BAB III. METODE PENELITIAN
NO INDIKATOR TINGKAT KESEJAHTERAAN SKOR 1 Tingkat pendapatan/penghasilan keluarga diukur berasarkan kriteria
6. Fasilitas rumah keluarga dibagi menjadi 3 kategori a Lengkap (skor 21-27)
3.7.5. Metode Analisis Hierarchy Process ( AHP )
Untuk mengetahui strategi kebijakan pengembangan pariwisata di Bengkulu dievaluasi dari tiga aspek yaitu dampaknya terhadap ekonomi, sosial serta lingkungan. Analisis hierararchy proses (AHP) digunakan dalam kerangka
kawasan wisata pantai panjang dan tapak paderi. Analisis hierararchy proses (AHP) bertujuan untuk mendapatkan prioritas pengembangan kawasan wisata yang terbaik pada masa yang akan datang. Alternatif yang dapat di uraikan dalam pendekatan AHP hal-hal yang bersifat kualitatif dapat di identifikasikan melalui sistem yang diamati dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran umum terhadap sistem yang dikaji. Selanjutnya dari hasil identifikasi tersebut akan diperoleh beberapa variabel yang cukup mendominasi dan signifikan yang menggambarkan dampak yang terjadi akibat adanya kebijakan pembangunan pariwisata.
Adapun langkah–langkah menganalisis data menurut Suryadi dan Ramdhani, (1998) adalah :
1) Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
2) Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan umum, subtujuan – subtujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkatan yang paling bawah.
3) Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau ktriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan didasarkan pada jugdement dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibanding elemen lainnya.
4) Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh judgment seluruhnya sebanyak n x [(n-1/2)] buah. Dalam hal ini n adalah banyaknya elemen yang diinginkan.
5) Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten pengambilan data diulangi lagi.
6) Mengulangi langkah 3, 4, dan 5 untuk setiap hierarki.
7) Meghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan, nilai vektor eigen merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesis judgment dalam menentukan pioritas-prioritas elemen-elemen pada hierarki terendah sampai pada pencapaian tujuan.
8) Memeriksa konsistensi hierarki, jika nilainya lebih dari 10 persen maka penilaian data judgment harus diperbaiki.
Penyususunan hierarki atau struktur keputusan dilakukan untuk menggambarkan elemen sistem atau alternatif keputusan yang teridentifikasi. Penentuan prioritas untuk setiap kriteria dan alternatif, harus melakukan perbandingan berpasangan yaitu membandingkan setiap elemen dengan elemen lainnya pada setiap hierarki secara berpasangan, sehingga didapat nilai tingkat kepentingan elemen dalam bentuk pendapat kualitatif untuk mengkuantifikasi pendapat kualitatif tersebut. Sehingga digunakan skala penilaian dan selanjutnya akan diperoleh nilai pendapat dalam bentuk angka
Menurut Saaty ( 1991 ) untuk berbagai permasalahan terlebih dahulu harus ditetapkan skala kuantitatif satu ( 1 ) sampai sembilan ( 9 ), skala ini merupakan skala terbaik dalam mengkualifikasikan pendapat, yaitu berdasakan akurasinya yang ditunjukan denga nilai RMS (Root Mean Square deviation) atau MAD (Median Absolute Deviation ). Nilai dan defenisi perbandingan Saaty dapat dilihat pada tabel 6 berikut :
Tabel 6 Skala Penilaian Perbandingan
Intensitas kepentingan
Defenisi Penjelasan
1 Kedua elemen sama pentingnya Dua mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan
3 Elemen yang satu sedikit lebih penting dari elemen lainnya ( moderate )
Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibanding elemen lainnya
5 Elemen yang satu lebih penting dari elemen lainnya ( strong )
Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen lainnya
7 Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya ( verry strong )
Satu elemen yang kuat di sokong dan dominan terlihat dalam praktek
9 Satu elemen mutlak penting dari pada elemen lainya ( extreme )
Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen yang lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan
2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan
Nilai ini diberikan jika ada dua kompromi diantara dua pilihan
Kebalikan Jika untuk aktivitas i mendapat angka 2 jika dibandingkan aktivitas j, maka j mempunyai nilai ½ dibanding dengan i
Pada dasarnya formulasi matematis model AHP dilakukan dengan suatu matriks, dalam hal ini dalam suatu subsistem operasi terdapat elemen operasi yaitu A1, A2,...,An, maka hasil perbandingan secara berpasangan elemen-elemen operasi tersebut dapat membentuk matriks perbandingan sebagai berikut
A1 A2 .... An
A1 a11 a12 .... a1n
A2 a21 a22 .... a2n
.
An an1 an1 .... ann
Perbandingan berpasangan dimulai dari hierarki yang paling tinggi dimana suatu kriteria digunakan sebagai dasar pembuatan perbandingan. Jika vektor pembobotan elemen-elemen kegiatan A1, A2, An dinyatakan sebagai vektor W, dengan W = (W1, W2, Wn), maka intensitas kepentingan elemen kegiatan A1 dibandingan dengan A2 dinyatakan sebagai perbandingan bobot elemen A1 kegiatan A1 terhadap A2, yaitu W1/W2 = a12. sehingga matriks perbandingan
berpasangan dapat dinyatakan sebagai berikut: (Saaty, 1994).
A1 A2 A3 An A1 A2 A3 . An W1/W1 W1/W2 W1/W3………..W1/Wn W2/W1 W2/W2 W2/W3………..W2/Wn W3/W W3/W2 W3/W3………..W3/Wn Wn/W1 Wn/W2 Wn/W3………..Wn/Wn
Nilai Wi/Wj, dengan i, j = 1, 2, 3,…….n didapat dari partisipasi yaitu para
pengambil keputusan yang berkompeten dalam permasalahan yang dianalisis.
Bila matriks ini dikalikan dengan vektor kolom W (W1, W2, W3…….Wn) maka diperoleh hubungan : A W = n W
Bila matriks A diketahui dan ingin diperoleh nilai W, maka dapat diselesaikan melalui persamaan berikut : (A – n I) W = 0 Dimana : I = matriks identitas
Konsisensi logis nilai-nilai perbandingan berpasangan yang telah dilakukan harus diperiksa tingkat konsistensinya, misalnya dalam melakukan perbandingan di nilai bahwa A>B dan B>C maka secara logis harusnya A>C. Untuk menghitung konsistensi ini, AHP telah memiliki formulasi untuk menhitung Consistency ratio. CR merupakan parameter yang dapat digunakan
untuk memeriksa apakah penilaian perbandingan telah dilakukan dengan konsisten atau tidak. Proses penentuan parameternya adalah sebagai berikut : 1. Mengalikan matriks yang telah disusun berpasangan dengan nilai fakor ( nilai
eigen ) sehingga diperoleh weighted sum vektor.
2. Menghitung konsistensi vektor dengan jalan menentukan nilai rata-rata weihgted sum vektor, yaitu membagi masing-masing weihgted sum vektor dengan nilai eigen. Selanjutnya hasil pembagian ini dijumlahkan seluruhnya dan dibagi dengan banyaknya eigen.
3. Menghitung nilai Consistency Index ( CI ) dengan menggunakan rumus :
/( 1) Xmaks n n
C
Dimana : n = Banyaknya alternatif Xmaks = Banyaknya eigen
4. Selanjutnya untuk menghitung Consistency Ratio ( CR ) dengan rumus CR = RI/CI
Nilai RI ( Random Indeks ) diperoleh dari table yang telah disusun oleh Saaty seperti berikut :
N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
RI 0.00 0.00 0.58 0.90 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49
Sumber : Saaty ( 1991 )
Sebagai alat analisis manfaat biaya merupakan metode praktis untuk : 1) pengambilan keputusan apakah akan melaksanakan suatu program/kegiatan atau tidak. 2) pemilihan aktivitas yang paling produktif dengan ratio manfaat/biaya tertinggi. 3) memaksimalkan total benefit dalam berbagai kendala. 4) peninjauan kembali keadaan setelah proyek pada suatu saat untuk melakukan eliminasi atau realokasi sumberdaya. Oleh karena itu penelitian ini dicoba untuk mengaplikasikan AHP terhadap analisis manfaat dan biaya ABM yang sama-sama pendekatannya bertujuan untuk mendapatkan alokasi yang optimal dari pemanfaatan sumberdaya. Dalam ABM pemilihan alternatif dengan menghitung rasio manfaat/biaya yang tertinggi ( data kuantitatif ), sedangkan dalam AHP pemilihan alternatif dengan menangkap secara rasional persepsi orang, karena AHP mampu mengkonversi faktor-faktor yang intangible ( yang tidak terukur ) ke dalam aturan yang biasa sehingga bisa dibandingkan.