BAB I : PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
Objek penelitian56 dalam tesis ini adalah Sikap Pengadilan Terhadap Penyelesaian Sengketa Atas Merek Dagang Terkenal (Studi Pada Putusan Pengadilan
55
Pengadilan Niaga yang pertama kali dibentuk adalah Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan wilayah hukumnya mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia, namun selanjutnya dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 1999 pada tanggal 18 Agustus 1999, untuk selanjutnya dibentuk Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Ujung Pandang (Makasar). Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang dan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan.
56
Tatang M Amirin, menyatakan bahwa objek penelitian berbeda dengan subjek penelitian. Objek penelitian adalah topik penelitian sebenarnya, sedangkan subjek penelitian adalah sumber tempat kita memperoleh keterangan. Lihat buku yang ditulis oleh Tatang M Amirin, Menyusun
Niaga Medan), yang kemudian dihubungkan dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek. Undang-Undang ini merupakan Merek yang terbaru, yang merupakan penyempurnaan dari Undang-Undang Merek yang lama. Dimana dalam salah satu aturan yang menyangkut persoalan penyelesaian sengketa terdapat suatu badan peradilan khusus, yaitu Pengadilan Niaga yang terdapat dalam Pengadilan Negeri, yang mempunyai kompetensi atau kewenangan untuk memeriksa sengketa perdata, salah satunya dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Berkaitan dengan hal tersebut maka penelitian dilakukan terhadap Putusan-Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan.
2. Spesifikasi Penelitian
Jenis metode penelitian yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah penelitian yang bersifat Deskriptif Analitis57 (Descriptive Analyst) atau analisa umum dengan sumber kepustakaan untuk menjawab permasalahan dan menggunakan logika berfikir yang ditempuh melalui penalaran induktif, deduktif dan sistematis dalam penguraiannya.58 Selain itu juga digunakan pendekatan penelitian Hukum Normatif,
57
Deskriptif analitis diambil dari kata deskriptif dan analitis. Analitis lebih ditujukan pada adanya upaya analisa, sedangkan deskriptif diarahkan pada bentuk penelitian deskriptif. Pernyataan ini sesuai dengan apa yang telah dipaparkan oleh Bambang Sunggono, bahwa penelitian deskripsi merupakan “Penelitian pada umumnya yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, factual dan akurat terhadap suatu populasi atau daerah tertentu, mengenai sifat-sifat, karakteristik- karakteristik, atau factor-faktor tertentu”, dalam buku: Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, Halaman 36. Bandingkan dengan pendapat Soerjono Soekanto, “Suatu penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya. Maksudnya terutama untuk mempertegas hipotesa- hipotesa, agar dapat membantu di dalam memperkuat hipotesa-hipotesa, agar dapat membantu di dalam memperkuat teori-teori lama, atau didalam kerangka menyusun teori-teori baru”, lihat Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum Universitas Indonesia (UI-Press), 1986, hlm. 10.
58
Runtung Sitepu, Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian Hukum, Magister Kenotariatan, USU, 2004.
yang diartikan sebagai penelitian mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan.59 Menurut Ronald Dworkin, penelitian hukum normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal
(doctrinal research), yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik
sebagaimana yang tertulis didalam Kitab Undang-Undang (law as it written in book), maupun hukum adalah Keputusan Hakim melalui Putusan Pengadilan (law as it
dicided by the judge through judicial process).
3. Sumber Data Penelitian
Sumber data yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah menitik beratkan pada studi kepustakaan (library research), dengan kata lain lebih ditekankan pada pengambilan data sekunder. Dari informasi maka bahan kepustakaan dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:60
a. Bahan-Bahan Hukum Primer, yakni bahan hukum yang mengikat, dengan fokus utama berupa peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai masalah Hak Kekayaan Intelektual, khususnya merek terkenal berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek;
b. Bahan-Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan pustaka yang berisikan informasi tentang bahan primer berupa putusan-putusan pengadilan, hasil penelitian karya ilmiah dari kalangan hukum yang relevan dengan penulisan tesis ini;
59
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo persada, Jakarta, 1995, hlm. 23.
60
c. Bahan-Bahan Hukum Tersier atau bahan penunjang, yakni bahan yang memberikan petunjuk ataupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder yang berupa kamus, ensiklopedia, majalah, surat kabar dan jurnal ilmiah.
4. Teknik Pengumpulan Data Penelitian
Pada penelitian ini akan digunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan cara Studi Pustaka dan Studi Dokumen. Teknik studi pustaka dilakukan dalam pencatatan dan pemahaman terhadap data-data primer dan sekunder. Akan dilakukan analisa secara seksama pada berbagai data-data diatas. Hal ini dimulai dari tahap perumusan masalah sebagai aktivitas awal (pra) penelitian, kemudian dilanjutkan pada saat berlangsungnya penelitian hingga ke langkah akhir, yaitu penarikan kesimpulan dan penyajian informasi (hasil) penelitian.61 Teknik Studi Dokumen dilakukan dengan cara mempelajari peraturan-peraturan, putusan-putusan pengadilan, teori, buku-buku, hasil penelitian, buletin-buletin dan dokumen lain yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.
5. Analisis Data Penelitian
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara kualitatif.62 Secara kualitatif dimaksudkan bahwa analisa ini bertolak dari usaha untuk meneliti
61
Menurut Bambang Sunggono studi pustaka atau studi kepustakaan adalah “Tahapan
peneliti mencari landasan teratas dari permasalahan penelitiannya sehingga penelitian yang dilakukan bukanlah aktifitas trial dan error, penelitian ini penting bahkan merupakan separuh dari aktivitas penelitian itu sendiri”, Bambang Sunggono, Op.Cit, hlm. 114.
62
Tatang M Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Raja Grafindo Persada Jakarta, 2000, Halaman 95, menyatakan analisa kulitatif pada dasarnya menggunakan pemikiran logis, analisa dengan logika, dengan induksi, deduksi, analogi, komparasi dan sejenis itu. Bandingkan pula dengan pendapat
terhadap azas hukum yang diatur dalam bahan hukum primer dan yang berkembang melalui pembahasan dalam bahan hukum sekunder, serta yang dapat ditemukan dalam bahan hukum tersier.
Penelitian kualitatif menurut Anselmus Strauss dan Juliat Corbin mengatakan:
“Qualitative research we mean any kind of research that procedure findings not arrived at by means of statistical procedures or other means of quantifications. It can refer to research about persons, live, stories, behaviours but also about organization functionating, social covenants or intellectual relationship”.63 (Penelitian kualitatif adalah suatu jenis penelitian
yang secara prosedur temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau cara kuantifikasi lainnya. Penelitian kualitatif sebenarnya dilakukan untuk menelti tentang manusia, kehidupan, cerita-cerita, tingkah laku, akan tetapi juga dilakukan untuk meneliti tentang fungsi organisasi, perjanjian-perjanjian sosial atau hubungan intelektual).
Berdasarkan pengertian diatas maka dalam tesis ini akan di inventarisir dengan norma-norma dan azas yang termuat dalam Peraturan Perundang-undangan dan Putusan Pengadilan terhadap masalah Merek yang merupakan Hak Atas Kekayaan Intelektual dalam dunia perdagangan dan apa yang menjadi faktor penyebab sengketa merek terkenal terjadi dan bagaimana sikap pengadilan terhadap penyelesaian sengketa atas merek dagang terkenal. Sesuai dengan kepentingan penelitian dan penulisan, pada akhirnya akan dilakukan cara penarikan kesimpulan deduktif-induktif.64
R. Bogdan dan S. Taylor yang menyatakan dengan penelitian kualitatif, seorang peneliti terutama bertujuan untuk mengerti dan memahami gejala yang ditelitinya, Soeryono Soekanto, Op.Cit, hlm. 32.
63