BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Metode STAD

Model pembelajaran kooperatif metode STAD yang digunakan dalam penelitian ini diadaptasi dari Slavin yang terdiri dari komponen utama yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, rekognisi tim. Pada penelitian ini penerapan model pembelajaran kooperatif metode STAD dilakukan pada siklus I dan siklus II dengan penerapan langkah-langkah pembelajaran yang sama di setiap pertemuannya.

Siklus I dilakukan dalam dua pertemuan, yaitu pada tanggal 26 Mei 2013 dan pada tanggal 27 Mei 2013. Langkah-langkah pembelajaran pada pertemuan pertama dengan penerapan model pembelajaran kooperatif metode STAD yang diadaptasi dari Slavin yang sudah dijelaskan pada bab II. Kegiatan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kooperatif metode STAD mulai dikenalkan kepada siswa untuk pertama kalinya. Pada pembelajaran sebelumnya guru lebih cenderung menggunakan metode ceramah. Hal tersebut dikuatkan dengan hasil wawancara dengan guru kelas IV yang mengatakan bahwa:

“Kelas IV itu merupakan kelas dengan anak-anak yang susah diatur. Sebenarnya saya juga kepengen meggunakan metode pembelajaran yang lain seperti metode diskusi kelompok. Tapi anak-anak kelas IV yang suka ngeyel dan suka ribut sendiri membuat saya tidak berani menggunakan metode diskusi kelompok. Bisa-bisa anak pada ribut sendiri di dalam kelompok. Bukannya mendiskusikan pembelajaran, tapi palah mediskusikan hal-hal lain yang mengasyikkan buat mereka. Makanya saya belum pernah menerapkan metode kelompok dalam pembelajaran saya.” (hasil wawancara dengan bu Har, 6 Mei 2013)

Saat pembelajaran dalam siklus I pertemuan 1 berlangsung, guru memberikan penjelasan kepada siswa tentang arti kerja dalam tim atau kelompok. Guru menjelaskan secara rinci agar siswa paham tentang pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Siklus II dilakukan dalam dua kali pertemuan pada tanggal 3 Mei 2013 dan 4 Mei 2013. Pada prinsipnya langkah-langkah pembelajaran dalam siklus II sama dengan langkah-langkah pembelajaran dalam siklus I. Hanya berbeda dengan indikator dan tujuan pembelajaran. Siswa diminta untuk memberikan contoh, ide, gagasan, serta pendapat dalam masalah sosial. Pada siklus II ini pembelajaran IPS dengan penerapan model pembelajaran kooperatif metode STAD sudah berjalan dengan baik. Berikut ini merupakan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif metode STAD yang dilakukan pada siklus I dan siklus II:

1. Kuis Pertama

Guru memulai pembelajaran dengan doa dan apersepsi dilanjutkan dengan presentasi kelas. Setelah presentasi kelas berakhir, guru meminta siswa untuk mengerjakan soal kuis yang pertama guna mendapatkan nilai awal. Pada siklus I pertemuan 1 soal kuis berisi tentang perbedaan masalah sosial dan masalah pribadi, serta pengertian dari permasalahan

sosial. Rata-rata nilai kuis yang didapatkan siswa pada siklus I pertemuan 1 yaitu 53,1. Pada siklus I pertemuan 2 soal kuis berisi tentang jenis-jenis masalah sosial. Rata-rata nilai kuis yang didaptkan siswa pada siklus I pertemuan 1 yaitu 59,65. Pada siklus II pertemuan 1, soal kuis berisi tentang pertanyaan-pertanyaan tentang sebab dan akibat masalah sosial. Rata-rata nilai kuis yang didapatkan siswa pada siklus I pertemuan 1 yaitu 63,10. Pada siklus II pertemuan 2, soal kuis berisi tentang pertanyaan-pertanyaan tentang penanganan dari permasalahan sosial. Rata-rata nilai kuis yang didapatkan siswa pada siklus I pertemuan 1 yaitu 64,14. Hasil dari rata-rata perolehan nilai kuis pertama siswa terlihat adanya peningkatan dari setiap pertemuannya. Berikut ini merupakan gambar yang menunjukkan saat siswa mengerjakan soal kuis yang pertama:

Gambar 4.1. Siswa Mengerjakan Soal Kuis Pertama

2. Presentasi Kelas

Pada siklus 1 pertemuan 1, guru melakukan presentasi kelas dengan menggunakan media powerpoint. Kegiatan yang dialakukan guru saat presentasi kelas yaitu menjelaskan kepada siswa dengan melakukan kegiatan tanya jawab mengenai pengertian masalah sosial, perbedaan masalah sosial dengan menggunakan media powerpoint. Pada presentasi

kelas ini, siswa diminta untuk menemukan sendiri akan pengertian masalah sosial dengan dipancing pertanyaan-pertanyaan dari guru seperti “kebersihan kelas merupakan tanggung jawab siapa?” dan siswa menjawab “tanggung jawab kita”, kemudian guru bertanya “jika kelas kita kotor dan menimbulkan sarang penyakit, apa berpengaruh pada kalian?, siswa menjawab “ya dapat menimbulkan penyakit bagi kita semua”. Kemudian dari jawaban-jawaban yang diberikan siswa, guru bertanya lagi kepada siswa yaitu “apa pengertian masalah sosial menurut kalian dan siswa menjawab “masalah sosial merupakan masalah yang dirasakan oleh kita semua”. Jawaban-jawaban yang diberikan siswa menunjukkan adanya kreatifitas dalam memberikan gagasan kepada guru. Hal tersebut dikarenakan banyaknya variasi jawaban yang diberikan siswa seperti menjawab bahwa masalah sosial merupakan masalah tentang kebersihan kelas, masalah sosial merupakan masalah yang berpengaruh kepada kita semua yang berkaitan dengan penyakit, dan masalah sosial merupakan masalah yang dapat merugikan kita semua. Namun pada pertemuan kali ini ada beberapa siswa yang kurang merespon pertanyaan dari guru dikarenakan kurangnya kepercayaan diri dalam diri siswa serta rasa takut siswa jika gagasan yang diberikan salah. Pada presentasi kelas tersebut siswa diminta untuk membedakan gambar masalah sosial dan masalah pribadi, siswa diminta menunjukkan mana gambar yang termasuk masalah pribadi dan masalah sosial.

Pada siklus I pertemuan 2, guru melakukan presentasi kelas dengan menjelaskan jenis-jenis permasalahan sosial menggunalan media

powerpoint, siswa diminta untuk menentukkan jenis-jenis permasalahan sosial menurut video dan gambar yang ditampilkan oleh guru. Pada kegiatan tersebut, kreatifitas siswa dalam memberikan pendapat serta gagasan terlihat ketika guru melakukan tanya jawab denga siswa. Guru bertanya kepada siswa mengenai jenis-jenis permasalahan sosial apa saja yang ada di masyarakat, jawaban yang diberikan siswa pun beragam yaitu ada yang menjawab sampah, tindak kejahatan, perilaku tidak disiplin di jalan raya.

Pada siklus II pertemuan 1, guru melakukan presentasi kelas menggunakan powerpoint untuk menujukkan gambar serta video mengenai permasalahan sosial. Peningkatan kreatifitas siswa tampak saat guru meminta pendapat dari siswa mengenai akibat serta sebab dari permasalahan sosial. Siswa sudah memberikan jawaban yang baik serta beragam. Contohnya saat guru bertanya tentang akibat dari tidak menjaga kebersihan. Ada beberapa variasi jawaban yang dieberikan siswa yaitu akan menimbulkan penyakit, jika membuang sampah sembarangan akan menyebabkan banjir, menimbulkan bau yang tidak sedap jika ada sampah yang menumpuk.

Pada siklus II pertemuan 2, guru melakukan presentasi kelas menggunakan media powerpoint untuk menampilkan gambar dan video mengenai permasalahan sosial agar siswa dapat memberikan ide dalam menangani permasalahan sosial yang ditampilkan guru. Kreatifitas siswa saat presentasi kelas semakin terlihat ketika siswa dapat memberikan ide- idenya dalam memecahkan permasalahan sosial yang ada di lingkungan

sekitar. Contoh ide yang diungkapkan siswa dalam menjaga kebersihan di lingkungan sekolah yaitu selalu melakukan tugas piket, membuang sampah pada tempatnya dan selalu menyiram dengan air yang cukup setelah buang air di WC. Berikut ini merupakan salah satu gambar yang menunujukkan presentasi kelas saat penelitian berlangsung:

Gambar 4.2 Presentasi Kelas Oleh Guru 3) Tim

Pada siklus I pertemuan 1, guru membagi siswa ke dalam kelompok, siswa dibagi secara heterogen berdasarkan prestasi akademik, jenis kelamin dan agama. Walaupun ada beberapa kesulitan yang dinyatakan oleh guru kelas IV seperti berikut:

“Kesulitan yang saya hadapi ketika menggunakan pembelajaran kooperatf tipe STAD yaitu pada saat pembagian kelompok berlangsung, ada siswa yang ngeyel dan tawar menawar dalam pembagian kelompok, kemudian ada beberapa siswa yang tidak jelas tentang anggota kelompoknya sehingga saya harus menuliskan di papan tulis.” (hasil wawancara dengan bu Har, 6 Mei 2013)

Masing-masing siswa masuk ke dalam kelompoknya dan mulai bekerja di dalam kelompok. Walaupun mereka sudah masuk ke dalam masing-masing kelompok namun mereka belum paham tentang kontribusi mereka di dalam kelompok. Sehingga ada beberapa siswa yang diam saja dan ada juga yang asyik mengobrol dengan teman lain. Perbedaan jenis kelamin juga menyulitkan mereka bekerja dalam

kelompok dikarenakan ada siswa yang malu dan ada yang saling mengejek antara siswa laki-laki dan perempuan. Adanya kelompok bermain dan bergaul dengan teman akrab menyusahkan bagi mereka untuk membaur dengan teman lainnya. Sehingga pada siklus pertemuan pertama ini siswa masih harus beradaptasi dengan pembentukan kelompok untuk pertama kalinya. Hal tersebut juga diperkuat dengan pernyataan guru kelas IV sebagai berikut:

“Kalau di pertemuan 1, siswa masih belum bisa beradaptasi dengan teman kelompoknya. Masih ada beberapa siswa yang protes. Kata siswa, kok aku nggak sama si A atau si B. Maklum namanya anak-anak pasti masih suka geng- gengan, masih suka pilih-pilih teman jadi susah kalau disuruh membaur dengan teman satu kelas. Kalau nggak dibentuk kayak gini, mesti mereka cuma mau satu kelompok sama teman akrab masing-masing.”(hasil wawancara dengan bu Har, 4 Mei 2013)

Setelah pembagian kelompok, siswa melakukan kegiatan dalam kelompok yaitu siswa diberikan lembar kerja untuk memahami materi serta mendiskusikan masalah-masalah sosial yang ada dalam lembar kerja. Siswa diminta untuk menempel gambar serta memberikan keterangan mengenai gambar yang ditempel dalam lembar kerja. Setelah itu siswa diminta untuk memprentasikan hasil kerja kelompok. Kreatifitas siswa terlihat saat presentasi berlangsung yaitu adanya siswa yang memberikan tanggapan, pendapat serta gagasan, serta komentar saat ada presentasi kelompok lain.

Pada siklus I pertemuan 2 setelah presentasi kelas selesai, siswa dibentuk kelompok seperti pertemuan pertama. Siswa diminta untuk masuk ke dalam kelompok masing-masing serta siswa diminta untuk mengerjakan serta memahami materi dalam lembar kerja yang diberikan guru. Pada saat pembelajaran kelompok berlangsung, terlihat adanya

peningkatan kreatifitas siswa dalam melakukan tanya jawab antar siswa, saling bertukar pendapat serta memberikan gagasan dalam memberikan penjelasan serta jenis masalah sosial yang pada gambar di dalam lembar kerja. Setelah siswa selesai mengerjakan lembar kerja, perwakilan kelompok maju untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Pada kegiatan mempresentasikan hasil kerja terlihat adanya peningkatan kreatifitas siswa yaitu ditunjukkan dengan siswa lebih lancar dalam memberikan komentar, pendapat serta gagasan. Setelah presentasi hasil kerja selesai, siswa diminta untuk mengerjakan soal kuis. Soal kuis digunakan untuk memperoleh skor akhir siswa. Saat mengerjakan soal kuis dalam bentuk isian singkat terlihat adanya peningkatan dalam memberikan jawaban berupa gagasan yang bervariasi dari siswa. Satu soal yang diberikan dapat dijawab dengan beberapa jawaban berbeda-beda dari siswa yang, misalnya saat guru meminta siswa memberikan contoh jenis-jenis masalah sosial yang ada dalam lingkungan sekitar siswa. Siswa pun ada yang menjawab pencemaran polusi udara, masalah sampah, perilaku tidak tertib, pencurian serta kebakaran.

Setelah guru melakukan presentasi kelas, siswa dibagi ke dalam kelompok. Pembagian kelompok masih sama dengan pembagian kelompok dalam siklus I. Pada kegiatan berkelompok siswa sudah menikmati pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran ini. Siswa sudah saling bertukar pendapat serta memberikan gagasan. Saat bekerja di dalam kelompok siswa diminta untuk memahami materi serta mengerjakan lembar kerja mengenai sebab dan akibat masalah sosial.

Siswa sudah tampak berkontribusi dalam kerja kelompok. Walaupun ada beberapa anak yang belum berkontribusi, namun tidak mengganggu jalannya kerja kelompok. Hal tersebut diperkuat dengan pertanyaan dari guru kelas IV sebagai berikut:

“Pada siklus II pelajaran sudah berjalan dengan baik dibandingakan dengan siklus I. Anak-anak sudah tidak ribut dan tawar-menawar tentang anggota kelompoknya. Anak-anak juga sudah terlihat mau berdiskusi dengan siswa lain. Tapi ya ada satu dan dua anak yang tidak mau bekerjasama dalam kelompok. Seperti tasya. Tasya itu anaknya egois, dia nggak mau berbagi dengan teman yang lain. Jadi kalau lembar kerja yang sudah dibagikan di dalam kelompoknya, pasti dikerjakan dia sendiri. Ya namanya anak, pasti beda-beda. Tapi dari keseluruhan ini kreatifitas dan prestasi belajar siswa sudah meningkat.” ( hasil wawancara dengan bu Har, 6 Mei 2013)

Setelah siswa melakukan kegiatan di dalam kelompok, siswa diminta untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Sedangkan masing- masing kelompok diminta untuk memperhatikan serta memberikan komentar. Pada kegiatan presentasi hasil kerja ini tampak siswa dalam mengungkapkan komentar, memberikan gagasan serta pendapat. Setelah presentasi kelas selesai, siswa diminta untuk kembali ke tempat duduk masing-masing.

Setelah melakukan tanya jawab, siswa diminta untuk masuk ke dalam kelompok seperti pada pertemuan pertama. Pada kegiatan kelompok siswa diminta untuk memberikan beberapa ide dalam menangani masalah sosial. Pada diskusi kelompok tampak siswa saat memberikan ide serta gagasan secara rinci dan saling bertukar pendapat. Setelah kegiatan kelompok berlangsung siswa diminta untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Pada kegiatan ini kreatifitas dalam pemberian ide, pendapat, gagasan serta komentar yang berbeda-

beda sudah tampak. Berikut ini merupakan gambar yang menunjukkan kegiatan di dalam tim saat penelitian berlangsung:

Gambar 4.3 Siswa Melakukan Kegiatan dalam Tim atau Kelompok 4) Kuis

Pada siklus I pertemuan 1 setelah presentasi kelompok selesai, guru memberikan soal kuis kepada seluruh siswa kelas IV. Pada pengerjaan soal kuis, siswa diminta untuk kembali ke tempat duduk masing-masing serta siswa tidak diperbolehkan untuk saling membantu. Pada pengerjaan soal kuis pertemuan 1 ini, soal kuis berisi tentang perbedaan masalah pribadi dan sosial, serta pengertian dari masalah sosial. Setelah siswa selesai mengerjakan soal kuis, diperoleh nilai rata-rata siswa sebesar 64,48. Hasil rata-rata skor kuis kedua yang diperoleh siswa, terlihat bahwa ada peningkatan antara rata-rata nilai awal siswa dengan nilai kedua siswa yaitu sebesar 11,38. Setelah siswa diberikan soal kuis, guru menutup pembelajaran dengan merefleksikan kegiatan pembelajaran yang sudah berlangsung.

Pada siklus I pertemuan 2, setelah kegiatan di dalam tim selesai, siswa diminta untuk kembali ke tempat duduk masing-masing. Siswa dibagikan soal kuis yang kedua oleh guru. Soal kuis pada pertemuan 2 berisi pertanyaan tentang jenis-jenis permasalahan sosial. Setelah siswa

selesai mengerjakan soal kuis, diperoleh rata-rata nilai kuis yang kedua yaitu sebesar 70,51. Hasil rata-rata nilai kuis yang kedua menunjukkan adanya peningkatan dari pengerjaan soal kuis yang pertama yaitu sebesar 10,86. Setelah siswa selesai mengerjakan soal kuis, siswa bersama dengan guru menarik kesimpulan tentang pembelajaran yang telah selesai dilakukan.

Pada siklus II pertemuan 1, guru membagikan soal kuis yang kedua kepada siswa setelah kegiatan di dalam tim selesai. Siswa diminta untuk kembali ke tempat duduk masing-masing. Soal kuis pada pertemuan 1 siklus II berisi pertanyaan tentang penyebab serta kibat dari permasalahan sosial. Saat siswa mengerjakan soal kuis, siswa tidak diperbolehkan untuk saling membantu teman yang lain. Setelah pengerjaan kuis selesai, diperoleh rata-rata nilai kuis kedua siswa sebesar 75,86. Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai soal kuis pertama meningkat sebesar 12,76. setelah mengerjakan soal kuis yang kedua.

Pada siklus II pertemuan 2, setelah presentasi kelas yang dilakukan oleh guru selesai, sisiwa diminta untuk kembali ke tempat duduk masing- masing. Setiap siswa dibagi soal kuis yang kedua oleh guru. Siswa diminta untuk mengerjakan soal tersebut dan tidak diperkenakan untuk saling membantu. Pertanyaan dari soal kuis yang kedua berisi tentang penanganan serta memberikan ide terhadap permasalahan sosial yang ada. Setelah siswa mengerjakan soal kuis yang kedua, diperoleh hasil rata-rata nilai kuis kedua sebesar 81,38. Pada pengerjaan soal kuis kedua

tampak adanya peningkatan dari pengerjaan soal kuis yang pertama yaitu sebesar 17,24. Setelah siswa selesai mengerjakan soal kuis, siswa dibimbing guru untuk menarik kesimpulan tentang pembelajaran yang sudah selesai dilakukan. Berikut ini merupakan gambar yang menujukkan kegiatan saat siswa sedang mengerjakan soal kuis yang kedua:

Gambar 4.4 Siswa Mengerjakan Soal Kuis Kedua 5) Skor Kemajuan Individual

Skor kemajuan individual ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada siswa jika mereka bekerja lebih giat akan medapatkan hasil yang lebih baik daripada sebelumnya seperti perolehan nilai yang didapat pada pertemuan kedua lebih baik dibandingkan dengan nilai yang didapat pada pengerjaan soal kuis pertama. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi yang maksimal dalam sistem skor ini. Pada dasarnya setiap siswa mengalami peningkatan perolehan nilai yang didapatkan saat mengerjakan soal kuis yang kedua. Terjadinya peningkatan perolehan nilai kuis kedua siswa dibandingkan nilai kuis yang pertama. Rincian perolehan nilai kuis pertama dan nilai kuis kedua siswa terdapat pada lampiran. Berikut ini merupakan perbandingan rata-

rata nilai kuis pertama dan nilai kuis kedua yang disajiakan dalam tebel berikut ini:

Tabel 4.3 Rata-Rata Perolehan Nilai Kuis Aspek Siklus I Siklus II Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 1 Pertemuan 2

Rata-Rata Nilai Soal Kuis

Pertama 53,1 59,65 63,10 64,14

Rata-Rata Nilai Soal Kuis

Per Siklus 56,37 63,62

Rata-Rata Nilai Sosl Kuis

Kedua 64,48 70,51 75,86 81,38

Rata-Rata Nilai Soal Kuis

Kedua Per Siklus 67,49 78,62

Berikut ini merupakan diagram peningkatan nilai rata-rata nilai awal dan nilai kuis yang diperoleh siswa dalam siklus 1 dan siklus II:

Gambar 4.5 Peningkatan Rata-Rata Nilai Kuis

Data-data tersebut memperilhatkan bahwa pembelajaran IPS materi masalah sosial menggunakan model pembelajaran STAD di kelas IV SDN Caturtunggal 3 berjalan dengan baik. Adanya peningkatan nilai kuis

53,1 59,65 63,1 64,14 64,48 70,51 75,86 81,38 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Siklus 1 (Pertemuan 1) Siklus 1 (Pertemuan 2) Siklus 2 (Pertemuan 1) Siklus 2 (Pertemuan 2)

dibandingkan dengan rata-rata nilai awal pada setiap pertemuan di dalam siklus. Pada siklus I terjadi peningkatan yaitu dari rata-rata skor awal sebesar 56,37 meningkat menjadi 67,49 pada rata-rata nilai kuis. Pada siklus juga II terjadi peningkatan yaitu dari rata-rata skor awal sebesar 63,62 meningkat menjadi 78,82 pada rata-rata nilai kuis rata-rata nilai awal dan nilai kuis dibandingkan dengan siklus I. Data-data tersebut menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai awal dan rata-rata nilai kuis dalam siklus II dinadingkan dengan siklus I. Peningkatan rata-rata nilai awal siswa pada siklus I sebsesar 56,37 meningkat menjadi 63,62 dalam siklus II. Peningkatan rata-rata nilai kuis siswa pada siklus I sebsesar 67,49 meningkat menjadi 78,82 dalam siklus II. Skor dalam nilai awal dan nilai kuis yang didapatkan siswa akan dijadikan patokan untuk menghitung poin kemajuan siswa. Setelah didapatkan poin kemajuan siswa, hasil tersebut diolah sebagai dasar pemberian penghargaan menurut kriteria penghargaan yang sudah dijelaskan dalam bab II. Kesimpulan dari data-data tersebut yaitu membuktikkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif metode STAD dapat membantu siswa dalam memahami materi masalah sosial pada setiap pertemuan.

6) Rekognisi Tim

Pada kegiatan ini tim akan mendapatkan sebuah sertifikat apabila skor rata-rata yang diperoleh kelompok mencapai kriteria yang sudah dijelaskan pada bab II. Adapun rincian skor yang diperoleh siswa dapat dilihat pada lampiran. Sertifikat yang diberikan siswa berupa

penghargaan Super Team, penghargaan Great Team dan penghargaan

Good Team. Setiap kelompok akan mendapatkan penghargaan menurut

skor kelompok yang didapat. Pengahargaan Super Team diberikan kepada siswa yang memperoleh skor tertinggi yaitu skor yang diperoleh memiliki rentang skor 21 hingga 30. Pengahargaan Great Team diberikan kepada siswa yang memperoleh skor tertinggi kedua yaitu skor yang diperoleh memiliki rentang skor 16 hingga 20. Pengahargaan Good Team diberikan kepada siswa yang memperoleh skor tertinggi ketiga yaitu skor yang diperoleh memiliki rentang skor 21 hingga 30. Rata-rata skor diperoleh dari skor kemajuan setiap siswa saat pengerjaan soal kuis yang pertama dan kedua. Berikut ini merupakan kegiatan dari rekognisi tim yaitu pemberian penghargaan kepada kelompok yang mendapatkan rata-rata skor tertinggi:

Gambar 4.6 Siswa Mendapat Penghargaan Tim atau Kelompok

Dalam dokumen Peningkatan kreativitas dan prestasi belajar siswa kelas IV SDN Caturtunggal 3 Yogyakarta melalui model pembelajaran kooperatif metode STAD. (Halaman 116-130)