadi saya terbentuknya seperti ini. Ternyata pengalaman masa lalu sangat mempengaruhi hidup saya misalnya pendidikan dalam keluarga saya keras. Ngomong keras-keras jadi saya terbentuk keras. Tapi sebenarnya logat kami yang keras hati kami lembut..hahaha.

2 Tantangan-tantangan yang

bagaimana dapat

mempengaruhi suster dalam belajar?

KS: Kesulitan saya selama menjalani tugas belajar ini, kita sebagai biarawati ni memiliki aturan, kaul. Aturan belajar di komunitas dengan kampus. Kita sudah punya jadwal yang jelas dalam hidup

bersama, tapi juga harus lihat jadwal kampus. Itukan suatu dilema. Dalam kelompok jam sekian kita kumpul sementara ada yang terlambat, akhirnya bertabrakan dengan jadwal komunitas..ya kita harus sabar saja. Lalu Mereka baru tamat SMA, masih muda dibanding dengan saya yang sudah berumur, sudah sepuluh tahun lalu tamat SMA. Kurikulumnya juga berbeda. Ketika dosen menerangkan saya tidak secepat mereka menangkap, mengerti. Tantangan juga ya selama kuliah itu..alat komunikasi seperti HP. Teman punya, kita tidak tahu informasi tidak seperti mereka. Ya, namanya perkembangan zaman makin tahun makin maju.

Tetapi yang mendorong saya belajar itu..situasi sekarangkan eee ada peraturan pemerintah mewajibkan misalnya guru wajib S1. Selain itu, dari diri saya, kongregasi juga mengikuti perkembangan zaman. Kita dikuliahkan. Untuk menjawab itu, kita perlu belajar supaya tidak ketinggalan, mampu menyesuikan dengan perkembangan zaman ini. Hanya bagaimana saya bersikap lebih bijaksana. AS: Selama menjalankan perutusan belajar ini tidak mudah ya karena itu bukan pilihan saya tapi itu ditugaskan. Saya berpikir di BK itu, mulut tutup telinga buka. Sementara saya sendiri inginnya mulutnya terbuka terus. Jadi bagi saya satu tantangan juga. Tetapi ketika masuk di situ, saya berani untuk belajar. jadi saya belajar mendengarkan. Jadi saya coba menjalani itu. Lalu, saya sudah lama tidak sekolah dari tahun 2000 tidak sekolah sampai 2012. Selain kurikulum yang berbeda juga pastinya otak saya ini udah tumpul. Tiap hari yang kupegang hanya cangkul,omong-omong dengan anak-anak, ngepel. Sementara saya belajar ni, otak saya harus diasah. Saya itu belum terlalu pandai dengan komputer. Anak- anak itu biasa. Lalu juga saya mudah

ngantuk, masuk kelas harus belajar. Akhirnya konsentrasi saya hilang. Saya terngganggu kalau kelas itu ribut ketika dosen menjelaskan, tidak sopan.

Berikutnya saya minder karena saya ini udah tua hahaha sementara teman-teman saya barusan lulusan SMA, masih kecil yang masih bersemangatnya. Itu tantangan bagi saya. Saya pernah dapat nilai C ya. Saya kadang malu di tengah-tengah mereka untuk awal-awal masuk itu. Maka tidak heran saya itu hanya sama satu teman yang bisa diajak ngobrol, senda gurau. Awal masuk juga butuh perjuangan. Juga ketika dosen minta tolong buka google tentang ini ini ini. kami kan nggak punya. Itu menjadi tantangan bagi saya. Tantangan zaman juga memotivasi saya mengapa saya mau belajar..sekarang ini banyak terjadi perselingkuhan, pertentangan di mana-mana. Itu..saya terpanggil untuk saya belajar ingin tahu. Itulah mengapa mata kuliah pilihan saya adalah keluarga. Saya ingat banyak keluarga yang sharing tentang keluarga mereka. Jadi saya merasa terpanggil membantu mereka. Nilai sopan santun juga mulai hilang.

3 Bagaimana usaha suster menghadapi tantangan?

AS: Dulu awalnya saya kaget, heran, takut. Bertanya juga dalam diri saya, apa saya bisa. Karena saya sudah lama tidak kuliah. Apa saya bisa menyesuaikan diri dengan anak-anak sekarang. Tetapi dengan perjalanan waktu, walaupun dulu saya berontak tetapi dengan kuliah di BK saya mengolah diri saya sebelum saya nanti terjun untuk berkarya. Sebagai religius, saya berdoa dan yakin saya tidak sendirian. Nah, kalau udah ngantuk, saya menggerak-gerakkan badan atau cuci muka. Kita yang hidup di biara inikan teratur waktunya. Jam begini doa, jam begini makan, jam begini rekreasi dan seterusnya. Di situ kita dituntut benar- benar pintar untuk membagi waktu. Maaf ya, ini aturan dalam kongregasi kami.

Jangan sampai kamu melalaikan waktu, acara komunitas harus duluan. Artinya, karena suster maka kita kuliah. Kalau benar-benar tidak bisa ya..harus ijin dengan pemimpin. Saya sendiri kalau udah sepanjang hari kuliah pasti udah capek malam harus belajar. kalau ada tugas saya harus berjuang. Kami belajar malam setelah doa malam. Kalau ada rekreasi bersama ya, jam sembilan baru bisa belajar. Kalau kelas ramai saya belajar untuk rendah hati, belajar menyapa duluan. Selain itu, saya bertanya, dekat dengan mereka karena mereka punya HP, mereka tahu komputer. Nah, itu usaha saya mengahadapi kesulitan dan tantangan. Jadi kesulitan itu menjadikan saya lebih kreatif mencari cara bagaimana menghadapi itu. Kesulitan membuat saya kreatif mencari cara menghadapi tantangan.

KS: usaha yang saya lakukan ya..kalau saya tidak mengerti, maka saya tanya entah dengan teman juga sama dosen. Karena dosen kita di BK itu sangat mengerti. Juga dalam perkembangan teknologi sekarang seperti HP ketika harus buka ini atau teman-teman mau menghubungi sulit. Saya berefleksi bahwa memang dalam situasi seperti inilah ditantang untuk lebih bijaksana dan tentu harus kreatif, ketika tidak mengerti dan harus buka saat itu yaaa saya harus rendah hati bertanya dengan teman-teman yang punya. Dalam komunitas, saya berusaha membagi waktu saya. Memang sering dikatakan pada kami kalian itu suster yang kebetulan mahasiswa bukan mahasiswa yang kebetulan suster. Artinya yang diutamakan adalah hidup membiara. Kadang kami di kampus seharian ya, maka ketika di rumah ada di rumah, kegiatan apa yang ada diikuti. Kalau doa siang tidak ikut karena ada di kampus.Pertama dikatakan dikuliahkan ambil jurusan ini, memang awalnya kaget. Tetapi senang

juga karena jurusan ini saya suka. Karena tujuan saya dulu itu, dengan BK ini setidaknya saya mengenal diri saya dan setidaknya kehadiran saya itu bermakna bagi orang lain. Di sisi lain juga, saya takut, gelisah. Karena saya merasa bahwa..apalagi di Jogja ya tentu itu sudah lebih maju. Maka saya merasa saya tidak mampu, takut apa yang disampaikan nanti tidak bisa saya ikuti. Tetapi saya jalani sampai sekarang berjalan dengan baik. Dengan kesulitan itu semua saya jadi lebih aktif mencari solusi. Prinsipnya setiap perjuangan pasti ada kesulitan.

4 Bagaimana cara suster mewujudkan harapan-harapan ke depan?

AS: harapan saya dengan tugas perutusan belajar ini, saya semakin baik. Saya semakin tahu cara-cara mana yang digunakan ketika saya diutus melayani. Saya punya cara yang lebih baik lagi untuk menghadapi orang-orang itu. Bagi saya,belajar itu penting. Kita seumur hidup belajar. Belajar selain karena memang peraturan..peraturan pemerintah juga kongregas ee kita belajar dari orang lain, belajar dari hidup saya sendiri, juga belajar dari buku-buku yang ada. Belajar itu penting untuk masa depan, untuk karya, untuk perutusan. Selain mengembangkan diri juga dibutuhkan orang-orang yang lebih kreatif, punya wawasan yang luas dan selalu mencari cara-cara yang baik ketika menghadapi masa depan. Tantangan-tantangan yang ada itu seperti apa. Dan memang kita dituntut melihat situasi yang ada dan riil serta nyata di dalam hidup. Maka, setelah saya selesai dari BK ini, dari Perguruan Tinggi ini, saya ingin melayani orang-orang seperti yang saya ceritakan tadi.

KS:Yang saya harapkan dari tugas belajar ini ke depan adalah dengan belajar, dengan memperoleh banyak ilmu, saya bisa pmempraktekannya saat tugas nanti, saya semakin dapat mengenal diri dan juga saya mampu mengenal orang lain. Sehingga dengan itu, saya dapat menjadi teman atau

sahabat bagi orang di sekitar saya. Oleh karena itu, belajar itu sangat penting karena manusia itu seumur hidup harus belajar. Tidak hanya sekedar belajar ilmu di bangku kuliah tetapi ya belajar juga dari teman-teman, dari pengalaman, orang lain, sehingga pemikiran saya terbuka dan saya semakin berkembang. Juga karena perkembangan zaman, peraturan pemerintah..memang seharusnya kita buat supaya dapat berguna dalam berkaarya.

Dokumen terkait