HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Pertanian dan Kehutanan
Pertanian dan Kehutanan di Kecamatan Siantan dan Palmatak sangat sedikit dimanfaatkan ini karena topografi kepulauan yang bukit dan berbatuan. Pengadaan kebutuhan pokok dan kehutanan banyak didapatkan dari luar kota, yaitu Tanjung pinang, Letung, dan Kalimatan.
Analisis Kesesuaian Lahan
Analisis kesesuian lahan dititik beratkan pada kawasan lindung dan kawasan budidaya, langkah ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya arahan pengembangan kegiatan di kawasan berfungsi lindung. Setiap jenis penggunaan lahan dianalisa kesesuaiannya berdasarkan kriteria dan syarat penggunaan lahan. Penggunaan lahan yang dianalisa antara lain; kawasan lindung (konservasi pantai) dan kawasan budidaya (kawasan pemukiman, kegiatan budidaya perikanan, perikanan tangkap, dan pariwisata pantai).
Semua analisis ini identifikasi secara terpisah-pisah dengan memperhatikan parameter pembatas berupa kriteria. Kriteria ini merujuk dari Departemen Kelautan dan Perikanan, FAO, Bakosurtanal, dan hasil penelitian lainnya. Kriteria yang ada pada masing-masing instansi ini mutlak harus dipergunakan Tetapi dapat dilakukan proses deliniasi, karena kawasan pulau kecil mempunyai lingkungan yang unik, tidak selalu sama dengan keadaan di daratan. Langkah selajutnya adalah melakukan klasifikasi, dimana kriteria bagi peruntukan penggunaan lahan diberi pembobotan, skoring (kelas). Sistem Informasi geografis (SIG) mempunyai kemampuan analisis keruangan (spatial analysis) maupun waktu (temporal analysis), dengan kemampuan tersebut SIG dapat dimanfaatkan dalam perencanaan apapun, karena pada dasarnya semua perencanaan akan terkait dengan dimensi ruang dan waktu.
Analisis kesesuian lahan Kepulauan Anambas yang terdiri dari 10 desa di 2 kecamatan di Kepulauan Anambas. Secara keseluruhan luas wilayah yang dianalisis sebesar 45.937 ha. Berdasarkan hasil analisis spasial dengan menggunakan pendekatan SIG menggunakan metode overlay diperoleh hasil analisis kesesuaian lahan untuk kawasan konservasi pantai, pemukiman, budidaya perikanan laut (keramba), perikanan tangkap, dan pariwisata pantai.
Kesesuaian Kawasan Konservasi Pantai
Pengembangan wilayah untuk berbagai peruntukan dalam pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil semestinya menyisakan wilayah dengan luas tertentu dengan membiarkan secara alami tanpa perlakuan yang sifatnya merusak. Konservasi pantai di Kepulauan Anambas perlu dilakukan mengingat kondisinya sudah sangat menghawatirkan, disebabkan oleh berbagai aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan.
Konservasi pantai salah satunya ádalah konservasi mangrove di pesisir dan laut dimana berfungsi mempertahankan dan melindungi keanekaragaman hayati, mengingat hasil perikanan, pariwisata, memberikan manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat pesisir, serta memperluas pengetahuan dan pemahaman tentang ekosistem mangrove. Kawasan konservasi ini diharapkan salah satunya mampu mengatasi dampak permasalahan over-eksploitasi yang mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Berdasarkan analisis SIG diperoleh total luasan untuk masing-masing kategori antara lain; Kategori sangat sesuai meliputi areal dengan persentase 4,04 % yang terdistribusi diseluruh desa yang ada di Kepulauan Anambas, dengan wilayah kesesuaian banyak terdapat di Kecamatan Palmatak. Kategori
sesuai meliputi 24,13 %, kategori sesuai bersyarat meliputi 69,20 % dan kategori
tidak sesuai meliputi 2,61 % yang terdistribusi diseluruh desa di Kepulauan Anambas. Setiap kategori disajikan pada Tabel 22.
Tabel 22 Luas kesesuaian lahan untuk kawasan konservasi di Kepulauan Anambas (ha).
No. Kecamatan Sangat sesuai Sesuai Sesuai
bersyarat Tidak sesuai
1. Siantan 476.9 4530.7 9282.8 701.9
2. Palmatak 1150.9 5182.4 18565.6 351
Jumlah 1627.8 9713.1 27848.4 1052.9
Data di atas mengambarkan, setiap kecamatan umumnya dapat dijadikan peruntukan kawasan konservasi pantai (konservasi mangrove), hal ini dikarenakan jarak dari pantai dan vegetasi mangrove merupakan salah satu kriteria utama (bobot tertinggi) dalam kriteria kesesuaian kawasan konservasi mangrove. Kondisi ekosistem mangrove di Kepulauan Anambas belum mengalami kerusakan, namun perlu langkah-langkah untuk menjaga dan mempertahankan ekosistem tersebut dari kerusakan.
Kecamatan Palmatak dari hasil analisis memperlihatkan kategori sangat sesuai terdapat diseluruh pesisir Pulau Mubur, di Pulau Matak terdapat pada sebagian utara pesisir Pulau Matak (Desa Ladan), dan sebagian pesisir selatan (Desa Air asuk). Kategori sesuai terdapat di sepanjang wilayah pesisir pulau di Kecamatan Palmatak yang umumnya kawasan mangrove, namun tingkat kerapatan mangrove cukup sedikit dibandingkan dengan kategori sangat sesuai. Pada Kecamatan Siantan kategori sangat sesuai terdapat disepanjang pesisir pulau Siantan, Pulau Telaga besar, Pulau Ayerabu dan Pulau Bajau. Kawasan tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga penggunaan lahan cenderung belum mempertlihatkan tumpang tindih untuk suatu peruntukan. Setiap kategori untuk kawasan konservasi pantai dapat dilihat pada peta kesesuaian lahan Gambar 15.
Kategori sesuai bersyarat dan tidak sesuai bagi peruntukan wilayah konservasi, umumnya terdapat di sekitar wilayah pemukiman dimana kerapatan vegetasi mangrove dilihat jarang dan bahkan tidak ada, hal ini memperlihatkan, pembukaan lahan untuk kawasan pemukiman memberikan dampak terhadap ekosistem mangrove. Pemanfaatan kawasan konservasi di Kepulauan Anambas dapat dilihat pada Kecamatan Palmatak, di Pulau Pahat (Desa Mubur) saat ini dijadikan wilayah konservasi oleh masyarakat setempat, dimana terdapat perlindungan biota-biota laut seperti wilayah penangkaran penyu dan Pulau Mubur dijadikan kawasan lindung hutan mangrove dimana berfungsi sebagai daerah asuhan (nursery ground), daerah mencari makan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning groud) bagi bermacam biota perairan baik yang hidup di perairan pantai maupun lepas pantai.
Secara umum, suatu kawasan konservasi dapat dikelompokan atas tiga zona, yaitu : zona inti atau perlindungan, zona penyangga dan zona pemanfaatan. Zona inti memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi, sangat rentan terhadap gangguan atau perubahan dan hanya dapat mentolerir sangat sedikit aktifitas manusia. Zona penyangga berada di belakang zona inti, dimana zona ini bersifat terbuka, tetapi tetap dikontrol dan beberapa bentuk pemanfaatan masih diizinkan untuk dilakukan. Sedangkan zona pemanfaatan sebaiknya berada disekitar pemukiman penduduk, pemanfaatan yang direkomendasikan terbatas hanya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti kayu bakar dan bukan dalam skala produksi secara besar-besaran.
Kesesuaian Kawasan Pemukiman
Peran kawasan pemukiman dalam pengembangan wilayah sangatlah strategis, mengingat kawasan pemukiman merupakan pusat-pusat pertumbuhan wilayah (center of growth) sekaligus merupakan pusat koleksi distribusi produk-produk unggulan wilayah serta pusat pelayanan jasa pemerintahan dan jasa-jasa lainnya. Melalui keterkaitan yang sangat erat antar pusat pemukiman, diharapkan dapat tercipta pertumbuhan ekonomi wilayah dan pemerataan kesejahteraan masyarakat pada kawasan yang lebih luas.
Menurut Dahuri (2000), bentuk dan hakekat pemukiman khususnya di wilayah pesisir harus merupakan bagian integral dan tidak bertentangan dengan proses dan fenomena ekologi pesisir secara menyeluruh. Hal yang sangat prinsip adalah bahwa kebutuhan yang meningkat akan pemukiman, menuntut pengaturan tata ruang pemukiman di wilayah pesisir secara terpadu dan berwawasan lingkungan. Tata ruang pemukiman di wilayah pesisir yang kacau dan tidak berwawasan lingkungan akan meyebabkan terjadinya degradasi mutu lingkungan seperti erosi, sedimentasi, pencemaran, dan banjir.
Berdasarkan analisis SIG diperoleh total luasan untuk masing-masing kategori antara lain; Kategori sangat sesuai meliputi areal 7,87 % yang terdistribusi diseluruh desa yang ada di Kepulauan Anambas. Kategori sesuai meliputi 39.22 %, kategori sesuai bersyarat meliputi 38,46 % dan kategori
tidak sesuai meliputi 14,42 % yang terdistribusi diseluruh desa di Kepulauan Anambas, yang umumnya berada pesisir pantai di Kepulauan Anambas. Setiap kategori disajikan pada Tabel 23.
Tabel 23 Luas kesesuaian lahan untuk kawasan pemukiman di Kepulauan Anambas (ha).
No Kecamatan Sangat sesuai Sesuai Sesuai bersyarat Tidak sesuai 1. Siantan 1206.4 6006.9 5889.6 2209.3 2. Palmatak 2412.8 12013.9 1177.4 4418.7 Jumlah 3619.2 18020.8 17669 6628 Persentase (%) 7.87 39.22 38.46 14.42
Data tersebut memperlihatkan kesesuaian kawasan pemukiman di Kepulauan Anambas sangat minim, dari kategori sangat sesuai hanya 7.87 %, faktor jarak dari pantai, sumber air tawar dan ketinggian merupakan salah satu kriteria utama bagi peruntukan kawasan pemukiman. Kategori sesuai umunya berada di daerah berbukitan, dimana untuk mencapai kawasan tersebut cukup sulit, sehingga pemukiman yang ada dikawasan tersebut sangat sedikit. Setiap kategori untuk kawasan pemukiman dapat dilihat pada peta kesesuaian Gambar 16.
Pemanfaatan kawasan pemukiman di Kepulauan Anambas saat ini masih dalam kondisi normal dimana pemukiman di kawasan ini belum tumpang tindih dengan kawasan yang lainnya. Perkembangan kawasan pemukiman harus terus diperhatikan dan ditingkatkan, hal ini dikarenakan tiap tahun kebutuhan akan wilayah pemukiman akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk.
Kesesuaian Kawasan Budidaya Perikanan Laut (Keramba)
Hasil analisis SIG mengambarkan peruntukan kawasan kesesuaian keramba didapati kategori sangat sesuai meliputi areal 1,72 % yang terdistribusi diseluruh desa yang ada di Kepulauan Anambas. Wilayah kesesuaian banyak terdapat di Kecamatan Palmatak. Kategori sesuai meliputi areal 3,97 %, kategori sesuai bersyarat meliputi areal 8,29 % dan kategori tidak sesuai meliputi areal 86 %. Setiap kategori disajikan pada Tabel 24.
Tabel 24 Luas kesesuaian kawasan budidaya perikanan laut (keramba) di Kepulauan Anambas (ha)
No Kecamatan Sangat sesuai Sesuai Sesuai bersyarat Tidak sesuai 1. Siantan 15.6 170.9 1745.9 21865.6 2. Palmatak 632.0 1321.7 1366.9 10411.8 Jumlah 647.6 1492.6 3112.8 32277.4 Persentase (%) 1.72 3.97 8.29 86.00
Secara deskriptif dari hasil analisis digambarkan bahwa kecamatan Palmatak merupakan kecamatan yang sangat sesuai untuk peruntukan budidaya perikanan (keramba), karena keterlindungan wilayah dan dasar perairan yang umumnya adalah terumbu karang dengan berpasir halus dan kedalaman tertentu. Di Kecamatan Palmatak kategori sangat sesuai, antara lain: Desa Ladan, Desa Tebang dan Desa Air asuk yang umumnya berada di kawasan teluk yang merupakan daerah terlindung dari arus dan gelombang.
Potensi sumberdaya ikan di perairan Kepulauan Anambas sangat tinggi begitu juga kebutuhan akan ikan hidup, sehingga pengembangan budidaya perikanan (keramba) umumnya pembesaran ikan sangat baik dikembangkan. Namun saat ini pemanfaatan budidaya perikanan di Kepulauan Anambas masih banyak kendala, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor yang cukup berpengaruh, baik dari segi budaya, ilmu dan teknologi juga sumberdaya manusianya sendiri.
Kecamatan Siantan, kategori sangat sesuai bagi peruntukan keramba adalah sebelah barat Pulau Siantan antara lain; Desa Batu belah dan Desa Nyamuk, sebagian terdapat di Pulau Ayerabu dan Pulau Telaga besar. Setiap kategori untuk kawasan budidaya perikanan laut dapat dilihat pada peta kesesuaian lahan Gambar 17.
Kesesuaian Kawasan Perikanan Tangkap
Secara fisik perairan dangkal umumnya sangat sesuai untuk daerah penangkapan ikan dengan menggunakan berbagai macam alat penangkapan ikan, seperti pancing, jaring, bubu, pukat dan lain-lain. Salah satu parameter pembatas untuk kesesuaian kawasan perikanan tangkap adalah jarak penangkapan dengan kawasan pemanfaatan lainnya seperti zona budidaya laut dan kawasan lindung.
Penetuan kawasan perairan kedalam kelas kesesuaian lahan tidak berdasarkan metode penangkapan ikan yang digunakan ataupun jenis ikan yang sesuai untuk ditangkap, tapi secara umum didasarkan pada kemampuan fisik daerah penelitian. Berdasarkan analisis SIG diperoleh total luasan untuk masing-masing kategori antara lain; Kategori sangat sesuai meliputi areal 99,45 % dan kategori tidak sesuai 0,54% dan setiap kategori disajikan pada Tabel 25.
Tabel 25 Luas kesesuaian lahan untuk kawasan perikanan tangkap di Kepulauan Anambas (ha)
No Jalur
Penagkapan Ikan Sangat sesuai Sesuai
Sesuai
bersyarat Tidak sesuai
1. Ia 307879 - - -
2. Ib 265156.1 - - -
3. IIa 475610.4 - - -
Jumlah 1048645.5 - - 5744.3
Persentase (%) 99.45 - - 0.54
Kategori sangat sesuai untuk kawasan penangkapan ikan, umumnya berada pada wilayah yang jauh dari kegiatan budidaya perikanan. Kategori sangat sesuai ini dibagi menjadi beberapa jalur penangkapan ikan yang merujuk dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 392 tahun 1999 Tentang Jalur Penangkapan Ikan (Lampiran 4), dimana jalur penagkapan ikan (JPI) I
meliputi perairan pantai dari garis pantai sampai dengan 6 (enam) mil kearah dalam. Penerapannya dibagi menjadi perairan 0-3 mil (JPI Ia), 3-6 mil (JIP Ib) dan 6-12 mil (JIP IIa).Dapat dilihat pada peta kesesuaian pada Gambar 18.
Pada jalur penangkapan ikan JPI Ia, alat tangkap yang boleh beroperasi adalah alat tangkap ikan yang menetap serta kapal perikanan tanpa motor. Pada jalur penangkapan ikan Ib, alat tangkap yang boleh beroperasi diantaranya alat tangkap yang tidak menetap yang dimodifikasi, kapal perikanan tanpa/dengan bermotor tempel ukuran kurang dari 12 m atau kurang dari 5 GT, dengan alat tangkap pukat cincin ukuran kurang dari 150 m dan jaring insang hanyut ukuran kurang 1000 m
Kelas kesesuian kategori tidak sesuai, berada pada areal perairan yang digunakan untuk kegiatan budidaya perikanan/keramba. Luas areal yang tidak sesuai untuk penangkapan ikan 5744.3 ha. Pelarangan penangkapan di wilayah budidaya sudah merupakan tradisi lokal di Kepulauan Anambas, secara langsung dapat menggangu lalu lintas kapal juga limbah dari pembuangan air balans mesin kapal yang dapat mencemari kawasan budidaya.
Kesesuaian Kawasan Pariwisata Pantai
Berdasarkan hasil analisis pendekatan SIG dengan memasukan kriteria kesesuaian lahan untuk kawasan pariwisata didapatkan beberapa kesesuaian lahan antara lain; Kategori sangat sesuai 0,23 %, sebagian besar berada di Kecamatan Siantan berada sebelah barat Pulau Siantan kategori sesuai 1,58 %, sesuai bersyarat 3,10 % dan tidak sesuai 95,07 %. Berdasarkan hasil survei lapangan pada wilayah penelitian pengembangan wisata yang cocok adalah wisata pantai. Pengembangan wisata ini salah satu kriteria didasarkan pada keindahan pantai yang ada dan substrat dasar perairan. Setiap kategori disajikan pada Tabel 26. Tabel 26 Kesesuian lahan untuk kawasan pariwisata di Kepulauan Anambas (ha)
No Kecamatan Sangat sesuai Sesuai Sesuai bersyarat Tidak sesuai 1. Siantan 140.8 897.2 1501.5 41539.7 2. Palmatak 30.4 260.8 764.7 27941.8 Jumlah 171.2 1158 2266.2 69481.5 Persentase (%) 0.23 1.58 3.10 95.07
Kecamatan Palmatak kategori sangat sesuai terdapat di Desa Air asuk, sedangkan kategori sesuai terdapat di Desa Ladan, Desa Tebang, Desa Air asuk dan Desa Mubur, sedangkan di Kecamatan Siantan kategori sangat sesuai terdapat di Kelurahan Terempa dan Desa Batu belah dan sebagian di Desa Nyamuk. Kesesuaian lahan peruntukan pariwisata pantai merupakan penyediaan basis data dan informasi yang penting bagi pengembangan sumberdaya wilayah pesisir di Kepulauan Anambas, kedepan akan memerlukan prioritas dalam pengembangan. Pembangunan pariwisata pantai yang pada hakekatnya adalah upaya mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik wisatawan di wilayah pesisir, berupa kekayaan alam yang indah, flora dan fauna dan peninggalan bersejarah. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kepulauan Anambas memiliki bentuk pantai yang indah, desa-desa yang berdekatan dengan pantai memiliki kekayaan alam yang cukup berpotensi, semuanya itu menjadikan produk dalam pengembangan pariwisata pantai sebagaimana yang dijelaskan Kusumastanto (2002), bahwa yang menjadi produk-produk pariwisata pantai, wisata pesiar, wisata alam, wisata bisnis, wisata budaya dan wisata olah raga.
Lokasi Kesesuain lahan untuk pariwisata dapat dilihat pada peta kesesuaian lahan untuk pariwisata dapat dilihat pada Gambar 19.
Analisis Karateristik Tipologi Desa Pesisir Menurut Analisis Komponen Utama
Proses analisis komponen utama terhadap karakteristik tipologi desa-desa kecamatan di wilayah Kepulauan Anambas yang didasarkan pada data potensi desa (PONDES) tahun 2003 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dimana menghasilkan 3 faktor utama yang merupakan kombinasi linier dengan peubah aslinya yang bersifat saling bebas. Ketiga faktor utama ini mampu menjelaskan keragaman data sebesar 85,117% dan ini merupakan nilai akar ciri (eigenvalues), hal ini merupakan suatu gambaran yang cukup baik karena nilai akar ciri berada diatas 80%. Secara jelas 3 faktor utama tersebut sebagai berikut:
1. Faktor utama 1 berkorelasi positif dengan invers jarak dari kantor desa/kelurahan ke kantor kecamatan yang membawahinya, dengan jumlah SD/100 penduduk, jumlah SLTP/100 penduduk, jumlah SLTA/100 penduduk dan rasio ladang/ kebun dengan luas desa,
2. Faktor utama 2 berkorelasi negatif dengan kepadatan penduduk, namun faktor utama 2 berkorelasi positif dengan rasio jumlah keluarga prasejahtera dan sejahtera I (keluarga) dengan jumlah keluarga (keluarga), 3. Faktor utama 3 berkorelasi positif dengan rasio perumahan dan
pemukiman dengan luas desa dan rasio jumlah keluarga yang menangkap ikan di laut dengan jumlah keluarga.
Adapun arti korelasi positif adalah faktor utama berbanding lurus dengan variabel penjelas, korelasi negatif adalah faktor utama berbanding terbalik dengan variabel penjelas. Selengkapnya hasil analisis ini dapat dilihat dari nilai
Tabel 27 Akar ciri(eigenvalue) hasil analisis komponen utama
% Total Kumulatif Kumulatif
Eigenval (Akar Ciri)
Variance
(Ragam) Akar Ciri %
F 1 4.934 49.336 4.934 49.336
F 2 2.021 20.205 6.954 69.541
F 3 1.558 15.576 8.512 85.117
Kenyataan ini mengambarkan wilayah desa dan kecamatan yang ada di Kepulauan Anambas termasuk wilayah yang sedang berkembang, dimana faktor utama 1 kedekatan variabel JRK-KK, SD, SLTP, SLTA dan LADANG
mengambarkan aksesibilitas terhadap sarana pendidikan dan pusat pemerintahan baik dan dengan ketersediaan lahan yang luas. Faktor utama 2 mengambarkan kedekatan variabel PADAT dan PRASEJAH, dimana kepadatan penduduk yang tinggi dengan tingkat masyarakat prasejahtera. Sedangkan faktor utama 3 memiliki variabel RUMAH dan IKAN dimana kepadatan pemukiman yang dominasi nelayan. Secara jelas dapat dilihat pada Gambar 20 dan Tabel 28
Tabel 28 Penyederhana variabel analisis komponen utama Variabel Awal Notasi Faktor
loding
Faktor
utama Penciri
Invers Jarak dari kantor desa/kelurahan
ke kantor kecamatan yang membawahi
JRK-KK 0.9652
Jumlah SD/100 penduduk, SD 0.9447
Jumlah SLTP/100 penduduk, SLTP 0.8263
Jumlah SLTA/100 penduduk SLTA 0.9465
Rasio ladang/kebun dengan luas desa
LADANG 0.9018 1
Asesibilitas terhadap sarana pendidikan dan pusat pemerintahan baik dengan ketersediaan lahan yang luas.
Kepadatan penduduk PADAT -0.7529
Rasio jumlah keluarga prasejahtera dan sejahtera I (keluarga) dengan jumlah keluarga (keluarga)
PRASEJAH 0.9075 2
Kepadatan penduduk yang rendah dengan rasio jumlah keluarga prasejahteraan tinggi
Rasio perumahan dan pemukiman dengan luas desa
RUMAH 0.7158
Rasio jumlah keluarga yang menangkap ikan di laut dengan jumlah keluarga
IKAN 0.8838 3
Kawasan pemukiman dengan dominasi nelayan
Analisis Kelompok (Cluster Analysis)
Setelah didapatkan nilai komponen utama yang salah satunya berupa nilai skor, dilakukan analisis lanjutan dengan mengunakan analisis kelompok (cluster). Analisis kelompok yang dilakukan menggunakan metode K-Means. Faktor utama yang diperoleh dari analisis komponen utama didapatkan 3 kelompok besar pada desa di dua kecamatan di Kepulauan Anambas , seperti dapat dilihat pada Tabel 29.
Tabel 29 memperlihatkan perbedaan karakteristik antara ketiga kelompok desa yang mengambarkan nilai tengah dari setiap faktor utama untuk masing-masing kelompok. Nilai tengah tertinggi dan terendah untuk masing-masing-masing-masing faktor utama akan menjadi karakteristik pembeda dari masing-masing kelompok.
Tabel 29 Hasil cluster pada desa di Kepulauan Anambas
Kecamatan Desa Cluster
Palmatak Air asuk I
Ladan II
Tebang II
Mubur II
Siantan Terempa Barat I
Terempa II Nyamuk II Batu Belah II Telaga III Kiabu III
Hasil analisis gerombolan yang mengungkapkan adanya karakteristik tiga kelompok desa pada masing-masing kecamatan di Kepulauan Anambas, desa-desa yang termasuk tipologi I (cluster I) merupakan wilayah desa dengan tingkat perkembangan tinggi, tipologi II (cluster II) dan III (cluster III) merupakan desa-desa dengan tingkat perkembangan sedang dan rendah, dapat dilihat Gambar 21.
Plot of Means for Each Cluster
Variables Cluster No. 1 Cluster No. 2 Cluster No. 3
FACTOR_1 FACTOR_2 FACTOR_3
-3 -2 -1 0 1 2
Gambar 21 Garfik nilai tengah kelompok variabel cluster desa di Kepulauan Anambas
Masing – masing cluster dapat dijelaskan sebagai berikut :
Cluster 1 memiliki nilai rata-rata terendah untuk faktor utama kedua. dan faktor utama ke satu kondisi ini menunjukan bahwa kepadatan yang tinggi, prasarana rendah dengan rasio jumlah keluarga prasejahtera rendah.
Cluster 2 memiliki nilai rata-rata tertinggi pada faktor utama kesatu dan faktor utama ketiga, kondisi ini menunjukan bahwa kondisi aksesibilitas prasarana yang tinggi, kawasan pemukiman terbatas dan jumlah keluarga nelayan yang rendah.
Cluster 3 memiliki nilai rata-rata tertinggi pada faktor utama ketiga dan kedua, dimana kawasan sentra pemukiman dengan kepadatan rendah didominasi nelayan prasejahtera tinggi.
Analisis Tipologi Wilayah Kecamatan Siantan
Kecamatan Siantan merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kepulauan Anambas, kecamatan ini terdiri dari 5 desa dan 1 kelurahan dengan Kota Terempa merupakan ibukota kecamatan. Luas wilayah Kecamatan Siatan 19,226 km2 (97,68% adalah lautan) terdiri dari 74 buah pulau dan hanya 24 pulau yang berpenghuni. Masing-masing desa di Kecamatan Siantan memiliki tingkat keragaman wilayah. Keragaman wilayah di kecamatan dapat dilihat melalui hasil analisis karakteristik tipologi desa-desa pesisir.
Karakteristik tipologi wilayah berdasarkan analisis tipologi wilayah berbasis desa ditingkat Kecamatan Siantan teridentifikasi 3 (tiga) tipologi wilayah, yaitu wilayah dengan perkembangan maju (tipologi I), wilayah dengan tingkat perkembangan sedang (tipologi II) dan wilayah dengan tingkat tipologi rendah (tipologi III). Untuk melihat karakteristik desa di kecamatan di Kepulauan Anambas dapat dilihat pada Tabel 30 dan Gambar 22.
Tabel 30 Karakteristi tipologi desa di Kecamatan Siantan
No Desa Tipologi Kesimpulan
1. Terempa barat
I
Wilayah dengan kepadatan tinggi dan ekonomi yang baik, namun minim infrastruktur
2. Terempa 3. Batu belah 4. Nyamuk
II Wilayah dengan infratruktur yang baik, pemukiman yang rendah dan minim keluarga nelayan
5. Kiabu
6. Telaga III
Wilayah dengan kepadatan pemukiman tinggi, dan dominasi nelayan prasejahtera
Hasil analisis memperlihatkan karakteristik desa pada tipologi I dimana Desa Terempa barat merupakan wilayah dengan kepadatan yang tinggi, prasarana rendah dengan rasio jumlah keluarga prasejahtera rendah, dari hasil survei lapangan desa di Terempa barat merupakan wilayah dengan tingkat perkembangan tinggi jika dibandingkan dengan desa lainnya di Kecamatan Siantan, disisi lain Desa Terempa barat berdekatan dengan ibukota kecamatan (Kelurahan Terempa), sehingga cukup mendukung desa tersebut terhadap minimnya asesibilitas terhadap sarana pendidikan dan pusat pemerintahan yang ada.
Desa Nyamuk, Batu belah dan Kelurahan Terempa digambarkan dari hasil analisis karakteristik termasuk dalam tipologi II, wilayah ini tergolong dengan tingkat perkembangan sedang, dimana wilayah dengan infrastruktur yang baik, pemukiman yang rendah dan minim keluarga nelayan, hal ini dikarenakan kecendrungan masyarakat bermukim di luar pusat pemerintahan dan masyarakat umumnya banyak berkerja sebagai pegawai negeri, buruh dan jasa. Desa Kiabu dan Desa Telaga, termasuk dalam tipologi III, merupakan wilayah dengan kepadatan pemukiman tinggi, dan dominasi nelayan prasejahtera, sehingga desa tersebut tergolong wilayah dengan tingkat perkembangan rendah.