• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Kondisi dan Potensi Perikanan

5.1.1 Perikanan Tangkap

Usaha perikanan tangkap menghasilkan produksi sebesar 99,00% dari total produksi perikanan di Kabupaten Belitung, sisanya diperoleh melalui kegiatan budidaya. Seluruh produksi tangkapan merupakan hasil aktivitas yang dilakukan di laut. Kondisi ini dapat dipahami mengingat Kabupaten Belitung sebagai wilayah kepulauan memiliki desa pesisir lebih banyak dari desa daratan. Menurut BPS (2006), dari 42 desa atau kelurahan di Kabupaten Belitung sebanyak 28 desa adalah desa pesisir sedangkan 14 desa tergolong desa daratan. Dengan demikian sebaran penduduk lebih banyak mendiami wilayah pesisir yang langsung bersentuhan dengan laut. Penangkapan ikan di perairan umum tidak dapat dilaksanakan karena sebagian besar sungai yang ada sudah tercemar limbah penambangan timah sehingga air sungai keruh dan terjadi proses pengendapan (sedimentasi) sehingga sungai menjadi dangkal.

Sebaran komoditas hasil tangkapan berbeda-beda untuk setiap kecamatan (Tabel 14). Hal ini terkait dengan kondisi lingkungan perairan dan metode penangkapan yang diterapkan di tiap-tiap wilayah. Hasil tangkapan rata-rata yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tanjungpandan tahun 2001-2008 adalah sebesar 23,69% (7.962,10 ton). Komposisi jenis ikan yang didaratkan tersebut terdiri atas jenis ikan pelagis 49,48% dan ikan demersal 50,52%. Sisanya didaratkan secara tersebar di seluruh pangkalan pendaratan ikan mulai dari Desa Sungai Padang, Kecamatan Sijuk di pantai utara hingga ke Desa Tanjung Rusa, Kecamatan Membalong di pantai selatan (BPS Belitung 2009a).

Tabel 14 Produksi hasil perikanan tangkap di Kabupaten Belitung tahun 2009

No Kecamatan Produksi Perikanan (Ton) Jumlah

(Ton)

Ikan Udang Rajungan Teripang Cumi-cumi

1 Membalong 6.003,48 840,48 1.785,72 0 322,82 8.952,50 2 Tg.pandan 7.029,69 42,75 22,71 0 75,82 7.170,97 3 Sijuk 7.423,51 32,26 32,26 0 1.123,10 8.611,13 4 Badau 3.502,45 450,85 837,07 5,90 258,64 5.054,91 5 Selat Nasik 12.262,88 0 0 181,14 161,10 12.605,12 Jumlah 36.222,01 1.366,34 2.677,76 187,04 1.941,48 42.394,63

Sumber : Laporan Tahunan DKP Belitung 2010

Produksi rata-rata hasil tangkapan ikan laut di Kabupaten Belitung dalam 6 tahun terakhir (2004-2009) adalah 41.947,10 ton. Nilai produksi tertinggi dicapai pada tahun 2005 dengan jumlah 47.344,03 ton, sedangkan pada tahun 2006 produksi mencapai angka terendah sebesar 39.317,78 ton (Gambar 10).

Gambar 10 Produksi perikanan Kabupaten Belitung tahun 2004-2009 (Ton).

40.401,21 47.340,78 39.311,47 40.407,41 41.827,10 42.394,63 0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000 45.000 50.000 2004 2005 2006 2007 2008 2009

Produksi perikanan terus meningkat setelah tahun 2005, meskipun jumlah totalnya tetap dibawah angka tertinggi. Angka pertumbuhan produksi tahun 2007, 2008 dan 2009 berturut-turut adalah 2,79%; 3,51% dan 1,36%. Produktivitas perikanan rata-rata selama periode 2004-2009 adalah sebesar 17,12 ton per armada kapal. Jika jumlah produksi dibagi jumlah nelayan maka diperoleh angka produktivitas tiap nelayan sebesar 4,50 ton/tahun (Tabel 15). Fluktuasi angka produksi yang diikuti oleh fluktuasi produktivitas tiap kapal maupun nelayan diduga bukan dikarenakan oleh gejala penyusutan sumber daya perikanan atau overfishing seperti pendapat Stobutzki et al. (2006a) maupun Widodo dan Suadi (2006), namun dikarenakan tingkat pengelolaan yang relatif tidak mengalami perkembangan. Berdasarkan data jumlah nelayan dan armada penangkap ikan, diketahui bahwa dalam rentang waktu 2004-2009 kedua parameter tersebut juga tidak banyak mengalami perubahan (relatif konstan).

Tabel 15 Produktivitas kapal dan nelayan di Kabupaten Belitung tahun 2004-2009 Tahun Nelayan (Jiwa) Kapal Penangkap (Unit) Produksi (Ton) Produktivitas Kapal (Ton/Kapal) Produktivitas Nelayan (Ton/Jiwa) 2004 9.239 2.502 40.401,21 16,15 4,37 2005 9.295 2.541 47.340,78 18,63 5,09 2006 9.276 2.435 39.311,47 16,14 4,24 2007 9.316 2.154 40.407,41 18,76 4,34 2008 9.365 2.535 41.827,10 16,50 4,47 2009 9.455 2.561 42.394,63 16,55 4,48 Rata-rata 9.324 2.455 41.947,10 17,12 4,50

Sumber : Laporan Tahunan DKP Belitung 2010

Kapal penangkap ikan yang digunakan nelayan dominan berukuran kecil, dimana 17,06% adalah perahu tanpa motor; 1,06% perahu motor tempel; dan 75,32% merupakan kapal motor berkapasitas kurang dari 5 GT. Kapal motor yang berukuran 5-10 GT sebanyak 5,97% dan hanya 0,60% berukuran lebih dari 10 GT (Tabel 16). Komposisi armada perikanan terbatas seperti ini menurut Dahuri (2002) menyebabkan kemampuan operasional nelayan hanya di sekitar perairan pantai, sehingga peluang peningkatan produksi juga rendah.

Tabel 16 Jenis dan perkembangan kapal penangkap ikan di Kabupaten Belitung tahun 2004-2009

Tahun Perahu Tak

Bermotor

Motor tempel

Kapal Motor Jumlah

Total < 5 GT 5-10 GT >10 GT 2004 509 58 1.910 25 - 2.502 2005 498 68 1.945 30 - 2.541 2006 446 5 1.786 198 - 2.435 2007 109 5 1.816 198 26 2.154 2008 475 8 1.813 208 31 2.535 2009 475 12 1.823 220 31 2.561

Sumber : Laporan Tahunan DKP Belitung 2010

Produksi perikanan tangkap selain ditentukan oleh jenis dan jumlah kapal penangkap ikan, juga sangat ditentukan oleh alat tangkap yang digunakan. Alat tangkap yang digunakan di Kabupaten Belitung bervariasi menurut jenis dan penyebarannya (Tabel 17).

Tabel 14 dan Tabel 17 menunjukkan keterkaitan antara penyebaran jenis alat tangkap dengan jenis hasil tangkapan dominan yang diperoleh. Jenis-jenis ikan (finfish) sebagian besar diperoleh menggunakan alat tangkap pancing, bubu, dan gillnet hanyut. Udang ditangkap di Kecamatan Membalong menggunakan pukat udang, sedangkan di Badau menggunakan ancau. Rajungan atau kepiting ditangkap di Kecamatan Membalong menggunakan jaring dan bubu kepiting, sedangkan di Kecamatan Badau ditambah dengan alat tangkap pentor atau tangkul. Cumi-cumi yang dominan di Kecamatan Sijuk ditangkap menggunakan alat tangkap pancing dan bagan. Khusus teripang tidak dapat dijelaskan keterkaitan antara penyebaran produksi dengan data alat tangkap yang digunakan. Hal ini dapat dipahami karena teripang dikumpulkan dengan cara memungut langsung dari perairan menggunakan bantuan alat penyelaman.

Hasil penelitian Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPO LIPI) yang dilakukan pada tahun 2004 dan 2005, potensi sumber daya ikan pelagis dan demersal di perairan Kabupaten Belitung adalah sekitar 159.000 ton/tahun dengan tingkat pemanfaatan oleh nelayan baru mencapai sekitar 25,00%. Khusus untuk cumi-cumi tingkat pemanfaatannya sudah

mencapai 78,00%. Mengacu pada potensi di atas dan rata-rata produksi tahunan sebesar 41.947,1 ton/tahun serta jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebesar 80,00% dari potensi yang ada (Dahuri 2002), peluang peningkatan produksi yang belum termanfaatkan sebesar 85.252,90 ton. Jumlah ini setara dengan 201,09% produksi perikanan aktual tahun 2009.

Tabel 17 Jenis dan penyebaran alat tangkap di Kabupaten Belitung tahun 2009

No Jenis Alat Tangkap

Kecamatan

Jumlah

Membalong Tj.Pandan Badau Sijuk Selat

Nasik 1 Sodo (Sungkur) 30 36 40 5 - 111 2 Bubu Ikan 47 1.030 395 270 265 2.007 3 Sero 32 10 75 25 27 169 4 Jaring Kepiting 2.420 95 545 57 90 3.207 5 Tangkul (Pentor) - 75 478 - - 553 6 Bubu Kepiting 685 248 470 - - 1.403 7 Bagan Tancap 10 - - 12 3 25 8 Bagan Perahu 8 16 3 143 45 215 9 Muroami - 20 - - - 20 10 Payang - - - - 121 121 11 Pukat Tepi 235 40 80 125 95 575 12 Pukat Udang 298 - - - 28 326 13 Gillnet Hanyut 45 20 - 18 60 143 14 Pancing 2.080 1.770 1.335 2.555 2.860 10.600 15 Ancau - - 40 55 14 109 16 Lainnya 4.575 3.350 2.554 3.275 3.432 17.186 Total 10.465 6.710 6.015 6.540 7.040 36.770

Sumber : Laporan Tahunan DKP Belitung 2010

Sintesa dari kondisi yang telah dikemukakan di atas adalah bahwa produksi perikanan tangkap di Kabupaten Belitung sudah mencapai tingkat stabil dengan tingkat pengelolaan yang dilakukan. Indikator produksi dapat dihubungkan dengan perkembangan jumlah nelayan, kapal penangkap ikan selama tahun 2004-2009 serta sebaran alat bantu penangkapan yang digunakan. Oleh karena itu, peningkatkan produksi perikanan sesuai potensi sumber daya perikanan yang tersedia dapat dilakukan dengan meningkatkan faktor-faktor produksinya.

Potensi peningkatan produksi akan makin besar jika wilayah pemanfaatan sumber daya perikanan diperluas hingga mencapai wilayah pengelolaan perikanan Laut Cina Selatan (WPP 711). Komoditas yang masih memungkinkan untuk dimanfaatkan adalah jenis ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil, ikan karang dan ikan demersal. Sedangkan untuk jenis udang penaeid, lobster, dan cumi-cumi telah melampaui nilai ambang yang diperbolehkan (Tabel 18).

Tabel 18 Perbandingan potensi, produksi dan pemanfaatan sumber daya perikanan WPP Laut Cina Selatan tahun 1997 dan 2001

Kelompok Sumber Daya

Tahun

1997 2001

Potensi Produksi Pemanfaatan Potensi Produksi Pemanfaatan (103 ton/th) (103 ton/th) (%) (103 ton/th) (103 ton/th) (%)

Ikan pelagis besar 54,82 25,42 46,37 66,08 35,16 53,21

Ikan pelagis kecil 506 193,28 38,2 621,5 205,56 33,07

Ikan demersal 655,65 280,63 42,8 334,8 54,69 16,34 Ikan karang 21,57 13,95 64,67 21,57 7,88 36,53 Udang penaeid 11,2 16,45 146,88 10 70,51 >100 Lobster 0,4 0,03 7,5 0,4 1,24 >100 Cumi-cumi 2,7 2,11 78,15 2,7 4,89 >100 Jumlah 1252,34 531,87 42,47 1057,05 379,93 35,94

Sumber : Profil Sumber Daya Kelautan Perairan Laut Cina Selatan

Forum Koordinasi Pengelolaan Pemanfaatan Sumber Daya Ikan (FKPPS) Nasional pada Bulan Juli 2010 merumuskan nilai estimasi potensi perikanan tangkap di WPP Laut Cina Selatan. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) paling tinggi untuk ikan pelagis kecil diikuti oleh ikan demersal, ikan pelagis besar, ikan karang, cumi-cumi, dan lobster (Gambar 11).

Gambar 11 Estimasi jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) di WPP Laut Cina Selatan (Ton/tahun).

Berdasarkan estimasi tersebut dan tingkat produksi pada tahun 2001 (Tabel 18) maupun persentase pemanfaatan tahun 2005 (Gambar 12) diketahui bahwa sebagian komoditas masih dapat ditingkatkan dan sebagian lain sudah melebihi kapasitas yang diperbolehkan (Suyarso 2003). Sumber daya yang masih dapat ditingkatkan penangkapannya adalah ikan pelagis besar, pelagis kecil, ikan demersal, dan ikan karang. Jenis udang penaeid, lobster, dan cumi-cumi sudah melewati batas jumlah tangkapan yang diperbolehkan bahkan melampaui nilai estimasi produksinya.

Gambar 12 Pemanfaatan kelompok sumber daya di WPP Laut Cina Selatan tahun 2005 (%). 52.880 497.200 267.840 17.280 9.520 320 2.160 - 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 Ikan pelagis besar

Ikan pelagis kecil Ikan demersal Ikan karang Udang penaeid Lobster Cumi-cumi 53,25 33,07 16,34 36,57 592,44 300,00 181,48 0,00 100,00 200,00 300,00 400,00 500,00 600,00 700,00 Ikan pelagis besar

Ikan pelagis kecil Ikan demersal Ikan karang Udang penaeid Lobster Cumi-cumi

Untuk dapat turut memanfaatkan sumber daya perikanan yang ada di WPP Laut Cina Selatan diperlukan peningkatan jumlah dan kemampuan sumber daya manusia serta sarana pendukung yang memadai, baik kapal penangkap maupun jenis alat tangkapnya. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat ditempuh melalui pelatihan atau kerja magang. Sarana penunjang berupa kapal penangkap ikan yang berukuran >5 GT dapat diupayakan melalui investasi pihak swasta, sedangkan prasarana pendukung lain dapat diupayakan pembangunannya melalui kemitraan pemerintah dengan swasta. Peluang pengembangan penangkapan yang direkomendasikan adalah skala usaha menengah ke bawah dengan alat tangkap gillnet dan pancing atau hook and line (Bappeda Belitung 2005). Long et al. (2008) menyatakan penggunaan alat tangkap longline lebih cocok untuk perairan Laut Cina Selatan, karena menghasilkan keuntungan yang tinggi. Pengelolaan perikanan berbasis masyarakat (community-based fisheries) juga dapat diterapkan di Kabupaten Belitung, seperti yang dilaksanakan di Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Thailand (Nasuchon and Charles 2010).

Kendala kegiatan penangkapan ikan di WPP Laut Cina selatan adalah adanya ancaman dari nelayan asing terutama nelayan Thailand dan Vietnam. Menurut Long et al. (2008), perairan Laut Cina Selatan diakses oleh nelayan lebih dari sepuluh negara. Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan lokal, nelayan-nelayan asing tersebut menangkap ikan secara illegal menggunakan kapal yang berukuran besar (>30 GT) dan alat tangkap yang merusak. Umumnya penangkapan dilakukan secara terorganisir dengan melibatkan banyak kapal dalam setiap operasinya.

Dokumen terkait