II. Tinjauan Pustaka
2.4. Pesantren dan Gerakan Ekologi
Sebagai salah satu respon terhadap berbagai permasalahan yang muncul terutama permasalahan lingkungan adalah dengan munculnya gerakan ekologi (environmental movement). Pengertian gerakan ekologi ini lebih banyak didominasi oleh gerakan lingkungan seperti lembaga swadaya masyarakat atau lembaga intermediasi lintas negara serta partai politik. Aras gerakan ini juga berada pada semua level baik lokal, nasional maupun internasional. Gerakan lingkungan dalam pengertiannya adalah suatu gerakan yang mengandung jejaring yang luas antar individu dan organisasi-organisasi yang saling mengikat diri dalam aksi bersama (collective action) untuk mendapatkan atau mengejar
keuntungan-keuntungan bagi lingkungan (Rootes, 2002). Aksi bersama ini tentunya sangat dipengaruhi oleh kesamaan ide antar aktor didalamnya. Dalam konteks Pesantren, nilai teologi yang melekat atau dalam istilah Max Weber
verstehen dapat menjadi dasar bergerak yang nantinya dapat dimanifestasikan melalui struktur yang terdapat dipesantren tersebut.
Gerakan ekologi dapat dibedakan menjadi tiga variasi yaitu pertama,
gerakan ekologi yang sebagai produk dari faktor-faktor budaya dan struktural yang muncul secara independen sebagai jawaban atas kondisi lingkungan sekitar.
Kedua, gerakan ekologi yang menempatkan pola dan pengaruh mediasi dalam lobi-lobi lingkungan, peranan media serta ilmuwan. Ketiga, gerakan ekologi yang muncul sebagai respon dan meletakkan fokusnya pada semakin memburuknya kondisi lingkungan dan menjadikannya sebagai fokus utama gerakannya (Garner, 1996).
Selain itu, dalam mengidentifikasi gerakan ekologi tersebut perlu dilihat dari beberapa sudut pandang. Sudut pandang pertama adalah melihat dari sisi perhatian (interests) dan sebab (causes) yang melatar belakangi gerakan tersebut. Lowe dan Goyder dalam Garner (1996) membuat tipologi menjadi dua yaitu gerakan yang bersifat menekan (emphasis) dan gerakan yang bersifat promosional (promotional). Gerakan menekan merupakan gerakan yang telah mendapatkan kesuksesan atau setidaknya apa yang mereka perjuangkan selama ini telah berbuahkan hasil sedangkan gerakan yang bersifat promosi adalah gerakan yang secara signifikan melakukan upaya promosi dan menyuarakan perubahan. Selain itu, identifikasi juga bisa dilakukan dengan menempatkan apakah fokus gerakan tersebut menempatkan gerakannya sebagai gerakan utama (primary) atau hanya gerakan kedua (secondary). Identifikasi juga bisa dilakukan berdasarkan pengaruh geografis yang dilakukan apakah bersifat lokal, nasional atau internasional. Identifikasi terakhir adalah identifikasi pada isu-isu yang diperjuangkan. Varian isu tersebut dapat berupa isu konservasi (conservation), rekreasi (recreation), kenyamanan (amenity) dan sumberdaya (resources).
Selain paparan diatas, dalam konsepsi etika lingkungan juga dikenal istilah
Deep Ecology yang merupakan pandangan filosofis yang mendasarkan pada hubungan yang suci antara bumi dengan makluk lainnya. Deep ecology atau
ekologi dalam merupakan gerakan internasional yang mendorong agar kelangsungan masa depan dapat terjaga dan juga ekologi dalam menjadi penuntun atau penunjuk arah bagi aktivitas keseharian manusia dan alam sekitarnya sebagai satu kesatuan ekosistem.
Ekologi dalam mendorong terus dilakukannya penyelidikan dan penelitian tentang peran manusia di bumi ini dan juga mendorong untuk menganalisa praktik pembangunan yang tidak berkelanjutan, mendorong untuk menurunkan tingkat konsumsi manusia, upaya konservasi dan pemulihan ekosistem. Istilah deep ecology ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970an yang merupakan reaksi atas terbatasnya konsepsi operasional dan politik yang dipaksakan oleh ideologi liberal dan institusi konservatif ketika melakukan reformasi lingkungan.
Paradigma baru ini memandang dunia secara holistik yaitu mengatakan bahwa dunia secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan dan bukan merupakan satuan-satuan yang terpisah. Aliran filosofis ini didirikan oleh filsuf Norwegia Arne Naess di awal tahun tujuh puluhan bersama pembedaan yang ia lakukan antara ekologi yang dangkal (shallow environment) dengan yang dalam (deep ecology). Sekarang perbedaan ini diterima secara luas sebagai istilah yang sangat berguna untuk merujuk pada pembagian utama dalam pemikiran kontemporer atas lingkungan.
Devall dan Sessions dalam Luke (2002) mencoba mengadaptasi dua norma yang diusulkan oleh Naess yaitu self-realization (perwujudan diri sendiri) dan
biocentric equality (persamaan atau kesetaraan biosentris). Devall dan Sessions menempatkan self-realization sebagai visi dari kerja yang sesungguhnya atau berkerja keras untuk menjadi individu yang penuh daripada menjadi individu yang terisolasi oleh ego materialistik semata. Bentuk praktis ini mendorong munculnya etika baru yaitu menjadi atau melakukan dan bukan lagi mencoba atau memiliki. Norma yang kedua adalah norma biosentrime yang menjelaskan bahwa segala sesuatu memiliki hak yang sama untuk hidup dan berkembang dan mencapai bentuk individual mereka.
Keraf (2002) menyebutkan beberapa prinsip gerakan lingkungan yaitu
biospheric egalitarianism-in principle yaitu pengakuan bahwa semua organisme dan makhluk hidup adalah anggota yang sama statusnya dari suatu keseluruhan
yang terkait sehingga mempunyai martabat yang sama. Prinsip kedua adalah nin- antroposentrisme, yaitu manusia merupakan bagian dari alam, bukan di atas atau terpisah dari alam. Ketiga yaitu realisasi diri (self-realization). Maksudnya adalah bahwa manusia merealisasikan dirinya dengan mengembangkan potensi diri. Keempat adalah pengakuan dan penghargaan terhadap keanekaragaman dan kompleksitas ekologis dalam suatu hubungan simbiosis dan kelima adalah perlunya perubahan dalam politik menuju eco-politics.
Platform Deep Ecology tahun 1984 memberi kekhasan pada Deep Ecology
sebagai gerakan politis-sosial-ekofilosofis internasional kontemporer. Platform itu secara esensial merupakan suatu pernyataan ekosentrisme normatif dan filosofis bersama dengan suatu seruan bagi aktivis lingkungan (Keraf, 2002). Pernyataan flatform Deep Ecology yang dimaksud adalah sebagai berikut;
1. Kesejahteraan dan perkembangan kehidupan manusia dan non-manusia diatas bumi mempunyai nilai dalam diri mereka sendiri, atau dengan kata lain mempunyai nilai intrinsik (inheren). Nilai-nilai ini terlepas dari kegunaan dunia non-manusia bagi tujuan-tujuan manusia.
2. Kekayaan dan keragaman bentuk-bentuk kehidupan memberikan kesadaran akan nilai-nilai ini dan juga merupakan nilai-nilai dalam kehidupan mereka sendiri.
3. Manusia tidak mempunyai hak untuk mereduksi kekayaan dan keragaman itu kecuali untuk memenuhi kebutuhan pokok.
4. Perkembangan hidup dan kebudayaan manusia sesuai dengan pengurangan subtansial dari populasi manusia. Perkembangan kehidupan non-manusia menuntut pengurangan seperti itu.
5. Campur tangan manusia sekarang terhadap dunia non-manusia bersifat berlebihan dan situasinya menjadi memburuk dengan cepat.
6. Kebijakan-kebijakan harus diubah. Kebijakan-kebijakan ini mempengaruhi tata susunan ekonomi, teknologi dan idiologi dasar.
7. Perubahan idiologis terutama adalah perubahan mengenai penghargaan terhadap kualitas hidup yang berada didalam situasi-situasi yang inheren dari pada mempertahankan standar hidup (materilistis) yang semakin tinggi.
Dalam kaitan pesantren dengan gerakan ekologi, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya terdapat gerakan-gerakan ekologi yang berasal dari komunitas pesantren sebagai jawaban atas permasalahan yang muncul kekinian. Gerakan yang muncul dipesantren tersebut tidak terlepas dari narasi yang berkembang baik pada aras lokal, nasional maupun internasional. Begitu juga fokus isu yang berkembang memiliki hubungan dengan fenomena yang terjadi di dalam tubuh pesantren itu sendiri dan juga nilai teologi keislaman yang lama mengakar didalamnya.