Para pemilik usaha TI tidak mengikuti prosedur penambangan yang telah diatur dalam peraturan daerah setempat. Prosedur penambangan hanya akan memperlambat kinerja dan mengurangi efisiensi waktu dalam proses penambangan. Pelanggaran prosedur penambangan tersebut mengakibatkan terancamnya keselamatan para pekerja usaha TI. Karena usaha TI adalah usaha tidak resmi maka dalam memperoleh keuntungan semaksimal mungkin para pemilik TI lebih memilih untuk mengabaikan keselamatan pekerjanya. Padahal sesuai aturan pemasangan rambu-rambu keselamatan kerja beserta perlengkapan keselamatan kerja harus disediakan oleh pemilik usaha penambangan.
Tidak ada data resmi jumlah kecelakaan kerja yang terjadi pada usaha TI karena pihak keluarga korban kecelakaan kerja baik korban luka-luka, patah kaki, patah tangan maupun meninggal dunia hampir tidak pernah melaporkan kejadian tersebut kepada yang berwenang namun dapat dipastikan bahwa jumlah kecelakaan kerja usaha TI sangat mengkhawatirkan berdasarkan atas pemberitaan pada koran-koran lokal di daerah setempat.
• Kesehatan Kerja
Usaha TI juga mengancam atas kesehatan para pekerja yang diakibatkan oleh polusi dan limbah dari proses penambangan namun tidak terlalu dirasakan oleh
pekerja TI. Resiko kesehatan yang lebih tinggi lebih mengancam para pekerja industri smelter. Dalam proses pembakaran pasir timah ternyata mengeluarkan gas berbahaya seperti SO2 dan mengandung radio aktif gelombang pendek yang dapat mengakibatkan penyakit infeksi pernafasan dan kanker.
Sehingga dalam melakukan proses pembakaran diperlukan panas yang sangat tinggi guna untuk meminimalkan gas berbahaya tersebut dalam batas aman. Biaya yang cukup mahal menjadi kendala tersendiri untuk membeli peralatan yang sesuai dengan standar penambangan sehingga resiko kesehatan pekerja belum dapat mendapat perhatian secara layak.
a. Keuntungan usaha TI
• Keuntungan pemilik TI
Keuntungan yang diteliti dalam penelitian ini adalah keuntungan pemilik TI. Dari hasil survey dapat dilihat bahwa pemilik tidak mempunyai tenaga kerja keluarga. Semua penambang tidak terkait hubungan darah yang berasal dari daerah sekitar dan terdapat juga pekerja yang berasal dari luar pulau Bangka. Dari hasil analisis keuntungan usaha TI atas dasar perhitungan pendapatan dari usaha TI setelah dikurangi dengan biaya pengeluaran maka usaha TI menghasilkan rata-rata keuntungan para pemilik usaha TI yaitu sebesar 12.24 juta rupiah per bulan.
• R/C ratio
Hasil analisis efisiensi usaha dengan menggunakan R/C ratio adalah bahwa usaha TI ini layak untuk dijalankan dimana nilai ratio yang diperoleh sebesar 1.52 telah memenuhi salah satu kriteria efisiensi usaha yaitu R/C > 1.
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan
Pendugaan parameter regresi dengan menggunakan teknik OLS harus memenuhi enam asumsi klasik. Pengujian diperlukan untuk melihat apakah keenam asumsi tersebut terpenuhi. Pengujian ini dimaksudkan untuk mendeteksi ada tidaknya pelanggaran asumsi. Pelanggaran estimasi tersebut meliputi uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas, dan uji multikolinearitas.
Pengujian autokorelasi pada Eviws 4.1 dapat ditunjukkan dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test. Obs*R-squared statistik dijadikan acuan untuk menerima atau menolak H0. Tetapi karena penelitian ini menggunakan data cross section sehingga autokorelasi tidak perlu diuji.
¾ Uji Validasi Model
Untuk menganalisis keuntungan pemilik TI di Kabupaten Bogor digunakan variable-variabel eksogen berupa modal (K), Bahan bakar (BB), imbalan tenaga kerja (W), Harga timah (P). Penelitian ini dalam mengestimasi model menggunakan model ekonometrika dengAn metode kuadrat terkecil (Ordinary Least Square). Perangkat software yang digunakan dalam penelitian ini adalah eviews 4.1 dan Microsoft Excell. Berdasarkan hasil estimasi model secara keseluruhan, penduga dan pengujian model ekonomi dengan kriteria statistik yang ada menunjukkan hasil yang cukup memuaskan dimana terdapat dua variabel yang berpengaruh signifikan terhadap keuntungan yaitu penggunaan biaya bahan bakar (BB) dan imbalan tenaga kerja (W). Hasil estimasi dapat dilihat pada tabel 7.1.
Tabel 7.1. Hasil estimasi Model faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka.
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -16235091 10135531 -1.601800 0.1218
K -0.052532 0.052291 -1.004611 0.3247
BB -0.990701 0.149752 -6.615617 0.0000
W 0.559134 0.105769 5.286382 0.0000
P 788.9163 318.2813 2.478676 0.0203
R-squared 0.908805 Mean dependent var 10511467
Adjusted R-squared 0.894214 S.D. dependent var 5201908.
S.E. of regression 1691909. Akaike info criterion 31.67163
Sum squared resid 7.16E+13 Schwarz criterion 31.90516
Log likelihood -470.0744 F-statistic 62.28450
Durbin-Watson stat 2.360305 Prob(F-statistic) 0.000000
• Uji Statistik
Uji statistik dilakukan meliputi goodness of fit, uji F, dan uji t. Nilai R-sqared sebesar 0.908805 menunjukkan bahwa uji ketepatan perkiraan (goodness of fit) dari
model persamaan adalah baik. Hal ini berarti bahwa 90.89 persen keragaman dari variable endogen bias dijelaskan oleh keragaman variable-variabel eksogen (bebas) di dalam model, sedangkan sisanya sebesar 0.11 persen dijelaskan oleh variable lain diluar model.
Uji F menunjukkan hasil yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan angka probabilitas statistic F sebesar 0.0000 yang lebih kecil dari α = 0.10 artinya bahwa minimal ada satu variabel eksogen berpengaruh signifikan terhadap variabel endogen. Uji t dapat dilihat dari probabilitas t-statistik. Berdasarkan uji tersebut menunjukkan bahwa hanya penggunaan biaya bahan bakar dan imbalan pekerja yang berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat keuntungan pemilik TI di Kabupaten Bangka dengn taraf nyata α = 0.10.
• Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas bertujuan untuk melihat apakah variabel pengganggu memiliki varians yang sama (homoskedastisitas). Hal ini dapat diketahui melalui White Heteroskedasticity Test. Nilai Obs*R-squared statistik
dijadikan acuan untuk menerima atau menolak H0 : Homoskedastisitas.
Kesimpulan yang diambil jika prob dari Obs*R-squared statistic lebih kecil dari
alpha (α) maka tolak hipotesis nol. Hasil uji menunjukkan bahwa model
persamaan terbebas dari masalah heteroskedastisitas, yang dapat dilihat pada Tabel 7.3. dimana nilai prob Obs*R-squared dari model tersebut lebih besar dari taraf nyata sepuluh persen.
Tabel 7.2. Uji Heteroskedastisitas ARCH Test
Variabel dependen Obs*R-squared Probability
D(Laba) 0.001156 0.972878
White Heteroskedasticity Test
Variabel dependen Obs*R-squared Probability
D(Laba) 22.7043 0.065200
• Uji Mulikolinear
Uji multikolinear dilakukan dengan cara melihat koefisien korelasi antar variable eksogen pada correlation matriks (Tabel 7.3.) Model persamaan regresi tingkat keuntungan ini terdapat nilai korelasi yang lebih besar dari 0.08 , yaitu terjadinya masalah multikolinearitas antar variabel-variabel penjelas di dalamnya yaitu antara imbalan tenaga kerja (W) dan keuntungan (Y) sebesar 0.86, namun terjadinya multikolinearitas masih bisa diabaikan apabila nilai korelasi-korelasi antar variabel tersebut tidak melebihi Adjusted R-squared-nya. Pada analisis ini menunjukkan nilai Adjusted R-squared-nya diperoleh sebesar 0.89, sedangkan
korelasi terbesar yang terjadi antar variabel adalah 0.860003, maka dapat disimpulkan bahwa persamaan ini tidak mengalami multikolinearitas.
Tabel 7.3. Uji Multikolinearitas
W P K BB W 1.000000 0.855277 -0.213016 0.093875 P 0.855277 1.000000 -0.117376 0.144233 K -0.213016 -0.117376 1.000000 -0.089324 BB 0.093875 0.144233 -0.089324 1.000000 • Uji Normalitas
Hasil pengujian normalitas menunjukkan bahwa error term model
terdistribusi secara normal. Hal ini terlihat bahwa dari nilai probabilitasnya yang lebih besar dari taraf nyata sepuluh persen.
Tabel 7.4. Uji Kenormalan
Variabel Dependen Jarque-Bera Probability
D(Laba) 1.346138 0.510140
¾ Variabel-variabel Penentu Keuntungan
Faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan usaha TI di Kabupaten Bangka berdasarkan hasil estimasi pada tabel 7.1., maka secara matematis dapat diperoleh persamaan sebagai berikut :
Y = -16235091 - 0.052532 K - 0.990701 BB + 0.559134 W + 788.9163 P Persamaan diatas menunjukkan bahwa faktor yang memiliki pengaruh signifikan terhadap keuntungan usaha TI di Kabupaten Bangka adalah penggunaan biaya bahan bakar (BB) dan imbalan tenaga kerja (W). Dimana penggunaan biaya bahan bakar mempunyai pengaruh negatif terhadap keuntungan yaitu sebesar -0.99 artinya setiap peningkatan penggunaan biaya bahan bakar sebesar 1 rupiah akan menurunkan laba sebesar 0.99 rupiah.
Imbalan tenaga kerja (W) mempunyai pengaruh positif terhadap keuntungan yaitu sebesar 0.56 yang artinya setiap peningkatan imbalan tenaga kerja sebesar 1 rupiah maka akan meningkatkan laba sebesar 0.56 rupiah. Hal ini terjadi karena berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan imbalan tenaga kerja akan mendorong pekerja untuk meningkatkan produktivitasnya dengan peningkatan produktivitas maka akan meningkatkan keuntungan pemilik TI.
Harga Timah (P) mempunyai pengaruh positif terhadap keuntungan sebesar 788.92 yang artinya setiap peningkatan harga timah sebesar 1 rupiah maka akan meningkatkan keuntungan sebesar 788.92 rupiah. Hasil estimasi ini sangat mungkin terjadi karena harga timah ditentukan oleh produktivitas dan kualitas timah yang diperoleh sehingga semakin banyak produktivitas timah yang diperoleh dan semakin baik kualitas timah yang diperoleh maka harga timah yang ditetapkan juga akan semakin tinggi. Harga timah yang semakin tinggi akan meningkatkan keuntungan para pemilik TI.