• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

C. Perumusan dan Pembatasan Masalah

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan pada studi pendahuluan bahwa pencapaian sebuah kompetensi sangat erat kaitannya dengan kurikulum dan pembelajaran. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ketercapaian

Dartum, 2012

Kurikulum Dan Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kompetensi Dalam Bidang Pertanian Agribisnis Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

32

kompetensi, khususnya kompetensi dalam bidang pertanian agaribisis antara lain: 1) faktor pendukung dari keberadaan sekolah seperti : Guru dan kepala sekolah, dokumen pembelajaran, komite sekolah dan lembaga dinas pendidikan setempat. 2) faktor kurikulum dan pembelajaran yang di dalamnya menyangkut kurikulum vokasional dan pembelajaran vokasional dalam bidang pertanian agribisnis.

Perumusan masalah dalam penelitian ini meliputi faktor-faktor seperti; kajian kebijakan pemerintah dan dinas pendidikan dalam implementasi kurikulum bidang pertanian, keberadaan sekolah, keberadaan guru-guru, dokumen pembelajaran, sarana dan prasarana bidang pertanian agribisnis, serta komite. Penerapan kurikulum agribisnis bidang pertanian hanya dilaksanakan oleh beberapa sekolah (SMK) yang mendukung dari segi tempat dan sarana prasara yang menunjang. Untuk memperjelas dalam perumusan masalah ini, dapat dilihat pada skema berpikir di bawah ini:

Gambar: 1.1.

Skema Perumusan Masalah Penelitian

Presage Factor (Faktor Pendukung) 1. Kebijakan UU, Permen, & PP 2. Kebijakan & Program Dinas Pendidikan 3. Program Sekolah, Kepala Sekolah, Guru 4. Komite sekolah 5. Sarana dan Prasaran 6. Stakeholder 1. Kurikulum Vokasional - Kurikulum Pertanian Agribisnis 2. Pembelajaran Pertanian Agribisnis Focus (Fokus) Impact (Pengaruh) 1. Kompetensi Vokasional - Kompetensi Pertanian Agribisnis

Dartum, 2012

Kurikulum Dan Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kompetensi Dalam Bidang Pertanian Agribisnis Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

33

Berdasarkan skema berpikir di atas, penulis mendeskripsikan rumusan sebagai berikut:

Kebijakan pendidikan nasional untuk Pendidikan Kejuruan berkenaan dengan peningkatan relevansi yakni relevansi hasil-hasil pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DU/DI), selain itu juga terhadap kebutuhan dan tantangan keahlian (kompetensi) saat ini dan yang akan datang. Kebijakan tersebut dikenal dengan sebutan Link and Match (keterkaitan dan kesepadaaan). Kebijakan tersebut pada dasarnya merupakan sarana untuk membangun kemitraan antara SMK dengan industri dalam menentukan prioritas serta menyusun bentuk dan materi program- program diklat kejuruan.

Rumusan Depdikbud (1993:13) bahwa Link and Match adalah :

“suatu keadaan dimana pendidikan memiliki kaitan fungsional dengan kebutuhan pasar, baik dilihat dari konsep, kebijaksanaan, perencanaan dan pelaksanaan program-programnya. Sedangkan Match ialah suatu keadaan dimana program-program yang dikembangkan, dibina dan dilaksanakan dalam sistem pendidikan nasioanl, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan DU/DI baik dari segi jumlah, jenis maupun mutu yang dipersyaratkan oleh dunia kerja.

Permasalahaan pendidikan pada tingkat menengah khususnya SMK, berkenaan dengan kesiapan peserta didik atau lulusan untuk memasuki dunia kerja dan mampu mengembangkan sikap profesional dan kewirausahaan di bidang pekerjaannya. Peserta didik dibekali pengetahuan baik secara teeeeeori maupun praktik dalam bidang keahlian tertentu sesuai dengan peminatannya. Pelaksanaan praktek dilaksanakan semasa menempuh pendidikan secara bertingkat dan pengembangannya melalui kegiatan prakerin bidang teknik maupun produksi.

Dartum, 2012

Kurikulum Dan Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kompetensi Dalam Bidang Pertanian Agribisnis Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

34

Kebijakan pendidikan menengah kejuruan mengikuti arah perkembangan dunia kerja dan persaingan global sesuai dengan perkembangan kebudayaan dan kebutuhan masyarakat. Pernyataan tersebut mengarahkan bahwa kebijakan pendidikan SMK perlu melakukan penyesuiaan dengan membukan kompetensi keahlian baru atau mempertajam kompetensi keahlian yang sudah ada dengan mempertimbangkan relevansi terhadap tuntutan dunia usaha dan dunia industri (DU/DI).

Peningkatan relevansi SMK dengan DU/DI ditetapkan melalui kebijakan SMK sebagai lembaga penyedia tenaga kerja tingkat menengah. Kebijakan tersebut berimplikasi pada pengembangan dan penentapan desain kurikulum dan pembelajaran. Sejalan dengan rumusan tersebut, bahwa tujuan SMK yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pada tahun 2006 adalah untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

Proses penyusunan dan pengembangan kurikulum melibatkan kerja tim yang terdiri dari kepala sekolah, guru, konselor dan komite sekolah serta pihak lain yang terkait dalam koordinasi dan supervisi oleh dinas pendidikan setempat. Kurikulum disusun dengan maksud untuk memberikan pedoman atau acuan bagi pelaksana kurikulum, melalui proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh siswa di sekolah. Kurikulum SMK memiliki karakter yang mengarah kepada pembentukan kompetensi lulusan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pekerjaan tertentu.

Dartum, 2012

Kurikulum Dan Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kompetensi Dalam Bidang Pertanian Agribisnis Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

35

Perkembangan dunia industri dan dunai usaha serta adanya program peningkatan mutu produk sangat membutuhkan sumber daya manusia yang profesional. Dengan demikian jalur pendidikan SMK sebagai lembaga penyedia tanaga kerja yang bertanggung jawab dalam bidang keahlian tertentu yang diminati oleh peserta didik. Penentuan dan penetapan terhadap pendekatan yang dapat digunakan untuk mengorganisasikan subtansi atau isi kurikulum SMK yaitu dengan menggunakan pendekatan berbasis kompetensi (competency-based curriculum), pendekatan berbasis luas dan mendasar (broad-based curriculum), dan pendekatan pengembangan kecakapan hidup (life skill development approach). Pendekatan- pendekatan tersebut digunakan secara terpisah dan terintegrasi dalam satu desain kurikulum di SMK sebagai pola pengembangan desain dan implementasi kurikulum.

Berdasarkan rumusan kebijakan di atas, fokus penelitian diarahkan pada kurikulum vokasional bidang pertanian agribisnis. Masalah kurikulum vokasional terus mendapat perhatian dari berbagai pihak sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat global. Kurikulum dalam pendidikan vokasional, terkonsentrasi pada sistem pembelajaran keahlian (apprenticeship of learning) baik dalam bidang industri maupun teknologi pangan dan pertanian, serta kejuruan-kejuruan khusus (specific trades) sebagai bekal untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas hidup secara komprehensif.

Pendidikan vokasional dilaksanakan pada tingkat pendidikan kejuruan (SMK) yang di dalamnya terdapat program-program pendidikan maupun latihannya dan berorientasi pada pengalaman, dunia kerja dan pengembangan kompetensi peserta didik sesuai dengan bidang yang diminatinya. Rumusan pendidikan

Dartum, 2012

Kurikulum Dan Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kompetensi Dalam Bidang Pertanian Agribisnis Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

36

vokasional memberi pembekalan kecakapan hidup secara khusus menjadi muatan kurikulum dalam bentuk pembelajaran keterampilan fungsional dan kepribadian professional.

Pola kurikulum pendidikan vokasional dalam bidang pertanian agribisnis terkonsentrasi pada sistem pembelajaran keahlian (Apprenticeship of leaning ) yang di dalamnya mengembangkan beberapa program antara lain : Pertanian Tanaman Pangan , Peternakan dan Perkebunan. Kelebihan pendidikan vokasional ini antara lain ; peserta didik secara langsung dapat mengembangkan keahliannya di sesuaikan dengan kebutuhan di lapangan atau bidang tugas yang di hadapinya. Kurikulum vokasional bidang pertanian dikemas dengan model pengembangan keahlian dan keterampilan dalam program keahlian Agribisnis tanaman pangan dan holtikultura agar dapat bekerja baik secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada didunia usaha dan industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah.

Rumusan di atas didasarkan pada keputusan Dirjen Mandikdasmen Depdiknas NO. 251/C/KEP/MN/2008 Tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan. Dan Lampiran Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen Depdiknas No: 3444/C.C5/PR/2009 Tanggal 31 Juli 2009 tentang Standar Isi Mata Pelajaran, secara khusus tujuan kompetensi keahlian agribisnis tanaman pangan dan hortikultura adalah membekali peserta didik dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap yang mencakup bidang garapan dalam sektor pertanian seperti : menyiapkan lahan, menyiapkan benih, menyiapkan bibit, menanam, memupuk, dan lain-lain.

Implementasi kurikulum bidang pertanian agribisnis dilaksanakan berdasarkan hasil analisis terhadap ketetapan dan kebijakan bidang pendidikan

Dartum, 2012

Kurikulum Dan Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kompetensi Dalam Bidang Pertanian Agribisnis Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

37

vokasional bidang pertanian. Pemberlakuan kurikulum bidang pertanian dimasukan dalam rumpun pendidikan vokasional pada program produktif yang dirumuskan berdasarkan hasil kajian asosiasi profesi dan kebutuhan DU/DI. Dengan demikian, kebijakan untuk mengimplementasikannya merupakan kewenangan dinas dan sekolah yang ditunjuk oleh dinas tersebut untuk menerapkan program pengembangan pertanian. Pola pembelajaran diarahkan pada pengembangan kompetensi dalam bidan pertaian secara komprehensif melalui paket-paket pembelajaran yang disusun dalam desain kurikulum SMK tersebut.

Pembelajaran vokasional agribisnis untuk meningkatkan kompetensi lebih dikemas dengan pengembangan sistem pembelajaran kompetensi (competence based education) artinya pembelajaran bidang pertanian dikembangkan berdasarkan pokok- pokok rumusan kompetensi dalam bidan pertanian. Penerapan sistem pembelajaran vokasional dilaksanakan lebih banyak di lapangan melalui kegiatan praktikum dalam bidang pertania dan mengembangkan paket pembelajaran mandiri. Hal ini sangat bermanfaat yang dikembangkan karena akan cepat mengembangkan kompetensi siswa dalam bidang pertanian tersebut. Pembelajaran bidang vokasional mengedepankan pengembangan kompetensi vokasi dan pemenuhan keterampilan berwirausaha, sehingga proses pembelajaran lebih mengarah pada pengembangan skil dan kemampuan dalam menyelesaikan pokok masalah dalam bidang pertanian agribisnis. Pembelajaran bidang vokasional diartikan sebagai manifestasi dan aktivitas dalam mengembangkan keterampilan dalam bidang vokasi yang diarahkan pada penghasilan sebuah produk baru.

Dartum, 2012

Kurikulum Dan Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kompetensi Dalam Bidang Pertanian Agribisnis Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

38

Bentuk pembelajaran dalam pembelajaran produktif bidang pertanian agribisnis untuk meningkatkan kompetensi siswa diimplementasikan melalui kebijakan latihan keahlian yang mengarahkan pada pencapaian kompetensi lulusan berstandar tertentu sesuai dengan hasil analisis DU/DI. Kompetensi produktif dapat memberikan hasil produktif yang merujuk pada kriteria unjuk kerja (performance) dan kemampuan menganalisis bidang pekerjaan pertanian serta suatu keahlian yang dituntut dunia usaha dan proses pencapaian melalui latihan pada proses produksi dan atau menggunakan proses produksi sebagai wahana pembelajaran terutama dalam bidang pertanian agribisnis.

Pembelajaran bidang pertanian agribisnis secara sederhana berkaitan dengan semua bisnis pada sektor pertanian, dengan istilah pertanian mulai dari hulu sampai ke hilir termasuk pendukung aktivitasnya. Maka jika dilihat sebagai suatu sistem, agribisnis terdiri atas beberapa subsistem yaitu: subsistem imput (sarana produksi), subsistem budi daya (on form), subsistem pengelolaan, subsistem pemasaran dan subsistem pendukung. Konsep pembelajaran pelatihan dapat meningkatkan kompetensi secara maksimal dan untuk meningkatkan kompetensi bidang pertanian agribisnis dikembangkan dengan model pembelajaran pelatihan (tranning) dalam bidang pertanian secara sistematis.

2. Pembatasan Masalah

Pelaksanaan kurikulum dan pembelajaran bidang pertanian Agribisnis pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di kabupaten Majalengka dan Kuningan telah dilaksanakan sejak tahun pelajaran 2005/2006. Namun mengingat luasnya masalah

Dartum, 2012

Kurikulum Dan Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kompetensi Dalam Bidang Pertanian Agribisnis Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

39

pada pelaksanaannya, maka perlu dibatasi masalahnya sebagai berikut : Proses pembelajaran bidang pertanian Agribisnis yang dikaitkan untuk meningkatkan kompetensi, hasil pembelajaran peserta didik, faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi oleh masing-masing sekolah dan guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran tersebut.

Peneliti membatasi permasalahan dalam penelitian ini yang berkenaan dengan kurikulum dan pembelajaran dalam bidang pertanian agribisnis dengan meninjau sektor kebijakan, kualitas dan kuantitas guru, desain kurikulum dan manajemen sekolah. Untuk memudahkan dalam penelitian, penulis membatasi masalah penelitian dengan rumusan beberapa pernyataan sebagai berikut:

1. Desain kurikulum dan pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi bidang pertanian agribisnis.

2. Implementasi kurikulum dan pembelajaran untuk meningkatkan komptensi siswa dalam bidang pertanian agribisnis.

3. Evaluasi kurikulum dan pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam bidang pertanian agribisnis.

4. Hasil yang dicapai melalui kurikulum dan pembelajaran dalam bidang pertanian agribisnis.

5. Faktor pendukung dan penghambat dalam proses implementasi kurikulum dan pembelajaran dalam bidang pertanian agribisnis.

Dartum, 2012

Kurikulum Dan Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kompetensi Dalam Bidang Pertanian Agribisnis Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

40

Dokumen terkait