BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN DAN ANALISIS DATA
B. Analisis Data
3. Pengenalan Guru Terhadap Siswa
Guru mengenali beberapa siswa yang tampak melalui deskripsi yang terungkap melalui wawancara. Beberapa siswa tersebut adalah siswa- siswi yang sepengetahuan guru tergolong aktif jika ditinjau kembali melalui rekaman video pembelajaran. Siswa-siswi tersebut antara lain Qori, Tommy, Mela, S4 (Olivia).
Guru menyebut Qori sebagai siswi yang pintar tetapi sembrono.
Guru mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran Qori lebih cepat menangkap materi pembelajaran dibanding teman-temannya yang lain. Teman-temannya masih berkutat dengan materi yang sedang dipelajari dalam kelas, tetapi Qori sudah menanyakan hal lain yang sudah
melampaui pembahasan yang sedang dibahas. Sedangkan pengenalan guru terhadap Tommy tampak melalui ungkapan guru bahwa Tommy bisa menjawab jika ditanyai oleh guru, meskipun dia tidak seaktif Qori dalam pembelajaran. Perhatikan transkrip berikut :
(W.I.12)G : “He em. Seperti Qori. Itu kan sudah bisa sekian Bu, sekian Bu. Liyane kan masih (memperagakan gerak anak yang masih kurang paham) ‘Berapa, ya?’ ‘Sudah jelas apa belum?’ ‘Belum’. Nah. Hehe.”
(W.I.24)G : “...Yang stabil ya Qori itu. Tapi kadang nek ulangan
trus sembrono gitu lho. ‘Oh, ya Bu ga teliti’ tapi kalau keseharian
dia itu anak pinter. Cuma agak sembrono tu lho dia biasanya.”
(W.I.26)G : “kalau Qori itu dia, dia mungkin apakah sudah mempelajari dari awal, yo. Misalnya saya nerangkan, dia sudah bisa. Nyahut, gitu lho. ‘Ini sekian bu?’, terus tanya-tanya. Mungkin lebih, padahal yang lain masih ‘ini, itu’. Dia...” (W.I.27)P : “Sudah jauh.”
(W.I.28)G : “He eh, langsung ke soal. ‘Kalau soal ini gimana, Bu. Soal ini gimana?’ gitu.”
(W.I.29)P : “Kalau Tommy juga?”
(W.I.30)G : “Kalau Tommy, ga seperti Qori. Kalau Qori pasti, kalau yang lain itu perbincangannya ke sana, itu pasti sudah yang lain. ‘Bu, ini saya tanya yang ini’ begitu.”
(W.IIIa.19)P : “Hmm. Kalau Tommy, Bu?”
(W.IIIa.20)G : “Kalau Tommy itu, ya,bisa. Tapi nggak begitu aktif, gitu lho, nek anu nggak. Tapi kalau di ‘berapa?’ gitu, dia, dia bisa njawab. Nggak, ‘bu, saya anu’(memperagakan cara bicara siswa) Sedangkan dalam proses pembelajaran ketika pembahasan mengenai titik stasioner seperti ditunjukkan pada transkrip berikut :
(K.III.75)G : “...Kalau di situ udah ketemu x=0. Itu namanya opo
to itu? (Jeda beberapa detik memandang ke arah pojok belakang
kanan) Stasioner. Berarti kalau saya tanya, titik stasionernya di mana?”
(K.III.76)Para siswa terdiam. (K.III.77)Q : “Titik balik.”
(K.III.82)G : “-9. Nah sekarang, jenisnya itu apa? Maksimum atau minimum?”
(K.III.83)Q: “Minimum.”
Qori mampu mengenali pengetahuan barunya tentang titik stasioner dengan pengetahuan lamanya yaitu titik balik, sehingga ketika ditanyai oleh guru tentang jenis dari titik stasioner yang sudah ditemukan dia bisa menjawab dengan benar.
Siswi Mela diidentifikasikan guru dengan siswi yang mampu berfikir logis. Guru mengungkapkan bahwa dahulu ketika di kelas X, Mela mengadakan presentasi tentang trigonometri, pernah menemukan cara sendiri dalam menerangkan teorema (W.IV 00:50:18-00:53:14) dan ketika ditanya oleh guru, alasannya memang logis meskipun jawaban yang dibuatnya belum tepat. Dalam pembelajaran terekam suara Mela sedang berdiskusi dengan salah seorang temannya, Mela tampak memahami
permasalahan nilai minimum dari f(x) = x2-9 dalam interval {x|1 ≤ x ≤ 6}
yang sedang dibahas ketika itu. Perhatikan transkrip berikut:
(K.III.296a)S15 : “-9, -9 og Mel, -9.”
(K.III.296b)M : “-9 kan di luar interval...”
Mela menjawab sebelum guru mengkonfirmasi jawaban secara klasikal. Tampak bahwa jawaban terkonfirmasi (pada K.III.297-304) setelah diskusi kecil (K.III.296) oleh Mela dan S15, perhatikan transkripsi berikut:
(K.III.297)G : “ Bener opo salah menurut mas Tommy? (Tommy
menjawab tapi tak terdengar) Salah. Menurut kamu (menunjuk siswa yang persis ada di depannya).
(K.III.298)S16 : “Bener.”
(K.III.300)S16 : “Karena -9 tidak masuk interval.”
(K.III.301)G: “ Bener. Jadi memang ini bener. Minimum -8 maksimum 27. Karena apa? Di stasioner itu kan terjadi di x = 0. Padahal di sini batas x=0 kan nggak masuk di sini.”
(K.III.302)S : “Iya.”
(K.III.303)SS: “ Ooh Mudeng.”
(K.III.304)G : “Nah iki saiki wis, ooo mudeng i Anda sendiri lho
ya?Berarti apa Anda menyimpulkan maks min? Nah sekarang berikutnya ya? Nah. Tahu mas Tommy mengapa itu nggak -9?” Sedangkan S4 menurut guru bukan merupakan siswi yang cepat menangkap materi seperti Qori. Tetapi justru S4 sering bertanya karena kekurangpahamannya dalam pembelajaran. Ketika guru sudah mengulangi kembali penjelasannya, menurut guru, biasanya S4 kemudian mengerti.
(K.III.69)G : “(lanjut ke meja depannya Q (S4))He eh. Terus nanti kalau sudah dinyatakan dalam bentuk a≤f(x) ≤b. He em, gitu.” (K.III.70)S4: “Terus, Bu?”
Ketika pembahasan pekerjaan yang dilakukan oleh Tommy pada observasi keempat, guru menanyakan kepada forum kelas terkait kejelasan pekerjaan Tommy, tampak partisipasi S4 dalam pembelajaran melalui transkrip berikut :
(K.IV.70)S4 : “Beluum, Buu.” (K.IV.71)G : “He?”
(K.IV.72)G : “Maksudnya belum opo?”
(K.IV.73)beberapa siswa terdengar berbicara ada yang bilang “Mencoba bu, mencoba. Hahaha.” Ada yang terdengar berkata
pada temannya “iki x sing dilebokke sing..”
(K.IV.74)G : “Tapi tahu iki?(menunjuk pembahasan di papan
tulis)”
(K.IV.75)S4 : (mengangguk-angguk)
Pada beberapa menit setelahnya, pembahasan beralih ke nilai maksimum
fungsi 2x2-x4 dalam interval {-½ ≤ x ≤ ½}. S4 juga terlihat berpartisipasi.
(K.IV.206)S4 : “Maks nya berapa, Bu?” (K.IV.207)S10 : “Bisa, Bu.”
(K.IV.208)G : “Bisa ya?(beralih ke S4) Pye?” (K.IV.209)S4 : “Maks-nya berapa, Bu?”
(K.IV.210)G : “Lha ya Anda berapa maks-nya?” (K.IV.211)S4 : “Tujuh per enam belas, Bu.” (K.IV.212)G : “Min-nya?”
(K.IV.213)S4 : “Nol.”
Tampak bahwa S4 menyebutkan jawaban yang benar dari penyelesaian soal yang sedang dibahas.
Untuk siswa yang teridentifikasi tidak teliti, guru menyebutkan S14. Guru mengungkapkan bahwa S14 seringkali tidak teliti dalam perhitungan. Perhatikan transkrip berikut :
(W.IV.43a)G : “Seperti yang depan itu, siapa tuh? E, itu kan pas itu salah menyebut, karena kan dia ‘o, kurang teliti aja. ‘o, Iya’ gitu.” (W.IV.44a)P : “O, depan? Cewek apa cowok, Bu?”
(W.IV.45a)G : “Cowok. Sapa yo itu yo?e, bu, e sopo yo? Ada yang depan itu kan,kok pas ini kok salah dia o, .. nggak, nggak teliti aja.”
(W.IV.219d)G : “Yang kurang, itu ya. Itu, sopo itu. Sing neng
ngarep iki mau. Lha iki kadang kan nggak teliti ni. Sopo iki? Jenenge ki. Sana-sana. Lha, lha ini lho itu nggak teliti itu. Dia
mesti kalau anu ‘kok kleru?’ Dia klerune nggak di, tapi dia nggak
teliti tu nyelidikinya tu. Kan trus misalnya pakai turunan pertama, dia nggak teliti. Sehingga seharusnya ada perubahan, dia, lha itu lho. Jadi salah kan?”
(W.IV.220d)P : “Ya. Ya. Untuk yang lain-lain? Dia turunan pertama bisa tapi Bu?”
(W.IV.221d)G : “Bisa heeh. Jadi menurunkan itu bisa, tapi setelah menyelidiki biasanya, le salah.”
(W.IV.222d)P : “Iya, iya.”
(W.IV.223d)G : “Turunannya bisa. Bener. Wis, terus, ini diselidiki.
Terus, dia menyelidiki. Lha itu kadang yang nggak match.”
Pengenalan guru terhadap S14 terungkap melalui pernyataan guru “Dia
misalnya pakai turunan pertama, dia nggak teliti. Sehingga seharusnya
ada perubahan, dia, lha itu lho. Jadi salah kan?”dan (W.IV.45a)G :
“Cowok. Sapa yo itu yo?e, bu, e sopo yo? Ada yang depan itu kan,kok pas ini kok salah dia o, .. nggak, nggak teliti aja.”.
Guru mengungkapkan bahwa siswanya ini termasuk siswa yang tidak teliti. Ketelitian yang dimisalkan oleh guru adalah ketidaktelitian dalam penyelidikan/uji turunan pertama (seperti yang telah dibahas pada subab sebelumnya bahwa untuk menentukan jenis titik stasioner, siswa harus menyelidiki harga turunan pertama fungsi di sekitar titik stasioner).
Sedangkan kenyataannya di lapangan peneliti menemui bahwa S14 memang tidak teliti. Hal ini terjadi pada kasus mencari nilai stasioner. S14 sudah benar memikirkan prosedur pengerjaan, hanya saja ketika substitusi, S14 keliru mensubstitusi ke fungsi turunan, sehingga jawaban keliru (WS.TS_S14). Tetapi S14 hanya perlu sedikit diingatkan dan ternyata berhasil menjawab dengan benar. Berikut foto terkait :
Gb. 4.4 :S14 menyadari kekeliruannya sendiri saat menentukan titik stasioner f (x) = 2x3-3x2-12x+7.
Tampak bahwa memang sebenarnya S14 sudah mengerti konsep, tetapi tidak teliti dalam melihat. Hal ini menyebabkan sempat terjadi kekeliruan. S14 akhirnya bisa melakukan hitungan dengan benar.