DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
1.2. Perumusan Masalah
Indeks pembangunan manusia memberikan makna yang penting dalam pembangunan suatu negara. Makna dari angka nominal indeks pembangunan manusia adalah untuk menggambarkan pencapaian pembangunan manusia, yang biasanya dibagi menjadi tiga kelompok pencapaian, yaitu: (1) kelompok indeks pembangunan manusia bernilai nominal lebih kecil dari 50 dengan predikat tingkat pembangunan manusia rendah, (2) kelompok indeks pembangunan
5
manusia yang memiliki nilai indeks pembangunan manusia di antara 50 dan 80 dengan predikat tingkat pembangunan manusia sedang, dan (3) indeks pembangunan manusia bernilai 80 dan 100 dengan predikat tingkat pembangunan manusia tinggi (Badan Pusat Statistik, 2008).
Peringkat indeks pembangunan manusia menggambarkan tentang perbandingan pencapaian indeks pembangunan manusia antar negara, antar daerah antar wilayah yang diukur. Peringkat satu merupakan peringkat yang tertinggi dalam pencapaian pembangunan manusia. Setiap negara atau daerah tentunya ingin mencapai peringkat yang lebih baik dari waktu ke waktu, sehingga kenaikan nilai nominal indeks pembangunan manusia saja menjadi kurang berarti jika tidak diikuti dengan kenaikan peringkat indeks pembangunan manusia. Kondisi ini menstimulasi pihak-pihak yang berkepentingan untuk menaikkan nilai nominal indeks pembangunan manusia masing-masing, sehingga pada saatnya nanti disparitas nilai nominal satu sama lainnya akan semakin menyempit dan kesejahteraan rakyat semakin merata.
Mengikuti laporan UNDP dari tahun 1995 hingga tahun 2009, maka setiap negara yang diukur indeks pembangunan manusianya secara berkelanjutan memiliki angka nominal indeks pembangunan manusia dengan kecendrungan meningkat. Sebagai contoh Norwegia sebagai pemegang peringkat tertinggi dalam laporan UNDP tahun 2009 selama tahun 1980 hingga 2007, sedangkan Nigeria berada pada peringkat terendah, yaitu diurutan 182 dalam laporan UNDP tahun 2009. Di sisi lain Indonesia berada pada peringkat 111 dalam laporan UNDP tahun 2009 memiliki kecendrungan yang meningkat pula dari tahun ke tahun. Selama ini indeks pembangunan manusia yang terus meningkat tidak disertai
6
dengan konvergensi pencapaian indeks pembangunan manusia antar negara, sehingga disparitas indeks pembangunan manusia antar negara belum teratasi. Untuk melihat disparitas indeks pembangunan manusia ketiga negara tersebut disajikan pada Gambar 1.
Sumber: United Nations Development Programme, 2009.
Gambar 1. Disparitas Indeks Pembangunan Manusia di Norwegia, Indonesia, dan Nigeria Tahun 1980-2007
Grafik di atas menunjukkan bahwa ketiga negara memiliki indeks pembangunan manusia yang cendrung meningkat, namun disparitas antar negara masih relatif dalam. Hal ini juga menunjukan bagaimana perbedaan kedalaman disparitas pembangunan manusia di ketiga negara tersebut. Bagi Indonesia, perlu diakui jika relatif sangat jauh untuk mengejar ketertinggalan indeks pembangunan manusia Norwegia.
Pada Gambar 2 menampilkan kecendrungan indeks pembangunan manusia Norwegia, Indonesia, dan Nigeria dengan menggunakan persamaan linier sederhana. Tahun 1980 sebagai tahun dasar bagi jangka waktu (angka nol).
7
Berdasarkan regresi sederhana dengan menggunakan bantuan Microsoft Office
Excel, maka persamaan linier indeks pembangunan manusia masing-masing
negara adalah sebagai berikut:
Norwegia : Y = 1.1095X + 89.432 sehingga X = 0.9013Y - 89.432 Indonesia : Y = 3.1321X + 51.218 sehingga X = 0.3192Y - 51.218 Nigeria : Y = 2,51X + 15.26 sehingga X = 0.3984Y-15.26
Sumber: United Nations Development Programme, 2009 (diolah).
Gambar 2. Grafik Linier Indeks Pembangunan Manusia di Norwegia, Indonesia, dan Nigeria
Y adalah besaran nilai indeks pembangunan manusia dan X adalah jangka waktu (tahun), maka secara sederhana dapat dihitung waktu yang harus ditunggu Indonesia untuk mencapai nilai nominal indeks pembangunan manusia Indonesia sama dengan nilai nominal indeks pembangunan manusia Norwegia adalah sekitar 19 tahun. Sedangkan nilai nominal indeks pembangunan manusia Nigeria berada di bawah indeks pembangunan manusia Indonesia, yaitu sekitar 58 tahun. Namun,
8
pada kenyataannya, pencapaian angka nominal indeks pembangunan manusia suatu negara tidak sesederhana persamaan linier tersebut, karena berkaitan dengan banyak faktor yang menjadi variabel peubahnya, yang terdiri atas variabel di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, dan keamanan.
Indeks pembangunan manusia Indonesia merupakan rata-rata dari akumulasi indeks pembangunan manusia yang terjadi di 33 provinsi. Pada tahun 2008, indeks pembangunan manusia di 33 provinsi menunjukan selang antara indeks pembangunan manusia tertinggi di Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebesar 77.03 dan indeks pembangunan manusia terendah di Papua sebesar 64, sedangkan yang berada di peringkat moderat, yaitu peringkat 17, adalah Daerah Istimewa Aceh sebesar 70.76.
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2009c (diolah).
Gambar 3. Indeks Pembangunan Manusia Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Daerah Istimewa Aceh, dan Papua Tahun 2005-2008
9
Indeks pembangunan manusia provinsi Daerah Khusus Ibukota, Daerah Istimewa Aceh, dan Papua dapat dijadikan sebagai contoh disparitas capaian indeks pembangunan manusia antar daerah di Indonesia. Indeks pembangunan manusia tertinggi pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 berada di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Indeks pembangunan manusia moderat diwakili Daerah Istimewa Aceh, sedangkan indeks pembangunan manusia terendah dimiliki oleh Provinsi Papua. Kecendrungan indeks pembangunan manusia dan disparitas tiga provinsi tersebut dijelaskan secara grafis dalam Gambar 3.
Lebih jauh bahwa disparitas indeks pembangunan manusia tersebut mengandung arti pula disparitas sebagian hingga keseluruhan dari variabel pembentuk indeks pembangunan manusia, seperti angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan pendapatan per kapita yang didekati dengan daya beli. Disparitas pembangunan sosial ekonomi antara provinsi/kabupaten/kota maju dan provinsi/kabupaten/kota tertinggal di Indonesia, menunjukan jurang kemiskinan yang dalam di provinsi/kabupaten/kota yang tertinggal tersebut. Membiarkan hal ini terus berlangsung telah melanggar amanat Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial antar penduduk dan antar daerah di Indonesia, yang pada akhirnya dapat menimbulkan disintegritas bangsa. Oleh sebab itu disparitas indeks pembangunan manusia dapat menjadi disintegritas bangsa apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Laporan pencapaian pembangunan manusia Indonesia tahun 2007 menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan Pemerintah terhadap pencapaian MDGs sudah dalam jalur yang benar. Namun menurut Alisyahbana, Menteri
----
10
Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas pada tanggal 20 April tahun 2010, capaian MDGs berpotensi gagal dicapai pada tahun 2015.2 Begitu juga dengan Susilo pada Harian Kompas tanggal 4 Agustus tahun 2010 yang mengutip progress report MDGs di kawasan Asia dan Pasifik, dimana Indonesia masih masuk kategori negara yang lamban langkahnya dalam mencapai MDGs pada tahun 2015. Agar hal ini tidak terjadi maka diperlukan penguatan komitmen Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah (political will), dan peran pemuka masyarakat dalam mempercepat pencapaian MDGs tersebut. 3
Sumber potensi kegagalan yang disebutkan oleh Alisyahbana sama dengan sumber kelambanan yang disebutkan oleh Susilo, yaitu merujuk kepada masih tingginya angka kematian ibu (AKI) melahirkan, belum teratasinya laju penularan HIV/AIDS, makin meluasnya laju deforestrasi, rendahnya tingkat pemenuhan air minum dan sanitasi yang buruk, serta beban utang luar negeri yang terus menggunung (United Nations Economic and Social Commission for Asia and the
Pacific, 2010). Ditambahkan oleh Wakil Presiden, Budiono, bahwa penyebab
lambannya kemajuan pencapaian MDGs adalah dukungan fiskal dari negara maju dan alokasi dana dalam negeri yang kurang memadai untuk melanjutkan MDGs tahun 2015. Komitmen negara maju seperti yang dicetuskan pada pertemuan di Montereym, Meksiko pada tahun 2002 dan di Gleneagles, Skotlandia pada tahun 2005 telah memudar akibat krisis global tahun 2008. Komitmen semula dari negara maju menyisihkan 0.7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), namun pada kenyataannya mereka hanya merealisasikan 0.31 persen PDB-nya guna membantu negara miskin dalam mencapai MDGs. 4
----
3 Harian Kompas, 21 April 2010. 3(3-4): Tujuan Milenium Berpotensi Gagal
11
Susilo juga menyebut penyebab utama potensi kegagalan atau kelambanan pelaksanaan anggaran Pemerintah adalah karena pencapaian MDGs dan penanggulangan kemiskinan tidak dijadikan indikator keberhasilannya. Selama ini indikator-indikator yang dipakai untuk penyusunan APBN dan APBD hanya indikator-indikator makroekonomi tanpa menyertakan indikator target MDGs dan indeks pembangunan manusia. Semestinya harus ada perubahan mendasar dalam menilai keberhasilan pembiayaan negara bukan hanya pada tingkat penyerapan anggaran tetapi juga pada dampak penggunaan anggaran terhadap pencapaian target MDGs dan indikator indeks pembangunan manusia yang terukur.
Sama dengan fenomena pencapaian agregat MDGs tingkat nasional, pencapaian MDGs provinsi-provinsi di Indonesia dikhawatirkan tidak tercapai. Untuk sebagai contoh, berikut adalah data pencapaian tiga provinsi di Indonesia menyangkut indeks pembangunan manusia dan variabel-variabel turunannya pada tahun 2008 dan tahun 2009.
Tabel 1. Indeks Pembangunan Manusia dan Variabel Turunannya Tahun 2008-2009 No. Provinsi (ranking) Angka Harapan Hidup (Tahun) Angka Melek Huruf (Persen) Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun) Pengeluaran per Kapita (Rp. 1 000*) Indeks Pembangunan Manusia 2008 2009 2008 2009 2008 2009 2008 2009 2008 2009 1. Daerah Khusus Ibukota (1) 73.90 73.05 98.76 98.94 10.80 10.9 625.70 627.46 77.03 77.36 2. Daerah Istimewa Aceh (17) 68.50 68.60 96.20 96.39 8.50 8.63 605.56 610.27 70.76 71.31 3. Papua (33) 68.10 68.35 75.41 75.58 6.52 6.57 599.65 603.88 64.53 64.53
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2010.
Keterangan: *) Pengeluaran riil per kapita disesuaikan (Purchacing Power Pariety atau PPP).
Betapapun Indonesia dinyatakan sudah berada pada jalur pencapaian MDGs, menurut Palupi (2010), walaupun telah terjadi peningkatkan anggaran untuk penanggulangan kemiskinan sebesar 300 persen lebih, yaitu dari Rp. 23
12
`triliun pada tahun 2005 menjadi Rp. 70 triliun pada tahun 2008, namun angka kemiskinan hanya berkurang 1 persen. Hal ini karena program penanggulangan kemiskinan sama sekali tidak efektif, dan karena itu data capaian target MDGs terkait pengurangan kemiskinan diragukan.5
Landasan hukum, konsensus dan komitmen Indonesia sesungguhnya sudah sangat kuat dalam pembangunan yang berpusat pada manusia yang didekati dengan peningkatan indeks pembangunan manusia. Salah satunya adalah digunakannya indikator indeks pembangunan manusia untuk dasar mengukur besaran anggaran transfer pusat ke daerah melalui dana alokasi umum (DAU). Kebijakan yang sudah baik ini, dari sisi anggaran pendapatan daerah, seharusnya diikuti dengan memberikan landasan yang kuat dari sisi belanja daerah, yaitu dengan menunjukkan sektor apa yang paling tepat sebagai dasar kebijakan fiskal untuk percepatan pembangunan daerah. Dengan kata lain, setidaknya ada landasan ilmiah mengapa sektor pendidikan dan atau sektor kesehatan yang dijadikan prioritas pembangunan manusia di Indonesia selama ini.
Fakta di lapangan menunjukan bahwa kebijakan fiskal yang menjadi kewenangan Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, yang dikaitkan dengan upaya peningkatan angka nominal indeks pembangunan manusia, dilakukan lebih bersifat coba-coba karena tidak adaa model ekonominya, sehingga tidak mampu meramalkan kombinasi besaran dan jangka waktu dalam mencapai sasaran pembangunan manusia yang ditetapkan dalam MDGs. Sejauh ini, kebijakan fiskal oleh Pemerintah atau Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota kebanyakan adalah dengan memperbesar anggaran sektor pendidikan dan atau sektor kesehatan. Pilihan memperbesar anggaran sektor pendidikan berdasarkan
----
13
Undang-Undang Dasar Tahun 1945, yang mengamanatkan pengalokasiannya minimal 20 persen dari total anggaran. Sedangkan pilihan memperbesar sektor kesehatan tentunya didasarkan asumsi bahwa sektor kesehatan mengandung komponen angka harapan hidup yang menjadi pembentuk persamaan identitas indeks pembangunan manusia.
Pilihan-pilihan tersebut masih menyimpan pertanyaan mengenai ketepatan jumlah alokasi fiskal, ketepatan pemilihan sektor, dan jawaban tentang pertanyaan kapan target MDGs dapat tercapai, karena selama ini belum ada model yang menempatkan komponen-komponen indeks pembangunan manusia sebagai variabel endogen dan menjadi bagian dari model ekonometrika. Jika model ekonometrika indeks pembangunan manusia sudah terbangun secara terintegrasi, maka berbagai permasalahan di atas dapat dengan lebih mudah diselesaikan.
Berdasarkan uraian di atas dan uraian pada latar belakang, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana model ekonometrika mampu menjelaskan kaitan komponen- komponen perekonomian makro (APBD, pasar barang dan pasar tenaga kerja) dengan komponen-komponen indeks pembangunan manusia (angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan pendapatan per kapita), serta bagaimana dampak kebijakan fiskal terhadap indeks pembangunan manusia di Indonesia?
2. Bagaimana stategi kebijakan fiskal yang efektif dalam rangka mengurangi pengangguran dan kemiskinan, serta mendukung pemerataan pembangunan antar provinsi di Indonesia?
14