• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah kutukebul yang dilaporkan di Indonesia cenderung mengalami peningkatan sejak dilaporkan oleh Koningsberger pada tahun 1908 (Koningsberger 1908). Pada saat itu, Koningsberger melaporkan mengenai daftar serangga yang bersifat menguntungkan dan merugikan di Jawa. Kutukebul menjadi salah satu hama penting pada tanaman tebu. Spesies-spesies kutukebul tersebut masih menjadi hama penting sampai dengan tahun 1920-an. Selanjutnya dilaporkan spesies kutukebul lainnya, yaitu Aleurodicus destructor (sekarang

Aleuroctarthrus destructor) yang menjadi hama penting pada tanaman buah-buahan dan kelapa di Jawa. Menurut Kalshoven dan Vecht (1950), kutukebul A. destructor mengalami peledakan populasi pada tahun 1915 di perkebunan kelapa di Sulawesi dan pulau Selayar. Pengendalian A. destructor di Sulawesi dilakukan dengan cara mendatangkan musuh alaminya dari Jawa. Hingga saat ini, populasi A. destructor selalu terkendalikan di pertanaman.

Adanya peningkatan jumlah kutukebul yang dilaporkan, khususnya pada tanaman pertanian disebabkan adanya penelitian-penelitian terbaru dan adanya spesies-spesies kutukebul baru yang masuk ke Indonesia, terutama sejak tahun 1980-an. Sebagai contoh, kutukebul Aleurodicus dispersus pertama kali diketahui keberadaannya di Indonesia pada tahun 1989 melaui kegiatan survei yang dilakukan oleh Kajita et al. (1991). Kemudian diikuti oleh kutukebul A. dugesii

pada tahun 2007 (Hidayat dan Watson 2008). Kedua spesies tersebut menjadi spesies invasif di ndonesia. A. dispersus merupakan serangga asli dari kawasan Amerika Selatan dan kepulauan Karibia, sedangkan A. dugesii merupakan serangga asli dari kawasan Amerika bagian tengah. Kutukebul memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil sehingga dapat dengan mudah terbawa melalui material tanaman, misalnya melalui kegiatan perdagangan baik antar wilayah maupun antar negara.

Kutukebul telah diketahui menjadi salah satu hama penting pada tanaman buah-buahan (terutama jeruk), tanaman di rumah kaca, dan tanaman sayuran.

Bahkan beberapa spesies kutukebul memiliki penyebaran yang luas dan bersifat kosmopolitan. Kutukebul dapat menyebabkan gangguan secara langsung pada tanaman, misalnya nekrosis daun, perubahan warna daun, kerontokan daun, dan tertutupinya permukaan daun oleh cendawan jelaga akibat sekresi embun madu oleh kutukebul (Gullan dan Martin 2003). Secara tidak langsung, kutukebul dapat menjadi vektor virus penyebab penyakit tanaman.

Berkaitan dengan kebutuhan nutrisi, secara umum serangga memerlukan protein sebesar 8-14% untuk menunjang pertumbuhannya sedangkan tanaman biasanya hanya menyediakan sekitar 2-4% protein yang dibutuhkan oleh serangga. Dalam hal ini, serangga herbivora harus mengkonsentrasikan pada unsur nitrogen ketika mengkonversi makanan dari tanaman untuk membentuk sel-sel baru pada jaringan tubuhnya. Seperti halnya serangga dengan tipe alat mulut menusuk-mengisap lainnya, kutukebul memerlukan protein dalam jumlah yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi tubuhnya. Oleh karena itu, kutukebul perlu mengisap cairan tanaman dalam jumlah banyak agar protein yang terkandung di dalamnya dapat diekstrak. Sisa cairan akan dikeluarkan melalui anus dalam bentuk embun madu (Schoonhoven et al. 1998). Kutukebul makan dengan cara mengisap cairan di bagian floem tanaman yang kaya akan nutrisi, terutama gula. Kutukebul memiliki organ filter chamber yang secara langsung menghubungkan sistem pencernaan bagian depan (foregut) dengan bagian belakang (hindgut). Organ ini dapat melewatkan air dan molekul-molekul berukuran kecil, termasuk gula, secara cepat tanpa proses penyerapan di bagian mesenteron (midgut). Oleh karena itu, cairan yang mengandung gula yang masuk ke foregut akan lagsung menuju hindgut dan segera dikeluarkan melalui anus. Cairan yang kaya akan gula inilah yang sering disebut dengan embun madu yang dapat menjadi medium bagi pertumbuhan cendawan jelaga. Cendawan jelaga dapat menutupi bagian permukaan atas daun sehingga akan mengganggu proses fotosintesis dan respirasi tanaman. Terganggunya fotosintesis dapat mempengaruhi aktivitas tanaman dalam menghasilkan nutrisi bagi pertumbuhannya sehingga dapat menyebabkan tanaman layu dan mengering hingga kematian pada tanaman (Gullan dan Cranston 2000).

Spesies kutukebul yang diketahui dapat menjadi vektor virus penyebab penyakit tanaman adalah B. tabaci (sweetpotato whitefly) dan T. vaporariorum

(greenhouse whitefly). B. tabaci merupakan kutukebul yang memiliki kisaran inang yang luas, khususnya pada kelompok tanaman hias dan tanaman berserat. B. tabaci dapat menularkan sekitar 70 jenis virus tanaman. Populasi kutukebul B. tabaci mengalami peningkatan secara drastis sejak tahun 1970-an, terutama di kawasan tropik dan subtropik. Jumlah imago kutukebul B. tabaci yang tertangkap dari tanaman melon dan kapas di California pada tahun 1971, 1981, dan 1991 mengalami peningkatan yaitu berturut-turut sebesar 100, 5000, dan 35000 individu. Penyebab peningkatan ini belum diketahui dengan pasti, tetapi kemungkinan berkaitan dengan dampak peningkatan penggunaan insektisida sintetik dan terjadinya resistensi serangga terhadap pestisida; terjadinya perubahan kondisi iklim; intensifikasi pertanian; dan perpindahan material tanaman secara internasional di tempat pembibitan (nursery) maupun perdagangan komoditas hortikultura. B. tabaci diketahui memiliki biotipe-biotipe, di antaranya biotipe-A dan B yang dapat menularkan virus-virus penting pada tanaman pertanian. Hingga akhir tahun 1980-an, B. tabaci biotipe-A merupakan biotipe yang utama di bagian selatan Amerika Serikat. Pada tahun 1991, B. tabaci biotipe-B telah menggantikan biotipe-A. B. tabaci biotipe-B menyebabkan gejala keperakan pada daun tanaman

squash sehingga nama umum dari biotipe-B adalah silverleaf whitefly. Beberapa peneliti sering menyebutnya sebagai spesies Bemisia argentifolii, tetapi secara umum kutukebul ini lebih dikenal sebagai B. tabaci biotipe-B (Wisler et al. 1998). Secara umum, aktivitas makan serangga bertipe alat mulut menusuk-mengisap menyebabkan gejala yang tidak terlalu jelas terlihat pada tanaman. Hal ini disebabkan serangan serangga penusuk-pengisap berada pada tingkat sel atau jaringan tanaman. Kerusakan yang terjadi pada tanaman sulit dinilai secara kuantitatif meskipun pada kenyataannya serangga mengisap sumber nutrisi tanaman, baik dari xylem maupun floem. Dampak dari serangan serangga bertipe alat mulut menusuk-mengisap hanya dapat dideteksi melalui percobaan dengan membandingkan tanaman terinfestasi dengan tidak terinfestasi serangga. Pada saat mengisap cairan tanaman, serangga ini dapat menghasilkan cairan yang mirip dengan ludah yang mengandung enzim yang dapat menyebabkan nekrosis pada

jaringan tanaman (Gullan dan Cranston 2000). Cairan ludah ini juga yang dapat menjadi media bagi penyebaran virus yang dibawa oleh spesies kutukebul yang berperan sebagai serangga vektor.

Spesies kutukebul yang ditemukan pada tanaman pertanian jumlahnya relatif banyak. Sebagian besar dari spesies tersebut hidup pada komoditas tanaman buah-buahan. Hal ini disebabkan pohon buah-buahan umumnya memiliki arsitektur tanaman yang kompleks. Semakin kompleks suatu tanaman maka kemungkinan jumlah spesies serangga herbivora yang hidup pada tanaman tersebut akan semakin banyak (Lawton 1983). Selain itu, pohon buah-buahan umumnya termasuk ke dalam kelompok tanaman tahunan yang lebih stabil daripada tanaman setahun, dalam hal ini menyangkut stabilitas keanekaragaman serangga yang hidup pada masing-masing kelompok tanaman. Pada umumnya, keanekaragaman serangga pada tanaman tahunan tidak mudah berubah dan jarang terjadi pergantian spesies. Tanaman pertanian lain yang termasuk ke dalam kelompok tanaman setahun, misalnya sayuran dan tanaman pangan, umumnya mengalami suksesi awal yang rentan terhadap serangan serangga hama sehingga sering diaplikasikan pestisida. Oleh karena itu, keanekaragaman serangga pada tanaman setahun lebih sering mengalami perubahan dan terjadi pergantian spesies serangga. Spesies-spesies serangga yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dapat terus ada dan akhirnya dapat mendominasi di suatu pertanaman (Feeny 1975). Pohon buah-buahan dapat tumbuh pada ketinggian tempat yang beragam, sedangkan kelompok tanaman sayuran, tanaman hias, dan pangan di antaranya sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, ketinggian tempat, dan suhu lingkungan.

Di lapangan seringkali ditemukan banyak imago kutukebul yang hinggap dan makan pada suatu pertanaman, tetapi serangga pradewasanya sangat sedikit ditemukan. Sebagai contoh, imago B. tabaci pada tanaman cabai relatif lebih mudah ditemukan jika dibandingkan dengan nimfanya. Hal ini berhubungan dengan preferensi kutukebul terhadap tanaman inangnya. Preferensi kutukebul terhadap tanaman inangnya di antaranya dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik tanaman, kandungan senyawa kimia tanaman, dan keberadaan musuh alaminya. Dalam memilih tanaman inang, imago betina kutukebul biasanya akan memilih

tempat oviposisi (meletakkan telur) yang dapat mendukung sumber makanan bagi keturunannya. Tempat oviposisi identik dengan kisaran tanaman yang dapat dimakan oleh nimfa. Seleksi tanaman inang untuk oviposisi diatur oleh genom yang berbeda dengan seleksi tanaman inang untuk makan. Oleh karena itu, preferensi oviposisi berkaitan erat dengan sumber makanan yang dibutuhkan oleh keturunannya untuk dapat bertahan hidup, tumbuh dan berkembang, dan bereproduksi (Schoonhoven et al. 1998).

Karakter permukaan daun dan bagian tanaman lainnya merupakan faktor penting bagi serangga betina untuk mencari dan memutuskan tempat untuk oviposisi. Serangga pradewasa akan tertarik pada tanaman yang memiliki kandungan makanan yang tepat, sedangkan pemilihan tanaman inang oleh imago selain untuk tempat makan, biasanya terkait pula dengan fungsinya sebagai fase penyebaran, mencari pasangan, dan oviposisi (Schoonhoven et al. 1998). Jika dilihat dari faktor fisik tanaman, kutukebul ternyata lebih menyukai daun yang permukaannya berambut daripada daun yang permukaannya halus. B. tabaci lebih banyak meletakkan telur pada tanaman terung yang memiliki trikoma pada bagian permukaan atas dan bawah daun, diikuti oleh tomat dan cabai. Kemampuan hidup nimfa B. tabaci yang tertinggi terdapat pada tanaman terung, sedangkan yang terendah pada tanaman cabai. Pada daun terung, nimfa instar satu (crawler) B. tabaci biasanya tidak akan berpindah tempat terlalu jauh karena terhambat oleh keberadaan trikoma (Khan et al. 2011). Oleh karena itu, pada daun tanaman yang berambut atau memiliki trikoma, nimfa kutukebul lebih sering ditemukan mengelompok pada daun tertentu dibandingkan dengan nimfa yang cenderung menyebar pada daun yang permukaannya halus pada suatu tanaman. Faktor kimia tanaman juga dapat mempengaruhi preferensi tanaman inang kutukebul. Faktor kimia tersebut di antaranya berupa senyawa primer dan sekunder yang terdapat di dalam tanaman. Nimfa kutukebul lebih sering ditemukan pada daun yang terdapat di bagian bawah tanaman daripada pada bagian atas daun maupun tunas. Daun muda maupun tunas memiliki jaringan yang sel-selnya sedang aktif tumbuh, sehingga biasanya kandungan senyawa sekunder pada bagian tersebut cenderung lebih tinggi daripada daun yang sudah tua. Senyawa sekunder tanaman dapat bersifat racun terhadap kelompok serangga tertentu (Schoonhoven et al. 1998).

Selain faktor fisik dan kimia tanaman, preferensi kutukebul dalam memilih tanaman inangnya ternyata berkaitan pula dengan keberadaan musuh alaminya. Kutukebul memiliki kemampuan untuk menolak suatu tanaman sebagai inangnya yang kemungkinan mengandung musuh alami atau pun dapat menarik kedatangan musuh alami. Kutukebul dapat belajar dari pengalamannya dan mengurangi resiko terhadap terjadinya pemangsaan maupun parasitisasi oleh musuh alami. Oleh karena itu, distribusi relatif kutukebul pada suatu pertanaman dapat berubah dengan adanya mangsa atau inang alternatif bagi serangga predator atau parasitoid. Sebagai contoh, selain memakan kutukebul, tungau predator dapat juga memakan polen untuk bertahan hidup dan bereproduksi, sehingga populasi kutukebul dapat tetap ada. Namun pada saat tidak ada polen, tungau predator akan memakan kutukebul yang ditemukannya pada suatu tanaman sehingga akan dapat menurunkan populasi kutukebul (Namikou et al. 2003). Keberadaan trikoma dan rambut-rambut pada permukaan daun juga dapat mempengaruhi keberadaan musuh alami. Sebagai contoh, pada daun tanaman mentimun yang sedikit berambut, parasitoid Encarsia formosa lebih efisien dalam mencari inangnya yang berupa nimfa kutukebul daripada tanaman mentimun yang berambut banyak. Dalam hal ini parasitoid dapat bergerak bebas dan memparasit inang dengan lebih baik. Hal ini ditunjukkan oleh tingkat parasitisasi nimfa kutukebul oleh E. formosa pada daun tanaman yang berambut sedikit ternyata 20% lebih tinggi daripada daun yang berambut banyak (Schoonhoven et al. 1998).

Secara umum, musuh alami kutukebul yang potensial adalah parasitoid. Hal ini disebabkan adanya hubungan yang lebih spesifik antara kutukebul dengan parasitoid dibandingkan dengan serangga predator. Aphelinidae dan Encyrtidae merupakan famili serangga parasitoid yang sering ditemukan memarasit nimfa kutukebul. Biasanya satu individu parasitoid akan memarasit satu individu kutukebul (Begum et al. 2011). Serangga predator kutukebul yang sering ditemukan di lapangan umumnya dominan dari kelompok kumbang Coccinellidae.

Verania lineata merupakan salah satu spesies kumbang Coccinellidae yang memiliki preferensi mangsa utama berupa kutukebul (B. tabaci) (Udiarto et al.

2012). Kumbang Coccinellidae lain memiliki preferensi mangsa utama pada jenis kutu-kutu tanaman lainnya.

Peristiwa masuknya serangga baru ke Indonesia semakin sering terjadi akhir-akhir ini. Beberapa spesies serangga baru tersebut ada yang bersifat sebagai spesies invasif yang menimbulkan permasalahan baru di pertanaman. Sebagai contoh, terdapat beberapa spesies kutukebul menjadi spesies invasif di Indonesia, di antaranya A. dispersus, A. dugesii, dan B. tabaci. Salah satu ciri spesies invasif adalah memiliki sifat agresif dari spesies tersebut. Namun sifat ini sangat dipengaruhi oleh variasi kondisi lingkungan dan area geografi, sehingga pertumbuhan dan perkembangan spesies invasif tertentu akan dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik yang dapat membatasi penyebarannya. Pada sisi lain, spesies invasif seringkali sangat mudah beradaptasi dengan kondisi habitatnya yang baru sehingga dapat menyebar dengan luas, baik antar wilayah maupun antar negara (Carruthers 2003). Kegiatan perdagangan material tanaman hidup dapat menjadi salah satu cara penyebaran kutukebul. Beberapa spesies kutukebul telah menyebar dari daerah aslinya ke berbagai negara dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Hal yang menjadi kekhawatiran utama adalah penyebaran virus penyebab penyakit tanaman bersama dengan penyebaran kutukebul yang menjadi serangga vektor (Watson 2007).

Data-data yang ada di pihak karantina seringkali tidak diperbaharui secara kontinu, sehingga spesies-spesies baru yang masuk ke suatu negara dapat luput dari pengawasan. Sebagai contoh, kutukebul Bemisia argentifolii tidak termasuk ke dalam daftar hama karantina sehingga dapat lolos dalam proses karantina. Pada kenyataannya, nama spesies ini adalah sinonim dari Bemisia tabaci biotipe-B yang dapat menularkan penyakit tanaman (Watson 2007). Oleh karena itu, pengetahuan mengenai deskripsi dan identifikasi yang akurat sangat diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap masuknya spesies-spesies hama baru ke suatu negara (Martin 2008).

BAB VI

Dokumen terkait