BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Pengumpulan, Pengeringan, Pembuatan Serbuk, dan Hasil
Daun pandan wangi yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari daerah Baledono, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada bulan Febuari 2007 dan dipetik pada waktu sore hari. Dipilih daun yang masih segar dan dipetik pada sore hari.
Tempat pemanenan diusahakan seragam karena perbedaan kondisi lingkungan tempat pemanenan dapat mempengaruhi jumlah kandungan zat aktif. Waktu pemanenan juga sangat penting untuk diperhatikan agar dapat diperoleh
jumlah kandungan zat aktif yang optimal. Daun pandan wangi seharusnya dipetik pada waktu pagi hari sebelum sinar matahari menguapkan sebagian linalool (Anonim, 2008), tetapi karena pada pelaksanaannya daun pandan wangi dipanen pada waktu sore hari maka rendemen linalool yang didapat akan menurun. Sebagian linalool masih dapat tertahan di dalam daun karena daun pandan wangi memiliki struktur yang kaku dan permukaan yang mengkilap sehingga dapat menghambat proses penguapan.
Daun yang diperoleh dicuci dengan air mengalir yang dimaksudkan untuk menghilangkan debu atau kotoran yang melekat. Setelah dicuci, daun dikeringkan di bawah sinar matahari langsung dengan ditutupi kain hitam, kemudian daun
dipanaskan di dalam oven dengan suhu 70ºC selama 30 menit. Pengeringan
bertujuan untuk menghindari tumbuhnya jamur dan bakteri serta menghambat kerja enzim tanaman yang dapat menimbulkan perubahan kimiawi, selain itu juga bertujuan untuk merusak membran sel sehingga permeabilitas sel terhadap zat aktif yang akan diekstrak menjadi lebih besar. Kain hitam yang digunakan berfungsi untuk menyerap sinar ultra violet karena sinar ultra violet dapat merusak kandungan zat aktif tanaman, selain itu karena warna hitam menyerap semua
cahaya maka panas yang didapat tanaman akan cukup. Pengeringan dengan oven
dilakukan untuk memastikan sisa-sisa kandungan air di dalam daun telah menguap. Proses pengeringan ini sebenarnya juga dapat menurunkan rendemen linalool yang diperoleh karena linalool akan ikut menguap, tetapi proses ini penting karena proses ekstraksi daun pandan wangi tidak dapat langsung dilakukan. Daun pandan wangi yang telah dipanen masih harus mengalami proses
penyimpanan sehingga dikhawatirkan daun pandan wangi akan rusak selama masa tersebut bila tidak dikeringkan.
Daun yang sudah kering kemudian diserbuk dengan blender dan diayak
menggunakan ayakan tepung. Proses penyerbukan bertujuan untuk memperkecil ukuran partikel sehingga meningkatkan luas permukaan kontak dengan cairan penyari, sementara pengayakan dimaksudkan agar ukuran partikel yang didapat lebih seragam dan dengan demikian aliran cairan penyari di dalam perkolator menjadi teratur.
Serbuk yang akan diekstraksi direndam terlebih dahulu selama 24 jam dalam etanol 70%, hal ini bertujuan untuk membasahi sel-sel daun dengan cairan penyari sehingga zat aktif yang terkandung dalam daun pandan wangi menjadi lebih mudah tertarik pada proses perkolasi berikutnya. Serbuk yang telah terbasahi kemudian dipindahkan ke dalam perkolator sedikit demi sedikit sambil tiap kali ditekan-tekan agar pengisian padat merata. Jika pengisian tidak merata maka proses ekstraksi tidak berjalan dengan efisien sebab cairan penyari akan bergerak turun ke bawah dengan mencari jalan yang paling sedikit hambatannya.
Beberapa tetes perkolat pertama digunakan sebagai pembilas kertas saring dan perkolator agar kontaminan tidak ikut tercampur dalam keseluruhan ekstrak yang akan didapat, selanjutnya perkolat dibiarkan menetes dengan kecepatan sekitar 25 tetes tiap menit. Kecepatan yang digunakan harus optimal karena jika kecepatan mengalir terlalu cepat maka proses ekstraksi tidak berjalan dengan maksimal, sementara jika kecepatan mengalir terlalu lambat maka akan kehilangan efisiensi waktu. Selapis cairan penyari di atas serbuk harus
dipertahankan agar proses ekstraksi berjalan terus-menerus. Proses ekstraksi dihentikan jika perkolat yang menetes tampak hampir jernih karena diasumsikan seluruh kandungan zat aktif di dalam serbuk telah terekstraksi.
Perkolasi dipilih sebagai metode ekstraksi dalam penelitian ini karena metode yang dilakukan relatif mudah, dan hampir seluruh kandungan zat aktif dapat terekstraksi karena cairan penyari yang digunakan selalu baru sehingga tidak berada dalam kondisi jenuh. Prinsip dari metode perkolasi adalah cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk dan akan melarutkan zat aktif yang terkandung dalam sel yang dilaluinya. Cairan penyari akan bergerak ke bawah karena adanya gaya gravitasi, gaya beratnya sendiri, dan gaya tekan cairan penyari di atasnya dikurangi dengan gaya kapiler yang cenderung akan menahan.
Pelarut yang digunakan adalah etanol 70% yang berarti mengandung 70% etanol absolut dan 30% air. Konsentrasi ini dipilih agar zat aktif yang terlarut dalam etanol dapat terekstraksi dengan baik dan zat aktif yang lebih terlarut dalam air juga dapat terekstraksi. Etanol digunakan sebagai cairan penyari dalam penelitian ini dikarenakan beberapa sebab, antara lain etanol merupakan pelarut yang universal dan diijinkan penggunaannya dalam makanan, selain itu etanol mempunyai sifat dapat menghambat pertumbuhan kapang dan kuman, dapat bercampur dengan air dalam segala perbandingan, dan panas yang diperlukan untuk pemekatan juga lebih sedikit.
Perkolat yang didapat kemudian dipekatkan untuk menghilangkan cairan
penyari, dilakukan dengan menggunakan vacuum rotary evaporator. Kelebihan
waterbath adalah adanya efisiensi waktu dan pemaparan suhu yang tidak terlalu tinggi karena tekanan udara di dalam labu diatur lebih rendah daripada tekanan udara sekitarnya. Ekstrak hasil pemekatan kemudian dikeringkan lagi di dalam
oven dengan suhu 40ºC untuk menghilangkan sisa-sisa air dalam cairan penyari
yang belum teruapkan. Ekstrak tersebut diletakkan di dalam cawan petri agar luas permukaan lebih besar dan proses penguapan air lebih cepat.
Hasil akhir yang diperoleh berupa ekstrak kental berwarna coklat kehitaman dengan bau yang khas. Kepastian adanya linalool dalam ekstrak yang didapat didasarkan pada pengamatan organoleptis, yaitu bahwa ekstrak etanol daun pandan wangi memiliki bau yang sama dengan simplisia basahnya.