BAB II LANDASAN TEORI
2.3 Prinsip Kesantunan Leech
Leech memandang prinsip kesantunan sebagai “piranti” untuk menjelaskan mengapa penutur sering bertutur secara tidak langsung (indirect) dalam mengungkapkan maksudnya. Motivasi penggunaan tindak tutur tidak langsung dimaksudkan agar ujaran terdengar santun. Penutur biasanya menggunakan implikatur. Implikatur adalah apa yang tersirat dalam suatu ujaran. Jika kita bedakan “apa yang dikatakan” (what is said) dan “apa yang dikomunikasikan” (what is communicated), implikatur termasuk apa yang dikomunikasikan. Prinsip kesantunan Leech ini oleh beberapa ahli pragmatik dipandang sebagai usaha “menyelamatkan muka Grice, karena prinsip kesantunan Grice sering tidak dipatuhi daripada diikuti dalam praktik penggunaan bahasa yang sebenarnya” (Thomas, 1995: 15). Suatu tuturan dikatakan santun bila dapat meminimalkan pengungkapan pendapat yang tidak santun (Leech, 1983: 81).
Maksim merupakan kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual; kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Selain itu maksim juga disebut sebagai bentuk pragmatik berdasarkan prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan. Maksim-maksim tersebut menganjurkan agar kita mengungkapkan keyakinan-keyakinan dengan sopan dan menghindari ujaran yang tidak sopan. Maksim-maksim ini dimasukkan ke dalam kategori prinsip kesopanan.
Leech (1983) dalam bukunya, membuat 6 prinsip kesantunan yang disebut dengan istilah maksim yaitu (a) maksim kebijaksanaan, (b) maksim kedermawanan, (c) maksim pujian, (d) maksim kerendahan hati, (e) maksim kesetujaun, (f) maksim simpati, (g) maksim pertimbangan. Prinsip kesantunan Leech ini oleh beberapa ahli pragmatik dipandang sebagai usaha ”menyelamatkan muka Grice, karena prinsip kesantunan Grice sering tidak dipatuhi daripada diikuti di dalam praktik penggunaan bahasa yang sebenarnya.
Ada enam maksim menurut Leech (1993) yakni: 1) Maksim Kebijaksanaan (Tact Maxim)
a. Kurangi kerugian orang lain. b. Tambahi keuntungan orang lain.
2) Maksim Penerimaan/ Penghargan (Approbation Maxim) a. Kurangi keuntungan diri sendiri.
b. Tambahi kerugian diri sendiri.
3) Maksim Kemurahan (Generosity Maxim) a. Kurangi cacian pada orang lain. b. Tambahi pujian orang lain
4) Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim) a. Kurangi pujian pada diri sendiri.
b. Tambahi cacian pada diri sendiri.
5) Maksim Kesepakatan/Kecocokan (Agreement Maxim)
b. Tingkatkan kecocokan antara diri sendiri dengan orang lain. 6) Maksim Simpati (Sympathy Maxim)
a. Kurangi antipati antara diri sendiri dengan orang lain.
b. Perbesar simpati antara diri sendiri dengan orang lain. (Tarigan, 1990: 82-83 dalam Rahardi 2005: 5)
Maksim yang berskala dua kutub karena berhubungan dengan keuntungan/kerugian diri sendiri dan orang lain (Wijana, 1996: 55-60).
1. Maksim yang berpusat pada orang lain.
a. Maksim Kebijaksanaan (Tact Maxim) b. Maksim Kemurahan (Generosity Maxim) 2. Maksim yang berpusat pada diri sendiri.
a. Maksim Penerimaan/Penghargaan (Approbation Maxim) b. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim).
Maksim yang berskala satu kutub karena berhubungan dengan penilaian buruk bagi penutur terhadap dirinya sendiri/orang lain.
1. Maksim Penerimaan (Approbation Maxim) 2. Maksim Kesimpatian (Sympathy Maxim
Seorang penutur seringkali tidak menggunakan tuturan langsung dan lebih memilih untuk mengungkapkan sesuatu secara implisit. Tuturan dengan maksud direktif diungkapkan secara deklaratif sehingga tuturan tersebut tidak terdengar seperti sebuah perintah. Prinsip kesantunan lebih menekankan pada aspek sosial
psikologis antara penutur dan mitra tutur. Sebagai contoh pada maksim relevansi, seorang penutur tidak memenuhi maksim tersebut dan justru melanggarnya. Hal ini dilakukan penutur untuk menjaga kesantunan terhadap mitra tuturnya.
Contoh
Ayah : Tolong ambilkan kacamata saya di meja depan. Nina : Maaf, saya sedang menggoreng ikan.
Tuturan yang diungkapkan oleh Nina melanggar maksim relevansi karena tanggapan yang diberikan tidak sesuai dengan tuturan Ayah. Tuturan ‘Maaf, saya sedang menggoreng ikan’ memang tidak ada kaitannya dengan tuturan ayah namun secara tidak langsung tuturan Nina merupakan sebuah penolakan pada perintah Ayah. Nina menolak mengambilkan kacamata karena sedang menggoreng ikan. Tuturan Nina tersebut lebih santun daripada Nina mengungkapkan penolakan secara langsung dengan mengatakan ‘tidak’. Untuk menjaga kesantunan itulah Leech mengemukakan enam maksim dalam prinsip kesantunan yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan hati, maksim penerimaan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim simpati. Maksim ini berfungsi untuk menjaga kesantunan sebuah tuturan.
Maksim pertama adalah maksim kebijaksanaan. Sebuah tuturan dikatakan memenuhi maksim kebijaksanaan bila tuturan tersebut memberikan keuntungan pada mitra tutur. Dengan mematuhi prinsip kebijaksanaan, penutur dapat menghindari sikap dengki dan kurang santun kepada mitra tutur. Menurut maksim ini, semakin panjang tuturan maka semakin besar juga keinginan penutur untuk bersikap santun pada mitra tuturnya.
Sebagai contoh ketika sedang berkendara dengan motor, seorang penutur bertemu dengan seorang teman yang sedang berjalan kaki, sebagai bentuk kesantunan, ia memberi tawaran untuk memboncengkannya. Tawaran ini merupakan bentuk kepatuhan seorang penutur dengan prinsip kebijaksanaan. Dengan memberikan tawaran, penutur berarti ingin memberikan keuntungan kepada mitra tuturnya.
Maksim kedua adalah maksim kemurahan hati. Melalui maksim ini, Leech menyarankan agar penutur mengutamakan kepentingan mitra tuturnya. Dengan mendahulukan kepentingan mitra tutur dan bersikap murah hati, penutur akan dianggap sebagai orang yang santun. Dengan memberikan tawaran untuk membocengkan, penutur pada contoh di atas juga bisa dikatakan mematuhi maksim kemurahan hati. Tuturan “Ayo, aku boncengkan..” sebagai bentuk kesantunan penutur kepada mitra tuturnya. Dengan memberikan tawaran untuk memboncengkan berarti mengutamakan kepentingan mitra tuturnya dan memberikan keuntungan orang lain. Mitra tutur akan senang apabila mendapatkan sebuah pujian dari pada sebuah penghinaan. Oleh karena itu, penutur disarankan untuk memberikan pujian kepada mitra tuturnya. Dengan memaksimalkan pujian dan pengormatan kepada orang lain, penutur mematuhi maksim penerimaan. Sebagai contoh tuturan berikut.
A : Kemarin nilai ulangan Bahasa Indonesia-ku dapat seratus lo.. B : Wah, kamu hebat sekali..padahal aku kesulitan mengerjakannya. C : Ah, cuma begitu saja, aku juga bisa.
Tuturan B adalah tuturan yang mematuhi maksim penerimaan karena B memberikan pujian kepada A sedangkan tuturan C melanggar maksim penerimaan karena C tidak berusaha memaksimalkan pujian terhadap lawan tuturnya. C justru terkesan meremehkan A karena C pun merasa ia bisa mendapatkan nilai seperti A.
Berbeda dengan maksim penerimaan yang berpusat kepada orang lain, maksim kerendahan hati lebih berpusat pada diri sendiri. Maksim ini mewajibkan penutur untuk meminimalkan pujian terhadap diri sendiri. Dengan kata lain, maksim ini meminta penutur untuk bertutur dengan rendah hati. Pada contoh tuturan A, B, C, tuturan B melanggar maksim kerendahan hati karena C menonjolkan dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa dirinya juga bisa mendapatkan nilai seratus seperti A.
Maksim kecocokan atau disebut juga maksim kesepakatan, menekakan agar penutur menjaga kecocokan dalam bertutur dengan mitra tutur. Seorang penutur harus menanggapi tuturan mitra tuturnya agar kegiatan bertutur dapat terus berlangsung. Maksim ini tidak membenarkan jika seorang penutur membelokkan atau mengalihkan percakapan.
Maksim yang terakhir adalah maksim simpati. Maksim menyarankan kepada penutur agar memaksimalkan simpati dan meminimalkan anti pati. Artinya apabila mitra tutur sedang mengalami peristiwa duka, penutur wajib untuk menaggapinya dengan menunjukkan rasa simpati. Apabila penutur justru menunjukkan anti patinya, penutur tersebut melanggar masim simpati.
Contoh
X : Kakiku sakit, kemarin aku jatuh dari motor.
Y : Bagian mana yang sakit? Sudah pergi ke dokter belum? Z : Rasain lu!
Pada contoh di atas, Y mencoba menunjukkan simpatinya dengan menunjukkan rasa ingin tahunya tentang luka yang dialami X. Y juga menunjukkan rasa khawatirnya dengan bertanya apakah lukanya sudah diobati dengan pergi ke dokter. Dengan demikian, Y telah mematuhi maksim simpati. Berbeda dengan Z yang justru menunjukkan antipati dengan mengolok-olok X.
2.3.1 Maksim Kebijaksanan (Tact Maxim)
Gagasan dasar dari maksim kebijaksanaan dalam pinsip kesantunan berbahasa adalah bahwa penutur hendaknya harus selalu berpegang pada prisnsip untuk mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain dalam proses bertutur.
Apabila didalam aktivitas bertutur orang selalu berpegang teguh pada maksim kebijaksanaan, dia akan mampu menghindarkan sikap dengki, iri hati, dan sikap lain yang santun terhadap mitra tutur. Demikian pula rasa sakit hati sebagai akibat dari perlakuan yang tidak menguntungkan dari pihak-pihak lain, akan diminimalisasikan apabila maksim kebijaksanaan ini dipegang secara kuat dan benar-benar teguh, dan dilaksanakan dengan sunguh-sungguh.
Pada maksim kearifan penutur diharuskan bisa memperkecil kerugian petutur dan sebaliknya memperbesar keuntungan bagi mitra tutur. Dengan kata
lain, buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin dan buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin.
Adapun parameter yang dapat mempengaruhi maksim kearifan, sebagai berikut:
a. semakin besar kerugian tindakan penutur kepada mitra tutur
b. semakin besar jarak sosial yang horizontal antara petutur dengan mitra tutur c. semakin besar status kekuasaan penutur atas mitra tutur
d. maka pengungkapan sebuah impositif oleh petutur perlu semakin manasuka dan semakin taklangsung, tanpa terkecuali, walaupun kemanasukaan tersirat kelangsungan, dalam ketaklangsungan tidak tersirat kemanasukaan (Leech, 1993:200).
Dengan kata lain, menurut maksim ini, kesantunan dalam bertutur dapat dilakukan apabila maksim kebijaksanaan dilaksanakan dengan baik. Sebagai penjelas pelaksanaan maksim kebijaksanaan dalam berkomunikasi yang sesungguhnya dapat dilihat pada contoh berikut.
Tuan rumah : Silahkan makan saja dulu, nak. Tadi kami sudah mendahului. Tamu : Wah, saya jadi tidak enak, Bu.
Dalam tuturan diatas nampak jelas bahwa apa yang dituturkan si tuan rumah sungguh memaksimalkan keuntungan bagi sang tamu. Meskipun sebenarnya si tuan rumah belum makan, namun si tuan rumah berusaha meyakinkan dengan mengatakan “tadi kami sudah mendahuli”. Tuturan itu disampaikan dengan maksud agar sang tamu merasa bebas dan dengan senang hati menikmati hidangan yang disajikan tanpa ada perasaan tidak enak sedikitpun.
2.3.2 Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)
Pada maksim kemurahhatian/kedermawanan, para peserta pertuturan diharapkan dapat menghormati orang lain. Penghormatan terhadap orang lain akan terjadi apabila orang dapat mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan kerugian bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, buatlah keuntungan sekecil mungkin dan buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin untuk dirinya sendiri.
Kurangi keuntungan diri sendiri dan tambahi pengorbanan diri sendiri (Leech diterjemahkan oleh Oka, 1993: 27). Jika setiap orang melaksanakan inti pokok maksim kedermawanan dalam ucapan dan perbuatan dalam pergaulan sehari-hari, maka kedengakian, iri hati, sakit hati antara sesama dapat terhindar. Dengan maksim kedermawanan atau maksim kemurahan hati, para peserta pertuturan diharapkan dapat menghormati orang lain. Penghormatan terhadap orang lain akan terjadi apabila orang dapat mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi pihak lain
.
2.3.3 Maksim Penghargaan (Approbation Maxim)
Di dalam maksim penghargaan dijelaskan bahwa orang akan dapat dianggap santun bila dalam bertutur selalu beusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain. Dengan maksim ini, diharapkan para penutur tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak lain. peserta tutur yang sering mengejek peserta tutur lain dalam kegiatan bertutur akan dikatakan sebagai
orang yang tidak sopan. Dikatan demikian, karen tindakan mengejek merupakan tindakan tidak meghargai orang lain.
Pada maksim penghargaan penutur diharuskan untuk mengurangi celaan terhadap petutur dan sebaliknya memperbanyak pujian terhadapnya. Maksim pujian mempunyai nama lain yang kurang baik, yakni, ”maksim rayuan”. Namun, istilah ”rayuan” biasanya digunakan untuk pujian yang tidak tulus. Pada maksim ini aspek negatif yang lebih penting, yaitu, ”Jangan mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan mengenai orang lain!”
Pada maksim penghargan, sebuah pujian akan sangat dihargai, sedangkan ujaran yang berupa celaan, ejekan, atau bahkan makian tidak akan dihargai sama sekali. Oleh karena itu, ujaran-ujaran yang mengandung celaan, hinaan, atau makian sangat bertentangan dengan maksim ini. Dengan kata lain, kecamlah orang lain sesedikit mungkin dan pujilah orang lain sebanyak mungkin.
2.3.4 Maksim Kesederhanaan (Modesty Maxim)
Maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati, peserta tutur diharapkan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Orang akan dikatan sombong, congkak hati apabila di dalam kegiaatan berturur selalu memuji dan megunggulkan dirinya sendiri.
Dalam masyarakat bahasa dan budaya Indonesia, kesederhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan seseorang
2.3.5 Maksim Permufakatan (Agreement Maxim)
Di dalam maksim ini, ditekankan agar para peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur. Apabila terdapat kecocokan atau kesetujuan antara penutur dan mitra tutur dalam berkomunikasi, maka akan terbentuk suatu komunikasi yang santun.
2.3.6 Maksim Kesimpatisan (Sympathy Maxim)
Di dalam maksim kesimpatisan, diharapkan agar para penutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Sikap antipasti terhadap salah seorang peserta tutur akan dianggap sebagi tindakan tidak santun. Masyarakat tutur Indonesia, sangat menjunjung tinggi rasa kesimpatisan terhadap orang lain ini di dalam komunikasi kesehariannya. Orang yang bersikap sinis terhadap pihak lain, akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun di dalam masyarakat.