HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Makanan Camilan ( Snack )
Kelompok camilan merupakan kelompok makanan yang paling banyak dijual di sekolah karena harganya yang sangat terjangkau oleh uang saku anak sekolah dan makanan camilan dapat langsung dimakan tanpa pengolahan terlebih dahulu. Makanan camilan dapat dikelompokkan menjadi tujuh kelompok. Sebaran jumlah jenis makanan camilan (snack) dapat dilihat pada Tabel 19.
Berdasarkan Tabel 19, kelompok makanan camilan yang terbanyak jenisnya di kedua wilayah adalah aneka gorengan seperti bakwan, risoles dan kelompok yang paling sedikit adalah permen dan coklat. Menurut Marotz (2005) makanan jajanan yang baik untuk siswa sekolah jajanan yang dapat memberikan kontribusi zat gizi yang cukup sesuai dengan kebutuhan siswa, namun kebanyakan makanan jajanan
hanya mengandung gula dan lemak. Dari jumlah semua jenis makanan camilan, jenis jajanan di wilayah Depok lebih banyak dibanding Sukabumi.
Tabel 19 Jumlah jenis makanan camilan (snack) yang dikonsumsi siswa berdasarkan wilayah
Jenis Depok Sukabumi
n % n %
Aneka gorengan Produk ekstruksi Aneka kue Biskuit dan wafer
Hasil olahan daging dan ikan Permen dan coklat
Lainnya 16 14 7 7 5 3 1 30.2 26.4 13.2 13.2 9.5 5.6 1.9 14 10 4 5 4 2 - 35.9 25.6 10.3 12.8 10.3 5.1 .0 Total 53 100.0 39 100.0
Tingginya konsumsi makanan jajanan jenis makanan camilan/snack dapat disebabkan oleh banyak tersedianya jajanan jenis ini. Selain itu jajanan jenis ini banyak disajikan dengan beragam variasi bentuk, rasa, dan harga yang terjangkau bagi siswa. Menurut Syafitri (2010), kebiasaan jajan anak-anak tidak perlu dihilangkan karena jika makanan yang dibeli itu sudah memenuhi syarat-syarat kesehatan, maka bisa melengkapi atau menambah kebutuhan gizi anak.
3. Minuman
Minuman dikelompokkan menjadi tiga yaitu minuman es, minuman ringan kemasan dan minuman berkabonasi. Minuman es merupakan kelompok yang paling banyak dijual di wilayah Depok maupun di Sukabumi, seperti es buah, es campur, dan aneka jus. Berikutnya adalah minuman ringan kemasan seperti susu kemasan, minuman teh kemasan. Jumlah jenis jajanan minuman berdasarkan wilayah dapat dilhat pada Tabel 20.
Berdasarkan Tabel 20 jenis minuman yang tingkat persentasenya terendah pada kedua wilayah adalah minuman berkabonasi hal ini dikarenakan minuman berkabonasi harganya relatif lebih mahal untuk anak sekolah dasar, alasan lainnya karena tidak semua uang jajan yang diberikan oleh orangtua dihabiskan untuk membeli jajanan.
Tabel 20 Jumlah jenis jajanan minuman yang dikonsumsi siswa berdasarkan wilayah
Jenis Depok Sukabumi
n % n %
Minuman es 17 50.0 13 50.0 Minuman ringan kemasan 13 38.2 10 38.5 Minuman berkabonasi 4 11.8 3 11.5
Total 34 100.0 26 100.0
Banyaknya jenis minuman es di wilayah Depok maupun Sukabumi dikarenakan jenis jajanan tersebut mudah untuk dikonsumsi dan mempunyai rasa yang manis. Sudah menjadi sifat dasar anak-anak menyukai rasa manis, oleh karena itu, pada umumnya salah satu kriteria dalam membuat makanan anak adalah mempunyai rasa manis (Nuraini 2007). Namun penelitian yang dilakukan di Bogor pada tahun 2009 ditemukan Salmonella paratyphi A pada minuman yang dijual di kaki lima. Bakteri ini mungkin berasal dari es batu yang tidak dimasak terlebih dahulu, minuman es doger yang mempunyai jumlah mikroba tertinggi yaitu mencapai 108 koloni/g.
4. Buah
Konsumsi buah pada siswa di wilayah Depok cenderung lebih beragam dibanding dengan jenis buah yang dikonsumsi di wilayah Sukabumi. Hal ini dikarenakan akses untuk mendapatkan buah yang beragam lebih gampang didapat di Depok daripada di Sukabumi. Kebanyakan buah yang dikonsumsi siswa adalah jenis buah utuh seperti jeruk, pisang dan mangga.
Frekuensi Jajan
Kebiasaan jajan anak-anak tidak perlu dihilangkan karena jika makanan yang dibeli itu sudah memenuhi syarat-syarat kesehatan, maka bisa melengkapi atau menambah kebutuhan gizi anak. Frekuensi jajanan siswa dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu sering (≥4 kali/seminggu), kadang-kadang (1-3 kali/seminggu) dan tidak pernah jajan. Tabel 21 memperlihatkan sebaran frekuensi jajanan siswa berdasarkan wilayah dan jenis kelamin.
Tabel 21 Sebaran siswa berdasarkan frekuensi jajan menurut wilayah dan jenis kelamin
Berdasarkan Tabel 21, siswa di wilayah Depok sebagian besar (65.9%) sering mengkonsumsi jajanan, sedangkan di Sukabumi sebagian besar siswa (69.6%) hanya kadang-kadang mengkonsumsi jajanan. Berdasarkan hasil uji beda t-test terdapat perbedaan (p=0.004) antara frekuensi jajanan siswa di Depok dengan di Sukabumi. Tingginya persentase frekuensi jajan ≥4kali per minggu dikarenakan banyaknya jenis pangan jajanan yang ada di wilayah Depok dibandingkan kelompok makanan jajanan yang ada di Sukabumi, sehingga siswa lebih sering mengkonsumsi pangan yang berbeda-beda dalam setiap minggunya. Hal ini didukung oleh lebih tingginya rata-rata besar uang saku siswa di wilayah Depok (Rp 3829.3) dibandingkan di Sukabumi (Rp3282.6).
Sebuah penelitian di Jakarta pada tahun 2004 menemukan bahwa uang jajan anak SD rata-rata berkisar antara Rp 2000 – Rp 4000 per hari. Bahkan ada yang mencapai Rp 7000. Hanya sekitar 5% siswa-siswa tersebut membawa bekal dari rumah, karenanya mereka lebih terpapar pada makanan jajanan kaki lima dan mempunyai kemampuan untuk membeli makanan tersebut (Februhartanti 2004).
Penelitian Ekeke dan Thomas (2007) diaju dalam Krebs 2010 di Wales menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata antara pemilihan pangan anak dengan pengetahuan mereka tentang gizi seimbang. Meskipun anak-anak mengetahui mereka membutuhkan makanan yang sehat untuk pertumbuhan, kesehatan, dan pemenuhan energi serta bahwa vitamin dan serat baik untuk mereka, dan permen maupun gorengan tidak baik untuk mereka, namun sangat sedikit pemahaman tentang fungsi zat gizi di dalam tubuh.
Tabel 21 juga memperlihatkan frekuensi jajan antara siswa laki-laki dan perempuan berada pada kategori sering (≥4 kali/minggu). Namun terdapat satu
Keterangan
Frekuensi Jajan
Sering Kadang Tidak pernah Total
n % n % n % n % Wilayah Depok Sukabumi 54 7 65.9 30.4 27 16 32.9 69.6 1 0 1.2 .0 82 23 100.0 100.0 Total 61 58.1 43 41.0 1 1.0 105 100.0 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 31 30 59.6 56.6 21 22 40.4 41.5 0 1 .0 1.9 52 53 100.0 100.0 Total 61 58.1 43 41.0 1 1.0 105 100.0
siswa perempuan di Depok yang tidak pernah jajan dalam seminggu, dilihat dari data kebiasaan jajannya, siswa yang bersekolah di sekolah berstatus negeri tersebut tidak ada mengkonsumsi jenis jajanan seperti makanan sepinggan, snack. Jika lihat dari karakteristik keluarga, siswa tersebut memiliki orangtua dengan pendidikan yang tinggi yaitu ayah S2 dan ibu S1 dimana ayah berkerja sebagai seorang dosen dan ibu bekerja sebagai seorang dokter gigi. Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Nuryati (2005) tentang frekuensi jajan anak sekolah di Semarang yang menunjukkan bahwa masih ada anak sekolah yang tidak mengkonsumsi jajanan.
Data tingkat pengetahuan gizi dan keamanan pangan, siswa termasuk dalam kategori baik. Ada beberapa persepsi tentang tidak pernahnya siswa membeli makanan jajanan di sekolah, diantaranya siswa dibiasakan oleh orangtua untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bowes (1955) di benua Amerika, menyatakan bahwa sarapan pagi sebelum berangkat sekolah sangat penting untuk anak sekolah dimana sarapan pagi yang baik dapat mengurangi beban anak dalam belajar. Alasan kedua adalah siswa membawa makanan dari rumah, sehingga siswa tidak lagi mengkonsumsi makanan jajanan di sekolahnya, dan alasan yang lain yaitu siswa kebetulan pada saat dilakukannya wawancara tidak mengkonsumsi makanan jajanan,