Salah satu tujuan pembangunan perikanan adalah meningkatkan pendapatan nelayan. Adanya ketimpangan pemilik faktor produksi menimbulkan kesenjangan pendapatan antar pelaku usaha perikanan sehingga usaha peningkatan pendapatan nelayan bisa salah arah. Peningkatan pendapatan yang hanya tejadi pada pemilik faktor produksi akhirnya akan menambah kesenjangan pendapatan tersebut. Pemerintah sejak lama telah berusaha mencegah terjadinya kesenjangan pendapatan antar pelaku usaha perikanan antara lain dengan mengeluarkan Undang-undang Bagi Hasil Perikanan Nomor 16 Tahun 1964 (UUBHP). Kenyataan menunjukkan bahwa di Lampulo masih digunakan sistem bagi hasil lokal yang berbeda dengan UUBHP No. 16/1964. Undang-undang No. 16 tahun 1964 tentang bagi hasil perikanan adalah undang-undang yang mengatur tentang perjanjian bagi hasil yang diadakan dalam usaha penangkapan ikan antara nelayan pemilik dan nelayan penggarap. Peraturan perundang-undangan ini telah berusia lebih dari 49 tahun.
Banyak nelayan Lampulo yang tidak mengetahui isi dari UUBHP dan lebih memilih menggunakan sistem bagi hasil hukum adat, tidak berjalannya pola bagi hasil UUBHP karena adanya beberapa faktor penghambat. Faktor penghambat ini antara lain: Tidak adanya penyuluhan UUBPH menyebabkan nelayan tidak mengetahui tentang UUBHP. Pada UUBHP juga tidak memperhatikan bahwa perbandingan bagian antar nelayan yang mempunyai jabatan dan nelayan biasa. UUPHP tidak mengatur tentang bagaimana caranya antara nelayan pemilik membantu nelayan buruh jika terjadi masalah keuangan di nelayan buruh. Asyad et al. (2007) mengatakan, faktor tradisi, hukum adat, kebiasaan penduduk, pengaruh agama dan lain-lain di kalangan komunitas nelayan, memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kelangsungan kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikan.
Pengembangan usaha perikanan pukat cincin di Lampulo diarahkan pada peningkatan sistem usaha perikanan yang ada dapat menguntungkan bagi para pelaku usaha dan berkelanjutan. Peningkatan yang diharapkan yaitu dapat meningkatkan produksi dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya yang ada. peningkatan pendapatan dan kesejahteraan nelayan serta para pelaku yang terlibat dalam sistem usaha tersebut. Pukat cincin merupakan salah satu alat tangkap modern yang dioperasikan secara aktif dan efektif untuk menangkap ikan pelagis. Usaha perikanan pukat cincin di Lampulo di kuasai oleh beberapa pemilik kapal, umumnya dalam satu kapal dimiliki oleh beberapa orang pemilik. Usaha penangkapan pukat cincin membutuhkan modal yang besar, untuk mengatasi hal itu, ada beberapa cara yang ditempuh yaitu dengan pengadaan modal secara bersama-sama untuk membeli sarana produksi yang dibutuhkan.
Ketersediaan modal merupakan faktor penting dimana biaya investasi dan biaya operasional pukat cincin yang tinggi, menjadikan usaha perikanan pukat cincin hanya dikuasai oleh pemilik modal saja. Sebagian besar nelayan hanya berperan sebagai nelayan buruh dengan pendapatan yang diterima menggunakan sistem bagi hasil. Nelayan di Lampulo terjalin hubungan saling berkepentingan dan saling membutuhkan antara pemodal (patron) dengan nelayan (clien) sehingga pemodal tidak hanya sebagai pemilik tetapi juga harus mampu
30
mengatasi segala macam kesulitan yang dialami nelayan. Dengan adanya sistem tersebut disatu sisi sangat membantu aktivitas nelayan buruh dimana secara cepat mendapatkan pinjaman tanpa adanya jaminan dan birokrasi yang panjang, dan tidak ada bunga pengembalian. Menurut Satria (2002) pola patron-clien terus terjadi dalam komunitas nelayan karena memang belum ada institusi formal yang mampu berperan sebagai patron.
Analisis kelayakan finansial pada penelitian ini membandingkan usaha perikanan pukat cincin harian dengan usaha perikanan pukat cincin mingguan. Berdasarkan hasil perbandingan analisis kelayakan usaha yang telah dilakukan diperoleh informasi bahwa usaha penangkapan mingguan lebih layak dan memberikan prospek yang menguntungkan yang diperoleh dalam jangka waktu 10 tahun bernilai positif dari pada usaha pukat cincin harian. Hasil analisis kelayakan usaha yang dilakukan memberikan gambaran bahwa usaha perikanan pukat cincin di Lampulo untuk kapal pukat cincin trip harian dan kapal pukat cincin trip mingguan masih layak dan dapat dikembangkan. Hasil analisis kriteria investasi untuk kapal pukat cincin trip harian dan kapal pukat cincin trip mingguan memperlihatkan nilai NPV yang positif, B/C lebih besar dari satu, dan nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang digunakan yaitu sebesar 10 % maka usaha perikanan pukat cincin di Lampulo layak diusahakan secara finansial. Usaha perikanan pukat cincin harian dan mingguan dengan analisis kriteria investasi dengan nilai NPV>0, net B/C>, dan IRR> tingkat suku bunga yang berlaku 10%.
Perbedaan produktivitas pukat cincin harian dan mingguan disebabkan oleh waktu trip yang berbeda. Waktu trip penangkapan pukat cincin harian adalah 24 jam sedangkan waktu trip penangkapan pukat cincin mingguan adalah antara 3-10 hari. Selain itu, perbedaan produktivitas ini juga dapat pula disebabkan oleh daerah penangkapan ikan yang menjadi lokasi penangkapan. Frekwensi melaut pada kegiatan penangkapan ikan berpengaruh terhadap pendapatan nelayan. Semakin lama melaut maka jumlah hasil tangkapan yang diperoleh juga lebih besar dan hal ini akan mempengaruhi penerimaan per kapal yang selanjutnya akan berpengaruh pada pendapatan nelayan. Pengalaman nelayan berpengaruh nyata terhadap total pendapatan nelayan. Pengalaman nelayan menentukan di daerah mana operasi penangkapan yang tepat, bagaimanan penggunaan alat tangkap yang tepat, dan kondisi musim. Pengembangan usaha perikanan pukat cincin di Lampulo diarahkan pada peningkatan faktor-faktor baik secara biologi, teknis, sosial dan ekonomi. Keberhasilan usaha perikanan tangkap akan sangat bergantung kepada ketersediaan potensi sumber daya ikan, optimalisasi dari proses produksi yang dilakukan, penanganan hasil tangkapan dan pemasaran (Nurani dan Widyamayanti 2005).
Pengembangan perikanan pantai perlu didukung oleh keberadaan pelabuhan perikanan yang memadai. Pembangunan dan pengembangan fasilitas masih diperlukan. Ketersediaan sarana produksi seperti kapal, alat tangkap, serta ketersediaan input produksi seperti ABK yang menguasai teknik penangkapan ikan. Ketersediaan solar dengan harga terjangkau, merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan, hal tersebut dimaksud agar usaha perikanan yang ada dapat menguntungkan bagi para pelaku usaha dan berkelanjutan. Nelayan di Lampulo belum dapat memanfaatkan sumberdaya laut dengan benar karena terbentur pada kualitas sumberdaya manusia (SDM) dan teknologi, pengetahuan yang tergolong
31
rendah membuat para nelayan kurang memiliki daya nalar yang menyerapkan teknologi inofasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) kelautan, ditambah lagi dengan keterbatasan modal usaha yang membuat para nelayan terus terbelit dengan kemiskinan.
Peningkatan yang diharapkan yaitu dapat meningkatkan produksi dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya yang ada. Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan nelayan serta para pelaku yang terlibat dalam sistem usaha tersebut.
Model pengembangan sistem usaha perikanan pukat cincin di Lampulo pada kondisi optimal dan berkelanjutan diarahkan pada perluasan daerah penangkapan hal ini dimaksudkan agar nelayan pukat cincin harian yang selama ini beroperasi disekitar wilayah pesisir dapat beroperasi di wilayah perairan yang lebih jauh seperti kapal pukat cincin mingguan.
5 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sistem bagi hasil secara adat yang berlaku di Lampulo belum dirasakan adil bagi pelaku usaha disebabkan adanya perbedaan pendapatan yang diperoleh antar nelayan.
2. Analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa usaha perikanan pukat cincin harian dan mingguan di Lampulo layak untuk dikembangkan. Hasil kelayakan usaha dan investasi menunjukkan usaha pukat cincin mingguan lebih memiliki prospek yang menguntungkan untuk dikembangkan.
Saran
Disamping kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian ini terdapat beberapa saran yang ingin disampaikan, antara lain:
1. Perlu adanya dukungan dari pemerintah dan pelaku usaha bisnis perikanan dalam penyediakan infrastruktur sarana dan prasarana untuk mendukung pengembangan usaha perikanan pukat cincin di Lampulo.
2. Adanya kepastian hukum yang memberikan jaminan keamanan investasi bagi pengusaha.
32