• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

4.2 Pembahasan Umum

Timbal termasuk kedalam kelompok logam-logam golongan IV-A pada tabel periodik unsur kimia dan mempunyai nomor atom 82 dengan berat atom 207,2 (Palar 2004). Adanya persenyawaan timbal yang masuk kedalam ekosistem menjadi sumber pencemaran dan dapat berpengaruh terhadap biota perairan sebagai contoh dapat mematikan ikan terutama pada fase larva (juvenil) karena toksisitasnya tinggi. Organisme perairan khususnya ikan yang mengalami keracunan logam berat akan mengalami gangguan pada proses pernafasan dan metabolisme tubuhnya, hal ini terjadi karena bereaksinya logam berat dengan fraksi dari lendir insang sehingga insang diselimuti oleh gumpalan lendir dari logam berat yang mengakibatkan proses pernafasan dan metabolisme tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Hasil pengamatan pada uji akut menunjukkan bahwa gejala klinis terlihat sesaat setelah pemaparan timbal. Gejala klinis yang teramati yaitu terjadinya perubaan tingkah laku, antara lain gerakan berenang yang tidak teratur dan terkejut-kejut, cenderung berada di permukaan, frekuensi gerak operkulum terus menerus dengan bukaan yang lebih lebar dan selanjutnya ikan cenderung diam dan kehilangan refleks. Respon tersebut karena adanya pengaruh sifat timbal yang menyerang sistem saraf pusat, mengganggu proses sel dan sistem kerja jaringan tubuh ikan kerapu macan sampai melewati batas toleransi menyebabkan kematian secara langsung.

Hasil analisis statistik menunjukkan nilai LC50-96 jam logam berat

timbal terhadap juvenil ikan bandeng selama 24 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam berturut-turut adalah 90,45 ppm, 78,76 ppm, 74,264 ppm dan 68,627 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama waktu pemaparan maka nilai LC50 akan

semakin rendah. Hal ini berarti bahwa juvenil ikan kerapu macan akan mengalami kematian yang lebih cepat apabila terpapar timbal dengan konsentrasi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan konsentrasi yang rendah. Menurut Hutagalung (1984), daya toksik logam berat terhadap organisme perairan dapat diketahui dengan mengukur LC50. Biasanya waktu yang digunakan adalah 96 jam, semakin

kecil nilai LC50 maka semakin besar sifat toksik logam beratnya. Sebagaimana

37   

   

kadar logam berat maka daya toksisitasnya akan semakin besar pula. Timbal yang masuk kedalam tubuh juvenil ikan kerapu macan akan bersifat sebagai xenobiotik abiotik yang menghambat kerja asetilkolinesterase (AchE) sehingga terjadi akumulasi astilkolin (ACh) dalam susunan saraf pusat. Selanjutnya akumulasi tersebut akan menginduksi tremor, inkoordinasi, kejang-kejang sampai dapat mengakibatkan kematian. Sedangkan akumulasi pada neuromuskuler akan mengakibatkan kontraksi otot yang diikuti dengan kelemahan, hilangnya reflex dan paralisis.

Hal ini menyebabkan difusi oksigen kedalam kapiler darah terganggu. Pergerakan oksigen kedalam kapiler darah di insang ditentukan oleh perbedaan tekanan oksigen yang terdapat dalam insang dengan tekanan oksigen dalam kapiler darah insang. Sedangkan tekanan oksigen dalam insang sangat ditentukan oleh struktur lamella. Jika struktur lamella insang terganggu atau rusak, maka dapat dipastikan akan menurunkan kemampuan insang mengikat oksigen. Heath (1987) dalam Ghalib (2002) mengemukakan bahwa logam berat dapat menyebabkan kerusakan insang seperti nekrosis dan lepasnya lapisan epithelium. Sejalan dengan itu maka Wardoyo (1975) mengemukakan bahwa salah satu jaringan tubuh organisme yang cepat terakumulasi logam berat adalah jaringan insang, sehingga menyebabkan terganggunya proses pertukaran ion-ion dan gas- gas melalui insang. Oleh karena itu , kerusakan struktur lamella yang sangat ringan sekalipun dapat mempengaruhi proses respirasi pada juvenil ikan kerapu macan. Pengaruh kerusakan insang terhadap sistem respirasi ikan kerapu macan selanjutnya ditunjukkan dengan pengukuran tingkat konsumsi oksigen. Tingkat konsumsi oksigen pada dasarnya menunjukkan tingkat metabolisme. Konsumsi oksigen adalah indikator respirasi yang juga menunjukkan metabolisme energetik. Pengukuran tingkat konsumsi oksigen ikan kerapu macan mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentrasi timbal dan semakin lama waktu pemaparan menyebabkan konsumsi oksigen semakin rendah. Toksisitas logam berat timbal juga mempengaruhi kondisi hematologi ikan kerapu macan. Gambaran darah ikan digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan yang sedang dialami, karena darah memiliki fungsi vital bagi tubuh ikan, antara lain sebagai pengangkut zat- zat kimia seperti hormon, pengangkut hasil buangan metabolisme dan pengangkut

38   

oksigen dan karbondioksida. Hasil pengukuran menunjukkan adanya penurunan kadar hematokrit, kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit dan terlihat bahwa setelah 30 hari pemaparan, pengaruh lanjut toksisitas timbal mulai pada konsentrasi 6,86 ppm di hari ke-10 dapat menurunkan kadar hematokrit, kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit dalam darah ikan kerapu macan. Sedangkan jumlah leukosit mengalami peningkatan mulai pada konsentrasi 6,86 ppm di hari ke-10. Penurunan atau peningkatan parameter hematologi dalam darah menunjukkan telah terjadi penyimpangan fisiologis pada ikan kerapu macan.

Berkaitan dengan fungsi vital darah dalam metabolisme tubuh, sehingga diduga hal tersebut mempengaruhi proses metabolisme dalam tubuh ikan kerapu macan. Menurut Saeni (1989), logam berat timbal dapat mengganggu kerja enzim dan fungsi protein, dan hal ini diperkuat dengan tingkat pertumbuhan ikan kerapu macan menurun pada perlakuan dengan pemaparan konsentrasi timbal yang lebih tinggi.

Pada pengamatan kadar glukosa darah terlihat bahwa terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah ikan kerapu macan. Pada perlakuan dengan konsentrasi timbal yang lebih tinggi akan memberikan pengaruh peningkatan kadar glukosa dalam darah. Hasil juga menunjukkan bahwa pada perlakuan kontrol, kadar glukosa darah juga mengalami kenaikan namun masih jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan ketiga perlakuan lainnya. Kadar glukosa dalam darah digunakan sebagai indikator stress pada ikan kerapu macan. Marcel et al. (2009) mengemukakan bahwa naik turunnya kadar glukosa darah ikan mengindikasikan bahwa ikan sedang lapar atau sedang kenyang. Naiknya glukosa darah menandakan bahwa ikan sedang kenyang, artinya nafsu makan berkurang karena energi yang dibutuhkan oleh tubuh terpenuhi. Sebaliknya pada saat kadar glukosa darah turun, maka ikan akan merasa lapar sehingga diperlukan makanan untuk memenuhi kebutuhan energinya. Pada saat ikan stress menyebabkan kadar glukosa dalam darah terus naik yang diperlukan untuk mengatasi homeostasis. Dengan tingginya kadar glukosa dalam darah tersebut maka sinyal dari saraf pusat menandakan bahwa ikan merasa kenyang dan tidak mau makan. Relevan dengan kondisi yang terjadi dalam penelitian ini dimana ikan kerapu macan pada perlakuan kontrol selalu menunjukkan respon yang lebih baik terhadap makanan

39   

   

yang diberikan. Naiknya kadar glukosa darah dibutuhkan untuk proses memperbaiki homeostasis selama stress, namun kebutuhan energi dari glukosa tersebut akan dapat terpenuhi apabila glukosa dalam darah dapat segera masuk kedalam sel, dan ini sangat bergantung pada kinerja insulin. Jika kondisi ini dicapai oleh ikan kerapu macan maka seharusnya ikan akan lebih respon terhadap makanan sehingga dapat memberikan dampak pertumbuhan yang lebih baik bagi ikan, akan tetapi hasil yang diperoleh dalam penelitian menunjukkan peningkatan kadar glukosa dalam darah akibat tidak diikuti dengan dampak pertumbuhan yang lebih tinggi pula. Oleh karena itu diduga bahwa peningkatan kadar glukosa dalam darah merupakan indikasi bahwa telah terjadi stress pada ikan kerapu macan akibat toksistas logam berat timbal.

Kandungan logam berat timbal dalam tubuh ikan pada akhir penelitian menunjukkan bahwa terjadi akumulasi timbal dalam tubuh juvenil ikan kerapu sehingga pada konsentrasi yang tertinggi (6,86 ppm) ikan tersebut mengakumulasi timbal sebanyak 22,8 mg/kg dalam waktu 30 hari. Sedangkan konsentrasi timbal dalam media pemeliharaan mencapai <0,005 mg/L. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Darmono (1995) bahwa Pb termasuk kelompok logam berat yang diregulasi oleh organisme air tetapi terus-menerus terakumulasi dalam jaringan organisme sehingga kandungannya terus bertambah dengan konsentrasi logam dalam air, dan hanya sedikit sekali yang diekskresikan. Data kualitas air juga menunjukkan bahwa kisaran kualitas air pada penelitian masih dalam kisaran yang layak untuk kehidupan juvenil ikan kerapu macan sehingga parameter kualitas air dalam penelitian ini bukanlah sebagai faktor pembatas yang mempengaruhi kehidupan juvenil ikan kerapu macan.

40   

41   

   

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Pengaruh toksisitas logam berat timbal pada juvenil ikan kerapu macan akan menurunkan tingkat konsumsi oksigen hingga mencapai 0,34 mg O2/gr berat tubuh ikan/jam, kadar hematokrit (9,66%,), kadar hemoglobin

(2,64%) dan jumlah eritrosit (0,77 x 106 sel/mm3) dan dimulai pada konsentrasi 6,86 ppm.

2. Pengaruh toksisitas logam berat timbal akan meningkatkan jumlah leukosit hingga mencapai 0,81x106 sel/mm3 dan meningkatkan kadar glukosa darah sebesar 90,79 mmol/liter dan dimulai pada konsentrasi 6,86 ppm. 3. Toksisitas logam berat timbal memberikan pengaruh terhadap laju

pertumbuhan dan menurunkan tingkat kelangsungan hidup juvenil ikan kerapu macan.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan tentang tingkat akumulasi logam berat timbal dan pengaruhnya terhadap berbagai organ dalam tubuh ikan.

42     

43   

   

Dokumen terkait