• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain, Waktu, dan Tempat

Desain penelitian ini adalah studi deskriptif. Penelitian dilakukan dengan mengolah data sekunder yang diperoleh dari berbagai instansi terkait. Penelitian dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat pada bulan April-Juli 2011.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini seluruhnya berupa data sekunder. Jenis, sumber, dan tahun data penelitian yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Jenis, sumber, dan tahun data penelitian

No. Jenis Data Sumber Data Tahun Data

1 Ketersediaan Pangan Kementerian Pertanian RI, Badan Pusat Statistik RI (BPS RI)

1980 s.d. 2010

2 Tingkat Kemiskinan Badan Pusat Statistik RI

(BPS RI) 1980 s.d. 2010 3 Tingkat Pengangguran SAKERNAS, Badan Pusat

Statistik RI (BPS RI)

1980 s.d. 2010 4 Pengeluaran Per Kapita Sebulan SUSENAS, Badan Pusat

Statistik RI (BPS RI) 1980 s.d. 2010 5 Produk Domestik Bruto (PDB) Per

Kapita

International Monetary Fund (IMF)

1980 s.d. 2010 6 Konsumsi Pangan SUSENAS, Badan Pusat

Statistik RI (BPS RI) 1980 s.d. 2010 7 Keamanan Pangan Kementerian Kesehatan RI

dan Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM RI)

1986 s.d. 2010

8 Status Gizi Kementerian Kesehatan RI (Riskesdas, SKRT, SDKI) dan BPS RI

1980 s.d. 2010

9 Akses Air Bersih dan Sanitasi

Layak SUSENAS, Badan Pusat

Statistik RI (BPS RI) dan SKRT

1980 s.d. 2010

10 Anggaran Kementerian Pertanian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS RI)

1980 s.d. 2010

11 Dokumen Kebijakan & Program : - Repelita

- Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP)

- Program Pembangunan Nasional (Propenas) - RPJMN

- Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RANPG)

Data ketersediaan pangan diperoleh dari data nasional selama tiga puluh tahun terakhir di Indonesia. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ketersediaan energi dan protein per kapita di Indonesia. Menurut Depkes (1996), situasi ketersediaan pangan (%AKE) dikelompokkan menjadi:

• < 70% : Defisit tingkat berat

• 70 – 79% : Defisit tingkat sedang

• 80 – 89% : Defisit tingkat ringan

• 90 – 119% : Normal

• ≥ 120% : Kelebihan

Aksesibilitas pangan pada penelitian ini dilihat berdasarkan tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, pengeluaran per kapita sebulan, dan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita selama tiga puluh tahun terakhir di Indonesia.

Variabel tingkat kemiskinan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data persentase penduduk miskin. Variabel tingkat pengangguran yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tingkat pengangguran terbuka (TPT). Variabel pengeluaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pengeluaran per kapita sebulan atas dasar harga konstan. Pengeluaran per kapita sebulan atas dasar harga konstan merupakan pengeluaran per kapita sebulan atas dasar harga berlaku yang dihitung menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Perhitungan pengeluaran per kapita atas dasar harga konstan menggunakan rumus:

Data Produk Domestik Bruto (PDB) diperoleh dari data nasional selama tiga puluh tahun terakhir di Indonesia. Variabel PDB yang digunakan dalam penelitian ini adalah data PDB per kapita atas dasar harga konstan.

Data konsumsi pangan diperoleh dari data nasional selama tiga puluh tahun terakhir di Indonesia. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsumsi energi dan protein per kapita di Indonesia. Kemudian, data persentase penduduk defisit energi (<70%AKE) diperoleh dari pengolahan data konsumsi energi per kapita. Penilaian untuk mengetahui tingkat konsumsi energi dilakukan dengan membandingkan antara konsumsi energi aktual dengan angka kecukupan energi dalam persen. Menurut Supariasa et al. (2001), secara umum tingkat konsumsi energi dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pengeluaran harga konstan = Pengeluaran harga berlaku x IHK tahun dasar IHK berlaku 

TKGi = Tingkat konsumsi energi individu Ki = Konsumsi energi

AKGi = Angka kecukupan energi

Klasifikasi tingkat kecukupan pangan (konsumsi energi dan protein) dikelompokan menjadi:

• < 70% : Defisit tingkat berat

• 70 – 79% : Defisit tingkat sedang

• 80 – 89% : Defisit tingkat ringan

• 90 – 119% : Normal

• ≥ 120% : Kelebihan (Depkes 1996)

Data keamanan pangan diperoleh dari data nasional selama dua puluh empat tahun terakhir di Indonesia. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan di Indonesia.

Data status gizi masyarakat diperoleh dari data status gizi balita dengan menggunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Selain itu, digunakan data proporsi berat badan lahir rendah (BBLR), prevalensi gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), prevalensi anemia gizi besi (AGB), dan prevalensi kurang vitamin A (KVA), dan prevalensi gizi lebih. Selain itu, digambarkan pula angka kematian balita dan umur harapan hidup.

Kesehatan lingkungan dilihat dari data akses air dan sanitasi layak.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap sumber air minum dan sanitasi yang layak di Indonesia.

Data anggaran Kementerian Pertanian diperoleh dari RAPBN (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) selama tiga puluh tahun terakhir di Indonesia. Variabel anggaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah data persentase anggaran Kementerian Pertanian terhadap total RAPBN di Indonesia.

Data kebijakan dan program di bidang ketahanan pangan dan gizi diperoleh dari dokumen-dokumen nasional selama tiga puluh tahun terakhir di Indonesia. Dokumen-dokumen yang digunakan yaitu Repelita III s.d. Repelita VI, Propenas 1999-2004, dan RPJMN 2004-2009.

TKGi = (Ki /AKGi) x 100%

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang telah diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel 2007 for Windows dan Statistical Program for Sosial Sciences (SPSS) versi 16. Evaluasi terhadap pemenuhan hak atas pangan dan gizi di Indonesia dianalisis secara deskriptif menggunakan indikator-indikator hak atas pangan yang ditetapkan oleh Food and Agriculture Organization of United Nation (FAO) tahun 2006. Indikator-indikator tersebut digunakan sebagai alat untuk mengukur realisasi pemenuhan hak atas pangan dan gizi di tingkat nasional. Berikut merupakan tabel indikator terpilih yang digunakan dalam penelitian ini.

Tabel 3 Indikator pemenuhan hak atas pangan dan gizi terpilih

Indikator Sub Indikator

1 Ketersediaan Pangan (Food Availability) 1.1 Ketersediaan pangan per

kapita ‐ Ketersediaan energi dan protein per kapita 2 Akses Pangan (Food Accessibility)

2. 1 Persentase populasi miskin

dan sangat miskin - Persentase dan jumlah penduduk miskin - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) - Pengeluaran per kapita sebulan - PDB per kapita

3. Kecukupan Pangan (Food Adequacy) 3.1 Kebutuhan Pangan

3.1.1 Persentase populasi kekurangan gizi (undernutrition)

- Konsumsi energi dan protein per kapita - Persentase penduduk defisit energi (<70%

AKE)

- Prevalensi balita Underweight,Stunted,dan Wasted

- Proporsi BBLR 3.1.2 Persentase populasi

defisiensi zat gizi mikro - Prevalensi GAKY - Prevalensi Anemia - Prevalensi Xeropthalmia 3.1.3 Persentase populasi

kelebihan gizi (overnutrition)

- Prevalensi balita gizi lebih

- Prevalensi overweight pada remaja 3.2 Keamanan Pangan

3.2.1 Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan

3.2.2 Proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak Proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap sumber air minum layak*)

Ket. : indikator-indikator terpilih dengan penyesuaian

*) termasuk ke dalam aspek ketersediaan pangan, akses pangan, dan kecukupan pangan

Analisis data dilakukan dengan cara mempelajari perkembangan ketersediaan energi dan protein per kapita, tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran terbuka, pengeluaran per kapita sebulan, PDB per kapita atas dasar harga konstan, konsumsi energi dan protein per kapita, persentase penduduk defisit energi (<70%AKE), Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan, dan status gizi masyarakat. Ketersediaan energi dan protein per kapita kemudian dipelajari hubungannya dengan PDB per kapita dan persentase anggaran Kementerian Pertanian terhadap total RAPBN. Konsumsi energi dan protein per kapita dipelajari hubungannya dengan tingkat kemiskinan dan pengeluaran per kapita sebulan. Konsumsi energi per kapita dan persentase penduduk defisit energi (<70%AKE) dipelajari hubungannya dengan ketersediaan energi per kapita. Persentase penduduk defisit energi (<70%AKE) dipelajari hubungannya dengan tingkat kemiskinan.

Kebijakan dan program ketahanan pangan dan gizi dianalisis secara deskriptif dengan metode analisis isi. Metode analisis isi digunakan untuk melihat arah kebijakan ketahanan pangan dan gizi selama tiga dekade terakhir, yaitu dari Repelita III, Repelita IV, Repelita V, Repelita VI, Propenas 1999-2004, sampai RPJMN 2004-2009. Dengan demikian, penelitian ini akan menguraikan perbedaan atau perbandingan hasil analisis isi terhadap berbagai dokumen kebijakan tersebut terkait ketahanan pangan dan gizi selama tiga dekade terakhir (1980-2010).

Definisi Operasional

Anggaran Kementerian Pertanian adalah rencana keuangan yang dikeluarkan Kementerian Pertanian RI untuk membiayai semua pengeluaran Kementerian Pertanian selama 1 tahun.

Gizi kurang adalah indeks antropometri berat badan menurut umur (BB/U) dengan Z-skor <-2 SD (underweight), tinggi badan menurut umur (TB/U) dengan Z-skor <-2 SD (stunted), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dengan - 3 ≤ Z-skor <-2 SD (wasted).

Hak atas pangan adalah hak atas semua elemen gizi yang dibutuhkan setiap individu untuk hidup sehat dan aktif dan memiliki akses untuk mendapatkannya (FAO 2010).

Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia.

Ketersediaan pangan adalah tersedianya pangan dari hasil produksi domestik atau dari sumber lain untuk memenuhi kebutuhan pangan di suatu negara tertentu.

Ketersediaan pangan per kapita adalah ketersediaan rata-rata tiap individu di suatu negara yang merupakan hasil bagi antara ketersediaan pangan suatu negara dengan jumlah penduduk pertengahan tahun negara tersebut.

Konsumsi pangan adalah kuantitas dan kualitas pangan yang dikonsumsi oleh setiap individu dalam jangka waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya.

Konsumsi pangan per kapita adalah konsumsi rata-rata tiap individu di suatu negara yang merupakan hasil bagi antara konsumsi pangan suatu negara dengan jumlah penduduk pertengahan tahun negara tersebut.

Persentase anggaran Kementerian Pertanian terhadap total RAPBN adalah perbandingan antara besarnya anggaran yang dialokasikan untuk Kementerian Pertanian terhadap total RAPBN.

Pola Pangan Harapan (PPH) adalah susunan beragam pangan yang didasarkan pada sumbangan energi setiap kelompok pangan utama dari konsumsi pangan untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya.

Dokumen terkait