• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

6. Membaca

a. Pengertian Membaca

Kegiatan membaca sering kita lakukan dan kata membaca sering terdengar tidak asing bagi semua masyarakat namun untuk menentukan definisi membaca sangat beragam diungkapkan oleh para ahli. Salah satu bentuk pengertian membaca yang sempit yaitu proses pengenalan simbol-simbol tertulis (Depdikbud, 1985: 9) sedangkan pengertian membaca dalam arti luas yang dikemukakan oleh Hudgson (dalam Tarigan, 1986:7) yaitu sebuah proses yang dilakukan dan dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan dari penulis melalui media cetak .

Disamping kedua bentuk pengertian diatas berikut akan dikemukakan bentuk pengertian membaca yang luas, yaitu proses pengolahan bacaan secara kritis–kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi dan dampak bacaan itu (Depdikbud, 1985 :11)

Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang–lambang tertulis semata namun bermacam–macam kemampuan diperlukan seorang pembaca agar mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya supaya lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi lambang–

lambang yang bermakna baginya. Selain itu membaca adalah kegiatan yang tersusun dari 4 komponen: strategi, kelancaran, pembaca dan teks. strategi adalah kemampuan pembaca menggunakan beragam strategi untuk mencapai tujuan dalam membaca. kelancaran adalah kemampuan membaca dengan kecepatan tertentu dengan pemahaman tertentu. gabungan dari teks, strategi kelancaran dan pemahaman ini yang disebut dengan membaca (Anderson, 2003: 68).

b. Tujuan dari membaca

Budaya baca seseorang adalah suatu sikap dan tindakan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. seseorang yang mempunyai budaya baca adalah bahwa orang tersebut telah terbiasa dan berproses dalam waktu yang lama di dalam hidupnya selalu mempergunakan waktunya untuk membaca. berseminya budaya baca adalah kebiasaan membaca sedangkan kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan bacaan yang baik, menarik, memadai, baik jenis, jumlah maupun mutunya. inilah sebuah formula yang secara ringkas untuk mengembangkan minat dan budaya baca. dari konsepsi tersebut tersirat tentang perlunya minat baca yang dibangkitkan sejak usia dini (kanak – kanak).

Ketika diamati dengan cermat ada beberapa faktor yang mampu mendorong bangkitnya minat baca masyarakat antara lain:

1) Rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan dan informasi.

2) Keadaan lingkungan yang memadai dalam arti tersedianya bahan-bahan bacaan yang menarik, berkualitas dan beragam. 3) Keadaan lingkungan sosial yang lebih kondusif maksudnya

adanya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membaca.

c. Fungsi Membaca 1) Fungsi Edukasi

Fungsi edukasi ialah bahwa kegiatan membaca pada dasarnya memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang berbagai hal termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi.

2) Fungsi Sosial

Bahwa kegiatan membaca akan bermanfaat bagi kehidupan sosial masyarakat, baik bermanfaat secara vertikal maupun horisontal.

3) Fungsi Instrumen

Kegiatan membaca dapat dipakai untuk bidang ilmu yang lain misalnya untuk mengkaji budaya, agama, ilmu jiwa, sains dan teknologi.

d. Jenis Membaca

Dilihat dari cakupan bahan bacaan, membaca dapat digolongkan dalam dua jenis yaitu :

1) Membaca ekstensif

Menurut Broughton (1978) sebagaimana dikutip oleh H.G.Tarigan (1978 :31 ) membaca ekstensif meliputi tiga jenis yakni:

a. Membaca survey (Survey Reading) b. Membaca sekilas (Skimming)

c. Membaca dangkal (Superficial Reading) 2) Membaca Intensif

Secara garis besar membaca intensif terbagi dua yakni membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa.

a. Membaca telaah isi terbagi lagi menjadi: 1) membaca teliti

2) membaca pemahaman 3) membaca kritis 4) membaca ide

b. Membaca telaah bahasa dibagi menjadi: 1) membaca bahasa asing

2) membaca sastra

Dilihat dari jenjang kedalamannya atau tingkat levelnya membaca dapat dibagi menjadi 3 jenis:

3) Membaca literal

Yakni kegiatan membaca sebatas mengenal dan menangkap arti tertera secara tersurat artinya pembaca hanya berusaha menangkap informasi yang terletak secara literal dalam bacaan dan tidak berusaha menangkap makna yang lebih dalam lagi.

4) Membaca kritis

Menurut Albert sebagaimana yang dikutip oleh H.G Tarigan (1986: 89) membaca kritis adalah kegiatan membaca yang

dilakukan secara bijaksana, mendalam, evaluatif serta analitis dan bukan hanya mencari kesalahan belaka.

5) Membaca Kreatif

Dalam Dictionary Of Reading disebutkan bahwa membaca kreatif merupakan proses membaca ntuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan yang baru yang terdapat dalam bacaan dengan cara mengidentifikasi ide-ide yang menonjol atau mengkombinasikan pengetahuan yang sebelumnya pernah didapatkan.

Dilihat dari terdengar tidaknya suara pembaca pada waktu membaca dibagi menjadi

a. Membaca nyaring

Yakni kegiatan membaca dengan mengeluarkan suara atau kegiatan melafalkan lambang-lambang bunyi bahasa dengan suara yang cukup keras. Tujuan utamanya pengkomunikasian isi pembaca bukan hanya dituntut harus mampu melafalkan dengan suara nyaring lambang - lambang bunyi bahasa saja, melainkan

harus mampu melakukan ’proses pengolahan agar pesan-pesan

atau muatan makna yang terkandung dalam lambang-lambang bunyi bahasa dapat tersampaikan secara jelas dan tepat oleh orang yang mendengarnya.

b. Membaca dalam hati

Kegiatan membaca tidak mengeluarkan suara namun yang aktif bekerja hanya mata dan otak.

7. Pendidikan Lingkungan Hidup

Pengertian pendidikan lingkungan hidup menurut Pamuti, Bobby, dan Djarkasi (2014) merupakan pengetahuan, kajian, bahan materi yang berupaya untuk mendidik murid untuk memahami dan mempraktikkan langsung cara penanganan masalah-masalah lingkungan yang selama ini menjadi permasalahan dunia. Hal ini sejalan dengan Pratomo (dalam Afandi 2013) yang menyatakan bahwa pendidikan lingkungan hidup adalah suatu program pendidikan untuk membina anak atau peserta didik agar memiliki pengertian, kesadaran, sikap, dan perilaku yang rasional serta bertanggung jawab sebagai tentang pengaruh timbal balik antara penduduk dengan lingkungan hidup dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Afandi (2013) sendiri mendefinisikan pendidikan lingkungan hidup sebagai melestarikan lingkungan dengan mengajarkan di sekolah secara formal.

Pendidikan Lingkungan Hidup adalah proses pengembangan apresiasi akan saling ketergantungan antara manusia dengan biofisik dan binaannya sehingga terbina sikap dan nilai mau memelihra keselarasan hubungan antara komponen-komponen lingkungan hidup (Yusuf, 1994).

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) pada dasarnya bertujuan untuk merubah perilaku individu menjadi perilaku yang positif terhadap lingkungan (perilaku ramah lingkungan). Kenyataannya upaya pelaksanaan PLH di sekolah-sekolah secara umum baru sampai pada tahap peningkatan pengetahuan, belum mampu mendorong terjadinya perubahan perilaku siswa menjadi lebih ramah lingkungan (Meilani, 2011).

Secara umum fokus dan tujuan pendidikan lingkungan hidup dalam (Anisa Muslicha 2015: 112) adalah membuat masyarakat lebih sadar akan isu lingkungan, memahami tanggung jawab manusia dan perannya untuk lingkungan, serta membangun sikap dalam pelestarian lingkungan dan kemampuan untuk memecahkan masalah lingkungan. Inti tujuan dari pendidikan lingkungan adalah tentang pemahaman dan sikap. Pendidikan lingkungan hidup didasarkan pada empat pilar pendidikan (Anisa Muslicha 2015: 112) yaitu (1) pendidikan untuk mengetahui dan memahami lingkungan hidup dengan segala aspeknya (learning to know), (2) pendidikan untuk menanamkan sikap, kemampuan dan keterampilan dalam melestarikan lingkungan (learning to do), (3) pendidikan untuk menanamkan cara hidup bersama di bumi yang harus diamankan kelestariannya bagi generasi yang akan datang (learning to live together), dan (4) pendidikan untuk menanamkan keyakinan mendalam bahwa manusia merupakan bagian dari alam, bahwa manusia merupakan teman

dan bukan lawan alam, serta dalam kehidupannya harus bertindak secara ramah dan bijaksanan memperlakukan alam (learning to be).

Dokumen terkait