• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil interpretasi mineral liat dengan kurva DTA (Termogram) dari kedua pedon yang diteliti terdapat pada Gambar 1, 2, 3, 4, dan 5. Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa Horizon C untuk Pedon 1 memiliki puncak endotermik pada 950 dan 400 0C, dan tidak memiliki puncak eksotermik. Hal ini menunjukkan adanya mineral liat Alofan dan Goethit.

Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa puncak endotermik untuk horizon Ap1 pada Pedon 1 adalah pada 95 0C, 295 0C dan 300 0C, sedangkan puncak eksotermiknya yaitu 695 0C. Hal ini menunjcukkan adanya mineral liat Alofan, Gybsit dan Goethit.

Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa puncak endotermik untuk horizon Ap2 pada Pedon 1 adalah pada 295 0C dan 500 0C, sedangkan puncak eksotermiknya yaitu 690 0C. Hal ini menunjukkan adanya mineral liat Alofan, Gybsit dan Kaolinit.

Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa puncak endotermik untuk horizon C pada Pedon 2 adalah pada 420 0C dan 590 0C,sedangkan puncak eksotermiknya yaitu 900 0C. Hal ini menunjukkan adanya mineral liat Kaolinit.

Pada Gambar 5 dapat dilihat bahwa puncak endotermik untuk horizon Ap pada Pedon 2 adalah pada 110 0C, 295 0C, dan 505 0C sedangkan puncak eksotermiknya yaitu 910 0C. Hal ini menunjukkan adanya mineral liat Gybsit, Kaolinit dan Alofan.

Pembahasan

Deskripsi Profil Tanah

Dari hasil pengamatan di lapangan diperoleh solum yang dalam untuk kedua pedon yaitu P1 123 cm dan P2 120 cm (lihat lampiran 3). Hal ini terjadi karena profil yang diamati pada daerah yang datar sehingga kemungkinan erosi yang membawa partikel tanah tidak terjadi, sehingga solum yang terdapat umumnya dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno (1993) yang mengatakan bahwa topografi merupakan salah satu faktor pembentuk tanah dengan cara mempengaruhi jumlah air hujan yang meresap atau ditahan oleh massa tanah, mempengaruhi dalamnya air tanh, mengerahkan gerakan air berikut bahan yang terlarut di dalamnya dari suatu tempat ke tempat lain.

Penentuan notasi warna dilakukan berdasrkan buku pedoman pendiri warna tanah yaitu buku Munsell Soil Colour Chart. Warna disusun oleh tiga variabel yaitu Hue, Value, Chroma. Value menunjukkan gelap terangnya warna sesuai dengan bayak sinar yang dipantulkan. Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum. Hue menunjukkan warna spektrum yang domonan sesuai dengan panjang gelombang. Warna tanah yang semakin terang menunjukkan kandungan bahan organik semakin sedikit dan jika warna tanah semakin gelap maka kendungan bahan organik semakin tinggi. Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa semakin ke bawah semakin terang. Hal ini dapat menunjukkan kandungan bahan organik yang semakin sedikit dari horizon atas ke horizon bawah.

Struktur tanah dari kedua profil yang diamati berdasarkan tipe strukturnya adalah gumpal bersudut. Berdasarkan kelas strukturnya adalah sedang (0–20 mm) dan berdasarkan derajat strukturnya adalah sedang (terbentuk ped yang masih jelas dan masih dapat dipecahkan). Struktur yang didapat pada umumnya sama dikarenakan sistem pengolahan yang dilakukan pada umumnya sam,a dan juga vegetasi yang ada umumnya sama. Penentuan atau ketahanan bentuk struktur tanah dilakukan berdasarkan kemantapan atau ketahanan struktur tanah terhadap tekanan.

Dari Tabel 4 dan 5 dapat dilihat konsistensi tanah adalah gembur yang dipengaruhi oleh tekstur, struktur dan juga pergerakan air di dalam tanah. Terbentuknya konsistensi gembur dikarenakan berkurangnya kendungan liat (koloid liat). Tanah biasanya akan kehilangan sifat melekat dan menjadi gembur jika kendungan air di dalam tanah berkurang. Selain itu pada tanah yang bertekstur liat berpasir umumnya dapat menyimpan air lebih banyak sehingga konsistensinya akan bergerak berubah dari teguh manjadi gembur pada saat kandungan air tanah berkurang.

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa P1 dan P2 mempunyai KTK yang bervariasi tetapai termasuk dalam kategori rendah yakni 5 – 16 me/100g. Hal ini didukung oleh kandungan liat, dimana tekstur tanah liat semakin ke bawah cenderung semakin tinggi. Dimana liat mempunyai luas permukaaan yang lebih luas dari fraksi lainnya yang memungkinkan lebih bayak tempat untuk pertukaran kation.

Pelapukan Pedokimia

Analisis Termogram

Interpretasi termogram menunjukkan puncak endotermik horizon Ap1 Pedon 1 yaitu 95 0C, 295 0 dan 300 0C, pada horizon Ap2 yaitu 295 0C dan 500 0C, dan pada horizon C yaitu 95 0C dan 400 0C. Sedangkan puncak eksotermik untuk horizon Ap1 yaitu 695 0C, pada horizon Ap2 yaitu 690 0C, dan pada horizon C tidak terdapat puncak eksotermik. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan mineral liat yang terdapat di dalam tanah tersebut didominasi oleh mineral Alofan, Gypsit dan Kaolinit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tan (1991) yang menyatakan bahwa kurva DTA ( Diffrensial Thermal Analysis ) dari mineral Gypsit dan Kaolinit dicirikan oleh puncak endotermik pada kisaran suhu 500 – 600 0C sedangkan puncak eksotermik pada kisaran suhu 900 – 10000 C, sedangkan untuk mineral alofan yaitu berkisar antara 50-150 0C.

Dari pembacaan hasil termogaram pada pedon 2(P2) untuk horizon Ap puncak endotermik yaitu 110 0C, 295 0C serta 505 0C dan pada horizon C puncak endotermik yaitu 420 0C. Sedangkan puncak eksotermik pada pedon 2 (P2) untuk horizon Ap yaitu 9100 C dan pada horizon C yaitu 590 0C dan 900 0C. Hal ini juga menunjukkan bahwa mineral liat yang terdapat di dalam tanah tersebut didominasi oleh mineral Alofan, Gybsit dan Kaolinit.

Tingkat Pelapukan dengan Kriteria Pelapukan Pedokimia

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat dilihat kriteria yang berlangsung pada pelapukan pedokimia dari horizon C A adalah :

Oksidasi Reduksi

Perubahan keadaan oksidasi reduksi dapat menghasilkan pelapukan Fe dan Mn dari mineral-mineral primer yang membentuk karatan dalam solum tanah, dimana dalam keadaan reduksi Fe2+ menjadi Fe3+ hal ini karena perubahan muatan dan ukuran dari Ferro ke Ferri hal ini dapat mengakibatkan kerusakan dari mineral-mineral. Didalam keadaan reduksi dimana Fe2+ mudah larut terjadi pertukaran dengan Al3+ dan jika pergantian ini terjadi secara berulang dapat menyebabkan kerusakan mineral. Kondisi Oksidasi Reduksi dapat terjadi secara serempak dalam pedon. Saat lapisan permukaan pedon ada dalam kondisi Oksidasi lapisan bawah tanah dapat berada dalam keadaan Reduksi akibat Fluktuasi permukaan air tanah. Apabila proses pertukaran ini terjadi secara bergantian akan merusak struktur liat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hardjowigeno (1993) yang menyatakan bahwa pergantian keadaan Oksidasi –Reduksi yang kuat dapat menyebabkan kerusakan mineral. Kerusakan mineral ini merupakan proses pelapukan tanh tersebut.

Pelepasan Al dari kristal menjadi hidroksida melalui pertukaran kation. Dari Tabel 7 dan 8 (data pH tanah dan Al-dd) dapat dilihat bahwa pada pH pada pedon 1 (P1) 5,75 ; 5,38;5,42 ;5,43;5,36 dan Al-dd nya 0,1 ;0,2 ;0,15;0,25 ;0,40 me/100g sedangkan

yang menyatakan bahwa pada tanah masam Al-dd tidak lagi terukur bila pH tanah sudah melebihi 5,5. Selama proses pelapukan Al dibebaskan dari mineral primer dan diedapkan menjadi mineral sekunder. Al tinggal dan diendapkan dalam bentuk Hidroksida.

Dari Tabel 9 diperoleh bahwa pada horizon C – A terjadi peningkatan jumlah K dapat dipertukarkan sehingga diprediksi ada pelepasan K dari Mika.

Dokumen terkait