• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hutan Lahan Kering Sekunder

Hutan Tanaman Pertanian Lahan Kering Semak Belukar

27

penutupan lahan yang ditemui di lapangan pada kombinasi band 6-5-4 Landsat 8 OLI/TIRS berdasarkan Monogram Sumatera adalah:

a. Hutan Lahan Kering Sekunder, dengan rona agak terang, berwarna hijau terang kekuningan, tekstur agak kasar, bentuk tidak beraturan, pola terdapat bukaan dan jaringan jalan loging.

b. Hutan Tanaman, dengan rona terang sampai dengan agak gelap, warna ahijau tua campur muda, tekstur agak halus agak kasar, pola teratur, biasanya didalam hutan, dan kenampakannya homogeny.

c. Pertanian Lahan Kering, dengan rona agak terang, warna merah muda dan bercak-bercak hijau, tekstur agak kasar sampai kasar, bentuk tidak beraturan, pola tidak teratur, dekat dengan pemukiman, dan terdapay jaringan jalan. d. Semak Belukar, dengan rona agak terang, warna hijau muda kekuningan,

tekstur agak kasar, bentuk tidak beraturan, pola tidak teratur, topografi landai sampai dengan curam.

e. Tubuh Air, dengan rona gelap, warna biru kehitaman, tekstur halus, pola tidak teratur, dekat dengan jaringan sungai, topografi dataran rendah.

Penafsiran dilakukan dengan melihat perbedaan ciri spektral pada citra, yaitu dengan melihat perbedaan warna obyek di permukaan bumi yang ditampilkan oleh citra landsat tersebut.Seperti yang dinyatakan Ekadinata A, dkk (2008) bahwa perbedaan nilai pantulan dari masing-masing obyek di permukaan bumi dikenal dengan istilah ciri spektral (spectral signature).Untuk mudahnya, ciri spektral dapat dilihat dari adanya perbedaan warna berbagai obyek di permukaan bumi yang ditampilkan melalui citra satelit.Adanya perbedaan nilai pantulan inilah yang memungkinkan kita untuk melakukan pemetaan tutupan

28

lahan dengan membedakan dan mengenali ciri spektral dari masing-masing obyek.

Klasifikasi Terbimbing

Klasifikasi Citra Landsat dilakukan untuk mengelompokkan penutupan lahan. Pada penelitian ini cara yang digunakan adalah dengan klasifikasi terbimbing (Supervised Classification) dan Digitasi On Screen. Adapun nilai akurasi yang diperoleh dengan menggunakan Maximum Likelihood adalah sebesar 99.4122% dan koeffisien kappa sebesar 0.9922.

Menurut Ekadinata A, dkk (2008), bahwa dalam interpretasi citra satelit, adalah mustahil untuk menghasilkan data dengan tingkat kebenaran 100%. Selalu ada kesalahan dalam proses penarikan informasi dari citra satelit. Hal yang perlu dilakukan adalah menekan tingkat kesalahan sampai serendah mungkin, dengan berbagai teknik dan dengan metode iterasi. Sebagai bagian dari proses iterasi, apabila tingkat akurasi lebih rendah dari yang bisa diterima, maka proses klasifikasi harus diulangi dengan penambahan data maupun informasi dari lapangan. Namun karena tingkat akurasi yang diperoleh pada penelitian ini lebih tinggi dari yang bisa diterima (>80%) maka tidak perlu dilakukan pengulangan proses klasifikasi.

Kegunaan dari tingkat akurasi ini antaralain adalah untuk mengindikasikan tingkat kepercayaan yang bisa diharapkan dari data hasil klasifikasi.Selain itu tingkat akurasi juga dipakai untuk mengkomunikasikan hasil pada tataran teknis untuk didiskusikan lebih lanjut, terutama dalam hal perbaikan metode klasifikasi.

29 Groundcheck Lapangan

Groundcheck lapangan dilakukan setelah proses interpretasi citra. Penentuan titik groundcheck yaitu dengan melihat unsur-unsur yang sama pada citra. Titik koordinat diambil tidak di seluruh KPH, namun hanya di lokasi-lokasi yang dianggap mewakili keseluruhan wilayah KPH.Jumlah titik groundcheck yang diambil pada penelitian ini adalah sebanyak 74 titik.Jumlah ini dianggap sudah cukup untuk mewakili keseluruhan wilayah penelitian.Dalam melakukan pengambilan titik sample pada penelitian ini mengacu kepada National Standard for Spatial Data Accuracy (NSSDA) yang dikutip dari jurnalSaputra (2010) bahwa jumlah minimal titik sample yang digunakan adalah 20 titik.Lokasi pengambilan titik koordinat dilakukan di kecamatan Lumban Julu.Hal ini karena di kecamatan Lumban Julu terdapat semua jenis tutupan lahan yang ada di wilayah kerja KPHL, sehingga sudah dianggap mewakili untuk keseluruhan wilayah KPHL.Pada saat groundcheck ditemukan adanya ketidaksesuaian antara hasil interpretasi citra dan kondisi di lapangan.Sesuai dengan pernyataan Ekadinata, dkk (2008) bahwa perlu dalam interpretasi citra satelit, adalah mustahil untuk menghasilkan data dengan tingkat kebenaran 100%. Hal yang perlu dilakukan adalah menekan tingkat kesalahan sampai serendah mungkin, seperti apabila tingkat akurasi lebih rendah dari yang bisa diterima, maka proses klasifikasi harus diulangi dengan penambahan data maupun informasi dari lapangan.

Perhitungan Akurasi (Accuracy assesement)

Perhitungan akurasi dapat dilakukan dengan berbagai metode, salah satu metodenya adalah confusion matrix.Pada prinsipnya, confusion matrix menyusun

30

data hasil klasifikasi dan hasil pengamatan di lapangan dalam sebuah tabel perbandingan persentase.

Adapun kegunaan dari tingkat akurasi ini seperti yang dikatakan oleh Ekadinata, dkk (2008) antaralain untuk mengindikasikan tingkat kepercayaan yang bisa diharapkan dari data hasil klasifikasi maupun turunannya dan analisa selanjutnya.Selain itu tingkat akurasi juga dipakai untuk mengkomunikasikan hasil pada tataran teknis untuk didiskusikan lebih lanjut, terutama dalam hal perbaikan metode klasifikasi.

Berikut adalah tabel matriks penaksiran akurasi hasil interpretasi yang telah dilakukan:

Tabel 2.matriks penaksiran akurasi hasil interpretasi Hasil

Klasifikasi

Data Lapangan Jumlah

baris A B C D E A 13 0 0 0 0 13 B 0 25 0 0 0 25 C 0 0 32 0 0 32 D 0 0 0 3 0 3 E 0 0 1 0 0 1 Jumlah kolom 13 25 33 3 0 74 Keterangan:

A : Hutan Lahan Kering Sekunder B : Hutan Tanaman

C : Pertanian Lahan Kering D : Semak Belukar

E : Tubuh Air

Seperti halnya dengan beberapa analisa spasial lainnya, sebelum hasil klasifikasi dapat benar-benar digunakan perhitungan tingkat akurasi merupakan prasyarat mutlak yang harus dilakukan setelah kegiatan klasifikasi.Akurasi merupakan perbandingan antara data hasil klasifikasi dengan kondisi lapangan. Dengan kata lain, dalam prosesnya pengguna harus melakukan pengecekan dan pengambilan beberapa sampel dilapangan sebagai pembanding.

31

Analisis Penutupan lahan perkecamatan

Luas tutupan lahan di kawasan KPHL Model Unit XIV Toba Samosir meliputi 12 kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut antaralain adalah kecamatan Mandoge, kecamatan Bandar Pulau, kecamatan Garoga, kecamatan Girsang, kecamatan Habinsaran, kecamatan Kualuh Hulu, kecamatan Laguboti, kecamatan Porsea, kecamatan Silaen, kecamatan Sipahutar, dan kecamatan Tanah Jawa.

Dari hasil interpretasi yang dilakukan, diperoleh data tutupan lahan yang berbeda pada setiap kecamatan, sehingga pemanfaatan kawasan yang diterapkan juga akan berbeda di masing-masing kecamatan. Berikut ini merupakan rencana pemanfaatan kawasan yang bisa dilakukan sebagai masukan dalam kegiatan pengelolaan sumberdaya lahan untuk membantu dalam perencanaan kegiatan KPHL dimasa yang akan datang sesuai hasil interpretasi citra Landsat 8 di KPHL Model Toba Samosir Unit XIV:

Tabel3. Rencana pemanfaatan kawasan sesuai hasil interpretasi citra Landsat 8

No Kecamatan Tutupan Lahan yang

mendominasi Rencana Pemanfaatan Kawasan

1 Mandoge HLKS HHBK , Jasa Lingkungan dan

wisata alam

2 Bandar Pulau PLK Pembentukan kelompok tani

3 Garoga SB Rehabilitasi Lahan

4 Girsang HT Pengelolaan minyak daun

Eucalyptus

5 Habinsaran PLK Pembentukan kelompok tani

6 Kualuh Hulu PLK Pembentukan kelompok tani

7 Lagu Boti PLK Pembentukan kelompok tani

8 Lumban Julu HLKS HHBK , Jasa Lingkungan dan

wisata alam

9 Porsea PLK Pembentukan kelompok tani

10 Silaen PLK Pembentukan kelompok tani

11 Sipahutar SB Rehabilitasi Lahan

12 Tanah Jawa KLKS HHBK , Jasa Lingkungan dan

wisata alam Keterangan : HLKS : Hutan Lahan Kering Sekunder

HT : Hutan Tanaman

PLK : Pertanian Lahan Kering SB : Semak Belukar

30

31

Gambar 13. Persentase masing-masing jenis tutupan lahan di setiap kecamatan 0 20 40 60 80 100 120 Mandoge Bandar Pulau

Garoga Girsang Habinsaran Kualuh

Hulu

Lagu Boti Lumban Julu

Porsea Silaen Sipahutar Tanah Jawa

HLKS HT PLK SB TA

32

Berikut ini akan diuraikan luasan masing-masing tutupan lahan berdasarkan tipe tutupan lahan di setiap kecamatan yang berada di KPHL Model Toba Samosir Unit XIV:

Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Mandoge adalah sebesar 3.377,61 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa Hutan Lahan Kering Sekunder mendominasi di kecamatan Mandoge yaitu sebesar 97% dengan luas sekitar 3.272,94 Ha. Selanjutnya didominasi oleh semak belukar yaitu sebesar 1.73% dengan luas sekitar 58,5 Ha. Hutan tanaman sebesar 0,85% dengan luas sekitar 28,98 Ha. Pertanian lahan kering memiliki luas terkecil dengan persentase sebesar 0,51% dengan luas sekitar 17,28 Ha.

Dari data yang diperoleh tersebut, dengan luas tutupan lahan terbesar adalah hutan lahan kering sekunder maka kawasan KPHL di kecamatan Mandoge sebaiknya tidak dikonversikan ke jenis penggunaan lahan lain dan tidak dimanfaatkan hasil hutan kayunya agar kawasan hutan tetap terjaga kelestariannya. Pemanfaatan hutan di kawasan ini dapat berupa pemanfaatan hasil hutan bukan kayu seperti yang tertera di Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan pasal 1 ayat 8 yaitu Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu adalah kegiatan untuk memanfaatkan dan mengusahakan hasil hutan berupa bukan kayu dengan tidak merusak lingkungan dan tidak mengurangi fungsi pokoknya.

Kawasan dengan tipe tutupan lahan hutan lahan kering sekunder ini dapat dimanfaatkan tanpa harus menebang kayunya. Beberapa jenis pemanfaatannya antara lain seperti pengelolaan jasa lingkungan berupaJasa Wisata Alam/rekreasi,

33

Perlindungan Sistem Hidrologi, Kesuburan Tanah, Pengendalian Erosi dan Banjir, Keindahan, Keunikan dan Kenyamanan (Suprayitno, 2008).

Sedangkan untuk kecamatan Bandar Pulau, berbeda jenis tutupan lahan yang mendominasi dengan kecamatan Mandoge. Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Bandar Pulau adalah sebesar 4.660,92 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa pertanian lahan kering mendominasi di kecamatan Bandar pulau yaitu sebesar 55,42% dengan luas sekitar 2583,27 Ha. Selanjutnya didominasi oleh semak belukar yaitu sebesar 24,18% dengan luas sekitar 1.127,07 Ha. Hutan lahan kering sekunder sebesar 19,54% dengan luas sekitar 911,07 Ha. Hutan tanaman memiliki luas terkecil dengan persentase sebesar 0,85% dengan luas sekitar 39,51 Ha. Dari data yang diperoleh tersebut, dapat dilihat bahwa penggunaan lahan berupa pertanian lahan kering lebih dari setengah luas kawasan KPHL yang terdapat di kecamatan Bandar Pulau, oleh karena itu sebaiknya kawasan KPHL yang berada di kecamatan ini ditanami pepohonan untuk mencegah agar tidak terjadi longsor, dan menjaga ketersediaan air di tanah untuk pertumbuhan tanaman pertanian.Selain itu juga sebaiknya dilakukan pembentukan kelompok tani agar pengelolaannya lebih baik secara administrasi dan secara organisasi, juga agar terfokus dan terkonsentrasi pada satu pengelolaan yang baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Kawasan KPHL Model Toba Samosir Unit XIV di kecamatan Garoga hanya terdapat 2 (dua) tipe tutupan lahan yaitu pertanian lahan kering dan semak belukar.

34

Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Garoga adalah sebesar 65,97 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa semak belukar mendominasi di kecamatan Garoga yaitu sebesar 63% dengan luas sekitar 41,58 Ha. Selanjutnya didominasi oleh pertanian lahan kering yaitu sebesar 37% dengan luas sekitar 24,39 Ha. Dari data yang diperoleh tersebut, di kecamatan Garoga sebaiknya dilakukan kegiatan RHL (Rehabilitasi Lahan) agar dapat memperbaiki fungsi ekologi hutan dan untuk meningkatkan produktivitas lahan dengan menanam tanaman MPTS (Multipurpose Tree Species).

Berbeda dengan kecamatan Garoga, tipe tutupan lahan kawasan KPHL Model Toba Samosir Unit XIV yang terdapat di kecamatan Girsang terdiri dari 3 jenis tutupan lahan, yaitu Hutan tanaman, Pertanian lahan kering, dan semak belukar.

Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Girsang adalah sebesar 915,75 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa Hutan tanaman mendominasi di kecamatan Girsang yaitu sebesar 67% dengan luas sekitar 615,78 Ha. Selanjutnya didominasi oleh pertanian lahan kering yaitu sebesar 32% dengan luas sekitar 295,11 Ha. Semak belukar sebesar 0,53% dengan luas sekitar 4,86 Ha. Dari data yang diperoleh tersebut, kecamatan Girsang memiliki potensi untuk dimanfaatkan hasil hutan tanamannya yaitu minyak dari daun Eucalyptus yang dapat dimanfaatkan sebagai minyak atsiri yang bisa digunakan sebagai bahan dasar pengolahan produk selanjutnya. Kegiatan penyulingan ini dapat menjadi rencana kerja KPHL untuk dimasa yang akan datang.

35

Di kecamatan Habinsaran terdapat 4 (empat) jenis tutupan lahan yaitu hutan lahan kering sekunder, hutan tanaman, pertanian lahan kering, dan semak belukar.

Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Habinsaran adalah sebesar 14.477,31 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa pertanian lahan kering mendominasi di kecamatan Habinsaran yaitu sebesar 53% dengan luas sekitar 7.704 Ha.Selanjutnya didominasi oleh semak belukar yaitu sebesar 38% dengan luas sekitar 5.529,33 Ha. Hutan tanaman sebesar 6% dengan luas sekitar 869,94 Ha. Hutan lahan kering sekunder memiliki luas terkecil dengan persentase sebesar 2,58% dengan luas sekitar 374,04 Ha. Dari data yang diperoleh tersebut, kecamatan Habinsaran sebaiknya dilakukan penanaman pohon untuk mencegah agar tidak terjadi longsor, dan menjaga ketersediaan air di tanah untuk pertumbuhan tanaman pertanian.Selain itu juga agar dilakukan pembentukan kelompok tani supaya pengelolaannya lebih baik secara administrasi dan organisasi, juga agar terfokus dan terkonsentrasi pada satu pengelolaan yang baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Kecamatan selanjutnya adalah kecamatan Kualuh Hulu, di kecamatan ini terdapat dua jenis tutupan lahan yang masuk kedalam kawasan KPHL Model Toba Samosir Unit XIV yaitu pertanian lahan kering dan semak belukar.

Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Kualuh hulu adalah sebesar 38,25 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa Pertanian lahan kering mendominasi di kecamatan Kualuh hulu yaitu sebesar 99,76% dengan luas sekitar 38,25 Ha. Selanjutnya semak belukar yaitu sebesar 0,23% dengan luas hanya sekitar 0,09 Ha. Dari data yang diperoleh tersebut, hampir 100% kecamatan

36

Kualuh ditutupi oleh lahan pertanian, oleh karena itu sebaiknya kawasan KPHL yang berada di kecamatan ini ditanami pepohonan untuk mencegah agar tidak terjadi longsor, dan menjaga ketersediaan air di tanah untuk pertumbuhan tanaman pertanian. Selain itu juga sebaiknya dilakukan pembentukan kelompok tani agar pengelolaannya lebih baik secara administrasi dan secara organisasi, juga agar terfokus dan terkonsentrasi pada satu pengelolaan yang baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Kawasan KPHL yang berada di kecamatan Lagu Boti terdapat 4 jenis tutupan lahan, yaitu hutan lahan kering sekunder, hutan tanaman, pertanian lahan kering, dan semak belukar.

Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Lagu boti adalah sebesar 4.946,49 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa pertanian lahan kering mendominasi di kecamatan Lagu boti yaitu sebesar 86,20% dengan luas sekitar 4.263,93 Ha. Selanjutnya didominasi oleh semak belukar yaitu sebesar 11,26% dengan luas sekitar 557,1 Ha. Hutan tanaman sebesar 2,42% dengan luas sekitar 120,06 Ha. Hutan lahan kering sekunder memiliki luas terkecil dengan persentase sebesar 1,20% dengan luas sekitar 5,4 Ha. Dari data yang diperoleh tersebut, kecamatan Lagu boti oleh karena itu sebaiknya kawasan KPHL yang berada di kecamatan ini ditanami pepohonan untuk mencegah agar tidak terjadi longsor, dan menjaga ketersediaan air di tanah untuk pertumbuhan tanaman pertanian.Selain itu juga sebaiknya dilakukan pembentukan kelompok tani agar pengelolaannya lebih baik secara administrasi dan secara organisasi, juga agar terfokus dan terkonsentrasi pada satu pengelolaan yang baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

37

Kawasan KPHL yang berada di kecamatan Lumban Julu terdapat 5 jenis tutupan lahan, yaitu hutan lahan kering sekunder, hutan tanaman, pertanian lahan kering, tubuh air, dan semak belukar.

Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Lumban julu adalah sebesar 8.364,96 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa Hutan Lahan Kering Sekunder mendominasi di kecamatan Lumban julu yaitu sebesar 49% dengan luas sekitar 4.073,13 Ha. Selanjutnya didominasi oleh pertanian lahan kering yaitu sebesar 31,76% dengan luas sekitar 2.656,8 Ha. Semak belukar sebesar 11,22% dengan luas sekitar 938,7 Ha. Hutan tanaman memiliki luas dengan persentase sebesar 7,66% dengan luas sekitar 641,34 Ha. Tubuh air dengan persentase sebesar 0,65% dengan luas sekitar 54,99 Ha. Dari data yang diperoleh tersebut, dengan luas tutupan lahan terbesar adalah hutan lahan kering sekunder yaitu hampir setengan luas kawasan, maka kawasan KPHL di kecamatan Lumban Julu sebaiknya tidak dikonversikan ke jenis penggunaan lahan lain dan tidak dimanfaatkan hasil hutan kayu nya agar kawasan hutan tetap terjaga kelestariannya.

Pemanfaatan hutan di kawasan ini dapat berupa pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (madu, tanaman hias, jasa lingkungan, wisata alam, dll) seperti yang tertera di Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan pasal 1 ayat 8 yaitu Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu adalah kegiatan untuk memanfaatkan dan mengusahakan hasil hutan berupa bukan kayu dengan tidak merusak lingkungan dan tidak mengurangi fungsi pokoknya.

38

Kecamatan selanjutnya adalah kecamatan Porsea, di kecamatan porsea ini terdapat 4 (empat) jenis tutupan lahan yang masuk kedalam kawasan KPHL Model Toba Samosir Unit XIV yaitu hutan lahan kering sekunder, hutan tanaman, pertanian lahan kering dan semak belukar.

Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Porsea adalah sebesar 17.448,66 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa pertanian lahan kering mendominasi di kecamatan Porsea yaitu sebesar 34,37% dengan luas sekitar 5.998,23 Ha. Selanjutnya didominasi oleh semak belukar yaitu sebesar 28,83% dengan luas sekitar 5.032,17 Ha. Hutan lahan kering sekunder sebesar 23,04% dengan luas sekitar 4.021,56 Ha. Hutan tanaman memiliki luas terkecil dengan persentase sebesar 13,73% dengan luas sekitar 2.396,7 Ha. Dari data yang diperoleh tersebut, kecamatan Porsea dapat dilakukan pembentukan kelompok tani agar pengelolaan lahan pertaniannya dapat terorganisir dan memiliki administrasi yang baik.

Tipe tutupan lahan kawasan KPHL Model Toba Samosir Unit XIV yang terdapat di kecamatan Silaen terdiri dari 4 (empat) jenis tutupan lahan, yaitu Hutan lahan kering sekunder, Hutan tanaman, Pertanian lahan kering, dan semak belukar.

Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Silaen adalah sebesar 5.725,89 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa pertanian lahan kering mendominasi di kecamatan Silaen yaitu sebesar 74,45% dengan luas sekitar 4.263,48 Ha. Selanjutnya didominasi oleh semak belukar yaitu sebesar 15% dengan luas sekitar 859,14 Ha. Hutan lahan kering sekunder sebesar 6,43%

39

dengan luas sekitar 368,19 Ha. Hutan tanaman memiliki luas terkecil dengan persentase sebesar 4,10% dengan luas sekitar 235,08 Ha.

Dari data yang diperoleh tersebut, sebaiknya kawasan KPHL yang berada di kecamatan Silaen ditanami pepohonan untuk mencegah agar tidak terjadi longsor, dan menjaga ketersediaan air di tanah untuk pertumbuhan tanaman pertanian.Selain itu juga sebaiknya dilakukan pembentukan kelompok tani agar pengelolaannya lebih baik secara administrasi dan secara organisasi, juga agar terfokus dan terkonsentrasi pada satu pengelolaan yang baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Tipe tutupan lahan kawasan KPHL Model Toba Samosir Unit XIV yang terdapat di kecamatan Sipahutar terdiri dari 4 (empat) jenis tutupan lahan, yaitu Hutan lahan kering sekunder, Hutan tanaman, Pertanian lahan kering, dan semak belukar.

Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Sipahutar adalah sebesar 3.602,34 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa semak belukar mendominasi di kecamatan Sipahutar yaitu sebesar 68,98% dengan luas sekitar 2.485,34 Ha. Selanjutnya didominasi oleh pertanian lahan kering yaitu sebesar 21.79% dengan luas sekitar 785,25 Ha. Hutan tanaman sebesar 6,47% dengan luas sekitar 233,28 Ha. Hutan lahan kering sekunder memiliki luas terkecil dengan persentase sebesar 2,74% dengan luas sekitar 98,73 Ha. Dari data yang diperoleh tersebut, di kecamatan Sipahutar sebaiknya dilakukan kegiatan RHL (Rehabilitasi Lahan) agar dapat memperbaiki fungsi ekologi hutan dan untuk meningkatkan produktivitas lahan dengan menanam tanaman MPTS (Multipurpose Tree Species).

40

Kecamatan yang terakhir adalah kecamatan Tanah Jawa. Tipe tutupan lahan kawasan KPHL Model Toba Samosir Unit XIV yang terdapat di kecamatan Tanah Jawa terdiri dari 4 (empat) jenis tutupan lahan, yaitu Hutan lahan kering sekunder, Hutan tanaman, Pertanian lahan kering, dan semak belukar.

Total luas tutupan lahan yang terdapat di kecamatan Tanah jawa adalah sebesar 646,65 Ha. Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa Hutan Lahan Kering Sekunder mendominasi di kecamatan Tanah jawa yaitu sebesar 87,08% dengan luas sekitar 563,13 Ha. Selanjutnya didominasi oleh hutan tanaman yaitu sebesar 11.18% dengan luas sekitar 72,36 Ha. Pertanian lahan kering sebesar 1,28% dengan luas sekitar 8,28 Ha. Semak belukar memiliki luas terkecil dengan persentase sebesar 0,44% dengan luas sekitar 2,88 Ha. Dari data yang diperoleh tersebut, di kecamatan Tanah Jawa sebaiknya dilakukan kegiatan RHL (Rehabilitasi Lahan) agar dapat memperbaiki fungsi ekologi hutan dan untuk meningkatkan produktivitas lahan dengan menanam tanaman MPTS (Multipurpose Tree Species).

41

Berikut ini adalah peta tutupan lahan di KPHL Model Toba Samosir Unit XIV yang dihasilkan melalui interpretasi citra Landsat 8 OLI/TIRS:

42

Dokumen terkait