Menurut Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 perikanan merupakan semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Selanjutnya, penangkapan ikan didefinisikan sebagai kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpam, mendinginkan, menangani, mengolah, dan/atau mengawetkannya. Sedangkan kapal perikanan didefinisikan sebagai kapal, perahu, atau alat apung lainnya yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan, dan penelitian/eksplorasi perikanan.
Berpedoman pada Undang-Undang No 31 Tahun 2004, visi dan misi pembangunan perikanan, maka telah ditetapkan kebijakan, sasaran, strategi dan program kerja perikanan tangkap (Mangga Barani 2003a). Visi pembangunan perikanan tangkap adalah “Industri perikanan tangkap Indonesia yang lestari,
kokoh, dan mandiri pada tahun 2010”. Visi tersebut dijabarkan melalui misi pembangunan perikanan sebagai berikut:
(1) Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia perikanan;
(2) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan dan pengolah hasil perikanan;
(3) Menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan lingkungannya;
(4) Membangun industri nasional dan usaha perikanan tangkap yang berdaya saing;
(5) Meningkatkan peran sub-sektor perikanan tangkap dalam pembangunan nasional.
Kebijakan pembangunan perikanan tangkap diarahkan untuk (1) menjadikan perikanan tangkap sebagai salah satu andalan perekonomian dengan membangkitkan industri perikanan dalam negeri; (2) merasionalisasi, nasionalisasi dan modernisasi armada penangkapan secara bertahap dalam rangka menghidupkan industri dalam negeri dan keberpihakan kepada perusahaan dalam negeri dan nelayan lokal; dan (3) menerapkan pengelolaan perikanan secara bertahap berorientasi kelestarian lingkungan dan terwujudnya keadilan. Selanjutnya sasaran Pembangunan Perikanan Tangkap 2005 – 2009 untuk dicapai pada Tahun 2009 (Yusuf, 2005), sebagai berikut: (1) Produksi perikanan tangkap mencapai 5.438.840 ton; (2) Volume ekspor perikanan 1.261.190 ton; (3) Nilai ekspor perikanan (dalam Ribuan US $) 3.813.160; (4) Jumlah nelayan 4.185.020 orang; dan (5) Pendapatan nelayan rata-rata Rp 1.500.000/bulan/orang.
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan di satu sisi dan menjaga kelestarian sumberdaya di sisi lain merupakan sebuah dilema yang perlu dikaji, mengingat sifat sumberdaya ikan yang unik. Dibutuhkan upaya efektif dari pemegang otoritas sumberdaya ikan dalam pemantauan dan pengendalian kelebihan eksploitasi (overexploitation) sumberdaya ikan yang diakibatkan oleh kelebihan kapasitas (overcapacity). Untuk itu, dibutuhkan upaya rasionalisasi kapal dan alat tangkap atau pengalokasian input secara optimal dalam rangka pemanfaatan sumberdaya ikan.
Pemanfaatan sumberdaya ikan oleh perusahaan perikanan tangkap membutuhkan suatu perencanaan industri penangkapan yang mengacu pada suatu
hubungan dari berbagai komponen dalam kompleksitas penangkapan ikan. Artinya, perikanan tangkap terdiri atas berbagai komponen saling berhubungan dan mempengaruhi satu dengan lainnya, seperti terlihat pada Gambar 2. Komponen-komponen tersebut dikemukakan oleh Kesteven (1973) dan dimodifikasi oleh Monintja (2006), sebagai berikut:
(i) Sarana Produksi
Sarana produksi merupakan penyediaan alat tangkap, pabrik es, galangan, instalasi, air tawar, instalasi listrik dan pendidikan/latihan tenaga kerja. Perkembangan usaha perikanan tangkap sangat tergantung pada optimalisasi fungsi sarana produksi, sebab sarana tersebut merupakan salah satu fasilitas penunjang.
(ii) Proses Produksi
Proses produksi terdiri atas unit penangkapan, aspek legal dan unit sumberdaya. Unit penangkapan merupakan kesatuan teknis operasi penangkapan yang terdiri atas kapal, alat tangkap dan nelayan. Aspek legal mencakup sistem informasi dan ijin usaha. Unit sumberdaya terdiri atas spesies, habitat seperti magrove, terumbu karang, dan padang lamun serta musim atau lingkungan fisik.
(iii) Prasarana Pelabuhan
Prasarana pelabuhan berperan sebagai sarana penunjang bagi unit penangkapan untuk melakukan proses produksi. Pelabuhan perikanan berfungsi sebagai tempat kapal perikanan bersandar, melakukan pendaratan hasil tangkapan, distribusi dan pemasaran hasil perikanan, tempat pembinaan mutu hasil perikanan, dan pengumpulan data dan informasi penangkapan. Sesuai dengan Undang-Undang No.31 Tahun 2004, maka pembinaan dan penyelenggaraan pelabuhan perikanan dilakukan oleh pemerintah.
(iv) Unit Pengolahan
Unit pengolahan mencakup kegiatan penanganan hasil perikanan, pengolahan dan pengepakan produk. Penanganan hasil tangkapan dilakukan dengan cermat dan cepat sebelum pengolahan dilakukan. Pengolahan dapat dilakukan secara tradisional maupun modern, dan dilanjutkan dengan pengepakan untuk menghindari kontaminasi produk olahan. Kegiatan ini berfungsi untuk
mempertahankan mutu hasil tangkapan sesegar mungkin karena harga jual produk adalah identik dengan mutu.
(v) Unit Pemasaran
Unit pemasaran termasuk distribusi dan penjualan hasil tangkapan maupun produk olahan kepada konsumen di pasar domestik maupun ekspor. Pemasaran merupakan aktivitas penting dalam konteks perikanan sebagai suatu kegiatan ekonomi.
(vi) Unit Pembinaan
Proses pembinaan bertujuan meningkatkan produksi dan produktivitas perikanan agar lebih efisien. Pembinaan usaha perikanan dimaksudkan untuk pengembangan usaha yang mencakup kelembagaan dan manajemen usaha, permodalan dan perijinan usaha perikanan. Pembinaan mutu hasil perikanan mencakup aspek teknologi hasil perikanan berupa pembinaan unit pengolahan dan mutu hasil perikanan.
Perikanan tangkap di Indonesia masih dicirikan oleh perikanan skala kecil seperti terlihat pada komposisi armada penangkapan nasional yang masih didominasi oleh usaha perikanan skala kecil sekitar 85%, dan hanya sekitar 15% dilakukan oleh usaha perikanan skala besar (Ditjen Perikanan Tangkap 2005). Struktur armada perikanan tangkap didominasi oleh perahu tanpa motor sekitar 50%, perahu motor tempel 26% dan kapal motor 24%. Armada kapal motor ini didominasi oleh kapal motor berukuran < 5GT sekitar 72%, kapal motor 5 – 10GT sekitar 14 %, dan sekitar 14% adalah kapal motor bervariasi ukuran 10 sampai dengan di atas 200GT. Dominasi jumlah armada < 5GT memperlihatkan bahwa perikanan skala kecil sangat berperan dalam perikanan nasional.
Pengembangan perikanan tangkap dalam rangka peningkatan produksi dan pendapatan nelayan setidaknya harus memperhatikan berbagai faktor, antara lain: (i) potensi dan penyebaran sumberdaya ikan, komposisi ukuran hasil tangkapan; (ii) jenis dan jumlah unit penangkapan ikan termasuk fasilitas penanganan dan pendaratan ikan; (iii) nelayan dan kelembagaan; (iv) pemasaran dan rente ekonomi sumberdaya ikan; serta (v) kelestarian sumberdaya ikan (Kesteven 1973; Charles 2001).
Domestik uk Menangkap Hasil tangkapan didaratkan
Gambar 2 Hubungan komponen dalam kompleksitas penangkapan ikan (Kesteven 1973, dimodifikasi oleh Monintja 2006).
Pembangunan perikanan berkelanjutan menurut Charles (2001) harus mengandung empat aspek penting, yaitu:
(1) Keberlanjutan ekologis (ecological sustainability): yaitu memelihara keberlanjutan stok ikan sehingga tidak melewati daya dukungnya, serta meningkatkan kapasitas dan kualitas ekosistem;
(2) Keberlanjutan sosial ekonomi (socioeconimic sustainability): yaitu mempertahankan keberlanjutan kesejahteraan individu dan masyarakat;
MASYARAKAT Konsumen Modal Tenologi Pembinaan DEVISA PRASARANA PELABUHAN UNIT PENGOLAHAN Handling Processing Packaging UNIT PENANGKAPAN Kapal Alat Nelayan SARANA PRODUKSI Galangan Kapal Pabrik Alat Diklat TK ASPEK LEGAL SISTEM INFORMASI UNIT SUMBERDAYA Spesies Habitat Musim/Lingkungan UNIT PEMASARAN Distribusi Penjualan Segmen pasar Membangun Buat Menyelenggara Memasok Membayar Ekspor Dijual Produk dijual oleh
(3) Keberlanjutan komunitas (community sustainability): mempertahankan keberlanjutan kesejahteraan masyarakat; dan
(4) Keberlanjutan Institusi (institutional sustainability): memelihara aspek finansial dan administrasi yang sehat yang merupakan prayarat terhadap ketiga aspek keberlanjutan sebelumnya.
Paradigma pembangunan perikanan secara keberlanjutan ini terasa sangat penting dalam penangkapan ikan ketika populasi ikan menjadi semakin terbatas, hasil tangkapan semakin berkurang, dan wilayah pengelolaan perikanan telah mengalami kelebihan pemanfaatan (overexploited). Dalam kenyataannya agak jarang terjadi pemanfaatan sumberdaya ikan dilakukan secara optimal ditinjau dari sisi upaya penangkapan maupun hasil penangkapan. Pada hal dengan menerapkan aspek-aspek keberlanjutan pada penangkapan ikan secara optimal, maka sumberdaya ikan akan lestari.