Basket/wadah hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu biasanya digunakan nelayan sebagai wadah pengangkut hasil tangkapan, sedangkan pedagang ikan umumnya menggunakan basket/wadah sebagai wadah hasil tangkapan selama proses penjualan di TPI dan dermaga pendaratan. Penggunaan basket, tong/blong, keranjang bambu, kotak styrofoam dan jolang sebagai fungsi pengangkutan/pemindahan hasil tangkapan dapat dilihat pada Tabel 10.
Penggunaan basket/wadah hasil tangkapan bahkan sudah dilakukan sejak di atas kapal, contohnya wadah blong pada kapal payang. Penggunaan blong pada kapal payang berfungsi sebagai wadah pengganti palkah, karena di kapal payang tidak terdapat ruang di bawah dek yang bisa digunakan sebagai palkah atau tempat menyimpan ikan selama operasi penangkapan.
Basket/wadah hasil tangkapan pada aktivitas pendaratan di PPN Palabuhanratu digunakan sebagai wadah menampung hasil tangkapan dari palkah dan wadah menyortirkan hasil tangkapan menurut jenis dan mutunya. Kemudian dari atas dek kapal wadah dipindahkan ke dermaga (Gambar 18a), dan selanjutnya diangkut ke TPI. Pengangkutan wadah dari dermaga ke TPI dilakukan oleh anak
buah kapal (ABK) atau tenaga kerja bongkar muat (TKBM) menggunakan alat bantu, yaitu gerobak dorong (Gambar 18b).
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 18 Penggunaan wadah hasil tangkapan pada aktivitas pendaratan: (a) keranjang bambu; (b) blong; dan pemasaran hasil tangkapan: (c) jolang; (d) kotak styrofoamdi PPN Palabuhanratu.
Pada aktivitas pendaratan wadah blong digunakan oleh nelayan payang, wadah kotak styrofoam digunakan oleh nelayan layur, dan wadah keranjang bambu digunakan oleh nelayan bagan.
Pada aktivitas pemasaran/pelelangan di PPN Palabuhanratu, basket/wadah digunakan sebagai wadah untuk menampung hasil tangkapan. Di TPI PPN Palabuhanratu, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, aktivitas pelelangan tidak berjalan, pedagang dan pembeli hasil tangkapan bertransaksi langsung seperti layaknya penjualan di pasar (subbab 5.2).
Terdapat dua jenis pedagang di TPI, yaitu pedagang besar (grosir) dan pedagang kecil (pengecer). Pengamatan peneliti di lapangan selama proses pemasaran/penjualan hasil tangkapan di TPI, umumnya pedagang kecil
menggunakan wadah kotak styrofoam dan jolang untuk menjajakan hasil tangkapan(Gambar 18c dan Gambar 18d). Namun ada juga pedagang kecil yang menggunakan wadah blong dan keranjang bambu. Pada umumnya wadah blong dan keranjang bambu untuk menampung ikan tembang, tongkol dan eteman; wadah kotak styrofoam untuk ikan layur dan tongkol; wadah keranjang bambu untuk ikan tembang dan eteman; dan wadah jolang untuk menampung ikan tembang dan eteman.
Tabel 10 Fungsi pemindahan hasil tangkapan oleh basket dan wadah lainnya di PPN Palabuhanratu
Jenis Wadah Fungsi Pemindahan/Pengangkutan
1. Basket (trays) *) 1. Wadah pengangkut ikan:
1). Dari kapal ke dermaga pendaratan 2). Dari dermaga pendaratan ke TPI
3). Dari TPI ke kendaraan pengangkut/pendistribusian 2. Wadah ikan selama proses pelelangan di TPI
2. Tong plastik (blong) 1. Wadah pengangkut ikan: **)
1). Dari kapal ke dermaga pendaratan 2). Dari dermaga pendaratan ke TPI
3). Dari dermaga pendaratan ke Tempat Pengolah Ikan 2. Wadah ikan selama proses penjualan di TPI
3. Keranjang Anyaman Bambu
1. Wadah pengangkut ikan:
1). Dari kapal ke dermaga pendaratan 2). Dari dermaga pendaratan ke TPI
3). Dari dermaga pendaratan ke tempat pengolahan ikan (dengan menggunakan gerobak dorong)
2.Wadah ikan selama proses penjualan di TPI dan dermaga pendaratan/sampingTPI
4. Kotak Styrofoam 1. Wadah pengangkut ikan: ***) 1). Dari kapal ke dermaga pendaratan
2). Dari dermaga pendaratan ke coolstoragePT AGB (untuk tujuan ekspor ke Korea Selatan)
3). Dari dermaga pendaratan ke TPI (untuk pasar lokal) 2. Wadah ikan selama proses penjualan di TPI dan
dermaga pendaratan/sampingTPI
5. Jolang 1. Wadah ikan selama proses penjualan di TPI
6. Lainnya: Box Plastik
(kapasitas sampai 150 kg)
1. Dari dermaga pendaratan ke tempat pengolahan ikan (dengan menggunakan mobil bak terbuka)
Sumber: Pane, 2007 Keterangan:
*) Penggunaan sampai tahun 2005
**) Juga sebagai wadah hasil tangkapan di kapal
Keranjang bambu juga digunakan oleh buruh angkut untuk aktivitas pemindahan hasil tangkapan. Pada aktivitas tersebut buruh angkut memindahkan hasil tangkapan dari blong nelayan atau pedagang besar ke kotak styrofoam dan jolangpedagang kecil/pengecer.
(a) (b)
Gambar 19 Penggunaan wadah hasil tangkapan pada aktivitas pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu: (a) boxplastik; (b) mobil bak. Wadah box plastik (Gambar 19a) (kapasitas 150 kg) biasanya digunakan oleh pedagang besar sebagai wadah menampung hasil tangkapan dan pengusaha pengolahan ikan untuk mengangkut hasil tangkapan dari dermaga bongkar ke tempat pengolahan ikan menggunakan mobil bak terbuka (Gambar 19b). Berdasarkan hasil wawancara dengan pedagang ikan, wadah ini tidak digunakan oleh pedagang ikan di TPI, karena bentuk dan ukurannya yang besar dan cukup berat sehingga agak sulit dipindahkan-pindahkan. Namun berbeda dengan nelayan, ada sebagian kecil nelayan yang menggunakan wadah box plastik ini sebagai pengganti palkah untuk menampung hasil tangkapan selama proses penangkapan ikan, sama seperti halnya wadah blong. Nelayan yang menggunakan wadah tersebut adalah nelayan gillnet.
7 KONDISI SANITASI DI PELABUHAN PERIKANAN
NUSANTARA PALABUHANRATU
7.1 Sanitasi di Dermaga Pendaratan
Sanitasi di dermaga pendaratan PPN Palabuhanratu, berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan masih terlihat kurang bersih. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya limbah berupa ikan utuh yang rusak, potongan-potongan tubuh ikan yang tercecer dan genangan darah bercampur lendir di dermaga pendaratan; disebabkan karena adanya aktivitas pendaratan hasil tangkapan oleh nelayan yang dilakukan belum sebagaimana mestinya. Seharusnya dalam melakukan aktivitas tersebut, nelayan menangani hasil tangkapan dengan hati-hati dan tidak ceroboh, sehingga tidak banyak ikan utuh yang rusak jatuh di lantai dermaga pendaratan.
Aktivitas pendaratan hasil tangkapan yang dilakukan oleh nelayan PPN Palabuhanratu masih belum memperhatikan aspek kebersihan. Pada proses pemindahan hasil tangkapan dari dek kapal ke dermaga pendaratan, nelayan menggunakan wadah hasil tangkapan yang kurang bersih. Sebagai contoh wadah keranjang bambu yang digunakan oleh nelayan bagan tidak dibersihkan dengan baik. Masih banyak sisa darah dan sisik ikan yang menempel dalam wadah tersebut. Menurut Lubis (2005), seharusnya setelah pemakaian wadah/basket langsung dibersihkan agar ikan yang dimasukan tidak terkontaminasi dengan bakteri (subbab 2.2). Pemindahan hasil tangkapan oleh nelayan juga masih belum benar, mereka memindahkan wadah berisi hasil tangkapan secara tidak hati-hati; yang berakibat sedikit banyak hasil tangkapan yang berjatuhan di lantai dermaga pendaratan.
Pengamatan peneliti di lapangan, memperlihatkan bahwa nelayan di PPN Palabuhanratu dalam aktivitas pencucian hasil tangkapan masih menggunakan air dari kolam pelabuhan; dimana air tersebut sudah tercemar oleh limbah oli kapal, sampah plastik dan lain-lain (subbab 5.4). Hal ini secara langsung dapat menurunkan mutu hasil tangkapan. Air bersih yang disediakan oleh pihak PPN Palabuhanratu dimanfaatkan nelayan hanya untuk kebutuhan logistik melaut saja. Proses pencucian ikan di dermaga pendaratan nelayan tidak dapat memanfaatkan fasilitas air bersih, karena instalasi pipa/slang air bersih dalam keadaan rusak.
Kondisi sanitasi dan kebersihan yang kurang terjaga di dermaga pendaratan juga disebabkan oleh kurangnya kesadaran nelayan. Hal ini dapat lihat dari banyaknya limbah non ikan seperti puntung rokok dan sampah plastik di dermaga pendaratan. Selain itu, banyak juga nelayan yang membuang ludah sembarangan di dermaga pendaratan. Akibat yang ditimbulkan dari kondisi ini adalah kebersihan dan kenyamanan di dermaga pendaratan menjadi terganggu.
Apabila dilihat dari kondisi fasilitas dermaga pendaratan itu sendiri, khususnya dermaga pendaratan satu yang berada dekat TPI. Kondisinya sudah banyak lubang-lubang, sehingga menimbulkan genangan air dari sisa pencucian ikan dan darah yang bercampur lendir.
Kondisi sanitasi seperti di dermaga pendaratan PPN Palabuhanratu terjadi juga di lingkungan dermaga pendaratan Pelabuhan Perikanan Samudra Jakarta (PPSJ) (Rusmali, 2004) dan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Muara Angke Jakarta (Faubiany, 2007). Selanjutnya Rusmali menyebutkan bahwa, kebersihan dan sanitasi di lantai dermaga PPSJ terlihat kurang bersih, banyak terdapat limbah padat dan cair seperti potongan tubuh ikan yang tercecer, sampah plastik, kertas, botol air mineral bekas, puntung rokok dan sebagainya. Faubiany (2007) mengatakan bahwa, sanitasi yang kurang bersih di PPI Muara Angke Jakarta adalah adanya limbah seperti potongan tubuh ikan, ikan utuh yang rusak dan ceceran darah bercampur lendir ikan. Menurut Rusmali (2004) dan Faubiany (2007), kondisi tersebut dipengaruhi oleh banyaknya jumlah kapal yang melakukan pendaratan, jumlah hasil tangkapan yang didaratkan dalam kondisi rusak, cara penurunan ikan yang tidak benar dan kesadaran para pelaku yang masih kurang untuk menjaga kebersihan di dermaga pendaratan
Penyebab terjadinya kondisi sanitasi yang tidak bersih tersebut diatas di PPN Palabuhanratu adalah karena cara penanganan ikan di dermaga pendaratan kurang baik. Pada saat proses pendaratan dan pengangkutan di dermaga cara penanganan, penurunan dan pengangkutan ikan belum dilakukan dengan benar dan tidak hati-hati. Sebagai contoh pada proses penyortiran, ikan dipilih berdasarkan jenis dan ukuran relatif, kemudian ikan yang disortir “dilempar” satu per satu ke keranjang masing-masing dengan cepat dan tergesa-gesa. Kecerobohan dalam menyortir ikan ini mengakibatkan sedikit banyak
menimbulkan limbah potongan tubuh ikan, darah dan lendir ikan di lantai dermaga, sedangkan penyebab limbah non-ikan diakibatkan oleh masih kurangnya kesadaran akan pentingnya kebersihan oleh pedagang non-ikan dan pengunjung yang membuang sampah sembarangan di dermaga pendaratan.