II. Tinjauan Pustaka
2.3. Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat
Pesantren merupakan model pendidikan khas yang dimiliki oleh Indonesia. Selain itu, pesantren juga tidak dapat dilepaskan dari masyarakat. Kondisi ini dikarenakan pesantren tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat dengan memposisikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat terutama dalam melakukan proses transformasi, sehingga dapat dikatakan bahwa pesantren merupakan sistem pendidikan khas yang sarat dengan nilai transformatif yang sebelumnya berada pada wilayah keagamaan kemudian meluas dalam bentuk pengabdian sosial (A’la, 2006).
Secara terminologis pesantren yang biasa disebut sebagai pondok atau surau (Azra, 1985) merupakan suatu tempat pendidikan dan pengajaran yang menekankan pelajaran agama Islam dan didukung asrama sebagai tempat tinggal santri yang bersifat permanen (Qomar, 2005). Meskipun demikian, dalam khazanah pendidikan Islam sendiri pesantren bukanlah satu-satunya model pendidikan yang lekat dengan Islam. Terdapat berbagai varian model seperti madrasah, pengajian dan lainnya. Yang menjadi kekhasan pesantren adalah adanya pondok atau asrama yang menjadi tempat tinggal para santri dalam batas teritorial tertentu serta pemimpin yang disebut dengan Kyai.
Terdapat berbagai macam kategorisasi pesantren. Kategorisasi ini bisa berdasarkan keterbukaan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi yaitu pesantren salafi dan khalafi. Ada juga yang melakukan kategorisasi berdasarkan kelengkapan komponennya yaitu (a) hanya terdiri dari masjid dan rumah kyai; (b) masjid, rumah kyai dan asrama; (c) masjid, rumah kyai, asrama dan pendidikan formal; (d) masjid, rumah kyai, asrama, pendidikan formal dan pendidikan keterampilan; (e) masjid, rumah kyai, asrama, madrasah dan bangunan fisik lainnya (Qomar, 2005).
Pesantren setidaknya memiliki elemen-elemen dasar seperti pondok atau asrama, masjid, pengajaran kitab-kitab klasik, santri dan kyai (Dhofier dalam
Hadimulyo, 1985). Kesemuanya menjadi satu entitas yang saling melengkapi dan terintegrasi dalam suatu teritori. Meskipun demikian, elemen dasar tersebut memiliki keterbatasan seiring dengan semakin berkembangnya model pesantren kekinian. Ini disebabkan banyaknya pesantren-pesantren yang bermunculan dengan tidak lagi menempatkan pengajaran kitab-kitab klasik sebagai tujuan utamanya. Selain itu sistem pengajaran yang bersifat sorogan1, bandongan2 tidak lagi dianut oleh seluruh pesantren. Beberapa pesantren tidak lagi menggunakan sistem tersebut tetapi lebih menggunakan sistem yang lebih modern seperti
1
Sorogan merupakan sistem pengajaran konvensional yang dimiliki oleh pesantren. Sistem sorogan merupakan sistem pengajaran satu arah yang menempatkan kyai sebagai guru yang menjelaskan maksud dari kitab tersebut. Santri dalam hal ini diharuskan mengajukan kitab apa yang akan dipelajari kemudian secara mendalam dan dihafal.
2
Bandongan atau juga disebut wetonan merupakan sistem pengajaran yang lain yang dimiliki oleh pesantren. Sistem ini juga tergolong konvensional dimana Kyai menjelaskan isi kita secara sistematis perkata yang kemudian menjelaskan arti dan maksud dari kitab tersebut sementara santri dituntut untut memperhatikan secara seksama.
pendidikan fomal. Oleh karena itu kategori lain yang muncul adalah kategori pesantren tradisional dan pesantren modern.
Secara lebih terperinci akan dicoba dijelaskan elemen-elemen dasar yang terdapat di pesantren yaitu:
1. Pondok atau asrama. Pondok atau asrama ini merupakan tempat tinggal santri dimana seluruh aktivitas keseharian santri berada disini. Interaksi sosial antar santri juga terjalin secara apik di pondok. Tujuan dari adanya asrama ini adalah selain menjadi tempat tinggal juga dapat memudahkan kyai dalam mendidik dan mengajarkan segala jenis ilmu pengetahuan sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Selain itu juga difungsikan untuk mengulang kembali pelajaran yang telah disampaikan oleh kyai atau ustadz (Fadhillah, 2005; Qomar, 2005).
2. Masjid. Masjid ini merupakan pusat aktivitas utama santri yaitu ibadah. Fungsi lain yang dimiliki adalah juga fungsi pendidikan dimana masjid terkadang digunakan sebagai tempat pengajian baik formal maupun informal. Secara umum seluruh aktivitas santri ditandai oleh masjid terutama waktu shalat.
3. Kitab-kitab klasik. Kitab-kitab klasik merupakan salah satu identitas pesantren terutama pesantren tradisional dimana dikenal dengan kitab kuning. Kitab ini merupakan karya klasik pemikir Islam pada abad pertengahan. Secara akademis kitab tersebut memiliki bobot yang cukup serta komprehensif akan tetapi dari segi sistematika penyajiannya tampak sangat sederhana (Mas’udi, 1985). Pada pesantren yang tergolong modern, kitab- kitab klasik juga digunakan dan disandingkan dengan sistem pendidikan yang lebih modern serta literatur dari negara dan kontemporer lainnya.
4. Santri. Santri merupakan individu atau murid yang belajar dan tinggal dalam lingkungan pesantren. Kata-kata santri ini juga menjadi salah satu varian yang digunakan oleh Geertz dalam bukunya Religion of Java sebagai orang yang selalu mengaitkan hidupnya dengan aktivitas beragama dan perdagangan. Geertz kemudian menempatkan santri pada posisi struktur ditengah diatas abangan dan dibawah priyayi. Santri sendiri merupakan individu yang memusatkan perhatiannya pada doktrin agama Islam,
khususnya penafsiran moral dan sosialnya (Effendy, 1985). Selain itu, nilai pokok yang dianut oleh santri adalah bahwa seluruh kehidupan dipandang sebagai ibadah. Konsep ini merupakan perluasan Bachtiar Effendy dari apa yang dijelaskan oleh Abdurrahman Wahid bahwa santri merupakan individu yang memiliki ciri dan watak tersendiri yang disebut “subkultural“. Santri juga dibedakan menjadi santri mukim yang bertempat tinggal di pondok atau asrama serta santri kalong yang tidak tinggal didalam asrama dan biasanya merupakan masyarakat sekitar pesantren (Ghazali, 2003).
Dalam hubungan dengan kyai, santri juga memiliki variasi yang sangat terkait dengan tipe pesantren dimana dia bermukim. Fadhillah (2005) menyebutkan bahwa terdapat hubungan patrimonial antara kyai dengan santri dan hubungan formal. Kedua hubungan ini sangat terkait dengan sistem pesantren serta kedudukan kyai menurut pandangan santri tersebut.
5. Kyai. Kyai merupakan pemimpin pesantren dan menjadi figur sentral dari pesantren. Kehadiran kyai sangat menentukan arah gerak kemajuan pesantren. Istilah kyai ini lebih banyak dikenal di wilayah Jawa. Di Sumatera misalnya lebih dikenal dengan sebutan Buya dan di Sulawesi lebih dikenal dengan sebutan Gurutta. Dalam kondisi yang lebih maju kedudukan seorang kyai dalam pondok pesantren tetap sebagai tokoh primer dimana kyai tetap sebagai pemimpin, pemilik dan guru utama (Ghazali, 2003). Dalam beberapa hal juga kekuasaan kyai dan mitos wali disakralkan dan memiliki kekuasan yang mutlak sehingga terkadang menimbulkan status quo (Romas, 2003). Selain itu Geertz juga menempatkan kyai sebagai cultural broker atau makelar budaya (Geertz, 1960) yang berfungsi menjadi intermediasi baik dalam pesantren maupun luar pesantren. Pendapat ini kemudian mendapat tanggapan dan koreksi dari Hiroko Horikoshi yang mencoba menempatkan Kyai bukan hanya sebagai broker tetapi lebih sebagai transformator yang dapat mendorong perubahan signifikan baik diinternal pesantren maupun masyarakat sekitar (Horikoshi, 1986).
Seiring dengan semakin berkembangnya dinamika dalam masyarakat serta tuntutan perubahan yang selalu menyeruak, pesantren dihadapkan pada keharusan
melakukan transformasi kearah yang lebih luas. Transformasi ini mengejawantah dalam bentuk pengabdian sosial sebagai perluasan dari sistem yang selama ini dianut oleh pesantren kebanyakan.
Usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh pesantren secara garis besar dapat dibedakan atas pelayanan kepada para santri dan pelayanan kepada masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan usaha memajukan desa dimana pesantren tersebut berdomisili. Pola ini digunakan sebagai ajang para santri dan komponen pesantren lainnya memperoleh pengalaman berharga bagi kehidupannya kelak. Usaha ini bukan berarti menghilangkan corak keagamaan yang selama ini melekat pada pesantren, tetapi lebih pada upaya membawa persoalan nyata yang selama ini berada di masyarakat kedalam pesantren, mencoba memahami persoalan tersebut untuk memudian bersama mencari pemecahan dan jawaban dari berbagai persoalan tersebut (Suyata, 1985).
Berbagai jawaban yang secara empirik dilakukan adalah seperti yang dilakukan oleh beberapa pesantren seperti Pesantren Pabelan yang mentransformasi menjadi learning society (Hidayat, 1985; Arifin dan Hasanah, 2003). Pesantren An-Nuqayah dengan mendirikan BPM sebagai solusi dan intermediasi antara masyarakat dengan pesantren (Basyuni, 1985; Effendy, 1990; Ghazali, 2003) dan Pesantren Hidayatullah di Kalimantan (Yacub, 1984) serta banyak lagi pesantren lainnya yang baik secara langsung bersentuhan dengan masyarakat maupun yang tidak secara langsung.