Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2008 di Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon untuk analisis kadar air, berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan dan sudut tumpukan. Analisis ukuran partikel bahan dilakukan di Laboratorium Industri Makanan Ternak, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Materi Alat
Alat yang digunakan antara lain timbangan, mistar, jangka sorong, segitiga siku-siku, corong plastik, gelas ukur 100 ml, cawan, kantong plastik, Rika Moisture Meter, sendok teh, spoit, vibrator ball mill, stopwatch dan pengaduk.
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain lima sampel dedak padi yang berasal dari lima huller di Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon, aquades.
Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan dengan model matematika sebagai berikut :
Yij = µ + τi + εij Keterangan:
Yij = X perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = nilai rata-rata umum
τi = efek perlakuan ke-i
εij = eror perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
Data yang diperoleh dianalisis dengan Sidik Ragam (ANOVA) dan apabila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji kontras Orthogonal (Steel and Torie, 1989).
Peubah
Peubah yang diamati dalam penelitian ini meliputi pengukuran kadar air dan pengukuran sifat fisik antara lain ukuran partikel, berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan dan sudut tumpukan.
Prosedur Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dedak padi dilakukan pada sore hari (pukul 15.30 WIB). Sampel dedak padi yang diambil adalah dedak padi hasil penyosohan terakhir pada proses penggilingan padi, kemudian langsung dilakukan pengukuran kadar air dedak dengan menggunakan Rika Moisture Meter.
Proses Kerja Huller Perlakuan Perlakuan 1
Sampel dedak P1 diperoleh dari proses penggilingan yang menggunakan satu mesin rubber roll husker dan satu mesin polisher. Gabah kering giling dikupas kulitnya dengan cara dimasukkan ke dalam mesin rubber roll husker, kemudian dimasukkan kembali ke mesin rubber roll husker sampai 4 kali, kemudian dimasukkan ke mesin polisher untuk dilakukan pemutihan beras sebanyak 2 kali (Gambar 3).
Beras
Dedak Padi Gabah Kering
4 kali 2 kali
Gambar 3. Skema Proses Penggilingan Padi Perlakuan 1 Perlakuan 2
Sampel dedak P2 diperoleh dari proses penggilingan yang menggunakan dua mesin rubber roll husker dan dua mesin polisher. Gabah kering giling dikupas kulitnya dengan cara dimasukkan ke dalam mesin rubber roll husker I sampai 2 kali,
kemudian dimasukkan kembali ke mesin rubber roll husker II sampai 2 kali, kemudian hasilnya dimasukkan ke mesin polisher I untuk dilakukan pemutihan beras, setelah itu dikilapkan kembali dimesin polisher II (Gambar 4).
2 kali 2 kali Beras Dedak Padi 1 kali 1 kali Gabah Kering
Gambar 4. Skema Proses Penggilingan Padi Perlakuan 2 Perlakuan 3
Sampel dedak P3 diperoleh proses penggilingan yang menggunakan satu mesin rubber roll husker dan satu mesin polisher. Gabah kering giling dikupas kulitnya dengan cara dimasukkan ke dalam mesin rubber roll husker, kemudian dimasukkan kembali ke mesin rubber roll husker sampai 5 kali, kemudian dimasukkan ke mesin polisher untuk dilakukan pemutihan beras sebanyak 2 kali (Gambar 5). 5 kali Beras Dedak Padi 2 kali Gabah Kering
Gambar 5. Skema Proses Penggilingan Padi Perlakuan 3 Perlakuan 4
Sampel dedak P4 diperoleh dari proses penggilingan yang menggunakan satu mesin rubber roll husker dan dua mesin polisher. Gabah kering giling dikupas kulitnya dengan cara dimasukkan ke dalam mesin rubber roll husker, kemudian dimasukkan kembali ke mesin rubber roll husker sampai 4 kali, kemudian
dimasukkan ke mesin polisher I untuk dilakukan pemutihan beras, kemudian hasilnya dimasukkan kembali ke mesin polisher II (Gambar 6).
Beras Gabah
Kering
Dedak Padi
4 kali 1 kali 1 kali
Gambar 6. Skema Proses Penggilingan Padi Perlakuan 4 Perlakuan 5
Sampel dedak P5 diperoleh dari proses penggilingan yang menggunakan dua mesin rubber roll husker dan satu mesin polisher. Gabah kering giling dikupas kulitnya dengan cara dimasukkan ke dalam mesin rubber roll husker I sampai 2 kali, kemudian dimasukkan kembali ke mesin rubber roll husker II sampai 2 kali, kemudian hasilnya dimasukkan ke mesin polisher untuk dilakukan pemutihan beras sebanyak 2 kali (gambar 7).
Beras Gabah
Kering
Dedak Padi
2 kali 2 kali 2 kali
Gambar 7. Skema Proses Penggilingan Padi Perlakuan 5 Pengukuran Sifat Fisik
Kadar Air
Kadar air adalah presentase kandungan air suatu bahan. Pengukuran kadar air dilakukan dengan menggunakan alat Rika Moisture Meter. Alat dibersihkan dan dikalibrasi dengan memutar tombol adjuster terlebih dahulu. Sampel secukupnya diletakkan di atas tempat sampel kemudian dimasukkan ke dalam laci dan ditekan
sampai penekan mengenai sampel. Skala dibaca dan dicatat sebagai ukuran kadar air bahan.
Ukuran Partikel (Tyler, 1959 dalam Henderson dan Perry, 1981)
Teknik yang digunakan untuk menentukan kadar kehalusan, keseragaman dan ukuran partikel bahan adalah dengan menggunakan alat vibrator ball mill German the Sieve Analysis (Gambar 8) nomor mesh/sieve 4, 8, 16, 30, 50, 100, 400. Bahan ditimbang sebanyak 500 gram diletakkan pada bagian paling atas dari sieve, lalu digoyang-goyangkan selama batas waktu tertentu. Setelah itu bahan yang tertinggal pada setiap saringan ditimbang. Pengukuran kadar kehalusan dapat dilihat pada Tabel 5.
Gambar 8. Vibrator Ballmill Tabel 5. Cara Pengukuran Kadar Kehalusan
Berat sieve dan bahan
Kosong Isi Bahan No. sieve No. Perjanjian
gram gram gram %
% bahan x No. Perjanjian 4 7 8 6 16 5 30 4 50 3 100 2 400 1 pan 0 Jumlah
Rumus :
∑ (% bahan x No Perjanjian) Derajat kehalusan (Modulus of Fineness) =
100
Derajat Keseragaman (Modulus of Uniformity) = X : Y : Z Keterangan :
∑ (% bahan pada sieve no 4 + 8 + 16)
10
∑ (% bahan pada sieve no 30 + 50) 10
∑ (% bahan pada sieve no 100 + 400 – pan) 10
Ukuran Partikel rata-rata = 0,0041 x 2MF x 2,54 x 10 mm
Berdasarkan rumus di atas maka dapat diperoleh nilai ukuran partikel sebagai berikut:
Kategori bahan kasar : MF = 4,1-7 maka UP> 1,79 – 13,33 mm Kategori bahan sedang : MF = 2,1- 4,1 maka UP> 0,78 – 1,79 mm Kategori bahan halus : MF = 0-2,1 maka UP> 0,10 – 0,78 mm Berat Jenis (Khalil, 1999a)
Berat jenis diukur dengan menggunakan prinsip hukum archimedes, yaitu dengan cara mengukur perubahan volume aquades pada gelas ukur (100 ml) setelah bahan yang diketahui masanya dimasukkan ke dalamnya. Sebelum perubahan volume dibaca, bahan diaduk dengan alat yang tidak menyerap air untuk mempercepat penghilangan ruang udara antar partikel bahan. Pembacaan volume dilakukan setelah volume air tidak berubah lagi (konstan). Perubahan volume bahan merupakan volume bahan sesungguhnya. Berat jenis kemudian dihitung dengan rumus : Bobot Bahan (kg) BJ = X : Y : Z : Perubahan Volume (m3)
Kerapatan Tumpukan (Khalil, 1999a)
Kerapatan tumpukan diukur dengan menggunakan gelas ukur (100 ml). bahan dimasukkan ke dalam gelas dengan bantuan sendok makan sampai volume tertentu dan kemudian berat bahan ditimbang. Satuannya adalah kg/m3.
Bobot Bahan (kg) KT =
Volume bahan yang ditempati (m3) Kerapatan Pemadatan Tumpukan (Khalil, 1999a)
Kerapatan pemadatan tumpukan diukur dengan cara seperti penentuan kerapatan tumpukan, tetapi volume bahan dibaca setelah dilakukan pemadatan dengan cara menggoyang-goyangkan gelas ukur dengan tangan sampai volumenya tidak berubah lagi. Satuannya adalah kg/m3.
Bobot Bahan (kg) KPT =
Volume ruang setelah dipadatkan (m3) Sudut Tumpukan (Florensyah, 2007)
Pengukuran sudut tumpukan dilakukan dengan menjatuhkan bahan pada ketinggian 32,5 cm melalui corong pada bidang datar (Gambar 9). Sebagai alas bidang datar digunakan kertas karton berwarna putih. Diameter tumpukan maksimal dua kali dua kali tinggi jatuhnya bahan, sedangkan untuk mengukur tinggi dilakukan dengan jangka sorong. Berat bahan yang digunakan sebanyak 500 gram. Sudut tumpukan ditentukan dengan diameter dasar (d) dan tinggi tumpukan (t).
Besarnya sudut tumpukan dapat dihitung dengan rumus: t 2t
tg α= =
0,5 d d
Gambar 9. Alat Pengukur Sudut Tumpukan
HASIL DAN PEMBAHASAN